
Setelah perkenalan Felix dan Vallen, Felix mempersilahkan Vallen duduk agar lebih rileks.
"Nona Vallen silahkan duduk sebentar, saya akan ambilkan minuman untuk Nona."
"Tidak perlu, aku mau pulang." Tolak Vallen dengan dingin.
"Maaf Nona, tapi saya akan bertanya beberapa hal dengan anda!" Jelas Felix.
"Apa setelah anda bertanya aku boleh pulang?" Felix cuma membalas dengan senyuman. Justru membuat Vallen semakin gregetan.
"Nona, silahkan anda minum ini!" Felix memberikan minuman yang baunya sangat menyengat.
"Apa ini?" Tanya Vallen yang enggan untuk minum.
"Ini minuman kejujuran." Terang Felix
"Untuk apa? Sebenarnya apa yang kalian inginkan?" Tanya Vallen yang tidak mengerti dengan semua orang yang ada disini.
"Ternyata bukan bosnya aja yang gila, semua pengawal di sini juga gila! Tuhan... dosa apa aku ini...?!" Batin Vallen.
"Kata Tuan, anda tidak mengaku atas kejadian 4 tahun yang lalu. Bahkan anda juga telah menyembunyikan anaknya." Terang Felix dengan masih wajah wibawanya.
"Kalian salah orang... aku bahkan tidak kenal dengan kalian..." Teriak Vallen lagi.
"Silahkan ikat Nona ini, dan berikan minuman itu!" Perintah Felix dengan anak buahnya.
"Tidak perlu, aku akan meminumnya. Silahkan anda tanya sepuasnya bahwa aku tidak pernah bohong!" Tantang Vallen, dia sudah pasrah dengan apa yang akan mereka lakukan. Minuman satu gelas di teguknya hingga tandas tak tersisa.
Selang 5 menit, obat itu sudah mulai bereaksi. Vallen mulai merasakan pusing dan pandangan mulai kabur. Tubuhnya susah untuk di gerakkan.
"Nona Vallen, kami akan mulai bertanya."
"Hem... setelah ini, apa aku boleh pergi?" tanya Vallen dengan sedikit kesadaran. Namun Felix cuma menanggapi dengan senyum ramahnya.
"Siapa nama lengkap anda?" Tanya Felix mulai sesi tanya jawab.
"Vallen Nastya." Jawab Vallen singkat.
"4 Tahun yang lalu kemana nona Vallen pergi?" Tanya Felix berikutnya.
"4 tahun yang lalu aku tidak pergi ke mana-mana. Aku cuma sibuk menulis novel dan menyerahkan ke penerbit." Jawab Vallen dengan tenang.
__ADS_1
"Selain itu, apa anda mengalami suatu kejadian?" tanya Felix lagi.
"Tidak." Jawab Vallen singkat.
"Apa anda pernah hamil?" Tanyanya lagi.
"Tidak, aku tidak pernah hamil." Jawab Vallen dengan tegas. Felix semakin bingung, karena semua jawaban Vallen dengan penyelidikannya berbeda.
"Tidak Mungkin, dari penyelidikan 4 tahun lalu kamu tidak pernah keluar rumah. Dan semua tetangga kamu bilang, kamu semakin hari semakin gemukan. Kalau bukan hamil kenapa kamu bisa gemuk dan nyaris gak keluar rumah?" Tanya Felix memastikan kecurigaannya.
"Itu karena aku di uber penerbit untuk menulis novel sekaligus naskah perfilman. Tidak ada waktu untuk main-main. Dan waktu itu aku bukan gemukan tapi memakai pakaian longgar jadi terlihat besar." Jawab Vallen dengan jujur. Felix semakin mengerutkan keningnya.
"Dimana nona Vallen pas hari Valentin?" Felix masih tidak mau menyerah.
"Hari Valentine biasanya aku di rumah orang tuaku. Dan makan-makan bersama keluarga." Jawab Vallen lagi
"Tidak, seharusnya nona merayu tuan kami dan memperkosanya!"
"APA? memperkosanya? dia laki-laki psikopat, pria gila, dan bertindak menjijikkan ke semua wanita! Bagaiman mungkin aku memperkosanya?! Sangat menjijikkan!" Teriak Vallen, dia mulai bergejolak dan marah.
Sementara di tempat lain, Fu Lan yang mendengar teriakan Vallen membuatnya naik darah. Dia menggebrak meja yang ada di sampingnya.
"Tuan Fu Lan, mungkin dia sengaja mending emosi anda dan menarik perhatianmu untuk memilikimu seutuhnya." Jawab perempuan yang bernama Vio di samping Fu Lan yang bergelayut manja.
"Mencari perhatianku? Hmm...!" Fu Lan mengerutkan keningnya memikirkan kata-kata Vio.
"Nona Vallen, kami sudah menyelidiki. Kamu cuma anak pungut, kamu punya adik perempuan yang lebih muda 2 tahun dari kamu.
Dari kecil hingga sekarang kamu selalu iri dengan adikmu yang ber penampilan cantik dan serba bisa. Di bandingkan kemampuanmu, adikmu lebih unggul.
Kamu cuma seorang novelis yang belum tenar. Jadi waktu hari Valentin, kamu sengaja memperkosa tuan muda kami untuk menaikkan derajat kamu.
Tapi tuan muda tidak menghiraukan mu, kemudian kamu hamil dan menyembunyikan anaknya tuan muda. Dan kamu menunggu waktu yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban untuk menjadi nyonya Fu Lan." Felix menerangkan panjang kali lebar. Bahkan cuma dengan satu tarikan nafas.
Vallen cuma tersenyum kecut mendengarkan ocehan Felix. Entah dari mana dia mendapatkan informasi yang tidak bermutu.
"Karangan yang sangat luar biasa! dia mengatakan aku iri dengan adikku?! dan ingin naik derajat? sungguh lucu! Membuat kesimpulan tentang hidupku, atas dasar apa?" Batin Vallen mengejek hidupnya sendiri.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud!" Sinis Vallen.
"Nona Vallen, akui saja, mungkin tuan kami bisa meringankan hukuman mu." Felix sudah merasa putus asa. Seharusnya yang di katakan Vallen benar, sebab pengaruh obat kejujuran. Namun Felix mengelak itu, sebab dari penyelidikannya berbeda jauh.
__ADS_1
"Omong kosong! Aku sudah katakan kalau aku tidak pernah hamil. Kalau pun aku hamil dengan pria itu, mungkin sudah aku bunuh Anak itu dan aku cekik hingga mati. Dengan begini apa sudah tahu kesimpulannya?" Bentak Vallen berapi-api. Emosinya seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun.
"Hmm... apa anda menggunakan pil KB atau sejenisnya?" Tanya Felix semakin mendesak Vallen.
"Jadi wanita ini menggunakan KB? " Fu Lan yang menyaksikan sesi jawab Felik dengan Vallen mempunyai pemikirannya sendiri membuat Fu Lan sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Pergi kalian semua...jangan sentuh aku!" Usir Fu Lan pada wanita yang menemaninya dari tadi.
"Ba... baik tuan Fu Lan." Vio dan temen-temennya seketika kabur.
"Dasar rubah licik, ternyata dia sudah melahirkan anak tuan Fu Lan. Penampilan kampungan seperti itu mau bersaing denganku?
huh... wanita di sekitar tuan Fu Lan semakin banyak, sekarang tambah satu dan sudah punya anak! sampai kapan aku bisa menjadi nyonya Fu Lan? Batin Vio yang posisinya terancam.
Felix merasa cemas, dia menghampiri Fu Lan dan menceritakan hasilnya.
"Tuan muda... " Belom selesai Felix berucap Fu Lan sudah memotong perkataan Felix
"Aku mau hasilnya." Dingin Fu kan dengan meneguk minuman anggur yang ia pegang.
"Huf..."Felix menghela nafas panjang, dia sudah tahu akan tanggapan tuan mudanya itu.
"Bagaimana aku menjelaskan ke tuan muda?! Batin Felix yang bergejolak.
"Aku sudah memberikan minuman kejujuran seperti yang tuan muda minta, namun hasilnya... nona Vallen berkata jujur. Tuan muda, mungkin kita yang salah menyelidikinya!" Jelas Felix dengan hati-hati.
"Mana mungkin! Aku tidak pernah salah!" Teriak Fu Lan, dia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju keruangan Vallen.
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
yang banyak ya... biar authornya semangat
__ADS_1