Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Seperti Orang Kelaparan


__ADS_3

Vallen mengelilingi istana penuh dengan rasa kagum. Sungguh bangunan yang sangat megah. Bahkan barang-barangnya terlihat mahal.


"Fu Lan memang pria terkaya di dunia, bahkan dia memiliki banyak koleksi barang kuno, salah satunya buku kuno yang tidak di jual. Sampulnya aja sangat berharga, tapi dia memilikinya." Kagum Vallen. Melihat buku besar yang di pajang di lemari kaca.


Kruk... kruk... kruk... "Ah dia sudah demo." Vallen memegang perutnya.


"Gara-gara pertanyaan bodoh mereka, aku tidak makan dengan baik." Batin Vallen. Dia berjalan mencari dapur istana. Sampai di dapur, Vallen tercengang melihat dapur Fu Lan yang sangat besar dan mewah.


"Dia benar-benar kaya... dapurnya aja lebih besar dari rumahku!" Batin Vallen. Dia terus masuk kedalam, banyak sekali pekerjanya dan semuanya sibuk dengan tugas masing-masing. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiran Vallen.


"Ok, karena tidak ada yang menghiraukan ku, aku tidak perlu sungkan." Vallen mengambil beberapa bahan makanan yang ada di dalam kulkas.


"Hmm... sesuai dugaan ku, semua bahan sangat lengkap, sangat puas." Vallen mengikat rambutnya dan mulai mengeksekusi bahan-bahan.


"Sudah lama tidak makan seafood, aku akan buat beberapa sup ikan dan asam pedas manis cumi." Dengan semangat dia mulai membersihkan beberapa ikan dan bahan lainnya. 1 Jam telah berlalu masakan Vallen sudah hampir matang semua.


"Tuan muda..." Samar-samar Vallen mendengar pelayan memberi salam.


"Fu Lan?! Bukannya tengah asik dengan wanita?" Vallen merasa tegang.


"Vallen Nastya, sepertinya kau merasa bahagia, sempat-semptanya kau masak!" Kata Fu Lan dingin.


"Ck, Tua Fu Lan, bukannya kamu sangat sibuk? Kenapa ada waktu pergi ke dapur? Apa wanita tadi tidak memuaskan mu? Atau...kamu memang pedofil wanita?"Sinis Vallen.


"Wanita ini...berani-beraninya menghinaku?!" Geram Fu Lan. Dia berjalan mendekati Vallen dan mendorongnya ke dinding.


"Vallen Nastya, apa kamu cemburu? Apa kamu mau memuaskan ku lagi?" Tekan Fu Lan.


"A...apa maksud mu?" Gugup Vallen.


"Kalau begitu, aku akan memangsamu lagi, bagaimana?" Bisik Fu Lan. Tangannya mulai nakal masuk ke dalam gaun bawah.


"Stop... stop..." Teriak Vallen.


"Dia tidak tahu malu, bahkan melakukan di depan banyak orang!"


"Aku minta maaf Tuan Fu Lan, aku salah!" Melas Vallen.


"Kamu terlalu naif nona Vallen, apa dengan mengaku salah aku akan memaafkan mu?" Seringai Fu Lan. Fu Lan hendak ******* bibir Vallen namun, berhenti ketika mendengar panggilan dari koki.


"Tuan muda, makanan sudah siap." Panggilan salah satu koki.


"Cih." Kesal Fu Lan kecewa. Dia mendorong Vallen hingga jatuh dan meninggalkannya.


"Wanita, kamu tunggu saja!" Ancam Fu Lan dingin.

__ADS_1


"Aku harus bisa melarikan diri dari neraka ini... dia bukan manusia, dia hewan berwujud manusia tampan."


Prang... prang... suara piring pecah bersahutan, Membuat semua orang ketakutan tak terkecuali Vallen. Dia berdiri sampai gemetar.


"Apa lagi yang di lakukan orang itu?" Batin Vallen bertanya-tanya.


"Dasar sampah, aku bayar kalian mahal untuk masak makanan orang, bukan masakan ayam. Bahkan ayam aja tidak suka! Kalian semua aku pecat! ambil gaji kalian!" Marah Fu Lan dengan membuang semua makanan yang ada di meja.


"Maaf tuan..." Kata koki dengan gemetar.


"Apa ini yang di maksud Felix? Dia paranoid?" Tanya Vallen pada dirinya sendiri.


"Benar, Nona Vallen." Sahut Felix dari belakang Vallen. Vallen menatap Felix penuh dengan tanda tanya. Terlihat Felix menarik nafas dan mengeluarkan.


"Tuan muda memang istimewa sejak dia kecil. Apa lagi tuan Muda keturunan dari Kerajaan. Sejak kecil dia sudah jadi sorotan publik. Dia manusia yang sangat berbakat. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan. Dia sangat sempurna, mungkin Tuhan...memberikan kelainan mental." Felix mengepalkan tangan.


Vallen melihat ke arah Fu Lan yang sedang teriak-teriak memarahi pelayannya.


"Dia mudah emosi, dan tidak menerima penolakan. Semua harus sempurna sesuai keinginannya. Kalau mau bebas darinya, aku harus membuatnya senang, dan tidak melawannya. Ok, aku harus menyediakan stok sabar yang melimpah untuk menghadapi Fu Lan." Batin Vallen penuh rencana.


Vallen mengambil masakannya untuk di hidangkan.


"Tu... Tuan Fu Lan..." Panggil Vallen terbata.


"Kalau kamu tidak suka masakan koki di rumah ini, mau kah kamu mencoba masakan ku?" Tawar Vallen dengan senyum manisnya.


"Aku akan mencoba segala cara agar bisa bebas." Batin Vallen lagi.


"Masakan mu? Kamu tahu, aku mendatangkan koki terkenal dari berbagai dunia, bahkan aku tidak suka masakan mereka, apa lagi masakan mu?" Hina Fu Lan. Kata-kata Fu Lan membuat hati Vallen seperti tertusuk panah, menyakitkan.


"Dasar sombong, gini juga aku pernah membandingkan masakan ku dengan restoran bintang lima, tapi tidak kalah enaknya...


Baiklah, menyenangkan orang gila memang tidak mudah. Kalau tidak mau ya sudah! aku makan sendiri." Omel Vallen dalam hati. Vallen duduk di depan Fu Lan dan menikmati masakannya sendiri.


Fu Lan yang melihat Vallen makan dengan lahap, membuat dia meneguk air liur berkali-kali.


"Sini makanannya!" Rebut Fu Lan mengambil makanan yang di pegang Vallen.


"Hei... Kamu...!" Bengong Vallen, melihat Fu Lan makan lahap, bahkan tidak sampai hitungan menit makanan itu sudah tandas.


"Hem... enak juga." Batin Fu Lan.


"Bawa sini sisanya." Perintah Fu Lan.


"Baik Tuan muda!" Kata pelayan. Mereka bergegas mengambil sisa masakan Vallen untuk di hidangkan. Vallen bengong melihat aksi heroik Fu Lan seperti tidak pernah makan 1 bulan.

__ADS_1


"Lain kali durinya di buang, aku tidak suka ada durinya!" Kata Fu Lan dengan mengelap mulutnya pakai tisu.


Vallen mengambil panci yang berisi sup ikan dengan tatapan bengong. "Ha... habis? Tidak suka duri ikan, bahkan durinya pun di makan..?!" Batin Vallen yang masih tidak percaya.


"Itu cukup 10 orang lho, apa dia babi?! Bahkan aku baru makan 2 suap...!" Batin vallen dongkol. Karena perutnya terus aja demo.


Felix menghampiri Fu Lan dan memberikan beberapa dokumen.


"Tuan Muda... "


"Aku tahu." Potong Fu Lan dingin. Dia beranjak pergi meninggalkan Vallen tanpa dosa.


Malam harinya Felix menghampiri Vallen di kamarnya.


"Nona Vallen, sudah lama tidak menjenguk anakmu, apa tidak rindu?" Tanya Felix mengintrogasi.


"Tidak. Aku tidak punya anak. Sampai mati pun jawabannya sama, aku tidak punya anak. Dan aku tidak pernah melahirkan." Bentak Vallen yakin.


"Baru santai sebentar, sudah menanyakan hal ini! Sungguh membuatku mual." Vallen memegang keningnya dan menggelengkan kepalanya.


"Nona Vallen, apa kamu pusing? Wajahmu pucat!" Tanya Felix khawatir.


"Kalau kalian berhenti bertanya tentang pertanyaan konyol itu, mungkin lebih baik." Vallen berpaling dan membalikkan badan. Felix cuma menatap iba Vallen tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Tuan Felix, kapan aku bebas?" Tanya Vallen lirih.


"Nona Vallen, asalkan kamu bisa membuat tuan muda senang, dan menurut..." Jawab Felix ambigu.


"Tapi..."


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat.


Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!

__ADS_1


__ADS_2