
Hari ke 2 hukuman Vallen di hutan. Ia terus bersandar di bawah pohong dengan mengenang masa kecilnya bersama Helmi. Vallen tidak di beri kesempatan untuk mencari makan dan minum oleh penjaga. Tak ada yang ia lakukan selain menunggu kematian karena kelaparan.
Vallen mengingat kembali kenangan pahit dengan orang tua angkatnya. Beberapa tahun ini hubungan mereka renggang karena Helmi. Semua takut kalau aku merenggut kebahagiaan adikku bersama Helmi. Dengan menjauh, itu lebih baik. Pernah suatu ketika ayah memaki ku dan mengusir ku dari rumah.
"Kamu dengan Helmi cuma cinta masa kecil. Dan sekarang kalian sudah dewasa. Walaupun Helmi tidak hilang ingatan dia akan tetap memilih adikmu! Jangan ganggu hubungan adikmu, biarkan mereka bersama!
Vallen Nastya, seharusnya aku tidak pernah memungut mu. Pergilah dan jangan pernah kembali kecuali aku panggil." Makian itu terus terngiang di telinga Vallen. Ketika ia di usir dari rumah.
"Sejak saat itu, aku tidak pernah pulang ke rumah walaupun aku di panggil dan hari-hari perayaan lainnya. Dengan aku menghilang, semua orang akan bahagia..." Senyum pahit di wajah Vallen. Dia mengejek dirinya sendiri karena bernasib buruk.
Fu Lan masih tetap mengamati gerak gerik Vallen di dalam hutan. Dengan sesekali dia menerima panggilan dari kantor.
"Wanita keras kepala, sudah mau mati tidak melakukan apa-apa?!" Gerutu Fu Lan kesal.
"Hmm... akhirnya tahu rasa sakit! Aku akan lihat kamu memohon ampun padaku!" Senyum Fu Lan penuh kemenangan. Dia melihat Vallen yang terus memegangi perutnya dan meringis kesakitan.
"Sepertinya ajalku semakin dekat. Lambung ku sangat sakit... sudah 3 hari aku tidak minum air. Akhirnya hari yang aku tunggu telah tiba. Selamat datang surga..." Vallen tergeletak tak sadarkan diri. Fu Lan benar-benar kejam, dia membiarkan Vallen selama 3 hari tidak makan dan minum. Membuat Vallen tidak kuat menahan rasa sakit yang ada di lambung.
Samar-samar Vallen mendengar ada yang memanggil namanya.
"Vallen... Vallen Nastya...
Jadilah mataku dan bawa aku keliling dunia..." Helmi mengulurkan tangan.
"Ha... Helmi? Helmi, aku tidak akan jadi matamu lagi, sekarang kamu bisa melihat indahnya dunia. Sekarang kamu tidak butuh aku lagi. Selamat tinggal..." Vallen melepaskan genggaman Helmi. Bayang-bayang Helmi hadir dalam mimpi Vallen.
Beberapa saat kemudian Vallen terbangun dari pingsannya.
"Eh... ini di... Fu... Fu Lan?!" Kaget Vallen, matanya melotot melihat Fu Lan berdiri dengan aura membunuhnya. Matanya menatap Vallen seakan mau memakannya hidup-hidup.
"Apa dia hantu? bikin kaget saja... kenapa juga dia berdiri di dekat ranjang ku...?" Gerutu Vallen dalam hati. Ia memegangi dadanya yang berdetak kencang.
__ADS_1
"Wanita sialan, apa otakmu sudah tidak bekerja? Aku menyuruhmu mati, kamu mau mati! Apa kamu gila? Kenapa jadi penurut?" Teriak Fu Lan menggelegar di seluruh istana ini. Bahkan semua penghuni rumah ikut gemetar ketakutan, tidak lain Vallen juga. Dia yang baru sadar dari pingsannya ikut gemetar dan menutupi tubuhnya pakai selimut.
"Ngatain orang gila! Bukannya kamu yang gila? Kamu kan paranoid!" Bingung Vallen dalam hati. Yang sembunyi di dalam selimut.
"Aku menyuruhmu jadi pacarku, kenapa tidak nurut? Apa aku kurang tampan, sampai kamu memilih mati!" Bentak Fu Lan masih berlanjut.
"Apa tidak salah? Bukannya kamu yang menginginkan aku mati? Kenapa aku yang kena marah?" Bantah Vallen dalam hati. Dia cuma berani mengatakannya dalam hati. Karena yang di hadapannya sekarang bukan orang normal.
"Dasar wanita bodoh! Gila! Gak punya otak! Tidak mau menghargai hidup!" Emosi Fu Lan menggebu-gebu. Dengan menarik selimut Vallen dan menginjak-nginjak selimutnya. Vallen yang menyaksikan itu cuma diam dan kebingungan. Ia tidak mengerti jalan pikiran orang paranoid. Bahkan mau bergerak pun Vallen ragu.
"Siapa yang ganti bajuku?" Tanya Vallen pada dirinya sendiri. Ia baru sadar bahwa bajunya telah berubah. Vallen bengong dan melihat bajunya dari atas sampai bawah. Fu Lan yang melihat kebingungan Vallen, langsung memberi tahu nya.
"Kenapa kamu kaget, aku yang ganti bajumu! Bagian mana tubuhmu yang belum ku lihat dan ku sentuh?" Kata Fu Lan dengan wajah tanpang dosanya. Ia naik ke ranjang Vallen dan berdiri bersedekap dada, menyaksikan wajah Vallen yang bersemu merah.
"Kamu... kamu keterlaluan..." Bentak Vallen. Ia merasa takut, sebab Fu Lan semakin mendekatinya.
"Keterlaluan? Aku sudah baik hati tidak meniduri mu saat kamu pingsan, karena aku orang berpendidikan!" Jawab Fu Lan PeDe. Fu Lan menginjak kaki Vallen tanpa merasa bersalah.
"Aku akan membunuhmu, mencincang mu, merebus mu dan menjemur mu sampai kering untuk ku jadikan wayang!" Omel Fu Lan dingin. Tatapannya menunjukkan bahwa dia benar-benar marah.
"Kalau begitu, kenapa kamu menolongku? Bukankah lebih baik aku mati?!" Jawab Vallen kesal. Entah apa yang di inginkan orang gila di depannya itu.
"Karena aku ingin tahu suatu hal! Kamu sudah mau mati bukannya mengucapkan kalimat terakhir, tapi kamu malah menulis novel "Bos Gila Paranoid" apa maksudnya? Dan kenapa kamu bilang tidak ada yang percaya padamu? Coba jelaskan!" Fu Lan melempar setiap lembar tulisan Vallen yang di hutan ke udara.
"Jelaskan! Apa maksudnya Bos Gila Paranoid dan tidak ada yang percaya padamu? Apa kamu mengataiku aku gila? Apa aku punya salah dengan mu?" Tanya Fu Lan dingin. Tatapannya tajam setajam panah yang bisa tembus sampai dada Vallen.
"Apa kamu tidak merasa bersalah?" Tanya Vallen sinis.
"Aku tidak pernah salah! Kamu yang naik ke ranjang ku dan melahirkan anakku. Sekarang kamu menyembunyikan nya dan tidak mau menyerahkan anak itu. Tidak tahu apa yang kamu inginkan. Sudah menyembunyikan anakku dan sekarang mengataiku gila. Nyalimu benar-benar besar. Aku harus bagaimana menghadapimu? Satu lagi kamu juga menyembunyikan keperawananmu!" Bentak Fu Lan dingin, sampai otot-otot lehernya terlihat. Bahkan dia merentangkan ke dua tangannya di pinggang.
"Aku tidak pernah bohong, lagi pula kamu tidak percaya...dan satu lagi, ingat kamu yang merampas keperawanku!" Jawab Vallen lirih namun penuh penekanan. Ia sudah merasa lelah dengan kehidupan ini.
__ADS_1
"Cih... buktikan kalau kamu tidak pernah bohong, dan kumpulkan buktinya, lempar ke orang itu. Buktikan kalau kamu tidak salah, biarkan orang itu malu. Bukan menyerah begitu saja! Dan menunggu kematian!" Bentak Fu Lan. Meskipun terlihat memarahi dan menggunakan nafa tinggi, tapi sepertinya Fu Lan ingin Vallen menjadi wanita kuat dan tidak mudah di tindas.
"Eh... orang yang selalu menekanku, sepertinya dia membujuk ku untuk tidak putus asa dan mati sia-sia." Vallen menganga menatap Fu Lan dengan tidak percayanya.
"Apa lihat-lihat? Aku tidak pernah salah! Aku hanya mengajarimu memperjuangkan hidup!" Kata Fu Lan penuh percaya diri.
"Dia... dia memberiku kesempatan?" Tanya Vallen dalam hati berbunga-bunga.
"Jadi... apa boleh aku mengumpulkan bukti?" Tanya Vallen semangat. Dia bangung dari tidurnya mendekati Fu Lan. Untuk memastikan ucapan Fu Lan.
"Boleh!" Jawab Fu Lan singkat.
"Apa, ternyata dia mengijinkanku?" Tanya Vallen masih tak percaya.
"Vallen Nastya, aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah. Aku beri waktu 1 minggu, kalau kamu tidak bisa membuktikan, kamu harus kembali kerumah ini dan serahkan anak itu baik-baik!" Kata Fu Lan dengan gaya sombongnya. Meskipun begitu dia memberikan kesempatan pada Vallen untuk mencari bukti.
"1 minggu? apa cukup?"
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
yang banyak ya... biar authornya semangat.
__ADS_1
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya*...!!!