Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Fu Lan terus menatap Vallen dengan tatapan yang tak menentu dengan bertolak pinggang.


"Bagaimana, cepat putuskan! Sebelum aku berubah pikiran." Sambungnya lagi. Vallen diam membisu, menatap Fu Lan penuh tanda tanya.


"Ini kesempatan, jarang sekali dia memberiku kesempatan, aku tidak boleh menolak. Tapi Fu Lan ini suasana hatinya tidak menentu..." Batin Vallen ragu.


"Baik, aku setuju." Yakin Vallen. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka yang di berikan Fu Lan. Masalah hati Fu Lan, urusan belakang.


Fu Lan duduk di lantai menyamai duduk Vallen. Tatapannya penuh selidik. Entah apa yang mau ia lakukan.


"Sekarang kamu jelaskan hal ini." Fu Lan menyerahkan kertas dengan tatapan membunuhnya.


"Hal apa?" Tanya Vallen bingung.


"Siapa Helmi? Kekasihmu?" Sarkas Fu Lan.


Mata Vallen melotot. Ia tidak menyangka kalau Fu Lan akan mempermasalahkan nama tokoh novel.


"Helmi? Dia... hanya adik ipar ku." Jawab Vallen dalam hati. Ia sedih jika mengingat tentang Helmi.


"Jawab...!" Bentak Fu Lan dengan mencengkram baju Vallen. Ia tidak sabar yang melihat Vallen melamun.


"Itu hanya nama tokoh di novelku." Jawab Vallen lirih.


"Hampir mati masih membuat novel, kamu memang hebat." Fu Lan melepaskan cengkraman nya.


"Bagus kalau bukan kekasihmu, Vallen Nastya aku ingatkan kamu, kamu adalah ibu dari anakku, tidak boleh berhubungan dengan pria manapun!" Imbuhnya lagi. Ia menyobek lembaran kertas milik Vallen. Dan melemparnya begitu saja.


"Semua yang aku tulis adalah kenangan tentang kebersamaan ku dengan Helmi, semua di sobek hingga hancur oleh Fu Lan. Seperti semua tentang aku dengan Helmi di takdir kan tidak bisa bersama hingga membuatku hancur."


Bayangan masa lalu berklebatan di benak pikiran Vallen. Senyum Helmi, tatapan Helmi, kata-kata Helmi, semuanya tersimpan rapi di dalam memori.


"Fu Lan, bukan kamu mau bukti? Ambil ini!" Vallen melempar berkas ke wajah Fu Lan dan semua kepengawalnya dengan arogan.


"Lihat baik-baik, ini buktinya! Aku tidak pernah bohong!" Imbuhnya dengan gaya angkuh.


"Vallen Nastya, aku salah, maaf kan aku." Mohon Fu Lan dengan air mata yang mengalir. Dia dan para pengawalnya tidak segan-segan sujud di bawah kaki Vallen dengan mohon ampun.


"Hahahaha..." Tawa Vallen penuh kemenangan.


"Silahkan hukum aku, dengan cara apa pun!" Fu Lan memegang kaki Vallen dan bersujud di bawahnya.


"Hahaha...aku akan mencambuk mu hingga mati!" Tawa Vallen jahat.

__ADS_1


"Wanita, apa yang kamu tertawakan dalam tidur mu?" Tanya Fu Lan membuyarkan mimpi indah Vallen. Dia melihat Vallen tidur dengan tawa terbahak-bahak seperti orang gila.


"Hm..." Vallen mengerjakan matanya. Terbangun dari mimpi indah.


"Ternyata cuma mimpi!"


"Aaaaa..." Teriak Vallen yang baru sadar, saat melihat Fu Lan sudah berbaring di sampingnya.


Dengan wajah polosnya Fu Lan, justru semakin mendekati Vallen.


"A... apa yang kamu lakukan kan?" Tanya Vallen. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Tidur." Jawab Fu Lan santai.


"Tapi ini ranjang ku..." Bantah Vallen.


"Ini rumahku, aku mau tidur dimana pun, tidak ada yang bisa melarang!" Jawab Fu Lan tanpa dosa.


"Baik, kalau begitu aku pergi." Saat hendak beranjak, Fu Lan mengunci tubuh Vallen dengan kakinya.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Vallen kesal.


"Tidur, tidurlah bersamaku wanita ku." Seringai Fu Lan licik.


"Kamu yakin mau pergi? Baik. Kalau kamu pergi tidak ada kesempatan mencari bukti dalam 1 minggu ini." Senyum jahat Fu Lan.


"Jahat! Kamu mau melanggar omongan mu sendiri?!" Kesal Vallen. Dia merasa di permainkan oleh Fu Lan. Ingin marah namun tidak berani. Ini lah yang dirasakan Vallen.


"Keputusan ada di tanganmu, tidak ada hubungannya dengan ku." Seringai devil Fu Lan.


"Apa yang harus aku lakukan? di satu sisi aku ternoda, di sisi lain aku tidak mendapatkan kebebasan."


Fu Lan yang melihat Vallen bengong, membuat hatinya kesal. Dia menarik tengkuk Vallen dan ******* bibir Vallen tanpa aba-aba.


"Kau...!" kaget Vallen. Dia mencoba memberontak dari kungkungan Fu Lan, namun sia-sia. Tenaganya tak sebanding dengan Fu Lan.


"Dasar bajingan! Kau jelas-jelas punya banyak wanita lain..." Protes Vallen.


"Ya, jadi aku bisa tidur dengan siapa pun." Jawab Fu Lan enteng. Pandangannya penuh hasrat. Seperti harimau menemukan mangsa.


"Terserah lah, tidak ada yang bisa melawannya, dan tidak ada yang bisa mencegahnya. Biarlah apa pun yang dia lakukan. Biarlah dia memperkosa ku lagi, ini yang terakhir kalinya, besok aku harus pergi!" Pasrah Vallen.


Fu Lan memulai aksinya, dengan gerakan kecil dan halus membuat Vallen menggeliat geli. Merayap perlahan dan naik ke bukit kembar. Menggengam dan memelintir bagian ujungnya. Membuat tubuh Vallen kian menegang seperti tersengat listrik.

__ADS_1


"Aku jamin, kau tidak bisa bangun besok, jika kamu memberontak." Ancam Fu Lan di telinga Vallen di tambah sentuhan lidah Fu Lan, membuat Vallen tidak bisa berkutik. Melihat Vallen pasrah, Fu Lan semakin bersemangat. Mulai ber petualangan di setia anggota tubuh Vallen yang begitu indah.


Memberikan sentuhan lembut dan memberikan tanda kepemilikan di setiap inci. Tak sedikit pun terlewatkan dari jelajah Fu Lan.


"Uhh... Mmm..." ******* halus dari Vallen. Vallen membekab mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara menjijikan itu.


"Dasar bodoh! Kenapa harus bersuara segala sih?! Makin besar kepala kan si Fu Lan ini!" Rutuk Vallen dalam hati.


Fu Lan yang mendengar ******* kenikmatan Vallen, Ia tersenyum penuh kemenangan. Dia semakin semangat berselancar untuk memberikan kenikmatan untuk Vallen. Setiap goyangan di iringi lagu yang merdu, suara Vallen dan Fu Lan saling bersahutan. Membuat kamar yang kedap suara itu bergetar. Fu Lan memang hebat, dia tahu caranya membuat wanita di bawahnya menjadi tak berdaya. Dengan kelihaiannya dan kelincahannya membuat mereka sama-sama mencapai ke puncak nirwana.


Nafas mereka tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Keringat bercucuran membasahi seprai dan bantal. Ruangan yang dingin tidak bisa membuat dua insan itu merasa gerah. Vallen yang kelelahan, langsung tidur tanpa membersihkan diri.


Keesokan harinya, Vallen terbangun dan merasakan tubuh sakit semua, seperti habis di gebukin.


"Hmm..." Vallen mencoba menggerakkan tubuhnya.


"Ah... sakit sekali!" Dia seperti binatang, yang gak kenal lelah!" Gumam Vallen lirih. Di pengang nya banyak sebelah ternyata kosong.


"Eh... dia sudah pergi?" Tanya Vallen pada dirinya sendiri.


"Baik, aku akan segera pergi dari sini, kalau terus disini, tidak tahu apa yanga akan dilakukan Fu Lan." Vallen bergidik ngeri.


"Tuan Felix!" Panggil Vallen saat melihat Felix yang sedang membaca dokumen.


"Nona Vallen, kau terlihat lebih segar, di bandingkan kemarin, saat tuan muda Fu Lan menggendong mu waktu itu." Senyum Felix mengembang.


"Menggendongku?"


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat.


Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!

__ADS_1


__ADS_2