Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Tekanan Mental


__ADS_3

"Dia benar-benar kejam, aku harus cari cara untuk melarikan diri. Cuma orang gila yang menganggap dirinya benar. 1 banding 10000? ck benar-benar tidak masuk akal." Vallen ngedumel sambil jalan kesana kemari.


"Ah... jendela! Ya, di situ ada jendela, aku harus lompat keluar!" Dengan semangat Vallen mendekati jendela dan membuka kordennya. Sayangnya Vallen berada di lantai 3. Sedangkan di bawah banyak sekali penjaganya.


"Sial... tidak bisa kabur!" Kesal Vallen. Tak sengaja Vallen melihat sebuah telepon rumah.


"Itu... pasti bisa di gunakan. Aku harus cepat minta bantuan dari luar." Dengan tangan bergetar, Vallen mencoba hubungi polisi, pemadam kebakaran dan rekan kerjanya. Tapi lagi-lagi Vallen harus menelan rasa kecewa, sebab tidak ada jaringan di rumah ini.


"Fu Lan sialan... pasti dia sudah merencanakan ini?!" Umpat Vallen kesal.


"Pasti ada jalan keluar." Yakin Vallen. Jantung Vallen berdetak semakin kencang. Dia seperti maling yang sewaktu-waktu ketahuan.


"Nah... ada leptop, semoga bisa di gunakan." Vallen mengecek pintu kamar. "Syukurlah pintunya di kunci!" Dengan bergegas Vallen menghampiri komputer itu.


"Syukurlah! nyambung ke internet." Dengan jari bergetar dan jantung berdetak, Vallen mencoba mengirim pesan kepada rekannya lewat email.


"Fu Lan... tunggu saja! Aku akan mengembalikan rasa sakit ku terhadapmu." Yakin Vallen. Ketika pesan hendak terkirim, tiba-tiba internetnya terputus.


"Apa yang terjadi? Sinyalnya hilang?" Kaget Vallen.


"Tidak, aku harus mencobanya lagi! Aku harus keluar dari sini. Coba bikin status di FB, siapa tahu ada yang baca. Ah... sial tetap tidak bisa...!" Vallen mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.


Ceklek


Pintu terbuka dengan Felix mendorong makanan yang sangat banyak.


"Kenapa pintunya terbuka? Bukankah tadi aku kunci?" Batin Vallen bingung.


"Nona Vallen, jangan buang-buang tenaga, kamu tidak akan bisa lari dari sini." Vallen menatap Felix kesal.


"Kenapa?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Vallen.


"Keluarga Fu Lan bisa mengendalikan semua jaringan yang ada di semua perangkat elektronik, dan semua yang ada di rumah ini di kendalikan oleh tuan muda sendiri. Kalau kamu ingin telepon keluar, kamu harus bisa mengalahkan tuan muda... kalau tidak akan sia-sia." Jelas Felix yang merasa bangga dengan kemampuan tuan mudanya.


"Huh... " Senyum kecut Vallen.


Pada akhirnya semua yang aku lakukan tidak berguna. Hanya bisa jadi tawanan disini, tidak bisa kabur. Vallen memeluk tubuhnya sendiri. Dia menangis terisak membuat tubuhnya terguncang.

__ADS_1


"Nona Vallen, silahkan makan hidangan ini. Kamu perlu tenaga untuk menghadapi tuan muda." Kata Felix penuh makna. Vallen tidak menanggapi ucapan Felix.


"Apa karena dia Fu Lan?" Batin Vallen.


"Aku tidak punya anak, aku juga tidak pernah melahirkan anak Fu Lan..." Teriak Vallen. Felix tidak menanggapi ucapan Vallen. Dia membalikkan badan dan siap meninggalkan Vallen.


"Tuan Felix, dengan cara apa agar Fu Lan mau melepaskan ku? Apa dengan aku memohon dan berlutut, Fu Lan mau melepaskan ku? Dengan bersujud apa ada gunanya?" Tanya Vallen dengan isak tangis. Membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan kepiluan nya.


Felix membalikkan badan, menatap Vallen dengan tatapan sendu. Dia tidak menjawab pertanyaan Vallen. Dia tidak mau memberikan harapan palsu terhadap Vallen. Dia tahu watak tuan mudanya, meskipun Vallen nangis darah, semua tidak ada gunanya.


"Apakah aku harus bersujud pada orang itu? Kalau itu bisa membuatku bebas, apalah artinya harga diri?!"


****


Setelah kejadian itu, Fu Lan tidak pernah muncul di hadapan Vallen. Di penjara di istana beberapa hari, membuat mental Vallen menurun. Dimana pun Vallen berada, penjaga selalu mengikuti Vallen. Bahkan Vallen tidak boleh keluar dari pintu utama.


Setiap hari mereka menakan ku dengan pertanyaan yang sama. Menggunakan berbagai macam cara. Menodongkan pistol di kepala, tidak boleh mandi 1 minggu, tidak boleh kentut, di masukkan kandang Singa. Sungguh, semua itu membuatku lelah.


Melalui hari seperti ini, membuat hidup Vallen semakin hancur. Sampai sekarang dia tidak mengerti, kenapa Fu Lan yakin bahwa aku melahirkan anaknya.


Bahkan dia sempat berpikir, apakah dia pernah kecelakaan dan hilang ingatan? Tapi semua masa kecil sampai remaja aku ingat semua, kecuali tentang anak.


"Nona Vallen, dimana kamu menyembunyikan anak tuan muda?" Salah satu pengawal menodongkan samurai di leher Vallen.


"Aaghhh...aku tidak punya anak, jangan tanya tentang anak lagi...!" Teriak Vallen menutup telinganya.


"Kalian semua, meskipun 1000 kali bertanya tentang anak, jawabannya sama, aku tidak pernah punya anak dan tidak pernah melahirkan anak!" Jawab Vallen lirih.


"Tolong lepaskan aku... biarkan aku bebas..." Mohon Vallen dengan deraian air mata.


Semua pengawal pergi berlalu, dan tidak mendapatkan hasil.


"Nona Vallen tidak takut dengan ancaman apa pun! apa yang harus kita lakukan?" Tanya salah satu anak buah Felix.


"Dia sangat keras kepala!" Sahut nya lagi.


"Sudahlah kita pikirkan besok lagi." 5 Pengawal melenggang pergi meninggalkan Vallen sendiri dalam kesakitan.

__ADS_1


Hari berikutnya Vallen masih meringkuk di pojokan kamar. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Hari-hari dia habiskan untuk menangisi ke sialannya.


Sedangkan di kamar sebelah Fu Lan tengah asik bercumbu dengan wanita yang memujanya. "Tuan Fu Lan... ah jangan nakal...


ah... mm" Tidak sengaja Vallen mendengar seseorang bercumbu di kamar sebelah. Membuatnya semakin muak.


"Tuan Gu Lan... kapan Vio bisa naik derajat?" Tanya Vio di tengah asiknya.


"Kamu mau naik derajat?" Tanya Fu Lan dingin.


"Aku tidak berharap menjadi nyonya Fu, cukup jadikan aku pacarmu dan di akui oleh seluruh dunia juga boleh. Aku akan sangat pengertian dan membebaskan mu memiliki banyak istri. Gimana?" Tawar Vio.


"Itu semua tergantung kamu." Jawab Fu Lan enteng.


"Aku janji, akan jadi wanita terbaik di dunia." Jawab Vio sungguh-sungguh.


"Sip." Jawab Fu Lan singkat.


Vallen yang mendengar percakapan mereka semakin muak.


"Dia tidak cuma gila, tapi dia benar-benar binatang berwujud manusia, dia juga iblis perayu wanita. Dia tidak bisa hidup dengan 1 wanita. Hidupnya di kelilingi wanita yang mengejarnya, cuma mau di jadikan pacar? sungguh menjijikkan!" Batin Vallen marah.


Suara ******* semakin kencang, seperti di sengaja. Membuat telinga Vallen semakin panas di buatnya.


"Sudah cukup, aku tidak mau dengar lagi! Dasar tidak tahu malu!" Vallen beranjak dan hendak keluar dari kamar.


"Dasar orang kaya sombong, berbuat sesuka hatinya! Apa mentang-mentang dia kaya dia bebas melakukan mesum? Sungguh kotor... " Di sepanjang jalan, Vallen yang merasa kesal, Dia masih mengumpati Fu Lan dengan kata-kata kotor. Dia tidak peduli dengan para pengawal yang mengikuti di belakangnya.


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote

__ADS_1


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat


__ADS_2