
Vallen memutuskan panggilannya sepihak. Ia senyum penuh kemenangan. Karena sebentar lagi ia akan segera bebas dari gangguan bos gila itu. Sedangkan di ruang lain dimana Fu Lan berada, Ia terlihat marah besar. Fu Lan tak terima perintahnya di abaikan begitu saja. Sejak kecil bahkan sampai sekarang baru kali ini ada yang berani melawannya dan mengabaikannya.
"Vallen... lihat saja bagaimana aku menghukum mu." Tangannya mengepal, dan rahangnya mengeras. Matanya berubah merah nyalang menahan amarah yang siap meledak.
Sedangkan di ruangan di mana Vallen berada, Vallen meras bingung dan gugup, bagaimana cara mengungkapkan maksud tujuannya.
"Dok, aku mau periksa aku pernah hamil atau gak." Vallen memalingkan wajah malu.
Sumpah demi apapun, aku malu banget! Gak nyangka aku ke dokter kandungan demi hal ini. Vallen menggigit bibir bawah.
"Hah? Apa yang kamu bilang?" Tanya dokter bingung.
"Ah gini dok, aku punya alasanku sendiri. Aku dan pacar aku akan segera menikah. Tapi belakang ini dia dengar kalau aku pernah melahirkan anak. Sekarang dia memperlakukanku dengan buruk. Jadi aku mau membuktikan kalau aku gak pernah hamil. Dokter bantu aku!" mohon Vallen melas. Wajahnya yang putih bersemu merah menahan malu. Entah apa yang akan dipikirkan dokter di depannya itu.
"Sungguh gadis malang. Dasar anak muda jaman sekarang, dari generasi ke generasi semakin lama semakin parah." Sinis dokter tersebut.
"Ya..." Vallen mengganggu kan kepalanya berkali-kali membenarkan kata-kata dokter.
"Emm... pemeriksaanya gimana ya dok?" Tanya Vallen penasaran. Pasalnya baru kali ini Vallen masuk ke dokter kandungan.
"Pemeriksaannya visual saja. Aku sudah punya pengalaman selama 25 tahun. Hal ini sangat mudah bagiku. Sekarang kamu berbaring dan buka celana." Kata dokter lugas, sambil menunjukkan tempat pembaringan.
"Bu... buka...! Syok Vallen langsung berdiri dari duduknya. "Apa gak ada cara lain?" Tanya Vallen. Karena saat ini yang akan memeriksa dokter laki-laki yang sudah berumur. Dan yang di periksa adalah bagian intim.
"Ini cara yang efektif dan paling cepat." Jawab dokter enteng. Sedangkan Vallen melangkah ragu menuju pembaringan. Jantungnya berdetak cepat. Wajahnya merah merona. Tubuhnya tegang.
"Cepat sedikit, aku masih banyak pasien." Perintah dokter dengan menyiapkan alat seteril yang melihat Vallen bengong.
Tenang Vallen, cuma sebentar kok! setelah selesai aku akan melempar buktinya ke wajah Fu Lan. Gak apa-apa kok! Anggap aja seperti pemeriksaan fisik biasa. Batin Vallen mencoba menghibur dirinya sendiri.
Dengan ragu Vallen membuka kancing rok yang ia kenakan.
Brak... Brak... Brak...
"Vallen Nastya... buka pintunya!" Teriak Fu Lan dari luar sambil menggedor pintu. Membuat Vallen dan dokter terperanjat kaget.
"Cari mati ya! Beraninya kamu melakukan pemeriksaan seperti ini?" Fu Lan masih berusaha mendobrak pintu tersebut.
__ADS_1
"Eh? Pintunya." Vallen membekab mulutnya tak percaya.
Hah... hah... hah... terdengar nafas Fu Lan terengah-engah setelah berhasil menjebol pintu.
"Vallen Nastya! Beraninya kamu..." Dengan rahang mengeras Fu Lan menghampiri Vallen.
"Eh... ngapain?" Tanya Vallen dengan bodohnya. Tanpa permisi Fu Lan memaksa mengancingkan rok Vallen.
"Aduh... duh... sakit!" Teriak Vallen meronta.
"Siapa yang ijinin kamu periksa beginian?" Teriak Fu Lan marah.
"Aku butuh bukti!" Bela Vallen tak mau kalah.
"Bukti? Dengan cara memperlihatkan kemaluanmu dengan orang tua cabul ini?" Tunjuk Fu Lan terhadap dokter.
Orang tua cabul? Gumam dokter masih mencerna kalimat Fu Lan.
Dokter tersebut tarik nafas panjang dan menjelaskan. "Maaf, saya seorang dokter, udah tugas saya melayani pasien. Tolong hormati pekerjaan saya. Lagian kamu kan pacarnya, kenapa kamu mencurigai pacar sendiri pernah melahirkan anak? Sangat tidak menghormati..." Nasehat dokter tenang tanpa melihat siapa lawan bicaranya.
"Hmm..." Fu Lan membusungkan dadanya di hadapan dokter tersebut. Membuat nyali dokter tadi menciut takut.
"Dok... dokter..." Teriak Vallen mencoba menahannya.
"Diam! lirik Fu Lan tajam setajam silet. " Kamu ingin banget ya pamer ******** terhadap orang tua tadi?" Tanya Fu Lan dingin.
"Dia seorang dokter, tidak ada perbedaan gender." Bantah Vallen tak mau kalah.
"Tapi dia cowok!" Fu Lan tak terima.
"Ok. Aku cari dokter cewek."
"Cewek juga ada yang lesbi." Bantah Fu Lan tak mau kalah.
"Mana mungkin..." Teriak Vallen gregetan.
"Mungkin saja." Bantah Fu Lan tak mau kalah lagi.
__ADS_1
Vallen menghembuskan nafasnya kasar, ia memegang keningnya dan menggelengkan kepala. "Oke, aku akan cari cara pemeriksaan dengan cara lain, boleh kan?!" Melas Vallen frustasi.
"Kamu mau pemeriksaan apa lagi?! Aku sudah periksa kamu luar dalam." Teriak Fu Lan lagi tak tahu malu. Membuat Vallen diam seribu bahasa. Karena percuma mau ngomong apa pun dengan Fu Lan, ujung-ujungnya ia pasti kalah.
"Vallen, kamu suka bugil di depan orang lain ya?" Seringai Fu Lan licik. "Atau kamu boleh tunjukkan sikap ****** mu itu cuma di depanku seorang, tidak boleh ke orang lain, itu sangat memalukan..." Angkuh Fu Lan bangga tanpa dosa.
Plak... tangan mulus Vallen mendarat ganas di pipi tampan Fu Lan. "Fu Lan, kamu keterlaluan!" Amarah Vallen meledak. "Kamu pikir ini karena siapa aku melakukan pemeriksaan ini?! Kalau bukan karena kamu gangguin aku terus seperti babi gila, kamu pikir aku mau kesini?" Imbuh Vallen. Dadanya naik turun, meluapkan semua amarah.
"Beraninya kamu tampar...!" Dingin Fu Lan. "Kamu menganggap ku babi gila?" Teriaknya lagi. Vallen tak menghiraukan amarah Fu Lan. Rasa takutnya meluap begitu saja bersama amarah.
"Kalian semua gila! Tanpa dasar kalian semua mengadili aku dengan prinsip gila kalian. Siapa yang pernah benar-benar mengerti aku?" Fu Lan tertegun.
"Kalian semua cuma menyiksaku, kalian semua tukang bully..." Lirih Vallen, suaranya terdengar serak karena tangis. Fu Lan yang melihat Vallen menangis terdiam tanpa kata. Tatapannya kosong,
Aku kan cuma ngomong beberapa kata kasar! Kenapa dia jadi sedih begini...? Dan lagi, dia bilang "kalian semua" siapa itu yang dia maksud? Gumam Fu Lan dalam hati. Fu Lan berjalan mendekati Vallen dan menyentuh pipi Vallen dengan lembut.
"Jangan sentuh aku!" Memalingkan wajah. "Tuhan telah mengirim mu ke sisiku untuk menyiksaku!" Lirih Vallen dengan menepis tangan Fu Lan. Membuat Fu Lan semakin geram. Dengan sedikit memaksa, bibir Fu Lan meraup benda kenyal Vallen dengan rakus. Vallen yang mendapat serangan dadakan membuat matanya membulat sempurna. Tangannya terus mendorong dan memukul dada Fu Lan. Namun Fu Lan tak bergeming. Ia terus ******* bibir Vallen.
"Vallen Nastya, aku menginginkanmu sekarang!" Kata Fu Lan di sela-sela ciumnya. Tanpa menunggu jawab dari Vallen, Fu Lan terus mengobrak abrik mulut Vallen.
"Bajingan, emm... pergi... " Teriak Vallen di setiap ada kesempatan bicara. Fu Lan tidak menghiraukan Vallen yang terus meronta-ronta di bawah kungkungan nya. Dia terus melancarkan aksinya mencari benda kenyal yang menjadi favorit nya itu. Bibir Fu Lan tidak tinggal diam. Ia menjelajahi setiap inci tubuh Vallen dengan lembut. Menciptakan suara kenikmatan yang di keluarkan Vallen. Bahkan di sekujur tubuh Vallen sudah di beri tanda kepemilikan Fu Lan.
Air mata Vallen terus mengalir deras. Meskipun begitu tetap saja Fu Lan tidak simpati. Ia menikmati permainannya yang ia ciptakan sendiri. Meskipun tanpa balasan dari Vallen. Akhirnya inti dari permainan itu masuk ke pusatnya untuk di manjakan.
Selanjutnya pikir sendiri ya say....!😁😁
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
__ADS_1
yang banyak ya... biar authornya semangat.
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!