
Vallen terus menangis terisak, karena lagi dan lagi Fu Lan melecehkannya tanpa memikirkan perasaan Vallen. Dengan tidak tahu malunya, bahkan Fu Lan melakukan di ruang perawatan Vallen.
Setelah penyatuan itu, Fu Lan menggendong Vallen menuju ruangannya dan melempar Vallen di atas kasur. Ruangan itu tidak seperti ruang rawat pada umumnya. Fu Lan menempati ruangan VIP, bahkan tempat tidurnya pun sama seperti ranjang di rumah.
"Vallen Nastya, jadilah pacarku!" Kata Fu Lan dingin. Setelah melempar Vallen tanpa perasaan. Namun Vallen diam membisu.
Bajingan, emangnya gak cukup apa di melecehkan ku?! Umpat Vallen.
"Kamu dengar gak? Jawab!" Bentak Fu Lan marah.
"Fu Lan brengsek! Kamu menyuruhku mencari bukti, itu semua cuma akal busuk mu aja, kan? Kamu gak berniat melepaskan ku? Mending bunuh saja aku!" Vallen tak mau kalah, dia bangkit dari tidurnya dan memarahi Fu Lan meluapkan emosi yang terpendam.
Apa? Dia beneran ingin mati? Dia sangat emosi, apa cuma pura-pura aja? Gumam Fu Lan menahan kesal.
"Fu Lan, bunuh aku!" Tantang Vallen. "Cepat!" Teriak Vallen menarik kerah Fu Lan.
"Diam! Atau aku bunuh kamu sekarang!" Teriak Fu Lan tak kalah kencang. Dia melepaskan cengkraman Vallen, dan meninggalkan Vallen dengan membawa segunung bom yang siap meledak.
"Setan" Umpat Fu Lan tanpa menghiraukan sapaan dari para pengawalnya.
"Tuan muda, sudah waktunya cek up." Panggil Felix mengingat kan.
"Tidak perlu!" Jawab Fu Lan lantang, Fu Lan terus berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan dengan kesal. Namun sesaat kemudian ia berhenti dan menatap Felix.
"Felix! Panggil Fu Lan serius.
" Ya, tuan muda?" Jawab Felix gugup.
"Apa aku kurang tampan?" Tanya Fu Lan tegas.
"Anda sangat tampan." Jawab Felix langsung. "Tuan, anda adalah tuan muda Fu yang paling tampan, bahkan jika di bandingkan artis ternama, semuanya lewat." Kata Felix menggebu-gebu. Fu Lan cuma melongo melihat Felix.
"Apa aku miskin?" Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Fu Lan.
"Kamu adalah Fu Lan, orang paling kaya di dunia ini." Yakin Felix. "Kalau anda miskin, siapa yang berani mengaku kaya?" Imbunya dengan tenang.
"Terus kenapa wanita tadi tidak mau tidur denganku? justru dia memilih mati?! Emangnya aku kurang kuat?" Tanya Fu Lan dengan wajah kesalnya. Meskipun wajahnya kesal namun terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Felix.
"Eh? wanita? maksudnya nona Vallen?" Tanya Felix linglung. "Aku rasa nona Vallen berbeda dengan wanita lainnya, yang mengejar harta dan status, kalau gak bagaimana mungkin dia menolak tuan muda?!" Tambahnya lagi.
Benar juga yang dikatakan Felix, kalau dia mengejar harta dan status, sudah dari dulu ia melemparkan dirinya suka rela... lalu, apa yang dia inginkan sebenarnya? Fu Lan coba berpikir. Dari kata-kata Vallen yang ia dengar tadi, Vallen bersemangat untuk mencari bukti, bahwa ia tidak pernah hamil. Dan dia ingin segera pergi dari kehidupanku. Dia terlihat sangat sedih dan tertekan setelah aku tidur dengannya.
"Oh aku tahu! Dia ingin kebebasan!" Tebak Fu Lan spontan. "Felix, cepat panggil pengacara kesini!" Perintah Fu Lan tegas.
"Baik." Jawab Felix tanpa pikir panjang.
__ADS_1
*
*
*
Tok... tok... tok... "Nona Vallen?" Senyum merakah di bibir Felix tidak pernah luntur.
"Apa dia sudah akan mengeksekusi?" Lirih Vallen. Tubuhnya bergetar takut.
"Nona Vallen, aku kesini atas perintah tuan muda untuk negosiasi dengan nona." Felix membuka buka yang ia bawa.
"Nego?" Tanya Vallen memastikan.
"Ya, tuan memberikan waktu tanpa batas pada nona untuk mengumpulkan bukti. Tapi syaratnya nona harus jadi pacarnya tuan muda. Sampai nona bisa membuktikan bahwa nona benar-benar tidak pernah melahirkan anak, atau nona menyerahkan anak tuan, saat itu nona bebas tanpa gangguan dari tuan muda." Baca Felix pada buku perjanjian yang sudah di setujui salah satu pihak.
"Sialan, aku menolak." Tegas Vallen yakin.
Dia Fu Lan, dia paranoid! Dia tidak bisa di percaya. Batin Vallen.
"Nona jangan menolak, tawaran ini sangat menguntungkan. Banyak cewek yang mau sama tuan muda dengan suka rela, meskipun servisnya sangat menarik, namun tuan muda akan tahan cuma 1 minggu satu cewek.
Tuan muda sudah terbiasa apa pun yang di ingin kan tuan muda selalu ia dapatkan. Semakin kamu menolak semakin tuan muda penasaran dengan kamu.
Kebebasan? ya, aku ingin bebas!" Gumam Vallen sedikit goyah.
"Silahkan dipikirkan saran ku tadi!" sahutnya lagi.
"Apa dia bisa di percaya?" Tanya Vallen ragu.
"Tenang saja, tuan muda tidak pernah ingkar janji. Ini ada kontrak nya." Senyum Felix. "Tanda tangan tuan muda sangat berharga. Maka, tidak ada alasan tuan ingkar. Keluarga Fu sangat menjunjung tinggi tanda tangan." Felix mencoba meyakinkan.
"Aku rasa kontrak tidak ada nilainya di depan mata cowok seperti dia." Masih ragu.
"Nona, harus memberikan kesempatan untuk hidup nona sendiri. Dan nona bisa menikmati hidup." Saran Felix.
Menikmati hidup? Aku rasa gak ada lagi yang bisa kunikmati di dunia ini. Benar, setidaknya aku harus memberikan kesempatan untuk diriku sendiri.
"Ok! Tapi aku ada syarat."
"Apa?" Tanya Felix tegang.
"Satu, walaupun dia menjadi pacarku, tapi dia tidak boleh meniduri ku seenak jidatnya!" Vallen memicingkan matanya dan mengerucutkan bibirnya. Wajahnya merah merona menahan malu.
Aku bukan pelacur, yang setiap dia mau aku harus melayaninya. Sangat menjijikkan. Gumam Vallen, ia mengingat kelakuan Fu Lan yang seenaknya selalu melakukan di mana pun dan kapan pun ia mau tanpa permisi.
__ADS_1
"Tidak boleh!" Sahut Fu Lan tiba-tiba muncul. Dengan suara bariton menggema memenuhi ruangan.
Apa? Dia menguping di balik pintu?! Batin Vallen tak percaya.
"Dasar sampah! Felix, kamu sering negosiasi saat bisnis, nego dengan satu gadis aja lambat!" Sungut Fu Lan.
"Maaf tuan muda, aku memang tidak berguna." Felix membungkukan badannya hormat.
"Vallen Nastya, dengerin aku! Aku tidak setuju dengan syarat tadi! Aku mau gituin kamu di manapun dan kapanpun, terserah aku!" Kata Fu Lan PeDe tanpa ragu.
"Kamu!" Marah Vallen. "Kalau gitu tak ada tanda tangan!" Memalingkan wajah.
"Gak tanda tangan ya, gak ada tanda tangan. Tapi aku tetap akan gitunin kamu!" Sombong Fu Lan bersedekap dada. Ia mengungkapkan kalimat itu tanpa malu.
"Kamu..." Teriak Vallen menutupi tubuhnya.
Ia tidak punya urat malu!
"Bagaimana?" Seringai licik." Kamu mau mati? Itu hal mudah. Aku punya banyak cara membuatmu mati!" Tatapan membunuh. Fu Lan melempar surat perjanjian itu.
"Kamu tahu, aku bukan orang sabaran, aku beri waktu 1 menit untuk berpikir, pertimbangkan baik-baik!" Skakmat Fu Lan. Dia tidak mau penolakan.
Vallen menggeratkan giginya, tangannya mengepal kuat menahan amarah.
Dia sama sekali tidak memberiku pilihan, lalu apa yang perlu di pertimbangkan? Vallen meraih polpain dan menanda tanganinya.
"Aku sudah tanda tangan."
"God."
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
yang banyak ya... biar authornya semangat.
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!
__ADS_1