Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Bertemu Helmi


__ADS_3

"Menggendongku?" Tanya Vallen tak percaya.


"Ya, Tuan muda yang pertama kali menolong mu saat kamu pingsan. Dia bahkan tidak meminta orang untuk menggendong mu pulang dari hutan, dan terlihat jelas bahwa tuan muda sangat khawatir." Jelas Felix.


"Aku baru pertama kali melihat tuan muda begitu peduli terhadap seseorang." Imbuhnya lagi.


"Peduli...? Jelas-jelas aku hampir mati di buatnya, kenapa di saat terakhir malah menolongku? Kenapa?" Batin Vallen bertanya-tanya.


"Felix, Fu Lan memberiku waktu 1 minggu untuk mencari bukti, aku akan pergi sekarang." Izin Vallen terhadap Felix.


"Baik, Nona Vallen hati-hati di jalan. Kami akan tetap mengawasi mu diam-diam. Tolong nona bisa jaga sikap. Jangan pernah meminta tolong pada orang, itu tidak berguna, itu akan membuat tuan muda marah." Terang Felix memberi nasehat.


"Aku tahu, terimakasih, kalau begitu aku pergi sekarang." Pamit Vallen dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Nona Vallen, tunggu sebentar, bolehkah aku minta tolong?" Panggil Felix, sebelum Vallen benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Ada apa?" Tanya Vallen bingung.


"Ikuti aku!" Perintah Felix. Vallen mengekor di belakang Felix.


"Dasar sampah, aku menyuruh kalian membuat puding stroberi, apa sesulit itu? Apa gelar kalian cuma gelar babi? Orang biasa saja bisa membuatnya 1000 kali lebih enak dari pada kalian!" Teriak Fu Lan yang marah-marah. Semua koki yang ada di depannya takut gemetaran. Tidak hanya itu saja, semua hidangan berceceran di lantai. Membuat semua orang tidak berkutik, menyaksikan aksi tuan mudanya mengamuk.


"Temperamennya sangat buruk, dia mudah emosi." Vallen yang menyaksikan pemandangan di depan itu sangat shok. Matanya membulat lebar tak percaya.


"Orang tua Felix itu sungguh tidak berguna, kenapa dia bisa merekrut kalian para sampah! Pergi semuanya, pergi! pergi...!" Teriak Fu Lan dia mengusir semua koki yang ada di rumah dengan tegas tanpa memikirkan perasaan mereka.


"Nona Vallen, mohon bantu kami." Mohon Felix pada Vallen lirih. Ia tidak segan menangkupkan kedua tangannya.


"Ah baik lah... cuma buat puding stroberi!" Jawab Vallen menyanggupi. Ia tidak tega melihat semua orang ketakutan sampai tubuhnya bergetar, seperi melihat pocong di siang bolong. Vallen berjalan perlahan mendekati Fu Lan, terlihat jelas bahawa Fu Lan sangat kesal.


"Oww...ternyata masih hidup! Habis olah raga semalam masih bisa turun dari ranjang?" Tanya Fu Lan dengan wajah angkuhnya.


"Ternyata selain monster, mulutnya sangat beracun! Tahan..."


Vallen menarik nafas panjang mencoba mengontrol emosinya.


"Apa kamu mau puding buatan ku?" Tawar Vallen dengan senyum paksa di wajahnya.


"Tidak, buatan mu tidak enak!" Jawab Fu Lan menggelengkan kepala yakin.


"Sungguh?" Tanya Vallen meyakinkan.


"Ya." Jawab Fu Lan sok yakin.


"Dasar pendusta, padahal baru saja dia memuji buatan ku." Batin Vallen menghina.

__ADS_1


"Sungguh tidak mau?" Tanya Vallen sekali lagi dengan ekspresi tampang tak percaya.


"Kenapa kamu belum pergi? Aku sebal melihatmu!" Jawab Fu Lan acuh.


"Baik! Kalau begitu aku pergi..." Goda Vallen dan langsung meninggalkan Fu Lan.


"Hai... berhenti! Cepat buatkan!" Teriak Fu Lan tanpa malu.


"Pria ini sungguh tidak ada duanya." Geram Vallen yang gregetan.


Beberapa jam kemudian... Fu Lan menghabiskan beberapa loyang puding berbagai rasa.


"Ah...enaknya!" Desah Fu Lan menikmati suap demi suap.


"Dasar babi, dulu masih bilang tidak doyan, sekarang makan seperti orang kelaparan... Semoga kamu mati dengan perut kembung!" Geram Vallen yang menyaksikan Fu Lan menghabiskan 15 loyang puding tanpa henti.


"Tugasku selesai! Aku akan pergi mencari bukti dulu." Vallen beranjak pergi meninggalkan Fu Lan.


"Mau ke mana? Bagaimana kalau aku mau puding lagi?" Tanya Fu Lan menghentikan Vallen.


"Apa urusannya denganku?" Batin Vallen geram.


"Kalau sudah habis aku akan buatkan lagi." Jawab Vallen dengan senyum kecut.


"Oh... kalau gitu pergilah..." Jawab Fu Lan enteng. Melanjutkan makan puding yang masih sedikit tersisa.


"Dasar menyebalkan, tidak tahu mengucapkan terima kasih." Gerutu Vallen.


"Nona Vallen, sekarang mau aku antarkan kemana?" Tanya supir yang akan mengatarkannya.


"Tolong antar ke pemandian panas dulu." Perintah Vallen.


"Baik." Jawab sopir sopan.


Setelah 1 jam Vallen sampai di tempat tujuan. Dia segera menghampiri resepsionis untuk menanyakan barang buang tertinggal.


"Aku mau mengambil tas dan ponselku yang tertinggal. Tolong carikan!" Vallen menghampiri resepsionis.


"Silahkan masukkan data, nona." Perintah Resepsionis ramah.


Setelah pengisian data, ada petugas yang mengambilkan barang milik Vallen dan menyerahkan.


"Ternyata batrainya habis, perlu isi ulang." Gumam Vallen yang mengecek hpnya ketika sudah keluar dari sauna.


"Vallen Nastya!" Panggil seseorang yang tidak asing.

__ADS_1


"Helmi?" Batin Vallen. Dia menengok ke arah sumber suara.


"Bukankah kamu di culik? Kenapa masih hidup?" Tanya Helmi sinis. Vallen diam membisu, dia tidak menyangka, orang yang pernah ia tolong bisa bersikap kejam.


"Kenapa tidak bicara? Tidak tahu bagaimana cara meneruskan sandiwaramu? Lebih baik ajari aku, bagaiman kecerdikan mu berhasil melarikan diri dari penculik." Suhutnya lagi. Tapi Vallen tetap diam. Percuma ia membela dirinya, dia tetap tidak percaya.


"Tidak mau bicara, kakak ipar?" Tanya Helmi menekankan setiap panggilannya. Tangan Vallen mengepal. Hatinya sakit seprti tercabik-cabik.


"kakak ipar... dia memanggilku kakak ipar. Aku kira setelah melewati ambang kematian tidak akan merasakan sakit hati. Tapi mendengar kata-kata nya hati ini terasa teriris." Sedih Vallen. Matanya berkaca-kaca menunggu air mata jatuh.


"Apa kamu sangat membenciku, Helmi?" Tanya Vallen lirih.


"Menurutmu aku harus bersikap seperti apa, terhadap wanita yang sering menggangguku, calon adik iparnya sendiri? Menyambutmu dengan pelukan, atau menciummu?" Sini Helmi.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi lagi." Jawab Vallen dengan dada bergemuruh.


"Kamu pikir aku percaya?" Tanya Helmi.


"Dulu, aku akan menyerah setelah kamu menikah dengan Vivi. Sekarang aku akan menyerah terlebih dulu." Senyum kecut Vallen.


Beberapa tahun ini, setiap aku melihat Helmi dan Vivi bercumbu mesra di depanku, setiap kali itu juga aku akan mensahati diriku sendiri untuk menyerah. Bahkan aku sering melihat foto berita Helmi dan Vivi keluar masuk hotel.


Aku memutuskan untuk kencan buta... hanya orang kesepian yang akan melakukan kencan buta. Semua yang ku lakukan karena aku terlalu cemburu, ya, cemburu sampai gila...


Aku tahu, aku tidak benar-benar menyerah. Tapi kali ini aku sungguh harus menyerah. Atau aku akan berterimakasih pada Fu Lan, karena dia membuatku melihat dengan jelas.


Di kediaman Fu Lan, Helmi berkata akan dengan senang hati menerima jasadku sebagai kaka ipar, dan memberikan bunga lili sebagai hadiah. Helmi yang aku kenal dulu tidak akan kembali.


"Helmi, beberapa tahun ini aku sungguh berusaha, kalau suatu hari... kamu sudah ingat, jangan salahkan aku." Peringatan Vallen untuk terakhir kalinya. Vallen mencoba untuk tegar, namun air matanya tidak bisa di ajak kompromi. Air mata itu jatuh dengan sendirinya tanpa permisi.


"Apa harus menyakiti ku seperti ini?" Lirih Vallen. Mungkin cuma Vallen sendiri yang mendengar perkataannya


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat.

__ADS_1


Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!


__ADS_2