Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Hukuman Vallen


__ADS_3

Helmi Palupi, sejak kecil dia buta. Karena takut mencoreng nama baik keluarga Palupi, orang tuanya mengirimkannya ke keluarga Shen untuk di rawat. 7 tahun yang lalu, dia menjalankan operasi untuk mengembalikan penglihatannya. Setelah operasi, Helmi mengalami hilang ingatan karena kesalahan kecil saat operasi.


Setelah dapat melihat, dia jatuh cinta pada adikku Yun. Dunia seakan berhenti berputar bagi Vallen. Hari yang harusnya bahagia tapi justru menjadi jurang kehancuran bagi Vallen. Helmi sudah tidak ingat tentang aku, tentang kebersamaan dan janji pernikahan. Di saat masih kecil, dia selalu berkata akan menikahi ku itu lah yang di ucapkan Helmi ketika bersamaku. Namun semuanya hilang setelah operasi.


Vallen mengingat kembali masa kecil yang menyenangkan bersama Helmi. Mengingat pengorbanannya ketika tidak ada yang menginginkan Helmi. Dia lah garda paling depan yang melindungi Helmi. Namun sekarang semua sirna.


Vallen menangis tersedu. Tubuhnya bergetar. Vallen memukul-mukuk dadanya yang terasa sesak.


"Nona Vallen, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Felix yang khawatir melihat Vallen menangis begitu pilu.


"Siapa yang ia telepon? Dia sangat terlihat sangat sedih di bandingkan mendapat pukulan dari tuan muda... " Pikir Felix dalam hati.


"Tuan Felix, aku sudah siap pergi ke hutan." Jawab Vallen dengan senyum yang mengembang. Seolah yang dia hadapi bukan hal yang menakutkan. Tangisnya berhenti seketika. Dia seolah sudah siap apa yang di hadapinya nanti.


"Aku baru sadar, ternyata di dunia ini tidak ada yang peduli denganku! Mendengar Helmi bicara tadi, aku yakin tidak ada yang sadar kalau aku menghilang. Tidak tahu berapa lama ada orang yang sadar kalau aku menghilang. Aku ingin lihat siapa orang pertama yang akan merasa kehilangan diriku, orang tua angkat, rekan kerja, atau Helmi...? Bukankah sekarang sudah tidak penting." Senyum Vallen mengejek dirinya sendiri.


Felix yang melihat tingkah Vallen, mengerutkan kening dan menghela nafas panjang.


"Nona Vallen, kamu sungguh memilih mati dari pada menyerahkan anak?" Tanya Felix mencoba meyakinkan.


"Kalau memang ada yang di serahkan, maka akan aku serahkan, agar aku bisa bebas dari orang gila itu. Aku tidak punya pilihan lain, dari pada di jadikan mainan di atas ranjang, lebih baik aku mati di hutan." Jawab Vallen dingin.


"Nona Vallen!" Panggil Felix. Tapi yang di panggil tidak menghiraukan. Dia terus berjalan dan di giring pengawal masuk ke dalam hutan.


Sedangkan Fu Lan yang mengawasi dari CCTV terlihat sangat kesal.


"Wanita ini...dia benar-benar memilih mati dari pada menyerahkan anak." Gerutu Fu Lan tanpa ekspresi. Dia menganggap kalau Vallen benar-benar kepala batu.


Felix yang tugasnya selesai menghampiri Fu Lan.


"Tuan Muda, apa hukuman ini tidak keterlaluan?" Tanya Felix yang menghampiri Fu Lan di ruang istirahat. Dia masih menghawatirkan Vallen yang berada di dalam hutan.


"Felix, nampaknya aku terlalu baik denganmu, sehingga berani memberikan komentar terhadap majikan mu. Apa kamu meragukan Tuan Mudamu?" Tengok Fu Lan dengan tatapan tajam, setajam pedang samurai.

__ADS_1


"Bukankah tuan muda hanya menginginkan anak? Aku khawatir kalau Nona Vallen tidak akan bertahan!" Jawab Felix tenang.


"Aku terlalu memanjakannya, tunggu sampai dia merasakan nyawa di ujung tanduk, baru dia akan tunduk." Seringai Fu Lan jahat.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi tapian, semuanya pergi!" Bentak Fu Lan marah.


"Baik." Jawab Felix pasrah. Dia membungkukkan badan dan menghilang dari hadapan Fu Lan. Dia tahu kalau tuannya marah, akibatnya akan fatal.


"*Felix tidak pernah membantah ku sebelumnya, bahkan dia orang yang paling aku percaya sejak aku kecil sampai sekarang. Sekarang, berani-beraninya dia meminta belas kasihan demi seorang wanita yang hanya pandai drama.


Semuanya karena wanita ini, wanita yang mengejekku dan menyuruhku berobat! Dia pantas mendapat kan hukuman*." Geram Fu Lan, Dia menggeratkan giginya. Dan kembali melihat CCTV lagi, melihat Vallen yang sudah berada di hutan. Namun semua tidak sesuai yang Fu Lan harapkan. Melihat Vallen sedih, Fu Lan merasa hatinya sangat sakit.


"Cih... sial! dadaku sesak." Fu Lan mencemgkeram dadanya dan meringis. Namun Fu Lan tetap lah Fu Lan. Yang arrogan, sombong dan dingin. Dia mengabaikan semua rasa yang ia rasakan terhadap Vallen. Dia tidak akan puas sebelum apa yang ia inginkan tercapai.


****


Hari pertama Vallen di hutan, Vallen berjalan menyusuri hutan yang penuh dengan pohon besar meskipun pasrah, tetap aja Vallen hari waspada terhadap binatang buas.


"Ah... lelah sekali." Dia bersandar di bawah pohon yang besar. Menurut nya itu yang paling cocok untuk istirahat.


"Untungnya sebelum masuk aku minta buku dan polpain pada Felix." Gumam Vallen.


"Nona Vallen seorang novelis. Menulis untuk melampiaskan kekesalan juga tidak buruk." Senyum Felix dalam ingatan Vallen.


"Ide Felix tidak buruk! Aku ingat pertama kali menulis novel tentang dia...


"Vallen, jadikan aku tokoh utama dalam novelmu, aku ingin membaca semua karyamu."


"Suatu saat nanti kamu pasti akan bisa membacanya."


"Tunggu aku bisa melihat, aku akan menikahi mu. Orang tuaku takut aku jadi aib dan menyusahkan mereka, makanya aku di kirim ke keluargamu. Tapi hanya kamu yang mempedulikan ku, Vallen. Kamu harus tetap di sampingku. Tanpa ada kamu di sisiku, walau aku bisa melihat dunia, tapi tidak ada arah."

__ADS_1


Bayangan masa lalu berkelebatan seperti kaset berputar di otak Vallen. Kenangan saat-saat indah bersama Helmi.


"Dia yang takut kehilangan arah tanpaku... sekarang melupakanku. Dia sudah dapat melihat, sudah tahu akan melangkah ke segala arah. Tapi dia tidak akan melangkah ke arahku." Vallen menangis tersedu-sedu. Cinta masa kecilnya sudah melupakan sepenuhnya.


"Haha... bodoh sekali... bahkan aku masih mengingatnya, dan masih menulis namanya di novel ku?!" Vallen merutuki dirinya sendiri. Hari semakin gelap. Tanpa makan tanpa minum Vallen terus menangis dan menulis semua yang ada di dalam isi kepalanya. Badan Vallen semakin lemas dan bergetar.


Vallen memegangi perutnya yang terasa perih.


"Lapar sekali... apa ajalku sudah dekat?" Vallen meringis menahan perih di perut. Dia berjalan berharap menemukan makanan yang bisa di makan.


"Ada air embun di daun. Di minum seharusnya bisa..." Saat akan menghisap air embun, daun itu ada yang melempar pakai batu, membuat airnya jatuh ketanah.


"Aaaa... airku?!" Teriak Vallen yang merasa tidak rela. Tak sengaja Vallen melihat pengawal mengawasinya.


"Ternyata kalian yang melakukan?" Tanya Vallen kesal. Dia meninggalkan tempat itu dengan lemas.


"Apa Fu Lan berencana membuatku mati kelaparan? Selain gila ternyata dia juga iblis, kejam! Masa setetes air pun tidak boleh?" Gerutu Vallen yang merasa sedih. Dia mengambil daun yang basah tadi dan menatapnya.


"Sudahlah, lebih cepat mati lebih baik! Bisa mengurangi rasa sakit." Vallen berjalan dan bersandar lagi di pohon.


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat.

__ADS_1


Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!


__ADS_2