Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Hadiah Ulang Tahun Vallen


__ADS_3

Ceklek... terpampang wajah datar dengan tatapan tajam. Siapa lagi kalau bukan Fu Lan yang berdiri di depan pintu Vallen. Meskipun begitu, tetap aja Fu Lan terlihat sangat tampan dan gagah.


"Ternyata Fu Lan..." Gumam Vallen lirih dengan wajah kecewanya.


Mana mungkin mereka datang, aku benar-benar terlalu banyak bermimpi


"Tuan Fu Lan, kenapa kamu disini? Bukankah harusnya masih di rumah sakit?" Tanya Vallen lesu. Orang yang ingin ia hindari justru muncul di depan mata. Membuat hati Vallen semakin merana.


"Aku Fu Lan, keluar rumah sakit apa harus izin kamu dulu?" Fu Lan berjalan masuk dengan tampang tak tahu malunya.


"Eh?!" Bengong Vallen melihat mahluk aneh yang ada di depannya.


"Aku lapar! buatin makanan!" Perintah Fu Lan tampa mengedipkan mata.


"Sekarang?" Tanya Vallen memastikan.


Bukannya di rumahnya banyak koki yang handal?! Orang ini benar-benar menyebalkan!


Melihat Vallen melamun membuat Fu Lan tak sabar. "Buruan!" Fu Lan menarik tangan Vallen menuju dapur.


"Eh... aku..."


"Aku... aku... gak ada aku aku an. Kamu sekarang pacarku, aku suruh masak ya masak." Fu Lan terus saja menarik tangan Vallen. Membuat Vallen berlari kecil mengejar langkah Fu Lan yang lebar.


"Ok! lepasin dulu!" Vallen meronta-ronta mencoba melepaskan cengkalan Fu Lan. Setelah sampai dapur Fu Lan baru melepaskan cengkalan tangannya. Ia berjalan menuju meja makan seperti anak kecil kelaparan menunggu ibunya selesai masak. Melihat itu membuat hati Vallen tak tega. Meskipun dia menyebalkan, saat melihat Fu Lan anteng imut juga.


Setelah 15 menit kemudian, Vallen menghidangkan 2 mangkok mie instant dengan telor mata sapi, tidak lupa potongan wortel yang imut imut menghiasi di atasnya mie. Karena cuma hanya itu yang Vallen punya.


"Waoowww...kelihatannya enak." Kagum Fu Lan melihat hidangan di depan mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Cuma mie instant. Lidahnya pasti bermasalah." Gumam Vallen lirih, ia heran melihat tingkah Fu Lan yang sepertinya belum pernah melihat mie instant.


"Orang aneh, tidak suka makanan yang di buat koki di rumahnya, justru mie intan ini di bilang enak." Gumamnya lagi. Vallen hendak menyuapkan mienya ke dalam mulut. Belum sampai masuk ke mulut Fu Lan sudah merebutnya lagi.


"Hai... ini punyaku..." Rebut Vallen lagi.


"Siapa suruh kamu bikinnya dikit banget, gak bisa bikin kenyang." Dengan tampang dosa Fu Lan melahap habis mie Vallen.

__ADS_1


"Mana pudingnya?" Tanya Fu Lan setelah habis 3 mangkok mie.


"Masih mau puding? kamu belum kenyang?" Tanya Vallen tak percaya.


Dia ini manusia apa babi?!


"Belum!" Singkat Fu Lan.


"Kamu baru saja sembuh, jangan makan puding dulu." Jawab Vallen sambil membereskan peralatan makan.


"Ganti semua peralatan makan kuno ini, bikin gak selera makan saja." Kata Fu Lan sambil mengelap mulutnya pakai tisu.


Gak selera makan apaan?! makan banyak gitu, aku sendiri aja gak kebagian!


"Rumahmu terlalu jelek. Mejanya juga kuno, dinding kusam, vas bunga jelek, plafon juga jelek! semuanya ganti!" Fu Lan terus berbicara.


"Vallen Nastya, selera mu terlalu kuno, rumah ini harus di bongkar, ganti yang baru!" Oceh Fu Lan tanpa henti.


Dasar orang gila, gak ada yang menyuruhmu datang juga. Yang harusnya di ganti itu otakmu! Omel Vallen dalam hati. Ia malas jika harus meladeni orang satu ini. Ia terus berjalan ke dapur tanpa menghiraukan ocehan Fu Lan yang tanpa henti.


Beberapa saat kemudian, Vallen sudah tidak mendengar ocehan Fu Lan lagi.


"Setan! Kamar mandi apaan ini!" Baru menghela nafas lega, sudah terdengar teriakan Fu Lan keluar kamar mandi.


"Ka ka kamu...?! Ngapain kamu di kamar mandiku?!" Mata Vallen membulat melihat sosok tampan dengan balutan handuk sebatas bawah pusar. Telihat jelas perut kotak-kotak seperti roti sobek milik Fu Lan.


"Bersih-bersih mau nidurin kamu! Tapi tempat ini terlalu jelek merusak mood ku saja. Kamu harus pindah." Jawab Fu Lan tanpa ragu.


"Pindah? Pindah kemana? Aarggh..." Fu Lan langsung menggendong Vallen seperti karung beras.


"Felix, siapkan mobil!" Perintah Fu Lan. Begitulah Fu Lan yang melakukan sesuatu sesuka hati tanpa memikirkan lawan. Vallen di bawa masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan teriakan Vallen.


Setelah sampai tujuan, Vallen di beri sebuah map terhadap Vallen. Membuat Vallen semakin bingung di buatnya.


"Apa ini?" Tanya Vallen


"Buka saja!" Jawab Fu Lan tanpa menoleh.

__ADS_1


"Sertifikat rumah?!" Gumam Vallen. Ia melihat keluar cendela mobil. Benar saja saat ini Vallen sedang berada di kawasan rumah elit. Vallen kembali melihat sertifikat itu dan beralih ke arah Fu Lan. Matanya memancarkan ia butuh penjelasan. Namun Fu Lan tetap diam dan acuh. Vallen kembali melihat dokumen yang ia pegang.


"Apa 900 ribu dolar per meter?" Mata Vallen membulat melihat nominal yang tertera. "Mahal banget!" Gumam Vallen lirih.


"Kenapa? Gak pernah lihat uang sebanyak ini?" Ejek Fu Lan.


Huh kumat lagi sombongnya. Emangnya rumah ini terbuat dari berlian, mahal banget?!


Vallen mengerucut kan bibirnya sebal,


"Kenapa manyun? Minta di cium?" Tanya Fu Lan memegang dagu Vallen. "Kamu terharu, kamu boleh berterimakasih dengan memelukku." Senyum Fu Lan licik.


"Huh, kenapa harus berterimakasih?! tujuanmu membelikan ku rumah kan agar kami bisa tiduri aku dengan nyaman, kenapa harus terharu?" Jawab Vallen memalingkan wajah.


Dasar gadis bodoh, kalau bukan gara-gara kamu suka bebas, kenapa juga aku harus beliin rumah kamu? Batin Fu Lan dongkol.


"Ok. Kalau gitu kamu tinggal di rumahmu saja, rumahku lebih besar!" tawar Fu Lan.


*Tinggal di rumahmu? Rumah yang seperti istana harem itu?


Nggak! Aku gak sudi*!


"Hehe... tuan Fu Lan, aku terimakasih banyak atas dermawan nya kamu membelikan aku rumah." Senyum paksa Vallen.


"Nah ini baru benar." Senyum Fu Lan penuh kemenangan.


"Tuan muda, Apartemen Jingga ini sudah selesai di renovasi dan sudah siap di huni, aku akan pindahin barang-barang nona masuk ke dalam, ya?" Izin Felix ramah. Senyum masnya tak pernah luntur. Entah terbuat dari hati apa Felix ini, dia bisa sabar menghadapi tuan mudanya yang super gila.


"Besok saja!" Jawab Fu Lan singkat. Tanpa permisi Fu Lan mengangkat Vallen seperti karung beras lagi.


"Hai... turunin aku." Teriak Vallen meronta-ronta.


"Diam."


Setiap menggendong ku pasti seperti karung beras, ia pikir aku barang apa. Coba aja ada keajaiban aku dijadikan wanita kuat. Fu Lan sialan ini aku gendong aku lempar ke atas lumpur." Omel Vallen dalam hati. Ya, Vallen cuma berani ngomel-ngomel dalam hati aja. Bisa melayani nyawanya jika Fu Lan dengar umpatan Vallen.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena lama baru up. Semoga kalian tidak bosan membacanya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya... maksih... 😘😘😘


__ADS_2