Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Gara-Gara Puding


__ADS_3

Aku mengerti, dia adalah presiden VO grup, kesehatannya sangat penting, meskipun pilek, media akan heboh dan mempengaruhi harga saham. Pikir Vallen paham.


"Pemeriksaan tuan muda sudah keluar, Lambung tuan muda kena radang, karena makan banyak kandungan kimia yang terdapat pada bahan puding." Felix menjelaskan hasil pemeriksaan Fu Lan.


Vallen mendengarkan dengan seksama. Puding memang bagus untuk pencernaan, namun kalau terlalu banyak juga tidak akan bagus bagi kesehatan. Walau bagaimanapun puding tetap ada bahan kimianya.


"Makan puding 100 loyang. Untung aja lambungnya tidak pecah, cuma kena radang aja." Gumam Vallen lirih sedikit linglung.


"Baiklah aku tidak akan membocorkan masalah ini, kalau gitu aku pulang dulu." Pamit Vallen membalikkan badan dan siap melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti.


"Tunggu! Nona Vallen tolong temani tuan muda di rumah sakit." Mohon Felix. Ia tahu tuan mudanya membutuhkan Vallen.


"Aku?" Vallen menunjuk dirinya sendiri.


"Tuan muda badannya sangat panas, dalam tidak sadar pun dia selalu memanggil namamu. Jadi, harusnya dia sangat membutuhkanmu.


Aku takut dia akan ngamuk kalau kamu tidak ada di sampingnya waktu sadar." Jelas Felix panjang kali lebar.


"Apa? memanggil namaku?" Kaget Vallen. Ia gak menyangka Fu Lan memanggil namanya di saat tidak sadar.


Aku kan bukan siapa-siapanya?! Kenapa harus melibatkan ku? Batin Vallen ikut gelisah.


"Nona Vallen silahkan ikut aku." Felix melangkah lebih dulu.


Dia seorang penipu, pasti hanya berpura-pura. Batinnya lagi.


"Vallen Nastya..." Panggil Fu Lan lirih d ngan mata yang terpejam rapat.


Eh... dia benar memanggil namaku? Tapi kenapa?


"Vallen Nastya... " Panggilnya lagi.


Apa dia... gak... gak mungkin. Vallen menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wajah bersuara merah dengan apa yang ia pikirkan.


"Benarkan yang aku ucapkan?! Kurasa tuan muda memiliki rasa yang spesial terhadap nona Vallen." Goda Felix dengan senyum datanya.


"Vallen Nastya... Vallen Nastya... cepat buat puding..." Suara Fu Lan semakin keras menyebut nama Vallen. Gaya semenanya sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Meskipun tidak sadar pun Fu Lan tetap memerintah Vallen dengan angkuh.


Eh... cuma puding? Batin Felix canggung.


"Felix, apa aku boleh pergi?" Senyum paksa Vallen dengan mengepalkan tangannya.


"Ah... baik silahkan." Jawab Felix merasa tak enak hati.


Dasar bego! Aku mengira dia menyebut namaku karena suka sama aku. Langkah Vallen garang. Dia seperti di permainkan Fu Lan. Habis melihat pelangi indah seketika terhantam oleh badai. Begitulah yang di rasakan Vallen saat ini.

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit Felix masih sok-sok an berpikir tentang tuan mudanya dengan serius.


Apa aku salah? Tuan muda tida tertarik dengan nona Vallen kah? Tapi tuan tidak pernah buru-buru pergi dan naik helikopter untuk ke sini lho. Pikir Felix yang sok jenius.


"Vallen... puding... Vallen pijat..." Fu Lan terus saja mengigau memanggil nama Vallen dan minta puding juga pijat.


*


*


*


Jam 01:30 Saat ini Vallen sudah sampai di apartemennya.


"Tuhan mengutukku kali ya? Kok aku bisa bertemu orang seperti Fu Lan. Pulang rumah sakit harus mengendap-endap menghindari tetangga.


Mana mungkin aku bilang, tuan Fu Lan datang kesini naik helikopter cuma mau makan puding, siapa yang bakar percaya, coba?!" Gerutu Vallen dalam perjalanan.


Setelah sampai rumah Vallen segera merebahkan tubuhnya untuk di istirahat kan. Batinnya merasa lelah hasil ulah Fu Lan.


Vallen mengambil HP dan melihat ada pesan dan panggilan tak terjawab.


"Heh cuma 2 pesan, panggilan 3! Aku benar-benar menjadi wanita yang kesepian." Senyum miris Vallen. Cuma ada pesan editor yang banyak, yang mengejar-ngejar segera membuat novel baru.


Selama ini kehidupanku cuma di isi menulis novel dan mengejar Helmi. Tapi sekarang aku sudah berhenti mengejar Helmi dan masih belom punya ide membuat novel baru.


Vallen menghembuskan nafasnya kasar. Dia menutup wajahnya dengan bantal dan memeluk guling dengan erat. Pkirannya melayang-layang. Banyak sekali beban hidupnya yang ia tanggung seorang diri. Sampai akhirnya Vallen tertidur lelap dengan membawa segudang beban.


*


*


*


Matahari mulai mengintip cantik di balik korden cendela Vallen. Wanita cantik itu masih tidur terlelap. Namun tak berselang lama tidurnya trusik dengan dering HP yang terus berbunyi. Membuat mata cantik itu mengerjap malas secara perlahan.


"Emm... siapa sih pagi-pagi ganggu aja?!" Omel Vallen, dengan malas Vallen meraih hpnya yang ada di atas nakas.


"Hallo..." Suara serak Vallen kas bangun tidur. Nyawanya belum berkumpul sepenuhnya.


"Babi..." Teriak seseorang di sebrang sana. Membuat HP Vallen terpental jatuh karena kaget.


"Fu Lan?" Nyawa Vallen segera berkumpul secara paksa. Ia segera mengambil hpnya yang terjatuh ulah Fu Lan.


Dia sudah sadar? dari mana tahu nomorku? Vallen sudah merasakan hal yang buruk yang akan terjadi.

__ADS_1


"Berani-beraninya kami kabur setelah membuatku masuk rumah sakit! kamu cari mati?!" Teriak Fu Lan di sebrang sana marah.


"Aku tidak kabur, aku cuma pulang kerumah." Vallen mencoba menjelaskan dengan sabar.


"15 menit, aku beri waktu 15 menit. Cepat balik kesini. Kalau tidak tepat waktu lihat saja nanti." Ancam Fu Lan. Kata-kata nya tidak terbantahkan. Meskipun dia sakit, sikap arogan nya tidak hilang.


"Aku..."


"Telat satu detik, mati saja!" Potong Fu Lan. Ia tidak menerima alasan apapun. Dan mematikan telepon sepihak.


*Fu Lan sialan...! Dia kenapa sih tidak memberikan aku waktu sedikit saja, ganggu aku terus seperti hantu gentayangan.


Siapa suruh makan puding 100 loyang? Makan sampai sakit, apa hubungan dengan ku?


Minta maaf? uh... ogah*! Marah Vallen berapi-api. Tangannya mengepal kuat HP yang ia pegang. Kesabarannya sudah naik sampai ke ubun-ubun siap meledak.


Aku tidak bisa diam, aku harus segara cari cara agar bisa putus dengan orang gila itu, kalau begini terus aku bisa mati berdiri di buatnya.


Saat ini Vallen berada di klinik kebidanan. Ia akan melakukan berbagai cara untuk membuktikan bahwa dia tidak pernah hamil.


Saat menunggu pemeriksaan, tak sengaja Vallen bertemu dengan fans adiknya Vivi.


"Dia cantik banget ya, pintar akting pula," Kata salah satu pasien yang sedang hamil.


" Aku fans banget sama dia...sahut salah satu teman nya.


Vivi memang cantik, Dia seperti bunga anggrek cantik mempesona.


Mana mungkin Helmi tidak jatuh cinta sama dia?


Dulu mungkin dia belum melihat, makanya bisa membuat janji manis dengan ku.


Aku dulu benar-benar bodoh, aku kira setelah dia bisa melihat dan hilang ingatan, dia bakal jatuh cinta sama aku.


"Nona Vallen!"...


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


1.like


2.coment


3.vote

__ADS_1


4.hadiah..


__ADS_2