Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Minta Tolong


__ADS_3

"Sampai kapan drama ini selesai?" Tanya Fu Lan dingin. "Kamu tidak akan rugi jika terus di sisiku. Aku akan memberikan kamu kartu Gold tanpa batas. Dan aku akan menjadikanmu novelis terkenal di dunia.


Aku akan mendirikan perusahaan penerbit atas nama kamu sendiri dan berinvestasi perfilman. Vallen Nastya, apa kamu mulai kagum dengan diriku yang tampan dan kaya ini?" Sombong Fu Lan, dia mengunci Vallen di ke dua tangannya.


"Selain gila, ternyata dia juga narsis." Batin Vallen.


"Ku rasa harga ini cukup untuk wanita sepertimu, jadi wanita jangan serakah!" Hina Fu Lan.


"Kau...penyakitmu ini, apa tidak pernah di obati?


Tuan Fu Lan, sebaiknya kamu mulai terapi obat. Siapa tahu paranoid kamu bisa di sembuhkan." Kata Vallen hati-hati.


"Apa katamu?" Marah Fu Lan. Vallen tidak sadar kalimatnya tadi memancing emosi Fu Lan. Vallen di dorong Fu Lan hingga terjatuh ke laintai.


"Au... sakit sekali!" Lirih Vallen.


"Dasar tidak tahu diri... apa kamu cari mati, ha?" Fu Lan menendang tubuh Vallen, membuat Vallen jatuh pingsan.


"Cewek sialan!" Bukannya merasa iba Fu Lan justru menendang Vallen lagi.


"Kalau kamu mau cari mati, akan aku kabulkan!" Fu Lan meninggalkan Vallen yang masih tergeletak di lantai.


"Ssst...di mana ini?" Vallen mulai sadar dari pingsannya.


"Ah... sakit sekali!" Vallen yang mulai mengingat kejadian tadi.


"Inikah akibatnya membuat orang paranoid marah? Tapi ada untungnya, dia tidak memperkosa aku lagi." Vallen mulai menangis tergugu pilu.


"Apa yang harus ku lakukan Tuhan...? Semakin ak**u membuatnya senang, semakin dia tertarik padaku. Aku tidak mau dia menyentuh tubuhku, dan harga diriku di injak-injak. Kalau begitu lebih baik aku mati aja." Batin Vallen bergejolak. Dia sangat sedih dengan nasib sialnya yang bertemu dengan orang gila. Dan lebih parahnya dia seorang Fu Lan orang paling tampan dan kaya di seluruh dunia ini. Mungkin wanita lain akan bahagia hingga jungkir-jungkir. Tapi bagi Vallen ini musibah besar.


Vallen terus mengurung dirinya di dalam kamar. Tak ada semangat untuk menjalani hidup. Tak ada masa depan yang ingin di perjuangkan. Barang paling berharga dan ia jaga selama 23 tahun sudah di rampas secara paksa. Yang seharusnya ia persembahkan untuk suaminya kelak. Semua terjadi begitu saja, berharap ini cuma mimpi panjang bagi Vallen.


Hingga malam tiba. Vallen masih meringkuk tak bergerak satu senti pun. Kesedihannya begitu teramat dalam.


"Ehem..." Dehem Felix. Vallen tetap diam tanpa kata tanpa menoleh.


"Nona Vallen, menurutku kamu adalah perempuan pintar dan mandiri, kenapa tadi kamu..." Belum selesai berucap Vallen sudah memotong kalimat Felix.


"Bagaimana lagi dia akan menghukum ku?" Tanya Vallen lemah.

__ADS_1


"Hais... andai saja tadi nona tidak membuat ia marah, mungkin tidak akan begini?" Lesu Felix.


"Apa rencananya?" Tanya Vallen.


"Tuan muda memerintahkan kami untuk membuang nona di hutan liar, di sana banyak binatang buas, dan jika nona beruntung, nona bisa keluar, tapi itu mustahil..." Kata Felix iba.


"Aku akan mati!" Lirih Vallen.


Vallen tidak menyangka Fu Lan akan sesadis ini. Walaupun Vallen terus berusaha berprasangka baik terhadap Fu Lan, dia yakin Fu Lan tidak mungkin membiarkan dirinya mati.


Tapi ternyata cuma angan ku saja. Mungkin ini sudah mencapai puncak di titik kesabarannya. Vallen memeluk tubuhnya dengan erat. Tubuhnya menggigil ketakutan.


"Nona, cuma ada 1 jalan keluar, anda menyerah dan serahkan anak tuan muda. Mungkin tuan muda masih... mengampuni nona..." Saran Fu Lan. Dia tahu wanita di depannya ketakutan.


"Bolehkah aku menghubungi seseorang untuk terakhir kali, sebelum aku mati?" Tanya Vallen penuh harap.


"Nona..." Ragu Felix.


"Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin menghubungi seseorang." Jelas Vallen kekeh.


"Kasihan nona ini, mungkin dia mau menghubungi orang tua angkat. Ya sudah lah..." Batin Felix berperang.


"Apa dia mau mengangkat telepon ku? Ah... akhirnya dia angkat!" Batin Vallen senang.


"Hallo? Siapa?" Tanya seseorang di sebrang.


"Ini aku, Vallen Nastya." Jawab Vallen penuh semangat.


"Ya, aku tahu, apa kamu lupa jangan pernah hubungi nomer ini?! aku tidak mau ada kesalah pahaman di antara kita." Jawabnya dingin.


"Helmi...!" Panggil Vallen lirih


"Sekarang aku calon adik ipar mu, rasanya kurang pantas jika kamu memanggil namaku, kak!" Jawabnya angkuh.


"Dia benar, aku akan jadi kakak iparnya, sudah seharusnya dia panggil aku kakak..." Batin Vallen sedih.


"Aku terlalu naif, masih berharap dia masih mau menjadi penolongku, Helmi."


"Helmi, aku di culik, apa kamu percaya? Apa kamu akan datang menolongku?" Tanya Vallen.

__ADS_1


"Di culik? Siapa yang akan menculik orang seperti mu yang tak punya apa-apa? Apa kamu menghayati peran yang kamu tulis? Apa kamu jadi bodoh karena kebanyakan mengarang?


Bagaimanapun aku adalah calon adik ipar mu, apa kamu pantas membuat kebohongan dengan minta tolong kepadaku, kakak?" Jawab orang di sebrang.


"Dia tidak percaya! kenapa semuanya menganggap aku berbohong, Fu Lan juga, Helmi juga...?" Batin Vallen kesal.


"Tolong selamatkan aku, a... aku tidak berbohong..." Vallen mencoba meyakinkan.


"Nikmati sandiwara mu sendiri. Kalau kamu benar di culik, saat mati aku akan mengubur jasad mu sebagai saudara." Ketus Helmi. Vallen memukul dadanya yang terasa sakit. Kalimat Helmi membuat hatinya seperti tertusuk panah, saking sakitnya hingga tak terasa lagi. Vallen tidak mau berharap Helmi datang menolongnya. Dia tidak akan bergantung hidup oleh Helmi lagi.


"Aku kira, dengan memohon, dia akan datang menolongku. Aku terlalu naif." Isak Vallen. Air mata sudah tidak bisa di bendung lagi. Tubuhnya berguncang dengan deraian air mata.


"Kak, adikmu ada show, aku akan menemaninya, kalau tidak ada yang penting aku akan menutupnya." Kata Helmi di sebrang telepon.


"Apa kamu benar-benar tidak ingat aku, Helmi?" Vallen terus berusaha.


"Kak, apa menggangguku sungguh menarik? Apa kamu menganggap dirimu sungguh spesial?" Sinis Helmi.


"Dia sangat membenciku..."


"Helmi, aku sudah berusaha mengingatkanmu untuk terakhir kalinya, kalau suatu hari kamu ingat aku, tolong datang ke makan ku dan beri aku bunga Lily." Kata Vallen menahan isak. Dia tidak mau suatu hari Helmi merasa menyesal.


"Helmi, ini usahaku untuk terakhir kalinya. Semoga Kau hidup bahagia." Batin Vallen. Dia masih sempat mendoakan kebahagiaan orang lain. Sedangkan nyawanya sendiri dalam bahaya.


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat.


Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!

__ADS_1


__ADS_2