Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Fu Lan sakit


__ADS_3

Vallen yang mendengar dialog Fu Lan tersipu malu. Wajahnya yang putih menjadi merah padam menahan malu dan juga marah. Rasanya hari itu juga Vallen ingin ngumpet di kolong meja. Tapi Fu Lan masih tidak berhenti di situ saja. Fu Lan terus saja menggoda Vallen membuat Vallen salting dan marah-marah.


"Seorang novelis menguasai servis dengan memuaskan pasangan. Kalian semua munafik... praktek aja malu-malu. Tapi menulisnya secara gamblang." Fu Lan terus saja menggoda Vallen, dan itu kesenangan sendiri buat Fu Lan. melihat Vallen panik dan malu. Itu sangat imut bagi Fu Lan.


"Fu Lan sialan! Kembalikan padaku!" Vallen loncat-loncat mencoba merebut novelnya yang di dalam genggaman Fu Lan. Karena Fu Lan berdiri membuat Vallen kesulitan merebutnya.


"Kembalikan padaku manusia gila! Kembalikan!" Sahutnya lagi. Sedangkan Fu Lan semakin terus menghindar. Vallen sempat menjambak rambut Fu Lan saat merebutnya. Namun Fu Lan tak bergeming.


Karena sudah kelelahan, Fu Lan akhirnya menyerahkan kertas itu kepada Vallen.


"Keterlaluan" Gumam Vallen mengerucutkan bibirnya. Fu Lan yang mendengar Vallen ngedumel, mendekatkan wajahnya ke arah Vallen.


Tanpa permisi benda kenyal itu nempel ke bibir Vallen. Membuat mata Vallen membulat besar karena kaget.


"Emm...?! Apa yang kau lakukan?!" Vallen mendorong tubuh Fu Lan dan segera melangkah mundur. Meskipun pernah melakukan beberapa kali bersama Fu Lan, namun rasa trauma itu masih ada membuat Vallen ketakutan.


Namun, emang dasar si Fu Lan itu yang arogan dan seenak jidatnya, tanpa menghiraukan kepanikan Vallen. Fu Lan justru menubruk Vallen dan menindihnya di atas sofa. Mengunci kaki Vallen dengan kakinya dan menarik tangan Vallen ke atas kepala, membuat Vallen tidak bisa berkutik.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Vallen mencoba berontak.


"Menurutmu?" Tanya Fu Lan santai.


"Kamu memberikan waktu 1 minggu untuk mencari bukti." Vallen mencoba mengingatkan Fu Lan.


"Benar. Aku memang memberimu waktu 1 minggu, tapi bukan berarti aku tidak menyentuhmu!" Sanggah Fu Lan. Dia melancarkan aksinya, benda kenyal Vallen membuat Fu Lan candu.


"Tidak...!" Vallen menghindari setiap sentuhan Fu Lan.


"Cukup, Vallen nastya, kamu jangan pura-pura polos di depanku! Aku tidak percaya ketampanan ku tidak membuatmu bergairah!" Fu Lan marah, sebab dari tadi Vallen terus menghindar saat Fu Lan akan memakan bibir Vallen.


"Aku tidak berpura-pura polo. Aku sangat membencimu." Jelas Vallen datar. Kalimat Yang di ucapkan tadi berhasil memancing emosi Fu Lan.


"Beraninya kau! Coba ulangi lagi!" Teriak Fu Lan. Matanya menatap tajam seperti mata elang. Vallen tidak menanggapi kalimat Fu Lan. Ia memilih menghindari kontak mata.


"Apa aku terlalu jelek sampai kau menutup mata?" Geram Fu Lan. Ia mencengkeram kedua pipi Vallen. Membuat Vallen semakin memejamkan mata.

__ADS_1


Kalau aku membuatnya marah lagi, aku akan di buang ke hutan dan mati kelaparan. Batin Vallen yang ketakutan.


Namun tiba-tiba ada yang aneh dengan tubuh Fu Lan. Tubuhnya bergetar dan keringat dingin bercucuran. Tubuhnya roboh di atas Vallen.


"Eh...?! Kamu kenapa?" Tanya Vallen panik.


"Hmm... tidak apa-apa..." Jawab Fu Lan seperti menahan kesakitan.


Uwek...uwek... Fu Lan bergegas bangun dan berlari menuju wastafel. Ia mengeluarkan semua isi di dalam perut.


*Jangan-jangan... Apakah puding 100 loyang sudah beraksi?


Haha... kamu pantas mendapatkannya.


Kamu orang jahat mendapatkan karma, sungguh menyenangkan melihatmu menderita. Heh, hari yang ku tunggu datang juga*. Seringai jahat Vallen. Ia merasa puas melihat penderitaan Fu Lan.


5 menit kemudian, Vallen menunggu Fu Lan yang belum keluar juga dari kamar mandi. Meskipun tadi senang tapi juga ada rasa khawatir di dalam hatinya. Takut terjadi sesuatu pada Fu Lan.


Kenapa muntahnya lama? Apa ini akibat kebanyakan makan puding? Bagaimana jika terjadi sesuatu?! Vallen berjalan mondar mandir dengan hati berdebar. Tidak mau membuang waktu lagi, Vallen segera menghampiri Fu Lan ke dalam kamar mandi.


"Omong kosong! Tentu saja tidak!" Marah Fu Lan. Ia masih memuntahkan semua yanga ada di dalam perut.


"Aku akan panggil Felix, untuk membawamu ke rumah sakit." Vallen berlari mencari Felix. Meskipun Fu Lan menyebalkan, tapi melihat Fu Lan tak berdaya membuat Vallen tidak tega.


Vallen yang melihat Fu Lan tergeletak, mengingatkan pada Helmi.


Mata ini... sama seperti Helmi saat tidak bisa melihat.Terbiasa melihat padangan cerah dan tajam. Tapi sekarang seperti kebingungan. Dulu Helmi juga seperti itu kebingungan tanpa arah


"Sini, aku bantu." Vallen mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh Fu Lan.


"Jangan menyentuhku! Aku merasa gak enak..." Tolak Fu Lan. Meskipun suaranya terdengar lemah, tapi masih ada ketegasan yang tak terbantahkan.


"Jangan takut, kamu akan baik-baik saja." Kata Vallen lembut.


"Aku akan memijat perutmu untuk mengurangi rasa sakit. Sudah merasa mendingan?" Tanya Vallen yang terus meminta perut Fu Lan dengan lembut. Fu Lan yang di perlakukan Vallen dengan lembut membuatnya merasa tenang.

__ADS_1


"Jangan berhenti!" Fu Lan menahan Vallen saat berhenti memijit.


"Lanjutkan Vallen," Perintah Fu Lan dengan bersandar di tubuh Vallen nyaman.


Waktu kecil, setiap kali Helmi sakit akan bersandar seperti ini dan menggenggam tanganku. Memberi tahu bagian mana yang terasa sakit. Lagi-lagi Vallen mengingat kenangan bersama Helmi, membuat hatinya berdebar dan tangan bergetar. Vallen belom sepenuhnya menghilangkan Helmi dari hatinya.


"Kamu kenapa bergetar?" Fu Lan menyadari berubah tubuh Vallen yang bergetar.


"Aku... " Vallen bingung mau bikin alasan apa.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan." Seringai Fu Lan.


Apa? Bagaimana dia tahu apa yang aku pikirkan?


"Tanganmu sangat sensitif, sekali di sentuh dan di cium akan gemetar. Aku sudah tahu sejak di tempat pemandian air hangat." Tebak Fu Lan ngawur.


"Bisa-bisanya area sensitif di bagian tangan, dasar cewek cabul!" Ejek Fu Lan lagi.


Orang brengsek ini... otaknya isinya cuma mesum! Akan ku hajar sampai mati!


"Kamu yang cabul! Bahkan seluruh keluargamu cabul semua!" Teriak Vallen dengan mendorong Fu Lan. Membuat Fu Lan terjungkal dari sofa.


"Fu Lan... kamu keterlaluan!" Vallen bangkit dari tempat duduknya dan mengepalkan tangannya marah.


Dia memang cowok brengsek! otaknya cuma ****! vallen masih ngedumel dalam hati. Namun tiba-tiba ada yang aneh, setelah ia mendorong Fu Lan Vallen tidak mendengar rintihan kesakitan Fu Lan. Vallen melihat kebawah.


"Apa, pingsan?" Vallen yang melihat Fu Lan tergeletak di lantai tak bergerak membuatnya ketakutan.


Tolong... tolong... teriak Vallen ketakutan, Ia segera mencari Felix dan membawa Fu Lan ke rumah sakit.


"Tuan muda kami bukan orang biasa, biasanya akan melakukan cek up di rumah sakit khusus keluarga.


Berhubung ini darurat, jadi kami membawanya di rumah sakit umum, itu yang paling dekat dari rumah Nona Vallen.


Kita harus menjaga rahasia tuan muda sakit, supaya tidak bocor." Jelas Felix pada Vallen.

__ADS_1


Hai... Hai... bantu author nya dong...jangan lupa tinggalkan jejak. setidaknya Like sudah senang.


__ADS_2