Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Helikopter Di Atap Rumah Vallen


__ADS_3

"Walaupun ingatanku kembali, aku kan tetap mencintai Vivi." Yakin Helmi.


"Oh ya?" Senyum Vallen paksa. "Baik, aku mengerti. Aku pergi dulu." Vallen membalikkan badan tanpa menengok kebelakang. Sungguh cinta bertepuk sebelah tangan, rasanya menyakitkan.


"Ini pertama kalinya dia pergi begitu saja. Dulu, tidak akan pergi kalau tidak di usir. Tapi kali ini dia pergi dengan penuh keyakinan." Batin Helmi heran. Dia merasakan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan di hatinya. Dadanya terasa nyeri mengingat kata-kata yang di ucapkan Vallen.


Saat dia berkata, jelas sekali dia sedang melihat pria lain melalui aku. Dan sepertinya dia juga mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir...?


"Kenapa hatiku tidak tenang?" Pikir Helmi yang mulai gelisah. Sopir yang melihat perubahan wajah tuan mudanya, mulai khawatir.


"Tuan muda, apa kamu baik-baik saja?" Tanya sopir memastikan.


"Ya, jalan menuju Villa Vivi." Perintah Helmi.


"Siap sih yang telepon?" Helmi melihat layar ponselnya yang berdering.


"Bukannya kamu mau mengajakku makan, kenapa belom sampai? Kamu sudah telat 15 menit lho." Tanya seseorang di sebrang, ternyata kekasih Helmi.


"Sayang, aku segera sampai, tunggu ya sayang!" Rayu Helmi dengan mesra.


"Tidak, aku marah sama kamu!" Jawab Vivi merajuk. Ya, orang itu adalah Vivi kekasih Helmi.


"Sayang, aku ingat kamu menyukai gelang Giok berwarna ungu di pameran Paris?" Rayu Helmi dengan iming-iming perhiasan.


"Apa kamu membelinya?" Tanya Vivi di sebarang.


"Bukan hanya gelang, tapi satu set aksesoris. Sekarang apa kamu sudah memaafkan ku?" Goda Helmi.


"Sayang... kamu memang yang terbaik." Suara cempreng Vivi terdengar bahagia. "Aku menunggumu, emuuah...!" Sambungan telepon berakhir. Helmi memang pandai mengambil hati wanita.


Sedangkan di tempat lain, Vallen terus berjalan menuju apartemen nya. Kenangan masa lalu bersama Helmi terus terbayang-bayang. Bahkan kata-kata Helmi yang menyakitkan pun masih terngiang di telinganya. Sampai akhirnya Vallen sadar, kalau Helmi sudah melupakannya. Helmi yang dulu tidak akan pernah kembali.


"Kalau di pikir-pikir, beberapa tahun ini aku seperti wanita penggoda. Tidak berhenti mengejar kekasih adikku, hingga teman dan keluargaku menjauhiku. Aku memang pantas mendapatkannya..." Keluh Vallen, ia memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Melonggarkan rongga di dada yang sesak.


"Untung aku tidak gila lagi. Tidak mengganggu Helmi, tidak terjerat dengan masa lalu lagi. Mulai hari ini, Aku akan menjadi Vallen yang kuat dan berjuang demi hidupku sendiri." Vallen menyemangati dirinya sendiri. Dan perlahan memasuki apartemen nya.


Ceklek.


"Aah... rumah... ku..." Teriak Vallen kaget setengah mati. Melihat pemandangan di dalam rumah berantakan seperti habis kena bom.


"Pasti Fu Lan yang melakukannya!" Tebak Vallen kesal.


"Fu Lan sialan! seenak jidatnya saja mengobrak-abrik rumah orang!" Marah Vallen. Dan berjalan masuk dengan ngomel-ngomel sambil memunguti pakaiannya yang bertebaran di mana-mana. Bahkan ada beberapa vas bunga yang pecah. Yang lebih parahnya lagi di dalam kamar. Lemari pakaian semuanya terbuka, bahkan pakaian paling rahasia Vallen pun ikut berceceran dimana-mana.

__ADS_1


"Fu Lan brengsek! Lihat saja, aku akan memotong-motong tubuhmu dan ku jadikan sup untuk makanan anjing." Umpat Vallen meremas-meras bajunya dengan kuat. Ia merasakan puncak kemarahan sampai ke ubun-ubun kepala.


"Ah... capeknya...!" Vallen merenggangkan otot-otot nya yang kaku. Setelah selesai membereskan kekacauan yang di lakukan Fu Lan.


"Gara-gara bertemu Helmi, jadi lupa tujuan hal yang paling penting." Keluh Vallen dengan menepuk jidatnya. Vallen mulai mencarcer HPnya dan membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya.


"Aaahh... rasanya sudah 100 tahun tidak tidur dengan baik di kasur kesayanganku!" Vallen berguling-guling seperti seekor kucing yang lagi main. Sementara dia bisa melupakan beban yang di berikan Fu Lan.


Setelah beberapa saat Vallen tersadar lagi dengan misinya.


"Apa yang aku lakukan pertama kali untuk membuktikan kalau aku tidak pernah melahirkan seorang anak?" Pikir Vallen. Otaknya buntu tidak bisa berpikir.


"Cara yang paling mudah adalah ke rumah sakit, dokter pasti bisa membuktikan kalau aku benar tidak pernah melahirkan anak."


"Ah... sudahlah, besok saja..." Putus Vallen. Dia merasa capek setelah seharian beraktivitas.


Hari pun menjelang malam, Vallen pun memutuskan untuk tidur dan mengumpulkan tenaga untuk besok berperang.


Tak... tak... tak... Terdengar ketukan di jendela. Membuat tidur Vallen terusik.


"Berisik sekali..." Gumam Vallen. Ia mencoba mengabaikannya dan melanjutkan tidur.


"Vallen Nastya! Cepat keluar...!" Teriak seseorang dari luar. Membuat sang empu kaget dan langsung duduk tegap.


"Vallen Nastya...! Cepat ke atap...!" Teriaknya lagi menggunakan pengeras suara.


"Fu Lan?! Tidak, tidak mungkin, aku pasti salah dengar." Vallen menggelengkan kepalanya sambil menutup telinganya.


"Nona Vallen, Tuan Muda menunggumu di atap, mohon segera naik.


Nona Vallen, Taun Muda menunggumu di atap, mohon segera naik,


Nona Vallen Tuan Muda menunggumu di Atap. Mohon segera naik." Suara Felix memanggil Vallen berkali-kali.


"Tidak... aku tidak dengar." Vallen bersembunyi di bawah selimut dan menutup telinganya.


"Tidak bisa di biarkan. Aku akan pergi ke atap." Bangkit Vallen dengan marah. Vallen berlari dan mencari seseorang yang membuat onar.


"Aku datang..." Teriak Vallen dengan Nagar terengah-engah.


Wus... Wus... Wus...


"Heli... Helikopter?!" Tanya Vallen gagap. Bahkan dia sampai bengong dan mematung. Melihat pemandangan di depan ada Helikopter dan banyak pengawalnya.

__ADS_1


"Sungguh pria gila, dia sangat arogan dan berlebihan..." Kata Vallen lirih. Dia tidak tahu harus bagaiman menghadapi manusia ajaib di depannya.


"Nona Vallen." Sapa Felix yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Tuan Felix! Helikopter ini..." tunjuk Vallen. "Apa yang terjadi?" Tanya Vallen bingung. "Dan lampu penerangan jalan...? Sungguh orang kaya, berbuat seenaknya?" Tanya Vallen heran. Melihat lampu penerangan berjajar di atap.


"Begini, Tuan muda habis pergi pesta di kota A, saat pulang mendarat di sini. Aku khawatir malam hati akan terlihat gelap. Dan akan sulit untuk mendarat, maka memasang lampu penerangan jalan." Jelas Felix tanpa dosa.


"Kenapa mendarat di sini?" Tanya Vallen lagi. Dia masih bertanya-tanya apa yang akan di lakukan orang gila itu.


"Lihat ke arah sini!" Felix menunjukan di aman Fu Lan berada. Terlihat Sama-sama Fu Lan duduk angkuh dengan memegang segelas Win dan di kelilingi beberapa wanita cantik dan seksi.


"Vallen Nastya, apa aku kurang menarik? Atau helikopter ku yang kurang menarik? Atau matamu yang buta?!" Teriak Fu Lan marah-marah dari dalam Helikopter.


"Pria ini, kenapa memarahiku?" Batin Vallen bingung. Fu Lan turun dari helikopter, berjalan mendekati Vallen yang masih terlihat linglung di buat Fu Lan.


"Tidak mau masuk?" Tanya Fu Lan dingin.


"Hah? masuk kemana?" Tanya Vallen bingung.


"Kemana lagi... rumahmu." Teriak Fu Lan. Ia langsung nyelonong menuju rumah Vallen dengan angkuh, tanpa menunggu tuan rumah.


"Tu... tunggu sebentar, kenapa masuk ke rumahku?" Teriak Vallen memanggil Fu Lan. Namun yang di panggil tak menghiraukannya. Dengan percaya dirinya ia tetap berjalan angkuh tanpa beban.


"Hah?" Bengong Vallen, ia tak percaya dengan sikap tak tahu malunya Fu Lan. Membuat Vallen terus mengejar Fu Lan.


Duk... Aw..."


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah


yang banyak ya... biar authornya semangat.


Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!

__ADS_1


Mohon do'anya untuk saudara author yang telah berpulang kepangkuan Allah. Semoga amal ibadahnya di Terima dan keluarga yang di tinggalkan bisa menerima. Terutama anak yang masih kecil... 😭😭😭


__ADS_2