Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Dan Lagi


__ADS_3

"Ka...kamu mau apa?" Tanya Vallen yang sedikit kaget. Pasalnya Fu Lan seperti makhluk gentayangan yang tiba-tiba muncul menghantui Vallen. Membuat Vallen ketakutan.


Tanpa menjawab pertanyaan Vallen Fu Lan mendekati Vallen dan mencengkeram tangan Vallen dengan kuat.


"Sakit! Mau apa lagi kamu?" Vallen meringis kesakitan.


"Menurutmu, apa yang aku mau lakukan?" Fu Lan menyeringai penuh makna. "Ingat baik-baik Vallen Nastya, ini belum seberapa. Masih banyak penderitaan yang akan menantimu, serahkan anakku, dan kau akan bebas!" Fu Lan mencengkeram dagu Vallen dengan kuat, membuat Vallen meringis kesakitan.


"Bukankah kamu sudah membuktikan dan mendapatkan hasilnya? Harusnya kamu tahu, dari awal, kalau aku tidak pernah bohong. Kalian semua yang salah. Sekarang bebaskan aku." Bentak Vallen yang merasa di kesal.


"Bebas? Tidak semudah itu, Vallen Nastya!" Senyum Fu Lan meremehkan.


"Kamu benar-benar sakit jiwa!" Berontak Vallen.


"Sakit jiwa? Vallen Nastya, aku akan menunjukkan sakit jiwa yang sesungguhnya terhadapmu!" Fu Lan semakin tertantang dengan kata-kata Vallen. Dia menghirup dan menciumi leher jenjang Vallen dengan rakus. Menikmati setiap inci leher.


"Hmm... wangi sekali. Tak ku sangka wanita ini membuatku candu!" Batin Fu Lan yang menikmati aroma tubuh Vallen yang membuatnya tergoda.


"Ka... kamu! Dasar brengsek, bukannya kamu tidak mau menyentuhku lagi?" Protes Vallen yang merasa tegang.


"Kamu yang berinisiatif." Elak Fu Lan.


"Aku tidak berinisiatif!" Bantah Vallen


"Kamu menggodaku!" Fu Lan masih tidak mengalah.


"Aku tidak menggodamu, pria gila...!" Bantah Vallen lagi yang semakin tegang. Sebab Fu Lan menjelajahi area sensitif. Bahkan dengan bodohnya, Vallen mengeluarkan suara *******.


"Uh dasar wanita, suara ******* ini, kalau tidak menggodaku, lalu apa?" Senyum Fu Lan puas.


"Dia akan melecehkan ku lagi! Aku tidak sudi!" Batin Vallen. Melihat Fu Lan yang sudah bergairah, Vallen menggigit telinga Fu Lan yang hendak menjelajahi tubuhnya.


"Ahh...Kau!" Teriak Fu Lan kesakitan memegang telinganya yang hampir lepas dari tempatnya. Tak sengaja Fu Lan memukul Vallen hingga terbentur meja, membuat kening Vallen berdarah dan jatuh pingsan.


"Wanita sialan, beraninya menggigit ku! Dasar lemah, begitu saja sudah pingsan." Batin Fu Lan yang kesal.


"Hai, babi... bangun!" Fu Lan menepuk-nepuk pipi Vallen. Namun tak ada respon.


Felix yang mendengar keributan, segera masuk. Betapa terkejutnya melihat tuan mudanya terluka dan Nona Vallen juga berdarah.

__ADS_1


"Tuan muda, ada apa?" Tanya Felix yang khawatir.


"Jangan ikut campur!" Tegas Fu Lan dan menggendong Vallen menuju kamar.


"Tuan terluka, aku akan panggilkan dokter!" Kata Felix menawarkan bantuan.


"Tidak perlu!" Tolak Fu Lan.


"Tapi..." Felix semakin gelisah.


"Ada api di tubuhku, yang harus di padamkan." Fu Lan segera menutup pintu dan menguncinya. Felix yang mengerti maksudnya, cuma diam dan menggelengkan kepala.


Setelah itu Fu Lan masih melanjutkan aksinya yang tertunda akibat Vallen. Dia tidak peduli meskipun Vallen pingsan. Yang ada di dalam pikirannya, dia harus memadamkan api yang semakin berkobar. Sesekali Vallen merintih kesakitan dalam ketidak sadarnya, namun Fu La tidak menghiraukannya.


Dia masih bergejolak dan menikmati setiap gerakan yang ia ciptakan sendiri. 1 Jam telah berlalu, Fu Lan mengerang sangat kencang ketika mencapai puncak kenikmatan. Dia tidak peduli dengan lawannya yang tak berkutik, yang penting hasratnya sudah di salurkan.


****


"Ugh... sakit sekali...! Apa yang terjadi?" Vallen terbangun dari pingsannya. Dia merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya. Seperti habis di gebukin pakai kayu.


Ketika hendak duduk Vallen merintih lagi. "Ah... dasar setan, dia tetap tidak melepaskan ku saat tidak sadar...?!" Umpat Vallen terhadap Fu Lan. Tubuhnya bergetar menahan nyeri di area sensitif nya.


"Hmm..." Jawab Vallen dengan deheman.


"Nona Vallen pasti sangat lelah, nona mau makan apa? Disini banyak 50 koki yang handal memasak." Tawar Felix yang memunggungi Vallen. Felix merasa kasihan dengan Vallen. Dia tahu apa yang telah di lakukan tuan mudanya itu.


"Kapan aku bebas?" Vallen tidak menjawab pertanyaan Felix.


"Nona Vallen, tuan muda ingin kamu tinggal di sini sampai kau memberikan anaknya." Jawab Felix dengan tenang.


"Tidak! Dia mau memenjarakan ku!" Vallen meneteskan air mata kesedihan. Dia tidak menyangka nasibnya akan seperti ini.


"Tinggal disini? Kalian semua sangat keterlaluan. Apa salahku pada kalian? Apa karena aku miskin, dan kalian yang berkuasa berbuat sesuka hati menindas yang lemah?" Tubuh Vallen bergetar, menahan gejolak di hati.


"Nona Vallen, asalkan kamu memberikan anak, Tuan muda akan membebaskan mu..." Kata Felix menjelaskan.


"Aku tidak punya dan tidak pernah melahirkan anak!" Bentak Vallen, dia benar-benar merasa muak dengan semuanya. "Aku tidak mengerti, kenapa kalian melibatkan ku?!" Isak Vallen semakin menjadi.


Felix menghela nafas, "minggu lalu, keluarga Fu akan menjodohkan tuan muda kami, namun tuan muda menolak perjodohan itu. Setelah itu kami menyelidiki wanita yang pernah dekat dengan tuan muda, dan kami menemukan bukti, bahwa nona Vallen yang pernah naik ke ranjang tuan muda dan melahirkan anak. Namun anak itu tidak ada jejaknya." Jelas Felix panjang lebar.

__ADS_1


"Bukti? Bukti apa?" Tanya Vallen semakin pusing di buatnya.


"Nona Vallen seharusnya mengakui saja, lagi pula itu keturunan keluarga Fu. Tuan mudah Fu Lan tidak mungkin menelantarkan anaknya sendiri." Kata Felix meyakinkan.


Vallen bangkit dari tempat tidurnya saking kesalnya. "Kalian semua memang gila... begini saja, kalian semua cek ke rumah sakit dimana aku pernah melahirkan anak!" Vallen memberikan ide.


"Kami sudah cek semua rumah sakit, namun nona Vallen tidak melahirkan di rumah sakit melainkan di rumah nona!" Kata Felix lagi.


"Ok, kalau gitu bawa aku ke rumah sakit! Biarkan dokter yang periksa, apa aku pernah melahirkan anak?!" Sahut Vallen lagi.


"Tuan mudah sudah memeriksanya sendiri. Jadi tidak perlu ke rumah sakit!" Jawab Felix enteng.


"Apa? memeriksa sendiri? Harusnya dia tahu saat dia menyentuhku, kalau aku masih perawan." Vallen menggigit bibir bawahnya.


"Aku tidak bohong, tidak ada anak! Kalian yang salah orang!" Bentak Vallen pada Felix.


"Nona Vallen, aku akan katakan. Dalam kamus tuan muda Fu Lan tidak pernah ada kata salah. Kesalahan cuma 1 banding 10000. Lebih baik kamu cepat serahkan anak itu dan kamu akan bebas." Dengan sombong Felix menjelaskan.


Vallen yang merasa putus asa, tidak menanggapi ocehan Felix. Dia memilih diam dan menangis terisak. Meringkuk di bawah jendela dan melihat ke arah keluar.


Felix yang menyadari tak ada respon, dia menengok kebelakang melihat kondisi Vallen, takut kalau pingsan lagi.


"Huh..." Desah Felix lega.


"Aku akan menyiapkan makan dulu, nona Vallen sebaiknya istirahat untuk memulihkan tenaga." Pamit Felix dengan sopan.


Setelah Felix pergi Vallen mulai mencari cara agar bisa kabur dari sini.


Bersambung....


Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak


1.Like


2.Coment


3.Vote


4.Hadiah

__ADS_1


yang banyak ya... biar authornya semangat


__ADS_2