
Dia lah Fu Lan yang bisa melakukan apa pun yang ia inginkan. Bahkan saat ini tanpa permisi dan persetujuan Vallen, Fu Lan mengangkat Vallen seperti karung beras. Teriakan dan omelan Vallen di anggap angin berlalu. Bahkan orang di sekelilingnya pun di anggap setan tak terlihat.
Fu Lan terus berjalan menuju apartemen kawasan elit itu. Biasanya penghuninya adalah kalangan artis ternama dan orang-orang yang sangat kaya. Saat sampai di dalam lift, Fu Lan menurunkan Vallen secara perlahan, bahkan sangat lembut, membuat Vallen tidak bisa berkata-kata.
Namun pandangan Vallen teralihkan saat melihat seseorang yang paling ia kenal berjalan sekilas.
Itu kan... Helmi? Mata Vallen melebar jantungnya berdebar, melihat orang yang paling ia cintai namun juga orang yang ingin paling ia lupakan melintas di depannya.
"Lagi mikirin apa?" Tanya Fu Lan yang melihat Vallen masih di luar lift dan bengong.
"Bukan apa-apa." Jawab Vallen memalingkan wajah.
Perempuan ini, apa yang dipikirkan? tanya Fu Lan dalam hati. Tanpa pikir panjang Fu Lan meraih tengkuk Vallen dan melahap abis bibir Vallen yang membuat candu bagi Fu Lan. Baginya bibir Vallen sangatlah manis.
"Eh... apa yang kau lakukan...?!" Tanya Vallen di sela-sela ciuman.
Bajingan ini! Jangan-jangan mau melakukan di dalam lift. Gumam Vallen dalam hati.
Oh... tidak! ada CCTV? Vallen menggigit bibir Fu Lan dengan keras membuat Fu Lan mengerang dan melepaskan ciumannya.
"Aarrghh... ****! Umpat Fu Lan.
"Vallen Nastya, beraninya kau menggigit ku! apa kau lupa dengan surat kontrak yang kau tanda tangani? Sekarang kau adalah cewek ku, kenapa masih jual mahal?" Geram Fu Lan marah.
Kontrak, kontrak jual diri kah?
"Aku belum selesai membaca surat kontak itu! Apa di dalamnya juga harus live adegan 21++ kah?" Tanya Vallen dengan menunjuk CCTV di atas. "Kalau ada lanjut kan." Jawab Vallen dengan suara tertahan.
Sialan! ada CCTV di dalam! Membuat pacarku tidak nyaman saja. Batin Fu Lan, ia melirik Vallen yang sedang murung.
****! harus pasang muka masam gitu?! Batin Fu Lan yang melihat wajah Vallen di tekuk.
"Ok, gak akan kasih orang lain tahu, hanya untuk kita sendiri." Fu Lan mendekatkan bibirnya ke benda kenyal Vallen lagi. Membuat Vallen tidak berkutik
Kontrak sialan, memberontak tidak ada gunanya lagi..." Batin Vallen, tubuhnya bergetar, menahan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan. Tanpa ba bi bu lagi Fu Lan langsung menggendong Vallen tanpa melepaskan pagutannya dan langsung masuk kedalam kamar mewah yang saat ini sudah sah milik Vallen.
__ADS_1
Setelah itu Fu Lan merebahkan Vallen di atas ranjang yang berukuran king size itu. Dengan lembut dan penuh hati-hati Fu Lan mulai melucuti pakaian Vallen dan pakaiannya sendiri, bahkan tak ada sehelai benang pun yang menempel di kedua orang yang di mabuk cinta, lebih tepatnya Fu Lan yang di landak gejolak panas.
Vallen cuma diam dan pasrah, setiap apa pun yang di lakukan Fu Lan. Karena bagi Vallen hidupnya sudah tidak ada artinya, hidupnya sudah milik Fu Lan seutuhnya. Meskipun dalam hati menolak, namun tubuh Vallen tidak bisa bohong. Setiap sentuhan yang di berikan Fu Lan membuat akal sehat Vallen menjadi melayang tak karuan.
Fu Lan memang luar biasa, ia seperti sudah sangat mahir membuat lawan mainnya klepek-klepek tak berdaya. Suara rintihan desain Vallen lolos begitu saja, ketika Fu Lan bermain di area sensitif milik Vallen. Tubuhnya berlenggak lenggok tak karuan saat merasakan sesuatu yanga akan lolos di bawah sana.
"Jangan di tahan sayang...!" Kata Fu Lan di sela-sela permainannya.
"Ah..." Suara Vallen lolos begitu saja saat ia mencapai puncak nirwana. Fu Lan tersenyum puas. Fu Lan masih tidak tinggal diam, ia merangkak ke atas mencari bola pimpong namun kenyal itu. Bermain-main disana dengan lidahnya. Setelah puas bermain, ia memusatkan benda tumpul itu masuk ke dalam gua milik Vallen. Inti permainan sudah di mulai.
"Ah..." ******* keduanya bersamaan. Fu Lan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur membuat ranjang itu bergoyang. Sampai akhirnya keduanya mencapai puncak kenikmatan bersamaan. Tidak sampai di situ saja. Bahkan Fu Lan belum merasa puas cuma permainan satu ronde, baginya tubuh Vallen sangatlah berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia sewa. Ia tidak akan pernah puas dengan hanya 1 main saja.
Setelah puas bermain dan membuat Vallen ketiduran, Fu Lan baru mengakhiri permainannya. Ia membersihkan dirinya sendiri dan juga tubuh Vallen. Ia tidak akan membiarkan Vallen tertidur dengan keadaan tubuh lengket.
"Kamu membuatku candu." Bisik Fu Lan dan mengecup kening Vallen. Setelah itu ia ikut terlelap di samping Vallen dengan memeluknya posesif.
*
*
*
Dia seperti kuda jantan yang tak pernah lelah, dia pikir aku robot apa. Omel Vallen dalam hari.
Ni orang tidurnya gak bisa agak jauh apa? aku gak bisa bergerak sama sekali. Vallen mencoba melepaskan pelukan Fu Lan yang berada di perutnya.
"Mau ke mana?" Tanya Fu Lan dengan suara beratnya.
"Ke kamar mandi." Jawab Vallen cepat.
"Perempuan memang ribet. Semalem sudah berapa kali?!" dengan berat hati Fu Lan melepaskan pelukannya dan menggulingkan tubuhnya ke samping.
"Wao... rumah ini besar banget!" Kagum Vallen setelah keluar kamar dan melihat bangunan yang ia tempati. Semalam ia tidak sempat melihat, ternyata rumah yang ia tempati semewah ini.
Gak nyangka Fu Lan memberikan rumah ini atas namaku. Sekarang aku mengerti, kenapa banyak cewek yang rela melemparkan tubuhnya ke Fu Lan. Gumam Vallen dalam hati.
__ADS_1
Ceklek... Vallen membuka pintu dan... "Selamat pagi nona..." Sambut Felix dan para pengawal lainnya, membuat Vallen menganga melihat pengawal yang lebih dari 10 berbaris rapi di depan pintu.
Pagi buta sudah baris di depan pintu, apa tidak pernah tidur? Batin Vallen.
"Pagi..." Jawab Vallen senyum kaku.
"Nona Vallen mau pergi?" Tanya Felix sopan, dan tidak pernah luntur senyumnya selalu mengembang menghiasi bibirnya.
"Iya, aku akan beresin barang-barang yang ada di rumah lama." Jawab Vallen.
"Tidak perlu, semua barang-barang yang di rumah lama sudah di bawa kesini. Dan saya sudah menghentikan sewa kontraknya." Jawab Felix sambil memperlihatkan tumpukan barang yang tertata rapi memenuhi jalan itu.
"Ah... ternyata begitu!" Jawab Vallen dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Silahkan nona periksa dulu, apa ada yang masih kurang?!" Santun Felix.
"Hah...?" Vallen menganga tak percaya apa yang di lakukan orang di didepannya itu.
Fu Lan sialan! aku pikir saat Fu Lan masih tidur, aku bisa pulang dan hirup udara segar dulu. Tapi sekarang semua barang di pindahkan semuanya kesini.
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
yang banyak ya... biar authornya semangat.
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!
__ADS_1