
Duk
Aww... Vallen bertabrakan dengan seorang wanita cantik. Bukan tabrakan, tapi lebih tepatnya vallen di tabrak oleh wanita yang mengkrumuni Fu Lan tadi.
Apa-apa ini? Siapa wanita-wanita cantik ini? batin Vallen bertanya-tanya. Tatapan para wanita itu tidak bersahabat. Mereka menatapku dengan tatapan membunuh. Apa salahku?
Vallen merasa bingung melihat tingkah laku beberapa wanita itu, mereka berebutan saling dorong untuk mengejar Fu Lan. Mereka tak menghiraukan tuan rumah sama sekali.
"Wanita tadi pasangan tuan muda malam ini, dia dari keluarga SU pengusaha tambang minyak. Dan 3 wanita lainya hadiah untuk tuan muda dari pesta malam ini." Jelas Felix. Ia tahu Vallen sedang bingung dengan beberapa gadis yang bersama tuan mudanya.
Hadiah 3 orang, jumlahnya 4 orang. Apa bisa dia tangani dalam semalam? Bajingan tetaplah bajingan, menjijikan.
"Tapi... kenapa mereka kesini? Apa hubungannya denganku?" Tanya Vallen bingung, ia menghembuskan nafasnya kasar.
"Nona Vallen, kamu akan paham setelah turun." Tutur Felix menjelaskan.
*
*
*
Rumah ini sangat kumuh
Iya
Ini cocoknya buat kandang ayam.
Sangat kecil
Setelah sampai di dalam rumah, Vallen di suguhkan dengan wanita tukang gosip. Mereka menghina tempat tinggal Vallen yang sederhana. Bohong bila Vallen tidak sakit hati, tapi memang ini kenyataan. Biarlah yang penting aku punya tempat tinggal dari pada tinggal di pinggir jalan.
"Fu Lan... Tuan Fu, apa yang membawamu kesini?" Tanya Vallen sedikit terbata juga heran, melihat Fu Lan membuka tudung saji dan kulkas tanpa permisi.
"Dimana pudingnya?" Tanya Fu Lan angkuh tanpa dosa.
"Apa?" Vallen menganga tak percaya dengan makhluk ajaib yang ada di depannya. Dia membawa rombongan satu kampung dengan menggunakan helikopter cuma menanyakan puding?! Benar-benar...
"Bukannya kamu yang bilang, kalau pudingnya habis kamu akan buatkan lagi?!" Sifat ke bossian Fu Lan keluar. Vallen masih menganga dengan tampang bodohnya. Dia mencoba mencerna yang ada di hadapannya.
"Kamu bohong! Beraninya kau menipuku?!" Fu Lan mengeratkan giginya marah. Menuduh Vallen yang masih diam membisu.
"Eh... aku tidak bohong." Sanggah Vallen panik, setelah tersadar, melihat manusia ajaib di depannya marah.
"Tunggu... maksudmu..." Vallen mencoba mengingat sesuatu. Vallen membuatkan Fu Lan 100 loyang puding berbagai rasa.
"Jangan-jangan kamu sudah menghabiskan semua puding yang aku buat?!" Tebak Vallen geleng-geleng kepala.
*Tidak disangka dia sanggup menghabiskan 100 loyang puding? Apa perutnya dari gentong?
Itu 100 loyang puding lho*. Vallen masih saja mematung.
"Aku mau puding! Cepat!" Minta Fu Lan arogan.
__ADS_1
Apa ususnya tidak meledak? Kemana perginya puding itu? Itu 100 loyang lho?! Vallen masih bengong dengan imajinasinya sendiri, tanpa sadar dia geleng-geleng kepala menatap Fu Lan.
"Apa yang kamu pikirkan? Melihatku dan geleng-geleng kepala? Apa maksudmu?" Bentak Fu Lan dengan menghimpit Vallen di dinding. Fu Lan tahu apa yang di pikirkan Vallen.
"Tidak apa-apa." Jawab Vallen memalingkan wajah.
Melihat mata Fu Lan sungguh membuatku tertekan.
"Dengar, kau boleh melihatku sepuasnya, tapi tidak boleh setengah-setengah!" Dengan PeDenya Fu Lan menawarkan dirinya sendiri. Bahkan dia membusungkan dada dengan bangga.
Pria ini... membuatku tidak bisa berkata-kata. Batin Vallen dongkol. Melihat tingkat kenarsisan Fu Lan yang tiada duanya, membuat Vallen gila.
"Kamu pulang dulu, kalau sudah selesai aku akan menghubungi Felix." Usir Vallen secara halus.
"Tidak! aku mau sekarang!" Tolak Fu Lan dengan bertolak pinggang.
"Baik! Aku akan keluar dulu beli bahan." Pasrah Vallen.
Tidak berurusan dengan Fu Lan sungguh melegakan. Batin Vallen. Dia ingin menghindar dari Fu Lan. Tapi manusia jadi-jadian itu tidak bisa di usir dengan mudah.
"Nona Vallen, bahannya sudah kami siapkan." Sahut Felix. "Tuan muda sudah tidak tahan lagi, silahkan membuat puding." Imbuhnya, Felix dan beberapa pelayan menyerahkan semua bahan untuk membuat puding.
"Oh..." Lesu Vallen tak semangat. Akhirnya mau tak mau Vallen membuat puding dengan hati dongkol. Bagaimana tidak, saat tidur nyenyak perusuh datang seenak pusernya. Bahkan sekarang baru pukul 2 dini, tega-teganya mereka menggangguku yang istirahat cuma mau makan puding?! Sungguh manusia laknat.
*
*
*
"Tuan Fu Lan, bibirku juga tak kalah kenyal dan manis lho! Mau coba?! Imbuh nina Su.
"Ah... menyebalkan... pelan-pelan... Mmm... uh... jangan..."
Sungguh, Aku akan membunuh kalian semua satu persatu dengan pisau ku ini. Vallen mencincang-cincang sembarang bahan dengan pisaunya.
Fu Lan... kau anggap apa tempat ku ini apa? Klub malam? Vallen yang mendengar obrolan dan tindakan mesum Fu Lan membuatnya geram.
Aaahhhh.... hmmm... tuan... jeritan para wanita itu membuat bongkahan api di hati Vallen siap meledek.
"Keterlaluan!" Vallen sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan bejat mereka. Dengan menggebu-gebu, bahkan nafasnya naik turun menahan amarah, Vallen menghampiri di mana Fu Lan berada.
"Ka... kalian... Fu Lan..." Tarian Vallen marah, saat menyaksikan Fu Lan mencium nona Su.
Mendengar teriakan Vallen, Fu Lan mendorong Nona Su hingga tersungkur di lantai.
"Aw... tuan Fu..." Protes wanita tadi dengan menahan sakit dan juga malu.
"Pembohong! Sama sekali tidak manis!" Fu Lan mengusap bibirnya dengan kasar, auranya berubah menjadi seperti iblis yang akan membunuh.
"Felix, usir wanita ini!" Perintah Fu Lan tanpa rasa iba.
"Eh?! Tung... tunggu" Rengek Nona Su.
__ADS_1
Tuan Fu Lan, maukah mencoba bibirku?
Tuan Fu Lan, bibirku sangat manis lho!
Tuan Fu Lan masih ada aku di sini...
Dengan tidak tahu malunya 3 wanita tadi menawarkan diri, mencoba menggoda Fu Lan berbagai cara. Namun, bukannya tergoda, justru wajah Fu Lan merah padam menahan amarah.
"Felix! Buang semua 3 wanita ini! Mereka menggangguku!" Perintah Fu Lan dengan mode iblisnya.
Tuan Fu... tunggu, kau belom mencoba
Tuan Fu... ah...
Jeritan para wanita yang tidak rela di usir Fu Lan. Mereka masih belom menyerah dengan mencoba menawarkan diri. Sungguh menjijikan! Itu yang ada di dalam pikiran Vallen, melihat para wanita tadi yang haus akan belaian pria.
Aku belom pernah melihat pedofil wanita berkarakter. Baiklah, mungkin itu cuma trik tarik ulur seorang pedofil.
*
*
*
Setelah beberapa saat, akhirnya puding yang di buat Vallen jadi. Ia membawa satu Loyang puding untuk Fu Lan.
"Tuan Fu Lan, Pudingnya sudah jadi...
Eee! Vallen membatu melihat Fu Lan memegang beberapa kerangka Novel dan membuangnya.
"Jangan di sobek lagi! Ini Novel ku yang sangat penting!" Teriak Vallen mencoba merebut lembaran kertas yang ada di tangan Fu Lan.
"Sudah kuduga, kamu wanita yang pura-pura polos saja. Menulis novel dengan banyak adegan dewasanya, menulis dengan gaya berbagai bercinta, menungging, mengikat, dan menutup mata. Ternyata kamu suka gaya yang seperti ini?!" Seringai Fu Lan, tatapannya tajam dengan merendahkan. Tidak lupa senyum liciknya juga keluar.
"Mmm..." Vallen membatu menahan malu.
"Itu cuma karangan untuk mencocokkan karakter tokoh utama. Kembalikan padaku..." Vallen mencoba merebutnya dari tangan Fu Lan. Ingin rasanya Vallen menangis menjerit-jerit dan menceburkan diri ke laut.
"Dia menutup mataku dan mengikat tanganku dengan dasi. Pria ini sungguh membuatku menunggu sesuatu yang akan terjadi. Sentuhan dan belaiannya sungguh membuat ku meronta-ronta tak tertahan. Oh... sayangku..." Fu Lan membaca dialog yang di tulis Vallen dengan lantang tanpa rasa malu.
Hayoooo.... gimana jika itu di posisi kalian??....
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
__ADS_1
yang banyak ya... biar authornya semangat.
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!