
"Tapi..." Ragu Vallen.
"Saat ini tuan muda mengamuk, dia tidak suka dengan Snack yang di buat koki, ku lihat waktu itu tuan muda menghabiskan makananmu. Bagaimana kalau..." Ide Felix.
"Apa dengan begini... dia bisa melepaskan ku?" Tanya Vallen memotong kalimat Felix, dia paham apa yang Felix maksud.
"Ok! Coba aja, semangat Vallen!" Dukung Vallen pada dirinya sendiri.
Vallen mencoba membuat es puding stroberi.
"Ah... akhirnya selesai juga. Aku tidak tahu apa dia suka puding yang aku buat." Vallen merasa gelisah. Dia takut Fu Lan tambah mengamuk. Saat mengantar puding, tak sengaja Vallen bertemu dengan Vio.
"Kamu..." Vallen mencoba mengingat-ingat wanita yang ada di depannya.
"Wanita simpanan Fu Lan yang waktu itu! Kalau tidak salah namanya Vio." Batin Vallen menebak. Vallen terus berjalan tanpa menghiraukan Vio. Tepat di depan Vio, Vallen di hadang oleh Vio.
"Jangan kira dengan melahirkan anak Tuan Fu Lan, kamu bisa jadi nyonya Fu. Banyak wanita yang cantik dan seksi yang mengantri di sisi tuan Fu Lan. Kamu yang seperti ini, jangan mimpi untuk naik ke posisinya...!" Ejek Vio dengan menunjuk wajah Vallen.
"Kalau begitu, apa kamu sudah naik ke posisinya?" Ejek Vallen.
"Kau..." Vio hendak membuang makanan Vallen.
"Ini untuk Tuan Fu Lan, buang aja!" Vallen menyerahkan Puding itu.
"Apa?" Kaget Vio mundur tak percaya.
"Baik lah, kalau begitu permisi nona..." Vallen melewati Vio acuh.
"Sepertinya wanita tadi memberi peringatan! Siapa juga yang mau rebutin orang gila?!" Batin Vallen. Sebelum menghidangkan puding, Vallen mencicipi puding buatannya.
"Huek..." Vallen memuntahkan makanannya.
"Aneh, kenapa rasanya pahit?! jelas-jelas tadi enak! Pasti ulah wanita tadi. Dia sungguh licik, menggunakan trik yang kekanakan."
"Oh tidak! Kalau saja Fu Lan yang bukan manusia itu memakan makanan ini, dia pasti akan membunuhku..." Vallen segera mengganti yang baru. Selang beberapa menit, puding itu udah jadi dengan hiasan buah stroberi dengan taburan keju coklat. Sungguh cantik dan menggugah selera.
"Tuan Fu Lan..." Panggil Vallen dari luar pintu dengan mengetuk pintu.
"Masuk." Sahutnya dari dalam.
Vallen berjalan masuk dengan hati berdebar. Fu Lan duduk angkuh dengan tatapan dingin.
"Kamu mau pakai trik apa lagi dengan mendekatiku?" Tanya Fu Lan dingin.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud." Jawab Vallen. Dia meletakkan pudingnya di hadapan Fu Lan. Tak sengaja Vallen melihat CCTV yang ada di layar komputer Fu Lan.
__ADS_1
"Ini! Ternyata dia mengawasi ku, berarti dia melihat aku bertengkar dengan wanita tadi?!" Batin Vallen. Sekarang dia mengerti kenapa Fu Lan bicara seperti itu!
"Aku tidak pernah menggunakan trik, aku hanya mengantarkan puding untukmu." Cuek Vallen.
"Kamu tidak menyerahkan anakku, itu bukannya trik? Mau menyuap ku dengan makanan?" Tanya Fu Lan mengejek.
"Aku buat puding, apa mau coba? Setelah itu, kita lanjut ngobrol." Tawar Vallen lembut.
"Tidak! Aku tidak suka makanan manis!" Dengan angkuhnya Fu Lan menolak.
"Baiklah, biar ku makan sendiri." Vallen mengambil puding dan melangkah pergi.
"Hai... jangan di ambil!" Teriak Fu Lan berdiri.
Membuat Vallen melonjat kaget.
"Pria ini apa tidak bisa lebih gengsi?" Batin Vallen sebal. FU Lan langsung merebut puding itu dan melahabnya.
Tak lama kemudian suara ponsel Fu Lan berdering.
"Suapi aku!" Perintahnya dingin dengan memberikan puding.
"Apa?" Marah Vallen.
"Kamu tidak tahu, aku lagi bekerja?" Dingin Fu Lan.
"Emm..." Mengepalkan tangan.
"Apa ini ide Felix? Apa kamu disuruh menyenangkan ku? Apa kamu tahu cara menyenangkan pria?" Fu Lan memicingkan mata dan mendekati Vallen. Vallen mundur beberapa langkah dan mengepalkan tangannya. Hatinya merasa sakit.
"Apa kamu sudah tidak emosi lagi setelah makan? Kita perlu bicara." Tanya Vallen ragu.
"Nona Vallen, aku tidak ada waktu untuk negosiasi dengan kamu. Suapi aku!" Perintah Fu Lan dingin.
"Dasar setan menyebalkan...! Ingin rasanya ku tuang puding ini ke wajahnya! Demi kebebasan... aku harus sabar!" Vallen mengeratkan gigi menahan marah. Dengan mengepalkan tangan Vallen menyuapi Fu Lan puding.
"Ternyata makanan kenyal ini enak juga! Semua masakan wanita ini sesuai dengan seleraku. Tapi dia kan bukan koki?! Bahkan koki pun tak sehebat dia..." Batin Fu Lan mengagumi masakan Vallen.
"Terusin! Lambat sekali, apa tanganmu patah?" Dingin Fu Lan yang tak sabar.
"Sabar! Valle menggenggam sendok erat sampai bergetar menahan marah.
" Huh..." Vallen memutarkan bola matanya.
"Aku butuh alat teknologi yang paling canggih! 10 Miliyar, akuisisi perusahaan Bai, aku kasih waktu 5 hari!" Perintah Fu Lan tegas pada bawahannya lewat telepon.
__ADS_1
"Dia memang pantas jadi pria terkaya." Kagum Vallen.
Fu Lan adalah seorang presiden dari grup I T Internasional yang mengembangkan Elektronik dan pengembangan sistem dengan penggunaan lebih miliyaran dan masih banyak lagi yang dia capai di usia 26 tahun. Bahkan prestasinya tidak bisa di bandingkan dengan orang biasa.
Tak terasa puding yang di bawa Vallen tandas tak tersisa. Vallen mencoba melangkah menuju jendela memperhatikan gerak gerik Fu Lan yang serius saat bekerja.
"Bukankah dia paranoid gangguan mental? Aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini ada gunanya? Alangkah bahagianya jika dia menyelamatkanku. Tapi, apakah orang itu akan jadi pahlawan seperti pangeran berkuda putih?" Batin Vallen menerawang jauh. Dia duduk bersandar di dinding, berharap ada pahlawan kuda putih seperti di novel-novel yang menyelamatkannya.
"Ah... akhirnya hampir selesai." Gumam Fu Lan sambil meregangkan ototnya yang kaku. Matanya melihat Vallen yang duduk bersandar sambil melamun.
"Ck, wanita ini!" Fu Lan menghampiri Vallen dan meraih tengkuknya dan ******* bibir Vallen tanpa aba-aba.
"Eh... mmm!" Mata Vallen Membulat. Dia mendorong Fu Lan sekuat tenaga.
"Fu Lan, apa yang kau lakukan? Dasar brengsek, kamu memang binatang, lepaskan aku..." Umpat Vallen kesal.
"Dengar kan aku, mulai hari ini kamu milikku!" Seringai Fu Lan.
"Apa?" Tanya Vallen tak percaya.
"Bukannya ini yang kamu inginkan? Kamu tidak mau menyerahkan anak ku dan terus mengulur waktu, bukankah kau ingin selalu di sampingku?" Senyum Fu Lan jahat.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu, dan sekarang serahkan anak itu, kamu akan terus tinggal di sisiku menjadi pacarku!" Angkuh Fu Lan. Dia berpikir bahwa Vallen ingin menjadi salah satu pacarnya.
"Selain gila, ternyata dia terlalu PeDe!" batin Vallen. dia tidak tahu gimana caranya menghadapi Fu Lan.
"Hmm... wanita ini! Harus ku akui dia memang punya data tarik sendiri, dan aroma tubuhnya membuatku candu. Lebih baik aku jadikan pacarku dan menemani ku tidur, saat bosan aku buang." Rencana jahat Fu Lan.
"Aku rasa kamu salah paham, Tuan Fu Lan! aku tidak ingin jadi pacarmu, yang aku inginkan kebebasan!" Yakin Vallen. Dia membungkam bibir Fu Lan dengan tangan yang akan ********** lagi.
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
yang banyak ya... biar authornya semangat.
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!
__ADS_1