Bos Gila Paranoid

Bos Gila Paranoid
Periksa Kandungan


__ADS_3

"Nona Vallen" Vallen menoleh ketika seseorang memanggil. Suaranya tak asing di telinga Vallen.


"Kamu... bukannya asistennya Vivi?" Tanya Vallen, matanya terbelalak gak nyangka bertemu dengan asisten Vivi di rumah sakit.


"Nona Vivi menunggumu di dalam. Barusan dia melihatmu di sini." Kata asisten Vivi angkuh. Wajahnya datar tanpa ekspresi.


Vivi menungguku di ruang kebidanan? Batin Vallen bingung.


"Vivi, ngapain kamu disini?" Tanya Vallen saat sudah di dalam ruangan. "Apa kamu sakit?" Imbuhnya lagi.


Vivi membalikkan badan ketika namanya di panggil.


"Kakak, aku hamil anaknya Helmi." Vivi menunjukkan hasil pemeriksaan dengan seringai licik.


"Ap... apa? Ha... hamil...?" Mata Vallen terbelalak melihat hasil pemeriksaan Vivi. Wajahnya pucat pasi, hatinya seperti tercubit sakit.


"Aduh... kenapa wajah kakak jadi pucat?" Vivi mencondongkan tubuhnya ke arah Vallen. "Kakak, aku gak pernah meminta sesuatu kan?! Sekarang kamu boleh melepaskan gak?" Kalimatnya lugas, namun senyum yang terpancar kan di wajah cantik Vivi menakutkan, seperti ancaman.


"Ya..." Suaranya lirih, menundukkan kepala.


Ya, tentu saja aku akan melepaskan Helmi. Meskipun kenangan saat bersama Helmi banyak, tapi aku harus melepaskannya, walaupun susah. Senyum kecut Vallen.


"Sekarang kamu hamil kan?! Harus jaga baik-baik. Kalau butuh bantuan apapun, kasih tahu aku. Aku pergi dulu." Senyum Vallen paksa. Vallen masih sempat menawarkan bantuan meskipun hatinya teriris.


Vivi yang mendengar kalimat Vallen terkejut.


Apa...? Dia tidak menyangkal?


"Vallen Nastya, jangan bermuka dua ya?!" Teriak Vivi tak terima.


"Aku dan Helmi saling mencintai, kalau kamu mengganggu hubungan kami... jangan salahkan aku sebagai adik bersikap kejam!" Ancam Vivi dengan garang.


Vallen yang mendengar ocehan Vivi menoleh dan terseyum manis.

__ADS_1


"Tenang saja, gak akan lagi."


Vivi yang melihat Vallen senyum dan bersikap tenang semakin gregetan.


"Kakak, jangan pura-pura lagi di depanku. Akulah orang yang paling mengerti kamu." Vivi berjalan mendekati Vallen mengintimidasi.


"Papa mama selalu bilang kamu ini orang baik, tapi kenapa kamu mau merebut pacar adik sendiri!" Vivi menunjuk dada Vallen, membuat Vallen melangkah mundur. "Cuma aku yang tahu kebenarannya, ini semua tertutup oleh keluguan palsumu. Sebenarnya kamu mau memberontak kan?! Dari dulu kamu ingin punya segalanya. Jadi ini mungkin sebuh trik mu saja." Imbuh Vivi terus mencercar Vallen dengan senyum jahat.


"Apa maksudmu?" Tanya Vallen bergetar.


"Mereka mengadopsi mu, karena sulit punya anak. Tapi setelah mengadopsi kamu, aku lahir.


Kamu tahu papa mama lebih sayang sama aku, jadi kamu pura-pura jadi anak yang baik untuk mendapatkan cinta mereka. Jelas Vivi lagi,


aku akan tekankan, aku lah darah daging mereka, jadi semua itu percuma. Aku kira aku gak tahu, kamu sering menatapku jahat, saat mama menggendongku. Kamu selalu sembunyi di balik dinding dengan mata yang melebar." Kata-kata Vivi membuat Vallen tertegun gak bisa kata-kata.


Memang tidak bisa di pungkiri, dulu Vallen cemburu karena papa mama lebih sayang dengan Vivi. Tapi aku gak nyangka tatapan ku di anggap jahat oleh Vivi. Seorang anak kecil yang selalu di abaikan gak di sayang gak boleh cemburu kah?


Gak bisa di pungkiri memang, waktu masih kecil, siapa yang suka dengan orang buta yang pendiam? Tapi memang aku kesepian. Semua perhatian selalu tertuju pada Vivi. Dan aku yang masih kecil butuh kasih sayang. Helmi datang di waktu itu. Aku mencoba mendekati Helmi dan menjaganya, mencoba membuatnya selalu senang. Aku mencoba menjadi orang yang paling penting dan tak pernah terlupakan di hidupnya. Karena dengan begitu aku tidak akan kesepian lagi. Tapi pada akhirnya aku di lupakan. Sama seperti mama papa tenaga melupakanku saat Vivi lahir. Bayangan waktu kecil berkeliaran di pelupuk mata Vallen.


"Tuhan tahu niat jahatmu, makanya Helmi jadi lupa ingatan setelah oprasi." Tambah Vivi lagi. "Ketika Helmi bisa melihat, dia sudah pandai memilih mana yang baik dan buruk. makanya dia jatuh cinta padaku... " Senyum jahat Vivi. Vivi terus mencercar Vallen dengan kata-kata menyakitkan.


Mendengar kata-kata Vivi, membuat tubuh Vallen terguncang marah.


"Sudah cukup!" Teriak Vallen meronta-ronta. Air matanya mengalir mengasihani dirinya yang memprihatinkan. Vallen segera meninggalkan Vivi tanpa patah kata. Hatinya sudah terlanjur sakit.


"Kakak.." panggil Vivi mencegah, Helmi milikku." Vivi mencengkal tangan Vallen untuk menegaskan.


Vallen menepis tangan Vivi kasar, melirik Vivi dengan tajam, "Aku tahu, kamu gak usah mengulanginya berkali-kali, kecuali kamu memang tidak yakin menjaganya untuk di sampingmu terus."


"Kamu... " Marah Vivi yang tak terima.


"Ah... aku hampir lupa tujuanku." Seringai Vivi licik. "Berikan kartu undangan." Minta Vivi terhadap asistennya.

__ADS_1


"Baik."


Vivi menyelipkan kartu undangan ke dalam tas Vallen." Kakak, kami akan menikah, sebagai anggota keluarga, kamu harus datang ya... aku gak mau media salah paham dengan hubungan keluarga kita." Bisik Vivi penuh kemenangan. Vallen diam tidak menanggapi ocehan adiknya yang menyebalkan itu. Ia melenggang pergi begitu saja.


"Kakak, kamu sangat pandai merayu, hilang Helmi satu, kamu bisa menjaga pria buta lainnya kan?" Sindir Vivi.


"Tapi jangan oprasi lagi, nanti sia-sia lagi." Sahut asisten Vivi ikut menyindir.


"Haha..." Tawa jahat Vivi penuh kemenangan.


Sabar Vallen, kamu harus tunjukkan kalau kamu kuat. Jangan tunjukan sisi yang lemah. Semua akan baik-baik saja. Aku sudah tumbuh dewasa, tidak seperti waktu kecil, gak perlu siapa pun untuk menemaniku biarpun aku kesepian. Sendirian lebih baik. Vallen terus melangkah maju kedepan dengan keyakinan. Dia tidak lupa tujuannya ke klinik.


"Nona Vallen Nastya." Panggil perawat, tepat di saat Vallen sampai di ruang tunggu.


"Ya... aku..." Sahut Vallen. Namun disaat Vallen mau masuk ruangan hpnya berdering.


Fu Lan? Mau apa lagi dia? Batin Vallen bertanya-tanya.


"Vallen Nastya, berani-beraninya kamu mengabaikan omonganku. Dimana kamu sekarang?" Teriak Fu Lan dari sebrang telepon.


"Di rumah sakit." Jawab Vallen menjauhkan HPnya dari telinga.


"Aku kasih waktu 10 detik! kamu harus sudah sampai sini!" Perintah Fu Lan tak terbantahkan.


"Nona tolong cepat masuk." Perintah suster mengingatkan.


"Ok.Tunggu bentar." Jawab Vallen setengah berbisik.


"Fu Lan, kayaknya gak bisa. Aku mau periksa." Jawab Vallen percaya diri.


"Apa periksa?" Bentak Fu Lan memastikan.


"Fu Lan, setelah terbukti aku tidak pernah hamil, tolong jangan ganggu hidupku lagi. Bye... bye..." Vallen mengakhiri sambungan telepon dengan percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2