
Arron tidur di sebelah Aqiya, ia juga butuh istirahat setalah menunggui Aqiya semalaman. Aqiya terbangun ia melihat Kaka nya yang tidur pulas di samping nya, ia menyelimuti Kaka nya.
Aqiya turun,ke bawah, keadaan nya sekarang sudah mendingan, ia menyesal membuat ke dua lelaki yang paling di sayangi nya khawatir, dengan ke adanya.
Ia memasak makanan untuk ayah dan kakak nya, kalau Aqiya sehat ia selalu memasak makanan untuk Kaka dan ayah nya.
walaupun ayah nya melarang Aqiya untuk memasak karna takut Aqiya kelelahan tapi Aqiya, bersikeras hingga ayah nya tidak bisa menolak lagi.
Ferindra terkejut melihat putrinya sibuk memasak di dapur.
" Sayang apa kau sudah pulih, kenapa tidak bibi saja yang memasak? Kau masih belum pulih." Tanya ferindra
" Selamat pagi ayah, Aqiya sudah sehat lihat wajah aqiya juga tidak pucat lagi"
Aqiya memeluk ayah nya dan memperlihatkan wajah nya yang tidak pucat lagi.
" Hn syukurlah putri ayah sudah sembuh"
Aqiya melihat Ayah nya yang sudah memakai pakaian kerja dengan rapi. Ia menyelesaikan masakanya, dengan cepat, dan menyuruh ayah nya untuk menunggu di meja makan.
Arron terbangun dan ia tidak melihat Aqiya di sana, ia mencari cari Aqiya ternyata Aqiya sedang makan bersama ayah nya.
__ADS_1
Ia kembali ke kamar nya untuk bersiap siap ke kampus. Ia berjalan menuju meja makan, dan ia lega melihat adik nya tidak sepucat se malam.
" Kenapa tidak membangunkan ku?"
Tanya arron pada aqiya, sambil mendudukan dirinya di sebelah aqiya
" Aku melihat kx arron tidur sangat pulas jadi tidak tega membangun Kanya"
" Hn"
" Oh iya ayah aku ingin hadiah ulang tahun dari ayah!" Kata aqiya pada ayah nya.
" Aku saja tidak punya hadiah ulang tahun, kau meminta banyak sekali?" Kata arron menyindir adik nya.
" Oh iya Aqiya lupa, tunggu sebentar"
Arron melihat adik nya ngos ngosan karna berlari, dari kamar menuju meja makan, ayah Aqiya juga melarang Aqiya untuk berlari,takut Aqiya akan kelelahan.
" Hehe maap ayah , Aqiya terlalu bersemangat, kx arron ini hadiah ulang tahunmu"
Aqiya menyodorkan kado pada arron, arron mengucapkan trimakasih dan ia bertanya tanya kira kira apa yang di berikan adiknya untuk nya.
Aqiya menyuruh arron untuk membuka nya, arron membuka kado itu dan ia terkejut saat melihat benda itu, benda pemberian ibu nya padanya, waktu itu sudah di pecahkan Aqiya.
" Maap kx arron Aqiya mencoba memperbaikinya tapi tidak terlalu rapi lagi, seperti semula" kata aqiya sedih.
__ADS_1
Arron jadi mengingat perlakuannya dulu pada adiknya.
" Maap ini gara gara kx arron juga, dan trimakasih hadiah nya" kata arron tulus pada adiknya.
" Ehemmm, Hn jadi hadiah apa yang Aqiya minta"
Ferindra mencairkan suasana sedih itu, dengan dehemanya, ia juga tidak mau di abaikan putra dan putrinya.
Perkataan ayah nya membuat Aqiya tersadar dengan permintaanya barusan.
" Ayah boleh kah Aqiya kuliah di tempat yang sama dengan kx arron?"
Ferindra ragu untuk memberikan izin pada putrinya untuk kuliah di tempat umum, ia tidak mau anak nya jadi sasaran kekerasan lagi, contoh nya saja saat di kantor nya.
" Bisakah permintaan Aqiya, di ganti dengan yang lain saja?, jangan itu"
Arron mengerti kenapa ayah nya melarang Aqiya untuk kuliah di tempat umum, selama ini Aqiya hanya home schooling dari kecil, ia tidak tau keras nya dunia pikirnya.
Aqiya murung mendengar perkataan ayah nya. Ia tau ayah nya tidak mengijinkannya, tapi ia ingin sekali merasakan suasana kampus yang seperti itu, dan juga mempunyai banyak teman.
" Enggak Aqiya gak mau yang lain, dari dulu hiks Aqiya selalu home hiks schooling, bahkan Aqiya tidak mempunyai hiks teman perempuan, seperti anak yang lain hiks hiks ku mohon ayah hiks"
Aqiya menangis tiba tiba, mood nya cepat sekali berubah, ia memaksa agar ayah nya memberikan izin.
" Ayah tidak mau kau sakit lagi, disana banyak orang yang tidak baik, dan kelakuan orang berbeda beda, tubuh mu masih lemah"
" Aqiya tidak sakit hiks Aqiya anak yang normal hiks Aqiya tidak sakit ayah hiks hiks jadi perlakukan hiks Aqiya seperti anak normal"
Aqiya berlari dari ruang makan menuju kamar nya, ia langsung mengunci pintu kamar nya.
__ADS_1
aqiya tidak mau dibilang tidak sehat, ia juga tidak mau ayah nya, memperlakukan nya seperti orang sakit, kenapa ayah nya tidak mengerti.