Bunga teratai

Bunga teratai
(21)


__ADS_3

ferindra dan arron berlari mengejar Aqiya yang sudah masuk ke kamar nya dan menguncinya.


" Aqiya buka pintu nya, ayah mau masuk!"


ferindra dan arron menggedor gedor pintu kamar aqiya, Aqiya tidak mau mempedulikan ke dua lelaki yang khawatir ini pada nya.


" AQIYA TIDAK SAKIT AYAHH hiks AQIYA TIDAK SAKIT, KENAPA AYAH TIDAK MENGERTI hiks hiks"


Aqiya mengeraskan suara nya, ia dilanda emosi tidak mau mendengar perkataan Kaka nya dan ayah nya.


" Aqiya buka pintu nya ayah akan memikirkannya lagi jadi buka pintu nya sekarang Aqiya"


ferindra dan arron frustasi juga khawatir dengan aqiya,mereka takut Aqiya melakukan hal bodoh yang menyakiti dirinya sendiri.


" Aqiya ini kx arron buka pintu"


kini giliran arron yang membujuk Aqiya, tapi percuma , Aqiya merenung dan menangis , dan duduk di sisi tempat tidur nya, ia bahkan tidak mendengar Kaka dan ayah nya berteriak teriak agar dibukakan pintu oleh Aqiya.


kamar menjadi hening, ferindra dan arron tidak mendengar teriakan aqiya lagi, mereka makin panik, ferindra mendobrak pintu kamar putrinya, tapi tidak bisa mungkin karna sudah paktor usia.


kini giliran arron yang mendobrak pintu kamar aqiya, setelah beberapa kali mencoba akhirnya nya terbuka juga.


arron berlari memasuki kamar aqiya, ia melihat Aqiya duduk menundukan kepalanya, sambil berkata.


" Aqiya tidak sakit Aqiya tidak sakit Aqiya tidak sakit"


hingga berulang ulang. arron memeluk adik kembar nya erat.


" Aqiya dengar kan kx arron! tatap mata kx arron, kami menyayangimu, sangat menyayangimu, ayah protektif padamu karna menyayangimu, kau sama seperti kami, kau anak yang normal. jadi jangan lakukan hal yang bodoh, semua bisa diselesaikan dengan bicara baik baik, tanpa emosi, apa kau dengar?"


arron berbicara panjang lebar pada aqiya, Aqiya mendengarkan perkataan arron dan menangis sambil memeluk arron erat.


" Aqiya hiks hanya tidak bisa hiks mengendalikan diri hiks tiba tiba saja sudah seperti ini hikss hiks, maap kx arron, ayah hiks"

__ADS_1


ferindra hanya mengelus kepala putri bungsu nya sayang, kini mereka mengerti kenapa dokter menyarankan Aqiya untuk Tidak mempunyai banyak masalah, karna Aqiya tidak dapat menahan emosi nya, hingga ia berbuat bodoh dan melukai dirinya sendiri.


" ayah akan mengizinkan mu untuk kuliah bersama kakak mu tapi ada syarat nya jika terjadi sekali saja hal yang tidak menyenangkan padamu, ayah tidak akan mengijinkan kamu untuk kuliah di kampus umum lagi! apa kau mengerti?"


" trima kasih ayah, Aqiya janji tidak akan terjadi apa apa pada aqiya."


Aqiya kembali ceria, arron dan ferindr menyadari mood putri nya cepat sekali berubah, apa ini efek dari penyakit psikologis nya? pikir mereka dalam hati.


" ayah akan mendaptarkan mu segera, jadi kalau kau benar benar sudah bugar dan sehat kau bisa pergi ke kampus"


" trimakasih ayah, Aqiya sangat sangat sayang ayah"


Aqiya memeluk ferindra erat hingga kaki nya melingkar di badan ferindra, dan terpaksa ferindra mengangkat putrinya agar tidak jatuh.


" ayah tidak pergi bekerja?" tanya arron pada ayah nya.


" tidak hari ini tidak jadi karna sudah terlalu siang"


ferindra kelabakan melihat putrinya sedih lagi ia cepat cepat menghibur putrinya.


arron pamit, karna harus pergi ke kampus, karna sudah sering ia absen.


arron menjalankan mobil sport nya, cepat ia juga entah mengapa merindukan seseorang disana yang sudah lama mereka tidak bertengkar lagi.


sampai di kampus ternyata, ia terlambat setengah jam, tapi ia tidak peduli, ia bahkan baru sekali terlambat, jika dosennya tidak mengijinkan nya masuk. ia tinggal kembali pulang ke rumahnya untuk menemani adiknya.


kreek pintu di buka oleh arron, semua mata yang ada di ruangan kelas itu menatap pada nya, ia berdiri saja di pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun. hingga dosennya menyuruh nya duduk, Arron sebenarnya anak kesayangan dosen karna otak cerdasnya, dan juga kekuasaannya tentu nya.


" kodok ijo, ternyata kau masih ingat untuk ke kampus kukira kau sudah hilang ingatan."


kata Laras yang ada disebelah arron.


walaupun pun mereka selalu bertengkar dan musuh bebuyutan entah kenapa selalu satu kelas dari SD, hingga ke jenjang kuliah ini.

__ADS_1


" diam kau cumi kering, aku tidak ke kampus karna muak dengan wajah jelek mu itu" balas arron pada Laras.


" kau kodok ijo, kau pikir wajah mu itu tampan sekali, mainya saja selalu di rawa rawa maka nya bentuk mu itu seperti kodok ijo"


" yang penting lebih keren dari pada cumi kering, yang di jemur seperti ikan asin" kata arron santai.


" KAU SIALAN KEPARAT, BARU MASUK SUDAH MEMBUAT EMOSI SAJA"


Laras menggebrak meja nya, Karan suaranya terlalu keras hingga mereka jadi pusat perhatian seisi kelas.


" telingaku sakit mendengar mu bicara" kata arron.


" DIAAAM KALIAN BERDUA, KALAU SUDAH BERTEMU PASTI SEPERTI KUCING DAN ANJING, KELUAR SEKARAANG DAN BERSIHKANN SELURUH TOILET YANG ADA DIKAMPUS INI"


suara dosen mereka menggelegar membuat dua orang ini menciut, dan cepat cepat keluar dari kelas itu.


dan disinilah mereka di toilet berdua, ketika semua orang mulai pulang, mereka masih membersihkan toilet.


arron melemparkan alat pel nya.


" hei kodok ijo kau juga harus kerja, enak saja kau duduk duduk disitu sementara aku kerja!"


" salah siapa? cumi kering kau yang membuat kita seperti ini, kenapa kau harus berteriak tadi, dan membuat kita seperti ini, jadi itu semua salahmu jadi kau yang harus mengerjakan ini semua"


kata arron santai membuat Laras makin emosi.


" kau kodok ijo sialan!"


" sudah untung aku menemanimu disini cumi kering, kau merasa tidak, bahagia? semua orang ingin aku menemaninya!".


" bahagia pantat mu bau, aku malah kena sial kalau bertemu dengan mu kodok ijo, sudah kalau kau tidak mau kerja kau pergi saja dari sini, membuat ku pusing saja, kau memang bukan lelaki sejati tidak mau bertanggung jawab, aku paham soal itu"


kata Clarisa mengejek arron. arron tidak mau di Katai lelaki tidak bertanggung jawab jadi dia mengepel lantai itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2