
Stelah beberapa jam di pesawat sampai lah mereka di london akiya tertidur di pangkuan pelayan nya, sampai di rumah mewah bercat putih dan bergaya eropa.
Aqiya terbangun memasuki ruang tamu dia melihat seorang wanita yang sudah berumur, kira kira seumuran ibu nya.
"ooh sudah sampai? kamu aqiya? Saya linda kawan lama ayah mu. Ayah mu menitip kan kamu padaku"
aqiya langsung menganggukan kepalanya
" kau tidak bisa bicara? Kalau orang bertanya jawab dengan benar!"
Dengan mengeraskan suara sekaligus membentak aqiya.
" Hahaha maap terlalu emosi"
aqiya mendengar tawa linda terdengar sangat di paksakan.
Aqiya terkejut lalu berkata
" maap tante"
" bagus kalau kau disini ikuti semua peraturan ku, kalau tidak kau akan tau akibat nya".
dengan sorot mata yang kejam wajah yang angkuh dia pergi meninggalkan aqiya, yang dengan tubuh bergetar nya menahan tangis.
Malam itu malam dimulai penderitaan nya lagi?. Tapi ini lebih parah dari sebelum sebelumnya. Linda pulang dengan keadaan mabuk dan bau alkohol dia melihat aqiya yang takut sekaligus heran padanya.
" aqiya sini kamu"
linda memanggilnya dengan suara yang keras dan tidak dapat dibantah, aqiya berjalan takut takut menghadap tante linda nya, linda menjambak rambut aqiya dengan kuat akiya merintih kesakitan dan menangis.
" sakit tante , lepaskan tante"
" kau memerintah ku aqiya, sini kau anak kurang ajar, kau anak tidak tau diuntung"
linda mengambil ikat pinggang di kamar nya, lalu memukuli punggung ringkih aqiya berkali kali.
Aqiya berteriak menangis menahan sakit dan nyeri pada punggung nya. Pelayan yang ada ingin mencegah nona muda nya dipukuli tapi apa daya, linda akan mengancam siapa pun yang berani membantu, dan melapor pada aqiya akan di pecat. dan semua keluarga nya akan kena imbas nya.
" diam kau aqiya kalau kau menangis aku akan menambah kan hukuman untuk mu"
aqiya meredakan tangisan nya walaupun masi sesenggukan. Linda menyuruh aqiya serta pelayan bubar dengan efek alkohol dia berjalan linglung menuju kamar nya.
Pelayan menggendong aqiya menuju kamar dan melepas baju aqiya, terlihat lah bekas di badan aqiya biru biru akibat pukulan dari linda, bakas yg lalu belum sembuh kini nampak yg baru di punggung aqiya, .
Aqiya menahan sakit sambil menangis tanpa suara, walau ini sudah terjadi bertahun tahun tapi tetap saja ia tak bisa menahan sakit, akibat perbuatan Linda.
" nona muda aku akan ke dapur mengambil obat tunggulah disini"
aqiya mengangguk pelayan datang mengolesi obat pada punggung aqiya. Aqiya tidur telungkup tidak bisa telentang karna luka yang ada pada punggung nya.
apakah akiya tidak bisa bahagia, dia ingin pulang ke tempat asalnya walaupun kaka dan ayah nya sering marah tapi tidak pernah melakukan kekerasan pada nya .
aqiya menangis tidak mengeluarkan suara. Air matanya menetes melewati wajah indah nya yg pucat. dia menatap lekat lekat poto keluarganya terutama bunda nya.
" bunda sampai kapan aqiya akan seperti ini? Bunda, akiya hanya ingin seperti anak yang lain bermain berkumpul sama keluarga, punya dapat teman. Aku takut bunda, ayah membuang ku kesini dengan alasan belajar."
__ADS_1
Aqiya mempunyai kebiasaan berbicara dengan poto ibunya meluapkan semua emosi nya hingga ia lelah dan tertidur lelap.
Semua siksaan linda pada aqiya semakin menjadi jadi. Hari demi hari hingga hampir 10 tahun aqiya selalu dipukuli di bentak dan dimarahi hanya karna hal sepele .
siapa yg tahan dengan hal seperti itu didunia mungkin tidak ada. aqiya juga saking lelah nya mencoba untuk kabur, tapi kekuasaan Linda terlalu kuat. sehingga ia selalu diseret pulang kerumah yg menyakitkan itu. dan mendapatkan siksaan yg lebih mengerikan yg akan diberikan Linda pada nya.
ia hanya berharap hal buruk akan hilang digantikan dengan kebahagiaan, tapi ia hanya bisa berhayal tentang kebahagiaan itu. semoga saja. aqiya menguatkan diri untuk bertahan.
" nona muda anda di panggil nyoya" dengan takut takut aqiya menemui linda di ruang tamu"
aqiya mulai hari ini kamu akan melakukan pekerjaan rumah sebelelum rumah bersih kau tidak boleh sarapan pagi. Begitu seterusnya"
" biar kami saja melakukan tugas di rumah ini nyoya itu kan tugas kami"
dengan membungkuk pelayan menjawab nyoya nya. Tidak suka dibantah linda menampar pelayan itu.
" Kau berani membantah ku kau mau ku pecat hah!".
Pelayan itu meminta maap pada linda. Pelayan itu sedih, karna tidak bisa lagi membantu nona muda nya lagi.
" Tidak apa- apa bibi marni aqiya akan melakukan perintah tante linda" .
Tanpa diketahui oleh ayah nya dia disiksa, terus menerus oleh Linda. Linda sangat apik menyembunyikan kejahatannya dari keluarga aqiya. Walau mungkin keluarga aqiya tidak peduli sedikit pun padanya.
Ayah dan Kaka nya mungkin lebih senang dengan ketidakhadiran aqiya di rumah. Setiap mengingat hal itu, hati aqiya seakan akan teriris oleh pisau yg tajam. Namun tak terlihat.
waktu berlalu sangat lambat bagi aqiya. hingga hari itu tiba dia di tunangkan dengan anak tunggal keluarga brama widjaya yang bernama arga brama widjaya, kira kira umur nya tidak jauh beda dengan nya.
" akiya ingat jangan pernah sekalipun kamu mengadu pada ayah mu, atau kamu tau akibat nya, ah aku lupa bahwa ayah mu tidak menyukaimu kasihan sekali kamu kalau kau jadi anakku aku juga melakukan hal yang sama seperti ferindra membuangmu jauh jauh dari rumah hahahah"
begitulah tawa dari linda menggema di rumah besar itu, aqiya menahan tangis dia berpikir apa benar ayah nya tidak sayang sedikit pun padanya hingga ia tega membuang nya?.
" sudah lah besok ayah mu akan datang di acara pertunangan mu besok kau harus berprilaku baik besok. Apa kamu mendengar ucapan ku aqiya?" Aqiya mengangguk.
Tibalah hari pertunangan rumah linda di sulap menjadi tempat yang mewah dan banyak berdatangan tamu tamu undangan yang bersetelan formal. Aqiya didandani memakai gaun yang berwarna merah marun berlengan pendek.
kulit yang putih wajah yang imut menambah nilai plus pada aqiya
" nona muda anda cantik sekali hari ini!"
" trimakasih bibi"
seulas senyum terukir di wajah sang pelayan karna nona muda nya tidak pernah seceria dulu
" kenapa nona muda terlihat sangat bahagia" sambil menyisir rambut akiya.
" bibi aku senang karna hari ini ayah akan datang"
sang pelayan terkejut dan melihat aqiya dengan tatapan sulit terbaca, ia hanya heran dengan sikap ferindra yg seperti itu pada aqiya, aqiya masih sangat sayang pada ayah nya, dari kecil tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah.
setidak nya sebelum kejadian itu .
Aqiya turun dan melihat ayah nya sedang berbincang dengan keluarga brama widjaya. Aqiya juga melihat pemuda tampan yang berada di samping ayah nya, ferindra melihat putri nya dan memanggilnya sambil mengenalkan aqiya pada keluarga bramawidjaya,
aqiya tau ayah nya bersikap seperti itu hanya didepan banyak orang. ia tau aslinya bahkan ayah nya tidak mau menatap wajah nya, setelah 10 tahun dia di London ayah nya sekalipun tidak pernah menanyakan kabar nya.
__ADS_1
tapi walaupun ayah nya sedang bersandiwara didepan banyak orang . ia senang karna, hanya didepan banyak orang ayah nya mau berbicara pada nya.
Siapa namamu tanya brama widjaya aqiya menjawab
" aqiya paman"
" kenalkan ini anak paman namanya arga brama widjaya"
aqiya mengangguk tapi anak itu hanya menatap nya,
" arga tidak boleh seperti itu dia akan menjadi tunangan mu kau akan menjaga nya seumur hidup mengerti!"
Begitulah aqiya melihat paman itu menegur putranya " baik ayah" lalu arga menyodorkan tangan nya pada aqiya, aqiya menerima nya dengan pipi yang bersemu merah.
Setelah sesi pertunangan mereka selesai aqiya bertanya pada ayah nya. Knapa kaka nya arron tidak datang. Ayah nya hanya bilang bahwa arron sedang sibuk, aqiya sedih mendengar nya menunudukan kepalanya lalu perlahan pergi dari kerumunan orang banyak untuk menyendiri di taman belakang.
Ayah arga menyuruh agar arga ke tempat aqiya. Arga sebenar nya tidak mau dan tidak peduli karna paksaan ayah nya iya hanya bisa pasrah, arga melihat gadis kecil yang terduduk diam diatas ayun ayunan taman sambil menatap bintang, dia agak ragu untuk menemui gadis itu tapi tidak terasa langkah nya sudah ada di samping gadis itu.
" hey"
aqiya terkejut dengan sapaan seseorang yang ada di belakang nya ternyata arga. Cepat cepat dia menghapus air mata nya.
" Hay"jawab aqiya
" boleh aku duduk disini?"
Aqiya menjawab " tentu"
mereka terdiam beberapa menit hingga aqiya membuka pembicaraan " bolehkah aku memanggilmu ka arga?" Arga menjawab terserah kau saja
" aku juga punya kaka kembar sepertimu agak dingin,tidak banyak bicara dan sedikit ketus, aku hanya rindu padanya, karna suda 10 tahun aku tidak bertemu dengan nya, bagaimana rupa nya, apakah dia semakin tinggi,"
arga terkejut dia mengira aqiya gadis yang pendiam ternyata sangat cerewet.
" aku juga selalu manja pada nya aku selalu mengekorinya kemanapun hahaha, tapi sekarang tidak lagi"
arga hanya diam mendengarkan ocehan akiya, sampai ia melihat ternyata gadis itu menangis sambil bercerita. Arga tidak tau cara menenangkan seorang gadis yang menangis dia hanya mengikuti insting saja.
arga memeluk tubuh kecil itu sambil berkata.
" terserah kau mau memanggilku apa tapi jangan menangis,kau bisa bermanja manja padaku dan lakukan apapun yang kamu suka"
tanpa sadar dia mengatakn kalimat itu. akiya menangis di pelukan arga sambil berkata.
" benarkah kau berjanji, tidak akan meninggalkan ku, selamanya!"
Arga menjawab iya karna tidak tega melihat gadis yang di pelukan nya ini menangis. Arga heran kenapa bisa ia akrab dengan orang baru secepat itu .
Aqiya berhenti menangis dan bercerita hal2 yang lucu hingga dia tertawa lebar arga hanya menanggapi cerita lucu aqiya kadang kadang.
Tidak terasa waktu sudah larut malam arga pulang bersama ayah nya dia pamit pada aqiya. Dan berjanji besok akan datang lagi. Aqiya sangat senang akhirnya iya mendapatkan teman yang akan datang untuk bermain dengan nya, mungkin pertunangan yg diberikan ayah nya tidak buruk juga, setelah 10 tahun ia ahirnya punya teman untuk bercerita .
Dia berharap waktu akan selalu seperti ini,tanpa ada rasa sakit hati, Dan juga kesedihan lagi.
Mungkinkah hari esok akan cerah dan menyenangkan kita lihat saja nanti bagaimana air mengikuti arus menuju ke tempat yang akan dibawa nya.begitu juga takdir Entah bahagia atau malah malapetaka
__ADS_1