CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 10


__ADS_3

Sepuluh: Jus Tanpa Rasa


Double up! Waktu menipis😭


...---...


Apa arti keluarga bagi kalian? Tempat untuk berbagi keluh kesah? Tempat yang bisa membuat nyaman, bahagia, dan tentunya tenang. Jika ditanya, memilih untuk hidup bersama keluarga kaya tapi jarang merasa bahagia, atau miskin tapi selalu bahagia. Maka Fufy akan memilih pilihan menjadi miskin yang tentunya selalu bahagia. Tapi, bukan miskin banget. Sedang-sedang saja.


Fufy berharap dengan kedatangan sang Ayah ke rumah, suasana rumah bisa kembali berisik seperti dulu. Bukan berisik karena tangisan.


Namun, realita selalu tidak berpihak pada ekspetasi. Kehadiran Ayah justru membuat sang Ibu, Asti menangis kembali. Tentunya bukan tangis haru.


Asti membanting gelas yang berisi jus ke lantai. Tangannya bergetar hebat, juga diiringi oleh tangisan. Setelah selesai menyiapkan jus untuk menyambut kedatangan anaknya, Fufy. Tapi, bukan hanya Fufy yang juga datang.


Entah untuk alasan apa, Astina dengan keadaan kaki lumpuh, menundukkan punggungnya untuk mengambil pecahan gelas yang berceceran. Sementara Fufy dan Amara tidak bisa berkutik.


Ayah dan Ibu terlihat berantakan. Camara kemudian melepas jas yang dikenakannya, lalu menjadikannya sebagai alat pel. Camara berjongkok, lalu membersihkan kotoran jus.


"Ini jas yang berbeda, Asti. Jas yang sebelumnya sudah saya bakar," cakap Camara halus.


Asti menangis hingga kesusahan bernapas. "Bohong! Baunya masih tercium!" hina Asti membuat suasana hening berkepanjangan.


Anak siapa yang tidak ikut menangis ketika menyaksikan pertengkaran orang tuanya? Air mata berkilauan di wajah Fufy. Fufy merasa semesta selalu mengujinya.


Sedangkan Amara sibuk mengobrak-abrik tasnya. Menghamburkan seluruh buku yang ada di dalam tas, sampai membuat ruangan keluarga menjadi tambah kacau. Ternyata Amara sedang mencari nilai hasil ulangannya.


Amara mengangkat kertas ulangan tinggi-tinggi, seolah memberitahu kepada sang Ayah hanya dengan melalui hasil yang ia dapatkan itu.


"Ayah melanggar janji! Amara sudah memenuhi permintaan Ayah, begitu juga dengan kak Astina dan kak Fufy. Lalu kenapa Ayah tidak mengabulkan permintaan kami?" Amara menyentak Camara.


"Ayah susah mencari wak—" Amara tertawa keras, "lalu bagi ayah kami gampang mencari waktu? Pulang sekolah jam 5 sore. Setelah itu berangkat les. Setelahnya lagi belajar sampai malam. Dimana waktu yang Ayah maksud?"


Camara berdiri, lalu memijat pelipisnya. Dia seperti kebingungan untuk menghadapi pertanyaan tuntutan dari anak. Membuang jasnya, telunjuk Camara terangkat.


"Kenapa kamu lancang? Bagaimana dengan Ibu kalian?" Detik kemudian, terdengar gelak tawa dari Astina.


Ini bukan waktunya bagi mereka untuk tertawa. Tertawa yang penyebabnya lelucon atau sejenis kebahagiaan. Tidak. Bagi mereka tertawa dulu, baru bersedih. Kalau bersedih, nantinya akan bahagia.


Astina menajamkan pandangannya, "Uang Ayah tidak akan cukup untuk membeli waktu Ibu."


Camara terlihat terkejut dengan suara Astina yang meledak. Tanpa berbicara lagi, maka sudah diputuskan, bahwa keributan ini sudah selesai. Yang artinya ini waktu mereka untuk berkumpul bersama dengan kepala dingin.


Fufy menelan ludah, kemudian duduk mencari posisi yang nyaman di sofa. Ayah dan Ibu berada di tengah-tengah, sedangkan para anak duduk membentuk lingkaran. Ini waktunya serius dengan tenang.


Lantas Fufy melanjutkan acara minum jus alpukat kesukaannya. Kemudian wajah mereka sumringah ketika mendengar pengakuan dari Astina.


"Aku akan menjalani terapi terakhirku Minggu depan." Ucapan Astina berhasil membuat Camara dan Asti tersenyum senang.


Wajah mereka berbinar-binar. Pemandangan menakjubkan ketika Amara mengumpulkan bukti hasil ulangannya yang sempurna. Begitu juga dengan Fufy yang melakukan hal sama. Tetapi Fufy memberikan sertifikat sebagai bukti.


"Ayah bangga kepada kalian."


Waktu berkumpul selesai di akhiri dengan kecupan hangat Camara kepada sang Istri. Waktu singkat, selanjutnya mereka kembali ke kamar masing-masing.


...---...


Kedatangan Camara membuat kecurigaan Fufy bertambah. Tidak biasanya Camara datang ke rumah dengan mencari keributan dengan anggota keluarga, terutama sang Ibu. Sudah menjadi rutinitas, bahwa jika Camara pulang, keluarga menjadi bahagia. Namun kali ini berbeda.


Fufy bukannya tidak mengerti apa yang diributkan kedua orang tuanya tadi, tapi, Fufy ingin memastikan sendiri. Sesuatu tidak mungkin jika suatu hubungan berjalan selalu mulus.


Camara terkenal dengan manusia gila kerja. Tidak kenal waktu. Bahkan baginya waktu dua puluh empat jam tidak cukup untuk mengerjakan tugas di Kantor. Berdebat dengan para investor, itu sudah menjadi kebiasaan Camara. Walau gila kerja, di mata Fufy, Camara adalah ayah setia dengan pasangannya. Belum pernah ada kasus selama ini, bahwa Camara berselingkuh.

__ADS_1


Fufy menulikan pendengarannya ketika melewati kamar Amara. Dia bisa mendengar jelas bahwa Amara tengah bersenang-senang. Mungkin malam ini, semua anaknya akan santai.


Berjalan lagi melewati kamar Astina, Fufy berniat ingin memasuki kamar kakaknya itu. Tetapi, sebelum itu dia harus masuk ke kamar orang tuanya. Seingat Fufy, Astina baru saja membeli buku tentang zodiak edisi terbaru.


Pelan-pelan, Fufy menempelkan wajahnya pada pintu kamar orang tuanya. Tubuh Fufy menegang ketika mendengar namanya disebut di dalam.


"Saya kecewa dengan Fufy. Dia mempermalukan nama perusahaan kemarin," ucap Camara.


Fufy menunduk menatap sandal jepit. Rupanya kedua orang tuanya tengah membahas dirinya. Ada kesedihan terpancar di mata Fufy.


"Aku sudah menghubungi murid terpintar untuk dijadikan guru privat." Asti kemudian berbicara.


"Bagaimana? Dia setuju?" Asti berdehem, "iya. Senin depan dia akan mengatur waktunya."


Fufy duduk di depan pintu dengan wajah kosong. Sulit baginya untuk memahami materi pelajaran. Waktu kecil, Fufy sudah pernah berusaha mati-matian seperti Amara, bahkan ikut les privat juga agar bisa masuk ke sepuluh besar. Tapi nyatanya, manusia memiliki kapasitas otak berbeda.


Tahun pertama di SMP, Fufy menyerah kesusahan memahami materi. Butuh waktu sebulan untuk paham satu bab pelajaran. Dan untuk soal menghapal, Fufy mengaku kalah.


Akhirnya, Camara memindahkan Fufy ke non akademik, yaitu olahraga. Tetapi, kenapa sekarang berbeda?


"Tidak mengertikah dia bahwa uang sekolah disana saya bayar berkali-kali lipat untuk mempertahankannya?" Deg. Fufy menajamkan pendengarannya.


"Bantulah Fufy." Suara Asti mengecil.


"Bantu dan bantu. Saya tau. Dia unggul dalam panjat tebing. Tapi ketika tamat nanti, kuliah yang akan menentukan kehidupannya. Jadi apa dia nanti, pekerjaannya apa, lalu menikah dengan orang mana. Itu dimulai dengan nilai. Sebagai seorang Ibu, kamu pasti mengerti, bukan?" Mulut Fufy berkedut menahan agar tidak menertawakan dirinya sendiri.


Air mata memenuhi matanya. Fufy memberi setengah senyum. Rasa benci datang kepadanya. Fufy membenci dirinya sendiri.


"Iya," balas Asti, "saya harap semester ini Fufy bisa meraih juara tiga pararel, atau dia akan berhenti di olahraga panjat tebing."


Suara saklar lampu terdengar. Fufy mengintip dari celah pintu. Rupanya kamar sudah gelap. Fufy mengerti. Mereka pasti tidur dengan kecanggungan. Ralat, mungkin hanya Ibunya yang merasakan hal itu.


Ternyata penyebabnya bukan karena masalah perselingkuhan. Tetapi, itu karena dirinya sendiri. Anak yang Fufy rasa, sudah berhasil membanggakan kedua orang tuanya, justru dialah yang paling mengecewakan.


Tertawalah jika menganggap Fufy cengeng. Beberapa orang akan mengerti alasan dirinya terus menangis. Memaki dirinya sendiri, mungkin hanya setan di kamarnya saja yang memahaminya.


...---- ...


Suasana rumah Ardha ramai. Ardha membuat pesta perayaan atas kemenangannya. Tidak mewah, tapi mampu membuat seluruh atlet datang ke rumahnya. Sebagian besar datang karena ingin makan gratis sebenarnya.


Mada seperti kesusahan membawa salad akibat kekurangan tenaga tangan. "Seseorang tolong peka sedikit!" ujarnya setengah berteriak.


Saraswati lantas menghampiri Mada dan membantunya membawa salad itu. Mada sempat terkejut melihat gerakan Saraswati. Tapi kemudian, dia tersenyum kecil.


"Bawa gini aja gak bisa," sungut Saraswati berapi-api.


Rasanya Mada ingin meludahi Saraswati. "Ikhlas dong, ikhlas!" balasnya tegas.


Saraswati berbalik, menatap Mada nyalang. "Kurang ikhlas?" Dia berniat menaruh salad itu ke lantai.


Sontak Ardha berlari ke arahnya, lalu mencegahnya. "Woi, jangan! Ini salad sayur mahal!" Ardha melerai pertengkaran temannya.


Sementara Fufy sedang duduk santai menguping pembicaraan pak Hakim dengan kedua orang tua Ardha. Bersama dengan Mantra di sebelahnya, Fufy juga sibuk bermain ponsel membalas pesan sang Pacar.


Abdi


Lagi dimana?


^^^Rumah temen^^^


Sejak lomba panjat tebing sebelumnya, Abdi rutin sekali mengirimkan pesan kepadanya. Kadang Fufy sedikit risih menerima pesan Abdi yang semakin melanggar privasinya.

__ADS_1


Abdi


Sama siapa?


Ya, seperti ini. Fufy aneh saja jika ditanya hal seperti ini. Memang harus banget diberitahukan? Dijelaskan secara detail, pasti nanti ujung-ujungnya melarang. Jujur, Fufy tidak suka.


Abdi


Foto kirim


Lagi. Malas, Fufy mematikan ponselnya. Lalu menatap Mantra yang tengah menatapnya juga. Fufy menaikkan sebelah alisnya bertanya. Kenapa tatapan Mantra seperti mengintimidasi dirinya?


"Kenapa?" tanya Fufy kepada Mantra.


Mantra menipiskan bibirnya, "Tidak."


Fufy mengangguk, kembali menajamkan pendengarannya pada obrolan pak Hakim dengan orang tua Ardha. Kini terdengar mereka sedang membahas tentang nilai Ardha di sekolah.


Nilai dan nilai. Fufy pusing mendengarnya. Hal itu membuat Fufy merasakan gejolak sensasi terbakar pada perutnya. Fufy beranjak untuk bergabung dengan teman-temannya.


"Dengar-dengar pak Hakim mengambil dana kita waktu lomba lalu untuk pembangunan lapangan panjat," sambar Coko, atlet senior si pembawa gosip.


Ali tertawa, "Kata siapa? Justru katanya pak Hakim mengambil untuk biaya pribadi."


"Biaya apa, tuh?" Fufy nenyruput jus alpukat yang rasanya hambar, "biaya sama cewek-cewek klub basket sebelah."


Katanya dan katanya. Entah darimana asal gosip tersebar, kata 'katanya' selalu menjadi ciri khas. Fufy sebenarnya juga curiga, tapi dia tidak ingin ikut mencurigai pak Hakim dengan percaya melalui gosip tersebar itu.


"Bener?" Ternyata Fufy juga terhasut.


Saraswati mengangkat bahu sebagai jawaban. "Dengar-dengar sih, iya. Tapi yang lebih fakta sih, pembangunan. Udah ada truk yang bawa pasir sih, gue liat kemaren," jelasnya.


Fufy berpikir sejenak. Seingatnya memang area bouldering juga butuh matras baru buat latihan. Matras yang lama sebagian sudah rusak.


"Aman saja jika dimanfaatkan untuk kepentingan panjat," ungkap Fufy.


"Tapi juga, yang dikatakan Ali patut dipercayai. Coba deh, modelan pak Hakim juga cocok buat jadi pedofil." Perkataan Ranbi sontak membuat kedua temannya memandangnya kaget.


"Ranbi? Sadar lo ngucapin apa?" Saraswati membulat tak percaya, "pedofil apa maksud lo? Lo ngerti begituan?"


Ranbi memutar bola matanya jengah, "Aku udah gede. Masalah kak Andre sama pacarnya aja, aku tau!"


Fufy dan Saraswati terdiam. Bersamaan dengan itu, Andre datang bersama Levi seraya senyum semangat. Andre mengangkat salad sayur tinggi-tinggi.


"Tadaa! Makanan sehat sempurna untuk adik tercinta abang!" Andre berseru antusias.


Sedangkan Ranbi membalikkan badannya merajuk. "Aih, adikku! Kakak Levi disini juga pacar Abang. Jelas kalian berdua itu kepentingan Abang," cakap Andre kepada Ranbi.


Fufy tersenyum melihat interaksi Andre yang sedang berusaha keras membujuk Ranbi agar tidak marah lagi dengannya. Disaat seperti ini, Fufy malah mengingat cerita persaudaraan dirinya dengan Astina dan Amara. Andai ada salah satu yang gampang mencairkan suasana seperti Andre, pasti lebih seru. Fufy menggaruk leher menyadarkan dirinya.


Disamping itu, ada Ardha yang sejak tadi berdiri di sampingnya sambil membawa jus di tangannya. Matanya tidak lepas melihat cara pandangan Fufy melihat interaksi Andre dengan Ranbi. Apalagi ketika Andre membawa Levi bersamanya.


Menghela napas panjang, Ardha lantas menghampiri Fufy, lalu menyodorkan jus kepadanya. Fufy menatap Ardha.


Menerima karena Fufy juga merasa haus, tetapi tampaknya Ardha mengartikannya berbeda.


"Jus tanpa rasa ini akan membuat kamu selalu kuat." Fufy menoleh menatap Ardha bingung.


Ardha melanjutkan, "Jangan terpaku dengan lelaki brengsek sepertinya. Maka kamu akan mengerti arti rasa jus alpukat ini."


Fufy diam berkepanjangan. Dia cengo sekaligus bingung tidak mengerti apa maksud ucapan Ardha barusan. Lelaki brengsek? Fufy mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Makasih." Ini jawaban paling baik, bukan?


...---...


__ADS_2