CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 13


__ADS_3

Bagian Tiga Belas: Kegiatan Mencintaimu, eh?


Hayooo, ada apa nih?


Selamat membaca 💗


...--...


Dengan ketelitian tinggi, Fufy mengerjakan merajut hadiah Ardha. Setelah waktu les selesai, karena memiliki waktu luang, akhirnya Fufy bisa melanjutkan kegiatannya. Ini untuk pertama kalinya Fufy menyiapkan sesuatu dengan waktu berskala panjang.


Ardha


Aku udah di depan gang


Mata Fufy terbelalak. Dia kepanikan. Fufy telah melupakan sesuatu yang penting. Lantas, segera dia bereskan pekerjaannya yang belum selesai, kemudian keluar kamar dengan jalan pelan.


"Kemana?" Langkah Fufy terhenti.


Rupanya Amara yang bertanya. "Beli perlengkapan untuk acara lomba merayakan hari sumpah pemuda sama para atlet," kata Fufy menjelaskan.


"Para?" gumam Amara memastikan.


Ini bukan sesuatu yang mudah. Amara itu orang pintar. Tentu dia selalu teliti akan sesuatu.


"Berdua?" jawab Fufy pelan, "jangan beritahu siapa-siapa. Kalau kak Astina nanya—nanti aku sekalian beli buku."


Fufy menelan ludah menunggu respon, lebih tepatnya jawaban dari Amara. Namun, Amara hanya berdiri diam menatapnya.


"Dimengerti," ucap Amara pada akhirnya.


Fufy mengembangkan senyum sebagai rasa lega. "Mau nitip sesuatu? Atau aku belikan sesuatu?" tanyanya kepada Amara.


"Tidak usah."


Amara memang orang tertutup. Dia akan pergi ketika merasa percakapan dianggapnya sudah selesai. Setelahnya, sudah dipastikan bahwa dia akan kembali menemani buku-bukunya itu.


Walau Ayah sudah balik ke kantor dengan senyuman yang menenangkan, rupanya itu bukan kepuasan sebagai seorang Ayah. Fufy dengar, Amara diminta mengikuti olimpiade bulan depan. Itu mungkin sudah cukup sebagai jawaban.


...---...


"Maaf, sudah lama?"


Fufy menatap Ardha kuatir. Dilihatnya Ardha menatapnya teduh. "Lebih baik jika kamu mengijinkan aku jemput langsung di rumah. Supaya sekalian minta ijin sama orang tua kamu," ujar Ardha.


Fufy menggaruk tangannya, "Kamu tau."


Fufy tidak tau bahwa tatapan yang Ardha berikan adalah tatapan kecewa. Tatapan yang tidak bisa dijelaskan secara rinci, namun gampang dimengerti.


"Ayo," ajak Ardha kemudian.


Fufy mengangguk mantap, lalu memasang helm yang diberikan Ardha. Fufy bukan perempuan feminim, oleh karena itu dia memakai celana jeans yang tidak ketat. Bukan karena tidak suka, tapi menurutnya dress itu merepotkan.


Sementara Ardha berpakaian super rapi. Terlihat jelas dari atas, bahkan kancing kemeja yang paling atas terkancing tapi. Tidak ada lipatan kameja yang mendeskripsikan keluhan rasa panas di tengah sinar matahari yang terik ini. Ardha bahkan memakai jaket tebal lagi. Melihatnya cukup membuat Fufy sesak.


Sesampainya di tempat tujuan, karena toko yang dituju dekat dengan Gramedia, Ardha langsung mengajak Fufy untuk mampir. Katanya dia sedang mencari buku kumpulan soal untuk persiapan UAS nanti. Tapi, yang dilihat Fufy sekarang jelas Ardha sedang tertarik dengan novel-novel di rak depannya ini.


"Ehem!" Fufy memberikan kode.


Ardha menggaruk tengkuknya, "Dimana tempat buku pelajaran, ya?"


Sontak Fufy tertawa kecil. Itu adalah reaksi keterhubungan dengan perasaan panik dan kaget. Apa Ardha benar tidak melihat? Kumpulan buku belajar tepat ada di rak lorong sebelah. Sebelumnya juga mereka melewati lorong tersebut.


Fufy melihat-lihat, "Amara menyukai novel."

__ADS_1


Ardha menyengir, "Kamu mau beli novel?"


Fufy segera menggeleng. Dia bukan tipe orang yang menyukai cerita fiksi. Tapi ada beberapa novel yang kadang menarik perhatiannya. Seperti series Bumi contohnya.


"Ardha mau beli?" Mata Ardha berbinar, "oh iya! Kamu sukanya sama buku zodiak."


Dengan cepat Ardha pergi meninggalkannya. Sedangkan Fufy yang tidak sempat mencegah, dikejutkan oleh pemandangan Ardha yang membawa setumpuk buku.


"Apa itu?" Haruskah Fufy membawakan keranjang?


Tapi tunggu, "Ini kumpulan buku edisi terbaru bulan ini yang paling banyak terjual. Bagaimana? Kamu pilih yang mana? Atau suka sama semuanya?"


"Hah?" Kenapa tiba-tiba Ardha bertindak seperti ini? Ini bukan Penyemangat yang Fufy kenal sebelumnya.


"Ambil supaya kamu lebih semangat belajarnya," cakap Ardha membuat Fufy terdiam.


"Tidak perlu. Aku bisa membeli—" Fufy terdiam lagi, "ambil keranjangnya maksud aku."


"Ya?" Ardha tersenyum kecil.


"Sekalian untuk aku menaruh buku yang akan dibeli. Akhir-akhir ini kamu tidak serius latihan. Mau jadi ambisius di bidang apa?" Ardha mendekat, seolah ingin mengetahui sesuatu.


"Kamu sempurna di bidang olahraga. Kenapa harus memaksakan?"


"Kenapa?" tanya Fufy tidak mengerti.


Ardha kemudian menaruh tumpukan buku yang dibawanya di rak sebelah. Lantas menarik tangan Fufy, lalu selanjutnya memojokkan Fufy di antara rak.


Fufy kebingungan. Bingung sekaligus panik karena Ardha menatapnya secara intens seperti ini. Tiba-tiba?


Ardha menunduk kemudian berkata yang kalimatnya itu tidak bisa Fufy mengerti. Suatu kalimat yang diidentifikasi sebagai pertanyaan, juga pernyataan. Singkat dan jelas.


"Pilih aku?" Secara rinci membuat Fufy tidak tenang hingga sampai rumah.


Tidak disangka Ardha benar-benar membelikannya setumpuk buku ramalan zodiak. Dan rata-rata semua tentang rahasia zodiak Cancer. Sebenarnya, apa yang telah terjadi hari ini?


Dijelaskan ketika ketegangan itu selesai, Ardha menatap Fufy lama tanpa berkata sepatah katapun. Dia kemudian pergi mencari beberapa buku yang ingin dicari, lalu langsung membayarnya. Dan tanpa diketahui Fufy, Ardha juga mengambil buku kumpulan soal yang diberikan untuknya.


Buku itu terselip diantara tumpukan buku zodiak. Disinilah Fufy sekarang. Berjalan mengikuti langkah Ardha yang cukup cepat, sehingga susah baginya untuk menyeimbangi.


Fufy sempat heran. Padahal dirinya ini termasuk perempuan tinggi. Bahkan tingginya juga tidak jauh dari Ardha. Tetapi, kenapa hari ini Ardha terlihat lebih berbeda. Seolah cara berjalannya ini menjelaskan seberapa kulkasnya sosok Ardha.


"Ardha, hari ini kamu kenapa?" Fufy mencoba diam-diam menyimpan uang ke dalam saku jaket Adha untuk sebagai pembayaran buku tadi.


Tapi, tangan Ardha lebih cepat merespon. Mereka menghentikan langkah di samping lift. Fufy dan Ardha saling memberi tatapan pertanyaan.


"Simpan uang kamu," kata Ardha, "ini hadiah untukmu dariku."


"Maksudnya? Tapi yang seharusnya berulang—" Ardha menempelkan telunjuknya di bibir sebagai isyarat.


"Baik, aku terima 200 ribu," putus Ardha membuat Fufy melotot.


Ardha menerima tiga puluh persen dari banyaknya buku yang dia berikan. Apalagi dengan harga seratus ribu paling murah per satuan bukunya.


"Ardha," panggil Fufy mencoba mengerti apa yang Ardha pikirkan.


"Iya?" balas Ardha terdengar menjengkelkan, "kamu tau? Zodiak Sagitarius itu paling sexy diantara zodiak lainnya."


Ardha tersenyum miring, "Lalu?"


"Kamu terpana dengan keseksianku, makanya membelikan semuanya agar terlihat royal disampingku?" tebak Fufy pura-pura.


Ardha diam sejenak, kemudian menutup wajah menahan tawa. "Maaf, tapi seleraku itu tipe orang setia," balasnya membuat Fufy tertohok.

__ADS_1


"Tapi Sagitarius juga setia." Ardha menggeleng, "Cancer berada di urutan pertama tentang kesetiaan. Sedangkan Sagitarius di urutan terakhir."


Fufy membelakkan mata tidak terima. "Darimana Ardha tau? Fufy yang lebih tau. Sagitarius yang paling setia diurutan kedua. Sumber dari mana itu?" tanya Fufy.


"Sumber observasi." Fufy kalah.


"Pokoknya terima."


"Tidak usah," lontar Ardha menolak.


Fufy tidak akan tenang sebelum masalah ini terselesaikan. Rasa tidak enakan ketika diberikan sesuatu yang berlebihan. Apalagi dirinya baru saja disindir terang-terangan oleh Ardha. Fufy mengerti maksudnya itu.


"Itu berlebihan, Ardha. Tidak boleh seperti ini." Ardha menolak kembali, "lebih baik ditabung uangnya. Itu untuk kakakmu, bukan? Berikan untuknya. Bilang itu pemberian dariku."


"Untuk apa coba? Gak bisa begini, harus ada pembatasan." Fufy berusaha memaksa.


Ardha menarik napas, "supaya dapet restu."


"Hah? Apa?" Pembicaraan mereka sontak teralihkan oleh kedatangan seseorang.


"Eh? Ardha, Fufy, berduaan?"


Fufy membalas sapaan dari Alin. Ternyata ini pertama kalinya dirinya bertemu Alin di luar latihan. Pakaian Alin sangat mencerminkan bagaimana perempuan cantik itu. Alin begitu menawan.


"Halo, Alin," sapa Fufy.


Alin menyambut uluran tangan Fufy. Pandangannya kemudian beralih pada Ardha yang sejak tadi diam menatap Fufy tanpa beralih ke arah lain sedetikpun. Alin berdehem.


"Kalian lagi kencan, nih? Maaf aku menganggu ka—" Fufy melotot.


"Eh, bukan, tidak, tidak! Kami berdua mau beli perlengkapan lomba buat perayaan hari sumpah pemuda. Kami tidak kencan. Berteman kita," ujar Fufy menjelaskan.


Tanpa Fufy tau, didepannya sudah ada mata tajam yang sejak tadi menatapnya lembut, berubah datar. Alin ber-oh ria mengerti.


"Kalau begitu aku bisa bantu?" tanya Alin bersemangat.


Alin melirik Ardha yang sejak tadi diam. "Boleh tidak, Ardha?" tanya Alin berbinar-binar.


Bukannya menjawab, Ardha malah menatap Fufy meminta jawaban. Fufy yang ditatap seperti itu, kebingungan. Haruskah dirinya menolak karena ditatap tajam seperti itu?


"Kamu hadir di acaranya?" tanya Fufy, "tentu. Aku rajin latihan," jawab Alin.


"Kalau begitu, ayo, kita cari bahan bersama," cakap Fufy, "ayo!"


"Rencananya mau bikin lomba apa saja?" Mereka masih diam, belum bergerak.


Fufy mengingat-ingat. Tidak seperti lomba agustusan, tapi rencananya akan dibuat mengesankan. Fufy sendiri baru memutuskan melaksanakan dua lomba dengan pak Indra.


Fufy dan Alin saling bertukar pendapat, sementara Ardha masih diam seperti tadi. Tidak bicara, seperti kehilangan hidup.


"Ayo, Ardha." Fufy menyadarkan Ardha.


Fufy tidak tau mengapa Ardha bertingkah aneh hari ini. Tapi dirinya bisa berharap, kalau Ardha tidak marah dengannya. Karena itu akan membuat suasana berubah.


"Terserah kamu."


Fufy membalas tatapan Ardha. Apa maksudnya itu?


----


Sekian udah tengah malam😓


Silahkan di komenin. Saya ikhlas kok🤗

__ADS_1


__ADS_2