![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Enam: Melawan Bintang
...----...
Ada hal yang paling menyakitkan selain kena bangkrut atau ditipu investasi. Yaitu ketika melihat ketiga anaknya masuk rumah sakit sekaligus. Untuk pertama kalinya Camara menangis memeluk Istrinya, Asti.
Amara yang sedang dirawat karena luka bakar. Fufy mendapat perawatan pada luka di wajahnya. Sedangkan Astina dirawat akibat terdeteksi kecanduan obat tidur.
Camara tidak ingat dengan tugas kantornya. Setiap jamnya, Camara dan Asti bergantian merawat anak-anaknya. Ketika mendapat jadwal mengurus Amara bersama-sama, ada sesuatu hal yang tidak bisa mereka perkirakan sebelumnya.
Amara berkata, "Maaf, Ayah, Amara sengaja melakukannya."
Melihat luka bakar di tangan anaknya, Camara tidak bisa menahan air matanya. Camara menangis terisak menutup wajahnya.
Amara menunduk, menahan rasa sakit. "Aku dan kakak-kakak hanya ingin melihat Ayah ada di rumah," katanya.
"Karena luka kak Fufy akan sembuh, kak Astina kebingungan mencari ide," cakap Amara rendah, "kak Astina kembali mengonsumsi obat tidur."
Fufy masuk membawa beberapa makanan ke ruang inap Amara. "Ayah, kami hanya ingin kalian bahagia bersama kami tanpa sandiwara," ungkap Fufy menimpali.
Semenjak itu, tidak pernah Fufy lihat dokumen perceraian di ruang kerja Camara ataupun Asti. Ayah dan Ibu mereka berubah lebih hangat, menyayangi dan lebih memperhatikan semua anaknya.
Camara lebih sering menghabiskan waktu bersama Astina, meski tidak lagi bersifat dingin seperti dulu. Astina menjalani pengobatan psikis. Disamping itu, Amara mulai kembali ceria dan lebih terbuka dengan semuanya.
Seperti sekarang, Amara meminta Fufy untuk menemaninya membeli perawatan kulit. Katanya, dia ingin merawat diri karena luka bakarnya itu.
"Lebih baik krim malam atau pagi?" Amara bertanya, "dua-duanya."
Untuk saat ini, Fufy tidak tertarik dengan dunia skincare. Sejak tadi matanya fokus terhadap toko buku di sebelahnya. Kebiasaan Astina menurun kepadanya.
"Menurut lo? Uangnya tidak cukup, tuhe!" Amara menaruh kembali kedua krim itu.
Fufy gregetan, menaruh kedua barang belanjaan Amara yang dikembalikan. "Ada aku. Kamu kira kakakmu miskin?"
Fufy tersinggung karena akhir-akhir ini Amara sering membahas pendapatannya mengikuti berbagai lomba online. Fufy kira itu sebanding dengan penghasilan dirinya dalam panjat tebing.
Mata Amara berseri-seri, "Makasih! Baru hari ini Amara rasa punya kakak."
Fufy tersinggung mendengarnya. Memang, hubungan mereka sebelumnya tidak terlalu baik. Menikmati waktu berdua saja mungkin saat diantar oleh Asti. Itupun dalam satu mobil, mereka menghentikan cipta.
"Kak, kakak lebih suka kak Ardha atau kak Ardi?"
Sekarang juga Amara mulai memanggilnya dengan panggilan 'kakak'. Fufy senang mendengarnya. Hal kecil yang membuat Fufy ingin melakukan sesuatu hal besar lagi.
"Memang kenapa kalau Ardi?" Fufy memancing Amara.
"Gapapa. Ardi juga cocok sama kakak," jawab Amara, "bener?"
"Tapi kalau kakak suka sama cowok yang tidak menyukai didekati oleh banyak cewek, kakak harus jadi cewek yang tidak suka didekati banyak cowok," ujar Amara dalam.
__ADS_1
Sejenak, Fufy tertohok. Amara seperti menyindirnya.
"Aku mengerti," balas Fufy lantas membayar belanjaan Amara.
Tanpa Fufy ketahui, dibalik alasan Amara membeli perawatan kulit, salah satunya karena dia mulai memperhatikan diri ketika bersama Ardi. Tidak jarang Ardi berbicara sambil memperhatikan wajahnya serius.
Kadang, Amara risih, kadang juga salah tingkah dibuatnya. Biarlah kisah mereka tidak dipublikasikan. Sebab, Ardi yang dingin bertemu dengan Amara yang memiliki sifat dingin juga.
...----...
"Fufy!"
Ardha dan Ali menghampiri Fufy. Mereka kuatir karena perkara wajah luka Fufy terkena air minum.
Ali berasumsi, "Bisa saja lukanya akan bertambah parah jika terkena air, Py. Aku ajak ke Dokter buat diperiksa, ya?"
Fufy tercengang. "Terlalu lebay. Diusap pake handuk juga bisa." Ardha menatap Ali sinis.
Secara telaten Ardha menyeka air yang terkena luka di wajah Fufy. Fufy semakin merasa tidak enak diperlakukan seperti ini. "Terima kasih. Nanti handuknya aku cuci," ucap Fufy.
Semua pasang mata menatap kearah mereka. Ali berdiri melihat interaksi antara Ardha dengan Fufy dengan wajah sebal.
"Tidak perlu. Kamu simpan saja. Ini handuk pemberian aku," kata Ardha lembut.
Tidak terima, Ali tidak ingin kalah dari Ardha. Ali membantu memasang ikat pinggang Fufy. Ardha juga begitu. Ardha tidak.ada henti-hentinya berteriak menyemangati Fufy.
"Harus jadi Ardha dulu, pak." Santi berbicara, "dia anak super kuat."
Tidak ada lagi yang mencaci Fufy. Fufy berlatih secara tekun hari demi hari. Bisa dilihat, persaingan antara Fufy dan Mantra panas. Sementara Levi yang berada ditengah-tengah mereka, menonton santai.
Karena sudah pasti dirinya akan ikut dalam perlombaan di Singapura.
Kembali ke Bouldering, Fufy mengamati poin panjat. Fufy mempunyai ambisi besar agar bisa mencapai poin puncak dengan cara cepat. Sedikit sulit untuk merekatkan tangannya pada holds.
"Semangat, Fufy!" teriak Ardha penuh semangat.
"Keep it up!"
Mada mengangkat tangan ikut memberi semangat. "Stay strong!" teriak Ardha kembali.
Berkat Ardha juga, Fufy menjadi lebih semangat berlatih. Ardha menjanjikan sesuatu yang rahasia kepadanya. Hal lain, berkat Ardha juga Fufy bisa lebih nyaman berbaur dengan teman manjat.
Di sebelah Ardha, ada Mada yang sedari tadi menyaksikan kegilaan Ardha menyemangati Fufy. "Gak nyerah juga ternyata," gumam Mada.
"Mau join ngejar Fufy?" Ardha mengajaknya bercanda.
Sontak Mada terbatuk, "Maksud lo? Ngajakin hal yang gak mungkin. Dapet aja belum, udah sombong ngeklaim miliknya."
Ardha terkekeh, "Ada prinsip baru lagi. Tabrak yang menghalangi, tinggal yang tak mau ikut."
__ADS_1
Mada menatap temannya tak percaya. "Gue heran, jenis pelet apa yang Fufy kasih ke lo, ya, kira-kira? Jadi tolol temen gue," lontar Mada.
"Apa?" Ardha menatapnya tajam, "ini namanya usaha, paham?"
Mada menepuk-nepuk pundak Ardha. Berusaha keras menahan tawanya. "Iya, deh, usaha." Mada akhirnya tertawa.
"Ardha!" Secepat kilat Ardha meninggalkan Mada dan menghampiri Fufy. Wajahnya sudah sumringah mendengar Fufy memanggilnya.
Mada kembali memasang wajah cengo. "Kayaknya gue harus jadi penikung bentar, deh."
...---...
Ardha kembali mengantar Fufy. Dengan penuh semangat, dia juga membelikan helm khusus untuk Fufy tanpa Fufy ketahui itu.
Ardha melirik Fufy lewat spion. "Aku cocok gak potong rambut?" tanya Ardha.
"Bagus, kok."
Ardha cemberut, "Hanya bagus?"
Pandangan mereka bertemu saat Fufy menatap Ardha juga. Fufy menyentil punggung Ardha. "Memang mau bagaimana? Ganteng begitu? Kan sejak awal memang ganteng?" Fufy berucap spontan.
Ardha langsung menutup kaca helmnya. Dia melajukan motornya dengan kecepatan lebih tinggi.
"Ardha!" teriak Fufy kaget.
Ardha diam dengan wajah memerah, tanpa memperhatikan didepannya sudah ada sekumpulan Polisi berjaga di lampu merah.
Kitt!
Hampir saja Ardha melanggar aturan lalu lintas. Dengan perasaan gugup, diam-diam Fufy mengamati orang-orang yang tengah di tilang oleh Polisi itu.
Fufy memeriksa kelengkapan. Helm sudah, mematuhi aturan juga sudah. Membawa STNK?!
"Ardha," panggil Fufy berbisik, "ya?"
Lampu hijau muncul, tapi mereka Ardha belum menjalankan motornya. Dia menunggu Fufy berbicara.
"Kenapa kita tidak ditilang, ya?"
Mendengar itu, Ardha segera melajukan motornya. Pergi dari area itu.
Ternyata di depan sana sudah ada Polisi yang melambaikan tangannya ke arah mereka. Gawat.
Bisa-bisanya Fufy berkata seperti itu ditengah-tengah keramaian para Polisi.
...----...
Haloo!🤩
__ADS_1