![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Tujuh: Sesuatu yang baru
...---...
Kesan apa yang terlintas di pikiran kalian ketika melewati ruang BK? Mengintip siswa yang sedang kena masalah, atau hanya lewat—acuh dengan permasalahan mereka? Kali ini Fufy merasakan seseorang mengintip dan menguping pembicaraannya dengan guru BK.
Benar. Fufy dipanggil oleh guru BK karena ada sesuatu penting. Tetapi sebelum itu, kini Fufy tengah duduk dengan sabar menunggu namanya dipanggil.
Ini seperti menunggu antrean berobat di rumah sakit, atau ketika menunggu antrean pinjaman uang. Di depan Fufy berdiri seorang lelaki tampan kebanggan sekolah yang secara tiba-tiba dipanggil ke ruang BK.
Eh, tapi bukan berarti dia kena masalah. Itu sesuatu tidak mungkin bagi siswa teladan seperti dia. Fufy lupa namanya, tapi tahun ini dia menjadi siswa terbaik urutan pertama peringkat pararel. Benar-benar keren.
Cowok yang dimaksud Fufy itu tertawa bersama guru BK. Entah apa yang mereka tengah bicarakan, Fufy tidak bisa menyimak dengan baik. Karena mereka membahas tentang pelajaran. Membosankan.
"Seperti kamu duga. Ibu memilih kamu sebagai perwakilan sekolah. Bisa 'kan?" tanya guru BK.
Lelaki itu mengangguk mantap. Lagian, siapa coba yang berani menolak permintaan dari guru BK? Cuma Fufy, sih.
Fufy menarik napas, "Saya ingin fokus ke non akademik Bu, bukan akademik."
"Mengapa? Tahun depan kamu sudah naik ke kelas 12. Apa yang kamu pikirkan dengan peringkat ketiga dari bawah?" Fufy terdiam.
Minggu lalu pembagian nilai raport semesteran. Tentu itu sebagai hari kejutan bagi Fufy. Faktanya, dia mendapat nilai paling kecil di kelasnya. Itu pun sebenarnya dibantu oleh nilai non akademik, tidak lain dari panjat tebing.
"Dari 76 siswa, Bu," kata Fufy membalas.
Guru BK yang bernama Siti itu menarik napas dalam. "Kamu tidak ingin di posisi 3 besar pararel? Atau 10 besar di kelas? Dengar, semua sertifikat, medali, dan piala tidak akan berguna ketika kamu tamat sekolah. Yang kamu butuhkan yaitu nilai akademik. Kamu akan kesusahan jika tidak kuliah. Setelah ini kamu akan mengambil jenjang kuliah, bukan?" Ucapan bu Siti membuat Fufy diam berkepanjangan.
"Iya." Singkat Fufy menjawab.
"Saya hanya melakukan olahraga kesukaan," kata Fufy, "tidak ingin mencari pengalaman kesukaan di pelajaran sekolah?"
"Olahraga panjat tebing?" Fufy tidak tau apakah ucapan yang mengarah ke jawaban tersebut salah. Tapi mata Bu Siti mendelik ke arahnya.
"A-Apakah Ibu melarang saya mengikuti perlombaan panjat tebing?" tanya Fufy kemudian.
Bu Siti tersenyum tipis, "Harapan kamu?"
Haruskah Fufy mengatakan tidak berharap banyak dengan sekolah ini? Sekolah yang hanya mementingkan nilai akademik. Sekolah yang selalu berlomba membuktikan kepada dunia, bahwa dialah yang terbaik. Sekolah dengan tingkat IQ tinggi terbanyak di Indonesia.
"Kemarin Ibu kamu datang kemari." Ucapan bu Siti sukses membuat tubuh Fufy menegang.
"Beliau mengetahuinya." Fufy menunduk, "Beliau meminta Ibu untuk mengijinkan kamu mengikuti lomba."
Sontak Fufy menatap Bu Siti bertanya. "Kalau begitu, silahkan isi formulir ini." Senyum Fufy mengembang.
"Tapi sebelum itu—" Bu Siti mengambil kertas, "Beliau meminta kamu agar dapat posisi sepuluh besar di semester berikutnya."
Tangan Fufy berhenti bergerak ketika ingin mengambil kertas formulir. Siswa—Cowok pintar tadi berdiri di sampingnya, dan memberikan sebuah kertas kepada Bu Siti.
"Baik, terima kasih, Ardi," ucap Bu Siti.
Jadi namanya Ardi. Ngomong-ngomong, dia memiliki nama yang sama dengan pacarnya yang super dingin itu. Tidak ada kabar sama sekali dalam dua Minggu ini.
"Disetujui? Tapi kalau kamu tidak sanggup, kamu mungkin wajib menyumbangkan piala kemenangan dari perlombaan itu." Bu Siti tersenyum ramah.
Sementara Ardi, cowok yang tingginya di atas hidung Fufy itu, menganggukkan kepalanya membuat Fufy menoleh kepadanya.
"Maka otomatis Ardi, sebagai siswa terpercaya dan terpintar di sekolah ini akan mengajarimu. Dalam artian akan menjadi pengajar les privat kamu," jelas Bu Siti.
Fufy tidak membalas perkataan guru BK. Dengan cepat dia langsung mengisi formulir perijinan. Fufy kebingungan. Sejenak, dia kehilangan jiwa ambis di olahraga panjat tebing. Berbagai macam pertanyaan memenuhi pikirannya.
__ADS_1
Bahkan Ardi sendiri Fufy menghiraukannya. Nilai akademik atau non akademik menghantui pikirannya.
...---...
Suasana hati Fufy hari ini terdeteksi sedang buruk. Terpantau ketika para atlet senior aktif menyapanya, Fufy hanya melambaikan tangan sebagai balasan. Dia tidak tersenyum. Bahkan Penyemangatnya sendiri pun, Fufy cueki.
Ardha berteriak dari jauh, "SEMANGAT JEPIT KUPU-KUPU!"
Fufy mengaitkan tali pengaman ke quickdraw. Matanya berkilat menatap jalur top puncak. Berusaha memofuskan pikirannya, Fufy memberikan setengah senyum kepada Ardha.
Latihan ini akan menjadi penilaian guru sepantas apa dirinya nanti ketika mengikuti lomba. Jenis yang diambil oleh Fufy kali ini yaitu lead climbing. Atau disebut runner to runner.
Waktu yang diambil dalam jenis panjat ini terbilang singkat. Siapa saja yang berhasil mengaitkan tali ke top puncak, maka dialah yang diakui sebagai pemenangnya.
Dalam hal ini, dibutuhkan kecerdasan dari pemikiran panjang untuk menggapai top puncak dengan jalur cepat. Fufy sendiri tengah mengamati jalur-jalur di papan dengan serius.
Lawannya kali ini adalah Ali. Senior yang sebetulnya seumaran dengannya. Hanya selisih setahun lebih tua dari Fufy. Namun, itu tidak membuat kastanya sama dengan Fufy disini.
"Kesempatan besar bagimu." Tersampaikan oleh Fufy, seperti Ali menantangnya.
"Semangat," tambah Ali dengan seulas senyum.
Fufy tersenyum membalas, "Semangat juga."
"Siap, mulai!" teriak pak Indra antusias.
Fufy mulai memanjat, kemudian mengaitkan kembali tali ke runner yang telah dipasang ke hanger. Ada dua macam dalam lead climbing. Yaitu sport climbing dan trad climbing. Fufy mengambil sport climbing dalam lomba, karena trad climbing dilakukan di tebing langsung.
Fufy melirik Ali yang melewatinya. Fufy terpukau. Logika yang diambil Ali sangat jauh dengan Fufy. Tetapi dengan sabar Fufy terus naik hingga ke puncak top.
"Ali! The best!" teriakan dari atlet lainnya membuat senyuman bangga tercetak di bibir Ali.
Fufy menatap ke bawah, memberi tahu Ardha lewat mata. Bohong jika Fufy kecewa dengan dirinya sendiri. Namun, di waktu seperti ini, lebih baik jika dirinya berpikir bahwa senior tetaplah senior.
"Kalimat keramat itu terucap kembali rupanya," lontar Ardha membuat Fufy terkekeh pelan.
"Maksudnya lead climbing memang bukan keahlianku." Fufy mencoba membenarkan perkataannya. Namun, tampaknya Ardha tidak percaya dengan kalimat baru itu.
"Baiklah jika begitu." Ardha mensejajarkan kakinya dengan Fufy.
"Kalem banget om," celetuk Mada tiba-tiba berdiri di sebelah Ardha.
Ardha menatap temannya dengan wajah datar. "Aku kumpul duluan, ya," pamit Fufy kemudian.
Fufy berjalan ke tempat berkumpulnya para atlet beristirahat. Ardha menatap kepergian Fufy dengan wajah sedih. Lalu wajah Ardha berubah marah, ketika pundaknya dipukul oleh Mada.
"Apa?!" tanya Ardha dengan nada tinggi.
Mada menyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi bawahnya. "Jangan marah-marah gitu, Om. Nanti the girl takut," ujar Mada.
"Banyak bicara." Mada melototkan mata protes.
Suara pukulan kembali terdengar, "Om. Baru aja kita main obrolan. Kok gitu, Om? Siapa yang ngajarin kutub begini, sih?!"
Wajah Ardha sudah menjelaskan betapa malasnya dia berbicara dengan Mada. Karena Mada banyak bicara, membuatnya muak.
"Diem." Wajah Mada berubah kecewa. Dia menatap Ardha dengan tatapan sulit diartikan.
Ardha menatap kesal, "Najis!"
"Kapan konfesnya?" Mata Ardha melirik Fufy, "kapan-kapan."
__ADS_1
"Kekuatan kalian kelihatannya sangat besar. Jiwa ambisius kalian ini seperti meledak-ledak," ucap pak Indra.
"Jiwa anak Aquarius jangan diragukan, pak!" ujar Saraswati membuat semua menyorakinya.
Pak Indra membalas ucapan Saraswati, "Bulan ini Aquarius full bertepuk sebelah tangan, ya?"
Spontan Saraswati memeluk Fufy, menyalurkan kesedihannya. "Huhu.., iya Pak. Full kecewa," katanya pura-pura menangis.
"Kasihan, oh kasihan." Levi menggeleng-gelengkan kepalanya meledek Saraswati.
"Apa?!" sungut Saraswati, "gapapa," cicit Levi membalas berpura-pura ketakutan.
"Kasian nt." Otot rahang Saraswati bergerak-gerak ketika Mada ikut mengejeknya.
"Diem, bodoh!" geram Saraswati.
Sontak Mada bersembunyi di punggung Ardha. "Atut, aku atut. Ada kakak si Paling jago," ucap Mada yang didengar jelas oleh Saraswati.
Saraswati yang awalnya hanya bercanda, berhasil tersulut emosi. Dia menghampiri Mada dengan wajah garang. Matanya mendelik seolah ingin membunuh Mada sekarang juga. Selanjutnya, Mada langsung berlari mencari perlindungan dengan pak Indra.
"Sini lo! Kalahin gue di speed baru bisa ngejek sepuasnya!" Saraswati menantang Mada.
Pak Indra menepuk dahi, "Ampun, kak."
"Si Paling, si Paling, mata lo gue gorok!" Mada menelan ludah susah payah.
Kemudian pak Indra mengangkat tangan sebagai peringatan. "Sudah, sudah. Jangan dilanjutkan lagi. Ayo saling meminta maaf," suruhnya.
Saraswati menyilangkan kedua tangannya, kesal. Sementara Mada cengar-cengir di belakang Saraswati. Hal itu sontak membuat semuanya tertawa.
Sebelumnya, Saraswati dan Mada bertanding di jalur speed climbing. Sesi mereka berhasil membuat semua penonton tegang, tidak bisa berkutik selama berlangsung. Walau begitu menegangkan, karena sesama atlet senior, Saraswati berhasil mengalahkan Mada dengan selisih satu detik.
"Gak mau!" Mada mengulurkan tangannya, "maaf cayang."
"Jijik!" Walau berkata demikian, Saraswati tetap menerima uluran Mada dan melakukan hal yang sama.
Kini suasana kembali serius. Pak Indra menghampiri seseorang di lapangan. Dia memberitahu jika tidak boleh ada yang bubar sebelum ada perintah.
Fufy mengecek ponselnya sebentar, lalu meneguk air minumnya hingga habis. Pundaknya ditepuk, membuat Fufy harus menoleh sambil meminum air. Ardha memanggilnya.
"Sudah bayar biaya?" Ardha bertanya berbisik.
Fufy mengangguk, "Sudah. Kamu sendiri?"
Ardha menggeleng pelan sebagai jawaban. "Masih menunggu konfirmasi ijin dari orang tua," jawabnya.
Fufy mengangkat jempol. "Kalau diijinin, aku beliin salad buah biar tambah sehat," kata Fufy membuat Ardha menatapnya dalam.
"Serius?" Fufy mengangguk mantap.
"Kalau begitu aku akan mengajari membuat salad jika kamu menang," balas Ardha.
Mereka bertatapan sejenak dengan pikiran masing-masing. Seolah ada magnet yang menyeret mereka untuk mengeluarkan jiwa ambis. Fufy dan Ardha secara bersama mengangguk sambil tersenyum.
"Hallo, semua. Tolong perhatiannya sebentar," ujar pak Indra membuat suasana menjadi hening.
Pak Indra mempersilahkan seseorang di sebelahnya untuk ikut duduk bersama para atlet. "Perkenalkan, ini Mantra yang akan ikut bersama kalian di perlombaan tingkat provinsi Minggu depan," jelas pak Indra.
Fufy melebarkan mata, "Mantra?"
Gadis yang bernama Mantra itu tersenyum menyapa Fufy. Fufy hendak membalas senyumannya, tapi tangannya ditepuk oleh Saraswati.
__ADS_1
"Dia menyebarkan aura negatif."
...----...