![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Tiga: Jatuh Sejatuhnya
...---...
Tidak membuang waktu lama, dalam seminggu Fufy kembali dengan keseharian dirinya berlatih panjat tebing. Tidak terduga, kedatangan Fufy disambut oleh berbagai senyuman. Ada senyum menyiratkan kesedihan, rasa bersalah, bahagia, dan senang.
Semua ditunjukkan kepada Fufy. Fufy rasa tanggal lahirnya masih jauh, yaitu akan ditemui tahun depan lagi. Tapi, lihatlah semua pemberian dari para atlet untuknya. Peralatan memanjat Fufy dapatkan secata gratis.
"Selamat atas kesembuhan, Py!" Saraswati berseru memeluk Fufy.
Fufy membalas pelukan Sahabatnya, "Ramalannya keren."
Saraswati meledakkan tawanya. Fufy tidak tau alasan Saraswati tertawa karena apa, yang jelas Saraswati pasti menertawakan dirinya. Fufy bengong kebingungan.
"Kok lo gak marah sama Ranbi? Kenapa gak judesin gue? Apa gue harus ketawa dulu, supaya lo sadar siapa saja yang munafik disini?" gerutu Saraswati.
"Kenapa harus marah?" Semua sudah terlihat walau sudah memakai topeng. Tidak ada manusia yang benar-benar bisa menyembunyikan kecemburuan, dengki dan rasa iri.
Melihat raut wajahnya sebentar saja, Fufy sudah merasakan bagaimana sifatnya. Semua orang memiliki energi masing-masing. Itu akan menyebar seperti parfum, baik itu buruk ataupun wangi kebaikan.
Di sebelah sana, bisa Fufy lihat interaksi Ranbi bersama rekan atlet lainnya. Tidak seperti biasanya, Ranbi malu-malu ketika berbicara dengan orang lain. Yang dilihat Fufy kali ini, seperti Ranbi versi berbeda—Fufy tidak mengenalinya.
Selama bertahun-tahun bertemu setiap hari, berjuang bersama, belum pernah Fufy melihat Ranbi tertawa lepas bersama orang lain kecuali dengan dirinya dan Saraswati. Yang dirasakan Fufy adalah perasaan cemburu. Cemburu ketika melihat Sahabatnya berteman dengan orang lain. Apakah ini berlebihan?
Haruskah Fufy marah? Bertanya dan menuntut alasan Ranbi membencinya? Apa alasan Ranbi menyebarkan rumor seperti itu? Ah—Maksudnya fakta yang sengaja Fufy sembunyikan.
"Aih! Udah gue bilang jangan bawa hati. Mereka semua munapik semua," desis Saraswati sambil berjalan cepat.
Di hari pertama Fufy latihan kembali, Fufy dilarang untuk mengikuti pemanasan yang memberatkan. Di bagian lari, Fufy diperintahkan untuk memakai metode jalan cepat. Ringan-ringan saja.
"Kalau saya perhatikan, kamu ini jarang diperhatikan," seloroh Mada dari belakang.
Tidak mengagetkan lagi, jika sedari tadi Fufy sudah merasakan dua mahkluk yang selalu mengikutinya. Ardha dan Mada.
"Aku?" beo Fufy bertanya, "bukan. Buat Saraswati itu," ujar Mada membenahi.
Fufy menunggu Ardha berbicara dengannya. Tidak seperti biasanya. Ardha yang Fufy kenal mungkin akan menyemangati dan menemaninya. Suasana yang paling Fufy hindari.
Fufy selalu bercemin setiap waktu. Kalau selesai bertemu orang, Fufy selalu mengecek keadaan wajahnya. Perubahan pada tingkah orang-orang di sekitar Fufy sangat melesat. Ini seperti membuktikan, bahwa fisik adalah segalanya.
__ADS_1
"Apa sih, lo, ikut-ikutan." Saraswati menarik Fufy agar menjauh dari kedua lelaki itu.
Namun, rupanya Ardha dan Mada terus mengikuti mereka. Sampai akhirnya Fufy pasrah, menerima kenyataan. Kecewa, tapi disaat seperti ini, Fufy bisa melihat siapa saja orang-orang baik itu.
Semuanya bisa menjadi baik ketika di depan. "Manusia terlalu kuno berlogika. Pintar menghina, bodoh dalam berkaca," celetukan Ardha berhasil membuat Fufy menoleh ke belakang.
Ternyata Ardha sedang melihatnya. Mata mereka bertemu. Sesaat, Fufy merasa hatinya teriris ketika Ardha—Penyemangatnya mengalihkan pandangannya. Seperti enggan untuk melihat wajah Fufy.
"Aduh, nyindir siapa, bro?" Mada geleng-geleng kepala saat menyadari sasaran ucapan yang Ardha lontarkan.
Ranbi bersama Riska, Bulan dan Kalmi berlari beriringan. Termasuk Alin yang berada di belakang mereka. Semua diam, tapi bisa Fufy rasakan atmosfer mereka berbeda. Saat melewati dirinya, semuanya menggeser posisi kaki mereka menjauh dari keberadaan Fufy.
Ali memberikan sebotol air minum kepada Fufy. "Agar pikiranmu lebih jernih," ujar Ali sembari menggaruk tengkuknya.
"Terima kasih." Fufy menerima air pemberian Ali. Sial sekali hari ini dirinya terlalu gugup hingga melupakan bekal minum.
"Jangan bersedih seperti itu. Kamu masih cantik," papar Ali berusaha membuat Fufy agar tidak sedih lagi.
Fufy menunduk, tersenyum miris. Ini dejavu. Kalimat formal yang sering Fufy dapatkan dari seseorang. Namun, seseorang itu telah menjauhinya. Untuk sekedar menatap dirinya saja, sepertinya tidak.
Selama berlatih Fufy perhatian, Ardha dekat dengan Alin. Fufy tidak bisa mengungkapkan kesedihannya. Mereka sangat serasi. Ardha yang dingin sangat cocok dengan Alin yang ceria dan banyak bicara.
Bukan seperti bersama dirinya. Ardha harus mengucapkan seribu kalimat untuk menyemangati dirinya. Bahkan ditengah, saat Fufy memiliki banyak pacar.
-----
Kini giliran Fufy untuk memanjat. Menetralkan napasnya, kaki yang semula bergetar, kini sudah kembali normal. Bohong jika Fufy berkata dirinya tidak takut memanjat. Jika bisa memilih, Fufy ingin berhenti selama sebulan. Bayang-bayang ketika tubuhnya terjun dari atas sangat membekas di pikiran Fufy.
Lontaran kalimat yang sama percis membuat Fufy sesaat kehilangan konsentrasi. Luka di tangannya masih basah. Dada yang terasa terbakar ketika menaiki poin. Fufy berlatih di jalur bouldering.
Jalur yang akan ditekuninya untuk mengikuti lomba. Dalam hati Fufy berharap agar dirinya bisa naik ke puncak tanpa jatuh sedikitpun. Karena jika dia jatuh di tengah perjalanan, apalagi untuk beberapa kali, otomatis kepalanya akan terbentur. Walau memakai matras, tidak menutup kemungkinan akan menciptakan rasa sakit kembali.
"Ya, Fufy pasti bisa!" seru Saraswati menggebu.
Beruntungnya, tidak ada lagi suara hinaan orang-orang ketika Fufy memanjat. Beda cerita kalau dirinya sedang beristirahat. Karena saat ini, semua atlet berlatih secara serius dan penuh ambisi.
Jatuh satu kali, akhirnya Fufy mencapai puncak. Fufy melihat ke bawah, lalu langsung menjatuhkan diri ke atas matras. Berguling, Fufy memegang kepalanya yang terasa nyeri.
Tidak apa-apa.
__ADS_1
"Beban banget." Fufy terkejut, "sekali-kali kasih kesempatan sama junior dan senior yang belum pernah lomba ke luar negeri. Jangan egois."
Egois katanya? Fufy tertawa kering. Tapi, apakah memang benar dirinya seegois itu? Ya, Fufy memiliki rasa ambisius besar.
Fufy mendongak, melihat wajah yang berbicara itu. Dia adalah Riska.
"Lalu kenapa kalian tidak berjuang sepertiku?" balik Fufy menatap kesal.
Riska terdiam sesaat, "Fufy. Kamu bisa istirahat. Tidak usah memaksakan diri seperti itu. Kalau akhirnya mengecewakan negara bagaimana? Levi, Alin dan Mantra sudah cukup untuk menjadi atlet putri terbaik disini. Sisanya Ardha dan Ali. Hanya 5 orang, Fy. Nanti ujung-ujungnya lo nangis sendiri."
"Maka lebih baik jika aku menangis."
Apa yang mereka ketahui tentang Fufy? Fufy ingin menangis. Ketika melihat saudarinya semua menangis, hanya dirinya yang tidak bisa mengeluarkan air mata. Ketika melihat dan merasakan hinaan seperti ini, hanya hati yang Fufy rasakan sakit. Matanya seolah menunjukkan ketidakpedulian.
Riska berbalik, menjauhi Fufy dengan pandangan tidak bisa diartikan. "Manusia penuh obsesi!" Riska bergidik ngeri.
Belum sampai disana, setelah Riska pergi, munculah Mantra. Tumben sekali Mantra duduk bersamanya seperti ini. Sejenak, Fufy merasa membaik. Tapi, ternyata tidak seperti yang Fufy rasakan.
Mantra melepas sepatunya, kemudian menatap wajah Fufy sambil tertawa. Dia sampai menutup mulut karena tidak bisa mengontrol tawanya.
"Sumpah, lebih cantikan yang sekarang daripada yang dulu," kata Mantra, "lebih culun lagi. Beruntung, deh lo masih diberi kesempatan."
"Eh btw, gak ada niatan operasi plastik?" Mantra tertawa terbahak-bahak.
Sesuatu bergejolak ketika mendengar mendengar kata-kata itu. Fufy tidak percaya apa yang dikatakan Mantra.
"Apa maksudmu?" Mantra bangun, dan mengambil jaket di belakang Fufy.
Mantra pura-pura ketakutan, "Aduh, takut. Ngeri sama yang gak punya temen tapi masih belagu. Saraswati aja keliatan jijik ngeliat wajah lo."
"Isinya seperti belatung." Mantra kembali tertawa.
Fufy tidak bisa mengeluarkan suara. Tangannya mengepal. Darah mendidih di kepalanya.
"Gue pulang dulu." Mantra menjauh, kamudian menoleh kembali, "takut sama Setan," lanjutnya.
Ketika membalikkan kepala, Mantra berteriak kaget. Ternyata sudah ada Ardha berdiri di depannya. Parahnya lagi, Ardha mencondongkan kepalanya sehingga sangat dekat dengan wajah Mantra. Malam sudah tiba, itu menambah kesan horor bagi Fufy.
"Siapa Setannya?" Ardha bertanya galak.
__ADS_1
...----...
Gimana chapter ini?