![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Enam: Sepasang Jepit Kupu-Kupu
...---...
Dengan sabar Fufy menunggu Ardha mengambil motornya di parkiran. Karena Ibu—Asti mengatakan ada kesibukan mendesak, secara mendadak kemudian Ardha mengajaknya ke toko buket bunga.
Fufy merenungkan sesuatu. Perasaannya mengatakan ada yang berubah dengan tingkah Penyemangatnya. Walau sekarang dia masih kalem, tapi ada yang sedikit berbeda. Seperti akhir-akhir ini Ardha seperti sering salah mengucapkan kalimat dengannya.
Fufy berharap Ardha bisa melupakannya.
"Udah bilang belum?" tanya Ardha tiba-tiba muncul di hadapannya.
Fufy tersenyum tipis, "Hm. Tapi satu jam sesuai kalimat tadi."
Ardha mengangguk patuh membuat Fufy menatapnya lama. Ardha ini begitu lembut sebagai cowok. Bukan dirinya mengejek, tapi menurutnya Ardha ini semakin hari semakin menarik di matanya.
Tersadar, sontak Fufy menggelengkan kepala menepis pikirannya. Ia hampir ingin melakukan perbuatan dosa itu.
"Tapi bener sejam penuh sama aku, ya?" Ardha bertanya penuh harap.
"Baik, Ardha." Ardha tersenyum senang.
Sesederhana itukah?
Mereka kemudian berangkat ke toko buket bunga. Tidak lama untuk sampai, Ardha pergi meninggalkannya ke dalam toko. Sepanjang perjalanan hanya suara kendaraan yang menemaninya. Fufy memejamkan mata akibat kelelahan.
Sepuluh menit berlalu, Ardha belum juga keluar. Fufy menunggu dengan melihat toko es krim di sebelah toko. Ini perasaan Fufy atau bukan. Perasaan dimana-mana makanan manis itu selalu ada.
Fufy kembali merenung. Ini sesuatu yang sedari tadi menganggu pikirannya. Ardha membeli buket untuk siapa?
Ardha itu cowok paling kalem diantara teman cowok lainnya. Dia bukan dingin, tapi lemah lembut. Tapi bukan berarti letoy seperti banci juga. Ardha mempunyai tubuh kekar. Lengan tangannya pun sangat besar. Hingga dirinya pun heran, cowok seperti itu masa kalem banget? Bukannya biasanya bad boy gitu, ya?
Yah, ternyata dia atlet. Ardha tidak akan tau alasan dirinya pura-pura tidak peka atas perilakunya.
Fufy memandang Ardha yang keluar dari toko dengan lekat. Cara berjalannya sangat berwibawa. Dia membawa sebuah buket yang berukuran besar. Tapi itu bukan buket bunga.
Itu buket... jepit rambut motif kupu-kupu?
"Pura-pura gak liat dong," ujar Ardha seketika membuat Fufy bingung.
Fufy tercengang, "Hues, maaf telat ya."
Ardha memberikan buket tersebut kepadanya. Fufy mengedipkan matanya sadar. "Buat aku?" Fufy bertanya.
Ardha menggaruk leher, "Y—Ya."
Fufy menahan tawa. "Caranya yang bener. Cancer gak malu-malu gitu," kata Fufy.
Namun terlihat wajah Ardha semakin memerah. Ditepi jalan yang sedang ramai dilalui kendaraan, Ardha memberikan buket jepit tersebut kepada Fufy dengan cepat. Itu tidak seindah yang dibayangkan. Tampak seperti kakak adik yang ingin pulang setelah membeli hadiah.
Ardha menatap ke arah lain. "Lalu cara bagaimana?" tanyanya pelan.
Fufy mengerucutkan bibir sedih, "Iya, makasih."
Namun justru tidak membuat Ardha tenang. Ardha merasa Fufy sedih mendapat hadiah darinya.
"Bagus tidak?" tanya Ardha kembali.
"Iya, bagus. Aku kira buket bunga, ternyata buket jepit rambut." Pupil Ardha membesar, "kamu yang request sendiri, ya?"
Ardha tertawa pelan, "Seneng?"
Fufy mengangguk pelan. "Gimana coba cara bilangnya?" tanyanya kemudian.
"Gimana?"
__ADS_1
"Kamu bilang request ke penjualnya gimana?" Fufy memperjelas pertanyaannya.
Ardha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku pakai sistem online," sahutnya menjawab.
Sambil menjawab, tangan Ardha kemudian mengambil satu jepit dari buket, membuang bungkus jepit sembarang, lalu terulur untuk memakaikan jepit tersebut ke kepala Fufy.
Tubuh Fufy sontak tersentak. Matanya membulat kaget. Perlakuan Ardha berhasil membuatnya tersadar.
Ardha tersenyum penuh arti. "Ternyata hasilnya cantik," ucapnya.
Fufy mengerjapkan mata, lalu meraba rambutnya. Memperhatikan, Ardha membantu Fufy merapikan rambut.
"Eh?" Fufy berdebar, "kamu cantik."
Tin!
Suara klakson sepeda mengagetkan mereka berdua. Tampaknya kelakuan mereka menjadi tontonan orang-orang disini. Fufy menetralkan detak jantungnya, sementara Ardha hanya bisa tersenyum menahan malu.
Ardha berpikir setelah ini Fufy pasti akan menjauh darinya.
"Ki-Kita naik motor dulu," ujar Ardha mengajak.
Fufy ikut gugup, "Me-Memang ada mobil?"
"Hehe."
...---...
Tidak hujan, juga tidak terlalu panas, Fufy menikmati hukuman yang diberikan pak Indra. Lari keliling lapangan sebanyak empat kali. Ini akibat dirinya yang telat datang.
Sebenarnya lari adalah kewajiban yang dilakukan sebelum masuk ke latihan panjat. Itu termasuk dalam pemanasan ringan. Hanya saja, kali ini bertambah satu putaran. Tidak masalah sebenarnya. Namun, ketika dilakukan sendiri, rasa lelah cepat menyerang. Fufy berhenti sejenak menetralkan napasnya.
"Weh!" Ketika sedang fokus berlari, seseorang mendorong pundaknya keras, sehingga membuat Fufy hampir jatuh tersungkur.
Tapi, Ardha tidak ikut berlari. Katanya, "Tadi aku udah lari individu. Terkuras energiku nanti kalau ditambah lagi." Begitu katanya membalas protesan dari Fufy.
Lihat saja, Ardha dengan santainya mengikutinya menggunakan skuter. Itu sedikit membuat Fufy kesal. Tapi tidak apa, asalkan ada yang menemani saja, Fufy bisa memaklumi.
"Semangat, semangat!" ujar Ardha dari belakang terdengar antusias.
Fufy melirik tajam, "Tidak mempan."
Kemudian Ardha maju berdiri di samping Fufy dengan senyum meledek. "Cuma 4 kali aja tidak bisa."
Fufy menulikan pendengarannya. Semakin hari, Ardha semakin banyak ngomong, membuat Fufy tidak nyaman berada di dekatnya.
"Hehe, maap." Ardha menyengir, "jika pujian tidak mempan, maka akan aku berikan hujatan agar mempan."
Selesai menyelesaikan hukuman, Ardha memberikan skuter miliknya kepada Fufy. Dia pergi ke kantin, sementara Fufy bermain skuter sambil melihat anak-anak futsal bermain di lapangan sebelah.
Sepertinya itu terlihat seru. Terlihat ketika menendang bola, seluruh kekuatan terpendam dikeluarkan. Fufy melihatnya saja sudah lega. Seperti tumpukan masalah yang dikeluarkan dengan menendang bola.
"Cobain, dong. Mau coba, aku mau coba!" ujar Ranbi semangat menunggu giliran untuk mencoba skuter milik Ardha.
Pasti begini. Ketika melihat sesuatu hal yang baru dan menarik, semua perhatian tertuju. Bukan Ranbi saja, tapi begitu juga dengan teman atlet lainnya. Tidak lupa dengan sorot mata kakak senior yang sedari tadi bertanya dimanakah Ardha membeli mainan unik itu.
Hari ini Saraswati tidak latihan. Katanya dia ada jadwal kerja kelompok tugas sekolah. Mereka bertiga sebenarnya tidak satu sekolah. Fufy akrab dengan Ranbi dan Saraswati karena latihan disini.
Ali menghampiri mereka dan bertanya, "Berapa satu ini belinya?"
Lagi dan lagi Fufy menjawab, "Ini milik Ardha, kak. Bukan milik saya."
Ini Ardha kemana. Sudah sepuluh menit masuk kantin, tapi belum keluar juga. "Makan nasi mungkin, ya?" batin Fufy berucap.
Latihan sudah akan dimulai. Terlihat dari sini, area panjat sudah ramai dan ribut. Fufy ingin mengetahui apa yang tengah terjadi, tapi ia harus menunggu Penyemangatnya.
__ADS_1
"Kamu duluan saja," kata Fufy menyuruh Ranbi agar latihan terlebih dahulu.
Ranbi ini tipe orang ambisius. Dia tidak gila kedudukan juara, tapi dia tipe orang yang menekuni suatu bidang, walau kadang realita tidak sesuai ekspektasi. Kemudian Ranbi meninggalkannya pergi ke lapangan panjat.
Lama-lama Fufy sebal juga menunggu. Fufy memilih untuk menghampiri Ardha. Tetapi, skuter harus ia berhentikan ketika Ali—atlet senior memanggilnya.
"Fufy!" Fufy berbalik, "kamu sudah bayar biaya lomba?"
Fufy berpikir sebentar. Rasanya Asti sudah memberitahu akan pembayaran lomba panjat yang diselenggarakan seminggu lagi.
"Sudah, kak," jawab Fufy.
Ali mengulurkan tangannya, "Bawa buktinya?"
Alis Fufy berkerut kebingungan. "Buat apa, kak?" tanyanya.
"Ada kesalahan teknis si Bendahara saat mengumpulkan uangnya. Dia menyuruh semua peserta agar memberikan bukti notanya," kata Ali menjelaskan.
Gawat, Fufy lupa membawa. Juga sebenarnya Fufy tidak tau letak dimana notanya berada. Mungkin pesan itu disampaikan melalui pesan online. Tapi masalahnya Fufy tidak ada memeriksa handphonenya dari kemarin.
"Kalau boleh tau, berapa besar nominalnya, kak?" Bola mata Fufy membesar, "2 juta 7 ratus ribu."
Tentu Fufy kaget mendengarnya. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah sampai semahal ini biayanya. "Mahal, ya, kak?" Fufy mencoba mencari alasannya.
Ali terkekeh mendengarnya, "Ya, pasti itu. Rencananya pak Hakim akan memberi penginapan mewah selama 2 malam. Belum juga masalah keamanan, alat, makan, dan biaya transportasi. Affordable, bukan?"
"Tempatnya di kota?" tanya Fufy, "entahlah. Kita cari pengalaman saja."
Tapi itu tidak membuat Fufy percaya. Entah kenapa firasatnya berkata lain. Jika ada Saraswati disini, dia pasti tau apa yang akan terjadi. Tidak ingin memperburuk suasana hati dengan mempercayai firasat, Fufy memilih untuk mencari Ardha.
"Selalu positif, Sagitarius. Jangan terbawa arus pikiran buruk. Itu akan mempengaruhi kejadian yang tidak seharusnya terjadi." Fufy menyadarkan dirinya sendiri.
"Iya, wajib itu." Tangan Fufy mengepal sejenak. Terasa seperti tanduk keluar dari kepalanya. Rupanya Ardha sedang asik makan di belakang kantin sambil melihat pertandingan futsal.
"BEBEK!" Dengan cepat Ardha mencegat Fufy. Ardha mengangkat dua jarinya seraya tersenyum lebar.
"Cepuin ke Ardi!" Ardha misuh-misuh, "udah ditungguin dari tadi. Bilangnya ke kantin sebentar, tapi sebentarnya lima belas menit? Temen-temen udah pada latihan, sedangkan kamu disini? Ikut sana main futsal."
Fufy kalau sudah protes, tidak tanggung-tanggung. Ardha sendiri bingung membuat Fufy agar mau memaafkannya. Ini memang murni kesalahannya. Ardha mengakui itu. Tapi kalau sudah begini masalahnya, Ardha kebingungan terlihat tidak nyambung diajak bicara.
"Aku juga ikut," lanjut Fufy berucap di akhir ucapannya tadi.
Ardha lambat mencerna keadaan. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum lega. "Kamu tidak marah 'kan? Sagitarius dengan lambang pemanah dan berelemen api sangat
hangat, membuat orang lain nyaman berada didekatnya."
Fufy memicingkan mata mendengarnya, "Percaya saja dengan ramalan zodiak."
"Siapa coba yang mengajar? Sagitarius juga produktif dan tidak menghabiskan energinya karena berurusan dengan orang lain," lanjut Ardha memberitahu.
Fufy geleng-geleng kepala mendengarnya. Tidak terhitung seberapa banyak Ardha menyanjungnya, hal itu selalu berhasil membuat getaran detak jantung Fufy bergerak lebih cepat.
"Oh, iya?" Ardha mengangguk, "paham banget sepertinya. Kalau begitu, bagaimana tentang masalah percintaannya?"
"Dia merasa sendiri dan kesepian di masa lajangnya. Diberitahukan untuk mencoba menghubungi orang-orang terdekat agar perasaannya menjadi lebih baik," ucap Ardha membuat Fufy terkesima.
"Contohnya kamu?" Fufy langsung peka. Tanpa diduga, Ardha langsung menganggukkan kepalanya menjawab dengan yakin.
"Ya ampun, iya, deh. Pede." Fufy langsung berlari meninggalkan Ardha bersama skuternya.
Sementara Ardha dari belakang mengikutinya dengan seulas senyuman yang tidak dapat diartikan. Ardha menggaruk tengkuknya, lalu tertawa kecil.
Lain dengan Fufy yang berusaha menyangkal apa yang baru saja dikatakan oleh Ardha. Namun, apa daya hatinya lemah. Semburat merah ada di pipinya. Fufy merasa panas dingin. Entah kenapa dia lebih gugup berada di samping Ardha.
...---...
__ADS_1