![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Sembilan: Kekalahan Sebagai Pelajaran
...---...
Fufy bertanding dengan Mantra di jalur speed. Fufy memiliki kepercayaan diri rendah ketika mengetahui partnernya. Setelah mendengar ucapan pak Hakim, Fufy semakin ingin membuktikannya. Butuh banyak persiapan agar dirinya bisa percaya diri.
"Nama kamu akan dicoret jika tidak berhasil mengharumkan provinsi daerah kita," kata pak Hakim.
Kepala Fufy tertunduk, kemudian mengucap kalimat-kalimat harapan yang dia mohonkan kepada sang Pencipta. Tidak banyak doa yang Fufy ucapkan, namun, semua artian itu bermakna sama. Menjadi juara pertama.
"Berdoa selesai." Selanjutnya Fufy segera memasang sepatu khusus panjat tebing.
Pak Indra menghampiri Fufy dan memberikan baju FPTI. Gejolak semangat dalam diri Fufy seketika membara. Hanya dengan memakai baju khusus ini, Fufy merasakan ambisius besar.
Sama seperti Porjar empat tahun lalu yang diselenggarakan di tingkat kabupaten, Fufy ingat sekali bagaimana dirinya tidak melepas baju FPTI pertama yang dia dapatkan selama dua hari. Melekat ditubuhnya, tidak membuat baju itu asam atau memicu bau kurang baik. Tapi, malah semakin harum dan wangi. Ini karena Fufy tentu saja menuangkan pengharum setengah botol ke bajunya tersebut.
Hal kecil yang Fufy ingat, ketika masuk ke sekolah dengan jalur non akademik. Bukan sombong, tapi suatu kebanggaan bagi Fufy karena berhasil masuk di sekolah elit dengan menjadi satu-satunya siswa yang masuk melalui jalur non akademik.
Fufy mengecek kembali chalg bag, lebih tepatnya cadangan magnesium. Lomba sudah dimulai, tapi entah kenapa baik Fufy atau Mantra sama sekali tidak berani berbicara. Sejujurnya Fufy ingin mengajak Mantra berbicara, setidaknya untuk berdiskusi. Namun, tampaknya Mantra sengaja menjauhinya. Mungkin karena penyebabnya apa, Fufy juga kurang tau. Mereka tidak ada berinteraksi kecuali ketika dimulainya latihan.
Fufy melirik Mantra yang sedang sibuk bermain ponsel. Fufy ingin menegurnya, tapi ia urungkan. Malas juga sebenarnya. Tidak ingin ikut campur.
"Kamu harus rekam adegan waktu aku lomba," ucap Ardha.
Fufy menatap kameranya, "Memori aku habis, hehe."
"Aku bawa ponsel." Pupil Fufy membesar, "kamu rekam, ya."
Mau tidak mau harus rekam. Fufy juga tidak berniat untuk menolak. Jadi seharian ini Fufy mengikuti langkah Ardha kemanapun dia berjalan.
Semua peserta berbaris mengikuti arahan dari Juri. Fufy menyimak dengan serius bagaimana peraturan lomba ini dilaksanakan. Sama seperti lomba pada umumnya, lomba kali ini memilih umur sebagai acuan. Jadi, peserta akan berlawan dengan orang yang seumuran dengannya.
Mada memanggil Fufy. "Woi, foto yuk," ajaknya.
Fufy menatap bingung, "Ponsel kamu mau disita?"
"Eitt.., ini hp pak Indra just info. Dokumentasi buat manasin," kata Mada memberitahu.
Dahi Fufy berkerut, "Manasin?"
Mada melirik seseorang ditengah kerumunan. Siapa lagi kalau bukan Ardha. Fufy mengerti. Tapi, kenapa tiba-tiba? Itu tidak baik, bukan? Tapi Fufy langsung menyetujuinya.
Cekrek
Bunyi rana terdengar cukup keras hingga para atlet meliriknya tajam. Sudut bibir Mada melengkung membentuk senyuman aneh.
Fufy menyadari itu. Dia geleng-geleng kepala atas perilaku Mada barusan. Lantas, lomba dimulai. Ardha terlihat sangat berenergi saat menaiki poin panjat. Fufy yang melihatnya spontan berteriak.
"Ayo! Penyemangat, ayo! Semangat!" Fufy loncat-loncat penuh antusias.
Dengan mudahnya Ardha menduduki peringkat pertama. Seperti kelihatannya, Ardha terlihat biasa saja. Seolah kemenangan itu memang miliknya.
"Yey! Bagus, peringkat pertama!" Fufy menghampiri Ardha.
__ADS_1
Dari dekat, Ardha tampak berantakan. Fufy menatap seksama, lalu tersenyum bangga.
Ardha membalas senyuman Fufy sambil mengacak-acak rambut Fufy. "Kamu harus menyamaiku." Jantung Fufy berdetak cepat untuk itu.
"Iya, kamu pastiin." Sontak Fufy melotot, "Ardha?!"
Ardha bersandar di pundaknya. Tiba-tiba?! Sontak Fufy melihat sekeliling.
"Ardha aku belum lomba!" tekan Fufy pelan.
Ardha berdehem, "Aku tau."
Fufy menepuk jidat. Selain karena jantungnya berdetak gila di dalam sana, ada alasan lain juga. Jantungnya bisa berdetak karena berfirasat bahwa sebentar lagi dirinya akan dikualifikasi.
"Nah itu, Ardha. Makanya, ayo bangun. Aku pijitin," ujar Fufy berusaha mengalihkan.
Namun tampaknya Ardha menolak. "Hm...," Balasan Ardha singkat.
Fufy mendorong pelan kepala Ardha. Ardha tersentak, kemudian bergumam. "Aku sedang cemburu. Mengerti sebentar," katanya.
Samar-samar Fufy mendengar kata cemburu. Tapi tidak jelas kebenarannya. Fufy memicingkan mata. Ia bertanya melalui mata.
"Apa?" Ardha mengalihkan pandangan, "gak," sergahnya.
"Hah?" Fufy semakin ingin tau.
"Giliran kamu lomba," ucap Ardha, "hah?"
Ardha diam ditempat. Dia terkekeh kecil, kemudian menyusul Fufy dengan senyum melekat di bibirnya.
"Ayo sayang!" gumamnya.
...----...
Fufy berjabat tangan dengan lawannya. Namanya Juli, dari Kalimantan. Sejenak, Fufy terpukau. Orang-orang Kalimantan itu tenaganya kuat. Apalagi ketika Fufy menyadari bahwa lawannya ini adalah zodiak Cancer.
Fufy meraba-raba hardness, memeriksa dengan pasti, apakah talinya terikat dengan kuat atau kurang. Seperti yang diketahui, speed climbing ini membutuhkan kecepatan sebagai kelebihan. Tentu, itu berpengaruh terhadap waktu.
Fufy sudah mendambakan piala di meja di sebelah papan panjat, karena dengan itulah sang Ayah akan kembali ke rumahnya. Selain itu, Fufy juga tidak ingin mengecewakan teman-temannya, terutama Ardha. Demi salad katanya.
Ini adalah olahraga kesukaan kak Astina. Tentu, sebuah tantangan tersendiri bagi Fufy, walau nantinya Astina tetap menatapnya datar tanpa berbicara sepatah katapun.
"Siap? Mulai!"
Fufy naik papan fokus kepada poin puncak. Harapannya bisa naik selama sepuluh detik. Urat-urat syaraf tangannya terlihat jelas akibat tegang. Juga keringat bercucuran di wajahnya. Fufy berteriak histeris ketika memencet tombol puncak poin.
"YAA!" teriaknya, lalu segera terun ke bawah.
"Berhasil!" pekik Fufy bersama Ranbi dan Saraswati.
Di leher mereka, bergantung sebuah medali angka harapan satu dan dua. Saraswati mendapat angka dua, akibat panik saat lomba berlangsung. Dia kehilangan uang cukup banyak.
"Kita wajib merayakannya!" Ranbi berseru senang.
__ADS_1
Fufy memeluk Saraswati, diikuti oleh Ranbi. "Kamu senior yang baik memberikan lowongan," kata Ranbi membuat Saraswati tertawa.
"Gue emang baik," akunya.
Fufy melihat temannya yang sedang bertukar medali. Tangannya meraba sebuah medali yang bergantung dilehernya. Disana tertulis angka satu. Fufy menggemgam erat, lantas tertawa haru.
Ranbi memakai medali milik Fufy ke lehernya. "Lucu banget. Kalau aku pakai pasti Mama kasih aku pakaian Dior." Fufy mendengarnya jadi tidak enak.
"Aku bukannya bermaksud bagaimana, tapi kamu harus tetap semangat, ya." Ranbi tertawa kecil.
"Justru aku yang berkata seperti itu. Jujur aku iri dan tidak puas dengan hasil ini. Tapi apa buat? Kalau aku menang, tapi kamu yang punya bukti kuat. Meraih dengan waktu kurang dari 7 detik. Santai saja," jelas Ranbi.
Namun, Fufy merasa tersirat ada hal lain yang tidak Ranbi ucapkan. "Terima kasih. Maaf ya," ungkap Fufy.
Ranbi tersenyum tipis, "Nyadar, ya? Kamu juga nyadar, Saras?"
Saraswati mengangkat jempol sebagai jawaban. Lalu Ranbi tertawa lagi. "Iya aku lagi sedih, jangan gitu. Aku ingat kata mama, kalau harus ada yang mengalah. Tidak semua harus juara satu. Jangan sedih gitu, Fy." Ranbi memainkan pipi Fufy.
"Py." Saraswati memanggilnya, "Ayah lo..,"
Fufy mengangguk, "Semoga Ayah bangga."
"Bukan." Tubuh Fufy tersetrum. Sesuatu telah mengagetkannya.
Di belakangnya sudah berdiri sang Ayah dengan senyuman lebar terpampang di wajahnya. Rasanya sulit untuk percaya. Untuk berdiri saja, Fufy kesusahan.
"A-Ayah?" beo Fufy dengan wajah terkejut.
"Selamat siang Pak Camara," ucap Ranbi dan Saraswati bersamaan.
Camara—Ayah Fufy dengan setelan jas di tubuhnya, tersenyum membalas sapaan teman Fufy. Camara terlihat sangat sehat, juga semakin kekar. Bukan seperti bapak-bapak pada umumnya, yang memiliki perut buncit. Camara berbeda dari yang lain.
"Kami beli air minum dulu, Pak," pamit mereka kemudian.
Pak Camara mengangguk, "Baiklah."
Perlahan, Fufy menatap wajah sang Ayah. Sudah lama sekali dia tidak melihat wajah tampan ini. Wajah yang selalu memberinya uang, kepercayaan di sosial, juga kehidupan disini. Akhirnya Camara datang tanpa diminta.
"Selamat atas kemenanganmu." Sebisa mungkin Fufy menahan air matanya agar tidak jatuh.
Fufy tidak bisa berpikir jernih. Dia hanya ingin berpelukan dengan sang Ayah. Memintanya untuk segera pulang ke rumah. Memintanya untuk membangun kembali keluarga cemara. Apa itu kebahagiaan keluarga sesungguhnya.
"Peluk saja," ujar Camara membuat Fufy tanpa membalas, langsung menerjang tubuh Ayahnya.
"Ayo kembali, Ayah," pinta Fufy bergetar.
Dengan tangan mengepal, Camara tersenyum. "Baik, jangan menangis. Sebyumlah di hadapan kamera," balasnya menjawab.
Dan tanpa Fufy sadari, sejak tadi sudah ada fotografer yang diam-diam mengambil gambar dirinya dengan sang Ayah. Ketika Fufy sadar, dia menipiskan bibirnya.
Tidak masalah walau mungkin ini kebahagiaan palsu. Asalkan setelah ini Ayahnya bisa kembali.
...-----...
__ADS_1