![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
...Bagian Tujuh Belas: Rasa Bersalah dan Maaf...
Mengejar waktu😠Semoga sampai selesai, harus!🤩
...---...
Fufy tidak mempercayai penglihatannya. Hanya dengan melihat wajah Ardha saja, rasa rindu tersalurkan. Namun, apa yang dilihatnya kini justru bukan Ardha. Tapi pemandangan bagaimana orang lain menatap ke arahnya.
Fufy mempercepat langkahnya merasa suasana mengancamnya. "Semangat Mantra! Piala manggil, tuh!" teriak Bulan.Â
Fufy melihat sekeliling. Tidak biasanya hawa membuatnya risih seperti ini. Meski di keadaan sedih pun, ada kedua sahabatnya yang mengajaknya bermain. Hari ini berbeda. Bahkan Saraswati dan Ranbi tidak saling menyapa, membuat Fufy kebingungan.
Begitu juga Ardha. Auranya sangat berbeda. Beberapa kali Fufy mencoba menyapa Ardha, tapi yang didapat oleh Fufy adalah kilatan mata yang Ardha berikan.
"Ardha, kok Minggu ini absen terus?" tanya Fufy menguntit Ardha dari belakang.
"Sibuk," singkat Ardha menjawab tanpa menoleh.
Merasa sesuatu yang aneh, Fufy menurunkan tangannya. Mungkin saja Ardha memang sibuk. Tapi—Entahlah, Fufy hanya merasa kesal dicueki begini oleh Ardha. Rasanya tali diantara pertemanan mereka merenggang.
"Saya rasa kamu dikalahkan oleh Mantra. Kamu lihat caranya naiknya tadi? Alin juga begitu. Kekuatan fisiknya jauh darimu. Tidak ada semangat? Lalu, untuk apa memasang wajah lesu di depan saya?" Pak Bima melontarkan pernyataan terhadap Fufy.
Fufy menunduk, "Maaf, Pak. Selanjutnya saya berubah."
Pak Bima melempar kantong magnesium ke Fufy. Hari ini Fufy kehilangan fokus. Dia bahkan lupa membawa kantong magnesium. Untuk sekedar meluangkan waktu makan saja, Fufy tidak bisa. Belum lagi tugas membuat makalah yang akan dikumpulkan besok. Fufy membasahi wajahnya agar lebih tenang.
"Mantra, semangat! Lomba ke provinsi otw di depan mata buat lo!" cakap Mada menyemangati Mantra.
"Sekarang yang dulunya paling dipuja, dijauhi. Kenapa, ya, kira-kira?' gumam Santi sedikit keras.
Sastra memasangkan tali pengaman untuk Fufy. "Biarin aja," ucapnya.
Fufy yang sedari tadi bengong, menipiskan bibirnya. "Iya, kak." Fufy menarik napas panjang, sebelum naik.
Dengan hati-hati dirinya naik ke papan bouldering. Ini tidak seperti biasanya. Karena mendengar semburan dari teman-temannya, Fufy menjadi gugup. Dan di tengah perjalanan, dia terjatuh. Fufy berguling, sebelum melumuri tangannya kembali dengan kapur.
"Gitu aja gak bisa," lontar Istri melipat tangannya di dada.
Ardha yang sedari tadi di sebelahnya tidak mengucapkan sepatah kata. Dia lebih serius mengamati kegiatan Fufy, daripada mendengar celotehan orang lain. Tetapi, tidak ada yang bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Ardha termasuk Fufy sekalipun.
Mencoba kesempatan keempat kalinya yang diberikan, akhirnya Fufy mencapai poin puncak. Fufy tersenyum kecil merasa lega.
"Ya, bagus. Tapi kurang untuk 4 kali kesempatan," komentar pak Indra, "selanjutnya, Mantra."
Semua bertepuk tangan. Fufy juga ikut menyemangati Mantra. Untuk hal ini, Fufy merasa sedikit sedih. Mungkin ini karena dirinya yang selalu dipuji oleh orang sekitar. Jadi ketika semuanya berubah, Fufy merasa kecewa.
Bagi Ardha yang Fufy anggap sebagai Penyemangatnya juga, menghiraukannya. Tidak berbeda dengan Ranbi dan Saraswati. Fufy merasa mereka berdua sedang marahan, akibatnya mereka menjauhi dirinya juga. Sesuatu yang tidak mudah dipahami itu, berhasil menyita waktu Fufy.
Fufy menyelonjorkan kakinya. Telinganya tidak sengaja menangkap pernyataan sindiran yang membuatnya tertohok.
"Kak Ardha kelihatan lebih ganteng. Aura dinginnya keluar," kata Bulan menceritakan secara antusias.
Santi menyetujuinya, "Bener banget! Bikin klepek-klepek, astaga, kak Dapan!"
__ADS_1
Mereka adalah sekumpulan atlet junior yang menduduki bangku SMP. Walau terlihat masih kecil, kekuatan dari otot mereka tidak perlu diragukan lagi. Santi yang terkenal di sekolahnya, sering mendapat apresiasi dari sekolahnya, hingga gurunya datang ke kegiatan perlombaan berlangsung.
"Kak Ardha suka sama seseorang sepertinya." Riska berkata, "ya, tapi cewek yang disukainya punya banyak cowok," balas Bulan.
"Gimana gak di cap ratu playgirl, kalau pacar kak Levi aja diembat." Setelah mengatakan itu, mereka bertiga menutup mulutnya sendiri, seolah itu memang ditunjukkan kepada Fufy.
Mata Fufy melihat Ardha. Penyemangatnya yang ganjil benar bersosialisasi bersama Levi dan Sastra. Cowok itu biasanya sengaja menjauhi teman seperjuangannya. Tapi, hari ini berbeda. Fufy melihat sosok Penyemangat yang berbeda.
Bukan mengelak. Tapi, apakah benar, Ardha memang menyukainya? Atau itu hanya sekedar pandangan orang terhadap hubungan mereka?
Jika iya, akan lebih bagus jika Fufy meluruskannya. Ardha merupakan cowok baik.
...---...
Saat latihan telah usai, mata Fufy mengekori langkah Ardha kemanapun dia pergi. Seolah dunia meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di dalam hatinya.
Eh? Fufy menyadarkan dirinya sendiri. Di malam ini, alam menghadirkan pemandangan menyejukkan mata. Lugu sekali melihat wajah Ardha yang tampak polos itu.
Menunggu jemputan, Fufy menghampiri Ardha yang tengah duduk di bawah sinar bulan. "Tumben tidak bawa motor," celetuk Fufy.
Ardha menanggapi dengan deheman. "Kamu sakit? Cancer sedang tidak enak badan? Atau suasana hatinya sedang buruk? Kenapa diantara dua-duanya?" papar Fufy mencoba menebak.
Tanpa diduga, Ardha malah mendekatkan dirinya. Matanya terlihat sayu, membuat Fufy kuatir. Sesuatu telah mendobrak masuk ke dalamnya.
Ardha berkata, "Boleh tidak pinjam pundakmu sebentar?"
Suara berat terdengar serak seperti ada terselip kerapuhan disana. Tanpa menolak, Fufy menganggukkan kepalanya. Ardha bergerak lebih dekat duduk di sebelah Fufy, lalu kemudian menjatuhkan kepalanya di atas pundak Fufy.
Selama latihan berlangsung, tidak ada sifat Ardha seperti ini. Bahkan untuk mendengarkan suara yang ia rindukan ini, tidak ada. Kepala Fufy bising meributkan hal ini.
Kemudian, tidak sengaja mata Fufy menangkap pergelangan tangan Ardha. Mata Fufy sontak membulat. "Ardha? Ardha, tangan kamu terkena apa?" sosor Fufy bertanya dengan kuatir.
Namun Ardha hanya diam, kembali menegakkan tubuh Fufy, lantas menyenderkan kepalanya kembali. "Apa ini alasan kamu absen terus? Udah diobatin belum? Mau ke Rumah Sakit?" Ardha terkekeh mendengarnya.
"Jangan berlebihan," cetus Ardha, "ini hukuman atas kesalahanku."
Fufy mencerna kalimat Ardha. "Memangnya kamu punya masalah dengan siapa? Apa kamu sudah mengecewakan orang lain?" tanya Fufy yang dibalas anggukan kecil oleh Ardha.
Fufy terdiam. Tidak ingin mencari informasi lebih lanjut. Yang dilakukannya kini mengusap-usap pergelangan tangan Ardha yang berwarna keunguan.
"Aku gagal menjadi MC di acara kantor Papa. Kesempatan publik speaking itu seharusnya menjadi bukti bahwa aku pintar berbicara. Tetapi, nyatanya aku memang tidak pandai bicara. Aku gagal," bener Ardha bercerita dengan suara rendah. Â
Fufy menyimak akan penjelasannya yang diceritakan Ardha. "Lalu, tanganmu menjadi sasaran hukuman?" tebak Fufy hati-hati.
"Iya." Hati Fufy mencelos mendengarnya, "tanganku dijepit selama lima menit. Sakit sekali rasanya. Terima kasih," ungkap Ardha membuat Fufy tercengang.
Fufy menghentikan pergerakannya mengusap luka tangan Ardha. Meski Fufy selalu mengecewakan sang Ayah, tidak pernah Camara sekalipun menghukum fisiknya. Mungkin dia hanya menjauhi keluarganya. Namun, ketika mendengar cerita dari Ardha. Pandangan Fufy berubah.
"Tidak, Ardha. Ekspetasi orang tua begitu besar, artinya Papa kamu bangga, sehingga ingin memperlihatkan kamu kepada dunia," kata Fufy.
Ardha tertawa tanpa suara, "Jangan membujuk seperti itu. Itu kebohongan sia-sia."
"Sia-sia bagaimana?" sarkas Fufy tidak terima, "justru kamu kehilangan jati diri kamu yang sebenarnya jika banyak bicara. Ardha yang melekat pada diri kamu ini, introvet. Semua akan menguras energi jika dipaksakan. Jangan bersedih seperti ini. Aku bingung. Jika bisa, aku menyembuhkan lukamu."
__ADS_1
"Luka apa?" monolog Ardha membuat dahi Fufy berkerut.
"Maksud kamu? Tentu luka lebam ini," jawab Fufy.
Ardha mengangkat kepalanya. "Aku kira luka di hatiku," lontarnya membuat Fufy menegang.
Fufy tertawa kecil, "Kamu habis putus cinta?"
"Sepertinya begitu." Ardha menarik tangan Fufy, kemudian mengecup punggung telapak tangan Fufy secara tiba-tiba.
Fufy melototkan matanya terkejut. Matanya memejam sejenak. Apa yang dilakukan Ardha?! Gramatikal menghampirinya. Fufy memalingkan wajahnya yang terasa terbakar dan jemari yang terasa sedingin es.
"Aih?! Apa yang kamu lakukan?!" cerocos Fufy dengan semburat merah di pipinya, "seharusnya aku yang melakukan itu pada lukamu."
Setelah mengatakan itu, Fufy memutar bibirnya terkejut. Muncul seringai diantara bibir Ardha. "Kalau begitu, lakukan," ucap Ardha membuat Fufy tersentak.
"A—Apa?!" Ardha semakin memperjelas, "kecup lukaku, karena itu akan bereaksi cepat pada penyembuhan."
"Mitos itu!" tolak Fufy cepat.
Bagaimana bisa dirinya bisa berkata seperti itu. Dan parahnya lagi, Ardha ikut menyambung kalimat memalukan itu. Fufy segera membuka ransel tasnya.
Fufy mengeluarkan sebuah topi rajut diberikan kepada Ardha. Ini adalah barang yang Fufy buat untuk hadiah Ardha. Ardha mengambil barang itu dari tangan Fufy. Wajahnya terlihat senang.
"Buat aku?" tebak Ardha tepat sasaran.
Fufy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya itu hadiah ulang tahun untuk kamu. Maaf kalau terlambat. Habisnya kita tidak sempat bertemu," aku Fufy mengungkapkan.
"Benar begitu?" tanya Ardha begitu mengesalkan di telinga Fufy.
Fufy tidak akan tau, bahwa di hari ulang tahunnya, Ardha seharian menangis di dalam kamar. Alih-alih bersenang-senang, berbahagia bersama keluarga, seperti pemikiran Fufy, itu jauh berbeda. Itu adalah hari paling buruk yang Ardha dapatkan. Tidak ada yang tau, bahwa selain di jepit, Ardha mendapat kekerasan lainnya.
"Anggap ini obat dariku untuk kamu," cakap Fufy.
Ardha tersenyum senang. Tidak menyangka akan mendapatkan barang berharga seperti ini. "Kamu yang membuatnya sendiri?" tanyanya.
"Tentu saja. Kamu harus memakainya, karena butuh waktu untuk menyelesaikannya."
Ardha segera menaruh topi rajut pemberian Fufy ke dalam tasnya. "Akan aku pakai setiap latihan, atau mungkin setiap hari," ujar Ardha.
"Eh? Tidak harus begitu! Nanti kepalamu botak!" Spontan Ardha tertawa.
Fufy terdiam. Terpana melihat tawa Ardha. Pertunjukan malam ini membahagiakan keduanya. Ardha tidak menyadari, bahwa perasannya kini sudah terbalas. Fufy mengakuinya.
...---...
Heloo! Malam tiba!
Tengah malam, tapi aku tidak bisa menebak siapa saja yang membaca cerita ini. Semangat walau tidak ada yang membaca 💗🥰💓🌸
Salam, 3November2022
Â
__ADS_1