CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 18


__ADS_3

Fufy pergi ke halaman belakang rumah untuk mencari udara segar. Pagi-pagi begini, enaknya itu membaca buku bersama hewan peliharaannya. Setelah mengambil buku dari perpustakaan Astina, Fufy langsung lari ke belakang. Tidak menyangka bahwa pagi ini, Astina rajin mandi.


Fufy melipat kakinya, mulai membaca buku dengan serius. Kali ini dia ingin mengamati zodiak Aquarius. Zodiak yang dimiliki oleh temannya. Fufy merasa ada yang harus dia perhatikan. Mungkin saja dirinya membuat kesalahan, seperti yang ditulis di buku yang ia baca ini.


Zodiak yang memiliki lambang penimbang air dan elemen angin. Seperti sensasi terbakar secara perlahan. Amukan mereka meningkat secara bertahap dan menjadi eksplosif. Beberapa dari mereka bahkan mengancam untuk melukai diri sendiri, yang tidak hanya membahayakan diri mereka sendiri, tetapi juga membuat orang-orang di sekitar mereka kesal. 


Mulut Fufy berbentuk bulat. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Langit yang cerah, terbentang awan yang indah. Fufy tersenyum kecil mendengar alarm dari unggas. Burung-burung berterbangan kesana kemari, menambah daya tarik tersendiri pendukung suasana hati Fufy.


Beberapa saat, pendengarannya menangkap suara yang asing di telinganya. Seperti suara Ayah. Mata Fufy membulat sempurna. Ayahnya ada di Rumah?!


Fufy mencari arah sumber suara. Ia tidak percaya pemandangan yang dilihatnya kini. Terlihat Camara yang sedang bermain dengan para Kucing di atas rumput dengan Astina yang duduk di atas roda menonton kelakuan sang Ayah.


Fufy berdiri mematung. Apa yang dilakukan Ayahnya pagi-pagi begini di Rumah? Tidak pernah Camara pulang pagi. Dia selalu pulang malam, atau tengah malam.


"Gigit kaki kak Astina!" ujar Camara kepada si Kucing.


Mereka tertawa terbahak-bahak, membuat Fufy tanpa sadar ikut tertawa. "Aduh, comelnya," cakap Camara lagi.


"Ayah?" panggil Fufy.


Camara menoleh ke arahnya. Sekali lagi Fufy keheranan, tidak habis pikir, bahwa sang Ayah masih memakai jas rapi melekat di badannya. "Pagi Ayah, mau dibuatin kopi?" sapa Fufy akrab.


Menduga bahwa dirinya akan dicueki, tampaknya pemikirannya salah. Hal yang dilihat Fufy adalah senyum manis yang diberikan Camara kepadanya. Senyum yang berharga mahal itu, disaksikan oleh Fufy.


"Wah, kakak Fufy sudah bangun." Fufy tercengang melihat percakapan Camara dengan si Kucing, "boleh, kalau kakak Fufy berkenan. Sekalian buatkan susu untuk kak Astina, ya, kak."


Mulut Fufy melengkung membentuk senyuman. Tidak tau kenapa, hari ini dirinya merasa lebih tenang. Fufy bahagia.


"Baik, tunggu kak Fufy, ya," balas Fufy kemudian segera masuk ke dapur.


Di Dapur, ada sang Ibu yang tengah menyiapkan sarapan. Seperti rutinitas setiap hari, jarang sekali Fufy melihat Ibunya memasak pagi-pagi begini.


"Selamat pagi, Ibu," ucap Fufy menyapa dari belakang.


Astina memotong daun bawang dengan kecepatan cepat. Sejenak, Fufy terpukau. Fufy segera mendamarbaktikan momen kegiatan sang Ibu.


Menyadari itu, Astina menaruh pisaunya. "Kenapa berdiri disana?" tanya Asti kepada Putrinya.


Fufy menggaruk kepalanya seraya menyengir lucu. "Mau buat buat kopi," jawabnya.

__ADS_1


Astina mengeluarkan bubuk kopi dari lemari dapur. "Sekalian buatkan susu untuk kak Astina, ya, kak," ujar Asti.


"Lalu pastikan Astina minum obat setelahnya." 


"Ini memang sekalian." Asti melirik Fufy, "tumben kamu ngopi? Begadang lagi?"


Kemarin Fufy memang begadang karena mengerjakan soal yang diberikan Ardi kepadanya. Tapi, tidakkah Ibunya tau, bahwa ada  Ayah di rumahnya?


"Ini buat Ayah," jawab Fufy membuat keheningan berkepanjangan.


"Ayah?" beo Asti memastikan, "iya. Ibu sudah lihat Ayah bermain dengan kak Astina?"


Asti memicingkan matanya. "Dimana?" tanya Asti tanpa berbasa-basi langsung pergi ke halaman belakang.


Fufy tercengang hampir melupakan air panas yang sudah mendidih. Setelah mematikan kompor, Fufy menghampiri keluarganya. Ternyata sudah ada Amara disana dengan wajah bantal. Menguap kecil, Amara mendorong kursi roda Astina.


"Susu datang!" Fufy membawa nampan berisi susu dengan sangat hati-hati. Fufy berjalan pelan, kemudian membagikan setiap gelas kepada anggota keluarganya.


Hari Minggu ini perdana melihat Astina tertawa walau tidak mengeluarkan sepatah kata. Begitu juga dengan Amara yang mengeluarkan sifat manjanya. Tidak disangka juga, ada si kucing yang ikut minum susu ditengah-tengah mereka.


...---- ...


"Benar sudah sembuh?" tanya Fufy memastikan.


"Iya, benar. Hanya sakit jika dipijit," jawab Ardha lembut.


Disela-sela jam istirahat, Ardha memakaikan topi ke Fufy. Mereka sempat foto bersama, sampai hingga Ardha meminta ijin untuk mempublikasikan ke media sosial.


"Terserah kamu saja." Ardha menimang, "kalau di cerita WhatsApp bagaimana? Hanya 24 jam, kok."


Fufy tertawa kecil, "Boleh, Ardha. Kalau takut ada yang iri, bilang kita temanan."


Ardha menunduk menutup mulutnya. Fufy terdiam sejenak, kemudian pergi menjauhinya. Tanpa Fufy sadari, diam-diam tangan Ardha mengepal.


"Py!" Fufy meninggalkan Ardha karena ia dipanggil oleh Andre.


"Ya, kak, kenapa?" Andre membuka helm, "bisa panggilin Ranbi?" pinta Andre kepada Fufy.


"Siap, kak. Tunggu sebentar, ya." Setelah mengatakan itu, Fufy berlari menuju Lapangan.

__ADS_1


"Ranbi," panggil Fufy.


Ranbi dengan wajah kelelahan, menaikkan alisnya merespon. Ada Mantra dan juga Levi di sampingnya. Sementara Saraswati tengah sembahyang bersama Sastra. 


"Ya?" Fufy menunjuk pintu keluar, "kakak kamu, Andre datang," kata Fufy memberitahu.


Sementara itu, keberadaan Andre dicegat oleh Ardha. Mereka saling beradu tatapan beberapa saat. Andre menepuk tangan memanggil Ardha yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Naksir lo?" Perkataan Andre membuat tatapan Ardha menajam.


Tatapan yang membuat Andre merinding. Dia merutuki Fufy yang sudah membuang waktunya. Ditambah lagi kehadiran Ardha, membuatnya ingin segera pergi dari lapangan mengerikan ini.


"Ardha, ayo, latihan," cakap Fufy menyadarkan Ardha.


Ardha berkedip beberapa kali, kemudian mengikutinya langkah Fufy. Pandangannya menunduk, tapi dapat Andre rasakan bahwa hawa menusuk dirinya. Andre bergidik ngeri.


"Kenapa kak?" Ranbi menyilangkan kedua tangannya.


Semua atlet berbaris mendengarkan arahan dari pak Indra. Sebagai pengurus, sudah sewajarnya jika pak Indra dihormati. Ali mencontohkannya. Bisa diamati bahwa sekarang Ali sedang membantu pak Indra meminum air.


"Lagi, pak?" Pak Indra menggeleng, lalu menatap tajam Ali. Ali menyengir, kemudian segera kembali ke barisan.


"Capek?" Dari belakang, Ardha bertanya kepada Fufy.


"Ngh?" Fufy menoleh, "kalau lelah, kamu bisa duduk, tidak apa-apa," ucap Ardha perhatian.


"Ehem!" Saraswati berdehem.


"Perhatian! Setelah berkoordinasi dengan pak Bima dan pak Hakim, kami memutuskan untuk mengikuti lomba kembali. Setelah mengobservasi kekuatan kalian selama berlatih, kami semakin yakin untuk mengirim beberapa siswa ke luar negeri. Yaitu ke Singapura." Pemberitahuan dari pak Indra berhasil membuat para atlet ricuh.


"Mohon maaf, disini kami akan mengirim atlet pilihan yang bisa kami percayakan untuk membanggakan negara. Fasilitas di tanggung oleh Pemerintah, maka dari itu saya harap kalian yang terpilih tidak mengecewakan kami, termasuk nama negara."


"Berapa orang yang terpilih, Pak?" Mada bertanya.


Pak Bima menjawab, "Lima orang. Ada sebanyak lima orang yang akan kami pilih."


Semua atlet menelan ludah deg-degan. Tidak menyangka akan ada pengumuman mengejutkan seperti ini. Termasuk Fufy sendiri merasakan tempo jantungnya bergerak lebih cepat.


"Atlet tersebut akan kami pilih setelah seleksi berlangsung selama satu bulan ini," kata pak Indra menutup pemberitahuan.

__ADS_1


...---...


__ADS_2