CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 27


__ADS_3

Bagian Dua Puluh Tujuh: Cerita Tentang Ardha


...---...


Sesuatu tentang Ardha. Katanya, "Jangan mau percaya sama alur Kehidupanku. Isinya membosankan."


Kalau ingin menggali lebih dalam lagi tentang dunianya Ardha, maka jangan mengenal Ardha di Panjat Tebing. Jangan bertemu dengannya. Dia memiliki banyak sifat yang berubah-ubah.


Sejujurnya, jika ditanya olahraga favorit Ardha, bukan Panjat Tebing jawabannya. Ardha menyukai seseorang favorit disana. Bukan olahraganya. Olahraga yang dicintai Ardha yaitu renang.


Diantara olahraga yang pernah Ardha coba, Renang adalah terbaik. Dia bisa melakukannya sesuka hati, kapanpun, dan dilakukan semena-mena. Ya, mungkin itu bisa mengakhiri hidupnya.


Tapi karena Ardha sudah jago, mau seberapapun dirinya ingin tenggelam, seberapa lama, Ardha tidak akan bisa. Karena Ardha kalah dengan logika.


Sekilas cerita, dari kecil Ardha suka mencoba berbagai macam kegiatan yang ada. Menurutnya, lebih baik mencoba semuanya, agar kedepannya bisa mengetahui bidang mana yang cocok dengannya. Mulai dari mengikuti olahraga sepak bola, voli, basket, petang, buku tangkis, dan lainnya.


Semua itu memiliki kekurangan. Baik itu dari segi kenyamanan suasana, keramahan orang-orang disana, tingkat kesusahan dan tingkat keberhasilan Ardha ukur.


Sampai ada disatu olahraga yang berhasil membuat Ardha kagum. Bukan karena kagum dengan olahraganya, tapi karena seseorang yang ada disana. Anak kecil yang memiliki jiwa ambisi besar.


Namanya Fufy. Anak yang membuat dirinya terpana. Ardha dapat melihat sosok dirinya dalam diri Fufy. Masih kecil, tapi Fufy menyukai olahraga berbahaya itu. Dari situlah, muncul perasaan ingin menjaga Fufy—tanpa ada alasan.


Jika ditanya berapa lama, kira-kira sejak enam tahun yang lalu. Ketika Fufy berani menggodanya terang-terangan.


"Temanku itu yang kamu maksud?" Fufy bertanya galak, "dia pacarku!"


Bocah kecil aneh. Ardha melotot tidak terima. Apa-apaan bocah ini.


"Cie, baju kalian kembar!" seru para atlet membuat wajah Ardha memerah.


Hari ini ada jadwal memakai pakaian serba biru, tapi Ardha dan Fufy malah memakai baju hijau. Mereka menjadi pusat perhatian.


Ardha membawakan air untuk Fufy karena dirasa Fufy belum minum air sejak tadi. "Diminum. Aku bawa air minum lebih," ujar Ardha.


Fufy menatapnya polos, "Tapi Fufy masih puasa."


Hal yang membuat Ardha semakin kagum dengan Fufy. Bagaimana bisa seorang anak kecil berolahraga berat seperti ini ditengah kegiatan puasa. Sedangkan dirinya saja bisa menghabiskan satu liter akibat latihan manjat.


"Kenapa kamu puasa?" Ardha penasaran, "ada," jawab Fufy singkat.


"Ada apa? Memangnya kamu beragama apa?" Fufy mengangkat bahu sebagai jawaban.


"Diem. Anak kecil tidak perlu kepo. Hanya zodiak Sagitarius yang mengerti ini," kata Fufy menambah kesan menarik di mata Ardha.


Sungguh, begitu cuek. Berbanding dengan wajahnya yang nampak lucu dan imut. Ardha semakin banyak tanya.

__ADS_1


...--- ...


Hidup Ardha hampa. Di dalam rumahnya hanya ada kesepian. Beruntung jika satu malam Ardha tidak bertemu dengan sang Ayah—Raska.


Jika Fufy selalu ingin bertemu dengan Ayahnya, maka itu tidak berlaku kepada Ardha. Ardha bahkan sengaja pulang malam agar tidak bertemu Ayahnya. Karena Raska sangat kejam.


Raska tidak segan-segan untuk memukul anaknya sampai anaknya tidak berdaya. Pukulan lewat sapu, kayu, sepatu, dan mungkin bogeman langsung dari tangan Raska sendiri. Dan dari semua itu, kayu memiliki makna daya sendiri, membuat Ardha menyukainya.


Tidak jauh dengan angka sepuluh, dari soal itu, Ardha salah menjawab satu soal. Ralat. Jawabannya sudah Ardha jawab benar, tetapi caranya yang salah. Otomatis itu sebagai kunci nilai sempurna, hangus, tidak ia dapatkan.


"Kenapa kamu menatap saya begitu, hah?!" Raska menatap anaknya galak, merasa tertantang dengan tatapan yang Ardha berikan.


Ardha bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Setelah melihat postingan rapat Raska dengan pengusaha yang tidak lain adalah Camara, Ardha yakin ada sesuatu membakar Ayahnya lagi.


Raska maju dengan kepalan tangan siap meninju wajah Putranya. "Anak SIALAN!"


Bugh! Bugh! Bugh!


Ardha mengerang kesakitan merasa punggungnya akan lepas dari badannya. Raska memberikan pukulan tanpa belas kasihan sedikitpun.


Di pikiran Ardha dipenuhi oleh nama Amara. Amara, Amara, dan Amara. Cewek sempurna yang berhasil menumbuhkan rasa iri di hatinya setiap hari. Siswa yang selalu Ardha  temui setiap olimpiade atau lomba-lomba lainnya, baik offline atau online. Baik dari SD, SMP, ataupun SMA. Selalu Ardha lihat wajah itu.


Mereka bersaing ketat. Tidak pernah berbicara, apalagi bertegur sapa. Hari demi hari, rasa iri membunuh Ardha. Ardha menenggelamkan dirinya.


"ARDHA!"


Namun, apa boleh buat ketika tangan Ardha ditarik paksa, sehingga Ardha tidak bisa mengatur napas dengan baik. Tanpa aba-aba, Raska memukulnya menggunakan sapu. Tidak terlalu sakit. Ardha tertawa menikmatinya.


Raska berteriak, "Mau lari kemana kamu? Kamu mau meninggalkan Ayah disini sendirian?!"


Terdengar lirihan, sekilas Ardha mendengar. Benar. Jika dirinya pergi, lalu dengan siapa Raska akan hidup? Di dunia ini, hanya ada mereka berdua. Di rumah sebesar ini, hanya ada dua penghuni yang jarang merawat baik itu dirinya sendiri, maupun rumahnya sendiri.


Ibu Ardha sudah lama meninggalkan dunia ini. Sejak saat itu, Raska menggila, obsesi dengan kesempurnaan. Sebab kesempurnaan yang pernah dia dapatkan, sudah pergi meninggalkannya. Dulunya, mereka adalah keluarga harmonis. Siapa saja akan tercengang melihat Raska lebih mementingkan sang Istri daripada pekerjaannya dalam waktu seminggu, bahkan sebulan.


Raska bergelayut manja memeluk pinggang Istrinya posesif. Ardha yang sejak itu masih kecil, melihat interaksi kedua orang tuanya dengan senyuman bahagia. Meninggalkan mainan mobil-mobilan, Ardha memilih bermain menganggu waktu bermesraan Ayah dan Ibunya.


Ibunya berkata, "Sayang, wajah kamu kotor. Cuci tangan dulu, baru bisa peluk Ibu, oke?"


Dengan patuh Ardha berlari pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak tau apa yang terjadi antara Ayah dan Ibunya.


"Selesai, Ibu!" Raska bertepuk tangan, "nah, sini Papa gendong."


Ardha mengangkat tangan, bersiap menyambut sang Ayah. Raska mencium Ardha membuat Ardha merasa dunia tertelan oleh keberadaan mereka. Tidak ingin berpisah sebentar saja.


"Boleh saja sayang. Anak cowok biasanya keren main sepak bola," ucap Ibu Ardha.

__ADS_1


Ardha mendesah, "Apa tidak boleh lomba mobil-mobilan?"


Ardha menunduk kecewa. Matanya sudah berkaca-kaca ketika sang Ibu mengatakan, suatu hari nanti dia harus membuang semua mobilnya ini.


"Apa saja asalkan kamu bahagia, sayang." Raska mencium pipi Ardha, "boleh juga jika kamu ikhlas memberikan semua mainan ini kepada adikmu nanti."


Kenyataan bahwa sang Ibu tengah hamil, menimbulkan kecemburuan besar. Sejak saat itu, Ardha selalu berkata dia tidak menginginkan adik. Dia tidak ingin kebahagiaannya dibagi oleh sang adik nanti.


Sampai akhirnya, permintaannya terwujud. Adiknya tidak jadi lahir ke dunia ini akibat kekurangan darah. Meninggalkan badan kasar dalam perut, membuat kesehatan sang Ibu melemah. Dari situlah, perlahan Raska kehilangan setengah jiwanya, karena ditinggalkan oleh sang Istri.


...----...


Begitu juga dengan hubungan dirinya dan Fufy. Tidak bohong, sering kali Ardha merasa cemburu melihat prestasi yang Fufy dapatkan.


Tapi, entah kenapa harinya seolah buta, tidak ingin membahas sesuatu yang berkaitan dengan kesedihan ketika bersama Fufy. Fufy memiliki daya tarik sendiri, hingga membuat Ardha terpikat dengannya.


Awalnya, Ardha juga berpikir, kenapa bisa ada yang percaya dengan ramalan? Itu sesuatu yang membosankan. Pikir Ardha, jika terlalu mempercayai ramalan, maka hidup akan diatur oleh ramalan yang ditulis. Seolah mengharuskan untuk begini dan begitu.


Sosok Fufy yang begitu ceria, sangat menguras energi Ardha yang pendiam. Awalnya, Ardha tidak suka mendengar suara Fufy mengenai segala ramalan itu. Namun, seiring berjalannya waktu, Ardha kemakan omongan sendiri.


Ardha mulai semangat karena pemberitahuan tentang zodiak Cancer. Itu adalah zodiaknya. Hal positif dan negatif Fufy beritahu terang-terangan, membuat Ardha semakin percaya dengan ramalan.


Apalagi ketika di suatu hari, Fufy bilang, zodiak Cancer akan mendapat kebahagiaannya sendiri. Itu membangunkan sesuatu yang sejak dulu Ardha malas menanggapinya.


Fufy juga sering menceritakan cerita hidupnya lewat zodiaknya. Ardha tau, Fufy juga kesepian sama sepertinya. Tapi menurutnya, cara Fufy untuk mencari kebahagiaan Ayah itu salah.


Ketika Ardha sudah sangat mempercayai Fufy, bahkan menempatkan keberadaan Fufy di hatinya, kepercayaan itu kemudian runtuh akibat sesuatu hal. Camara meminta agar dirinya menjauhi Fufy.


Katanya, Fufy sudah berpacaran dengan guru lesnya, Ardi. Tidak lain adalah saingan Ardha. Ardha begitu marah. Pikirannya diselimuti kecemburuan dan kekecewaan. Yang Ardha kira bahwa Fufy sudah tidak mempunyai pacar lagi, ternyata dugaannya salah.


Ardha menginginkan Fufy sepenuhnya.


Ketika Fufy dirawat di rumah sakit akibat tragedi jatuh dari papan tebing, Ardha menjenguk Fufy setiap harinya selama tiga hari berturut-turut. Kekecewaan Ardha meledak ketika Camara mengatakan langsung bahwa Fufy sedang ditemani oleh lelaki yang bernama Ardi itu.


Setelah itu, Ardha bergelut dengan pikirannya sendiri. Berniat menjauhi Fufy, tapi nyatanya tidak bisa. Seolah ada magnet yang menyeret kakinya untuk selalu mendekati Fufy setiap waktu.


Sudah dibilang, Ardha kalah dengan logikanya sendiri. Apalagi ternyata, dirinyalah yang merekomendasikan tempat les untuk Fufy. Dulu, tanpa mengenal lebih dalam lagi, Ardha beritahu tentang kepintaran siswa di sekolah Trian Akademi yang sangat sabar dalam mengajar.


Tanpa tau murid itu adalah seorang laki-laki. Karena saat itu, Ardha tergesa-gesa mencari guru privat untuk Fufy, ketika mengetahui Fufy mendapat peringkat bawah.


Camara menginginkan satu tempat les agar memudahkan Fufy. Tapi Ardha menolak. Ardha takut jika dirinya memposisikan Fufy seperti adiknya, Amara.


Tapi yang terjadi seiring berjalannya waktu, kecemburuan datang dan hadir menganggu Ardha. Ardha tidak suka sikap pendiamnya diremehkan. Lebih baik maju untuk mendapatkan apa yang diinginkan bukan?


...---...

__ADS_1


Yoo!😎


Siap Ending? 3 chapter lagi ending!😫💓


__ADS_2