![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Satu: Sisi Buruk
...----...
^^^Kita selesai sampai sini, ya^^^
Pesan itu berhasil terkirim kemarin malam. Setelah menganggu sepanjang malam, Fufy sempat bertengkar dengan Abdi melalui pesan. Fufy tidak tahan dengan pesan-pesan yang ia terima begitu menjijikkan menurutnya. Awalnya sifat Abdi begitu penyayang, baik dan penuh pengertian dengannya.
Bahkan ketika jam sekolahpun, Abdi selalu membantunya membuat tugas dulu waktu awal-awal mereka pacaran. Setelah berlangsung dua bulan, Fufy muak dan tidak tahan. Lantaran setiap malamnya, Abdi akan mengirimkan pesan seperti itu kepadanya.
Fufy memijat pelipisnya. Niatnya untuk mencari kasih sayang, ternyata dirinya salah orang. Sambil menunggu jam istirahat selesai, Fufy bermain Lovegram sebentar.
Mengecek akun FPTI, Fufy menemukan kejanggalan. "Fufy! Kamu sudah cek akun FPTI belum?" Ranbi langsung bertanya.
Saraswati mendelik, "Kok postingan yang ada lo hilang semua?"
Benar. Semua postingan yang berkaitan tentang kemenangannya dalam perlombaan, dihapus semua. Fufy merasa sedih.
"Apaan tuh?" Levi bergabung.
Levi penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Matanya mengintip melihat aktivitas Fufy. "Weh, apaan tuh, kepoin akun FPTI," sambar Levi.
"Adminnya lo, ya?!" Saraswati menebak, "weh? Apaan nih, main tebak-tebakan. Gila, gue mana sempat ngurus kaya beginian," balas Levi.
"Yang megang akunnya cuma pak Indra dan pak Hakim," sambung Levi kemudian.
Fufy keluar dari Lovegram. Tidak ada masalah jika dirinya tidak dianggap membanggakan FPTI. Namun, yang menjadi masalah, Fufy kuatir Ayahnya tau hal ini. Jangan sampai dibicarakan oleh rekan teman kerjanya lagi.
"Ini artinya Adminnya ingin mencegah terjadinya kecemburuan. Mungkin saja jika atlet melihat postingan keberhasilan Fufy, itu akan membuat semangatnya menurun," kata Fufy, "ini ramalan Sagitarius," lanjutnya.
"Ih, tapi parah banget sampai membuat semangat kamu hilang. Kamu gapapa, Py?" Ranbi bertanya menatap Fufy kuatir.
Fufy menggeleng seraya tersenyum. "Iya, santai saja."
Levi merangkul Fufy, "Jangan mempermasalahkan hal kecil begini. Tidak boleh masukin ke hati, woke?"
"Goyang dumang aja, Fy. Biar masalahnya hilang."
Sementara itu, sejak tadi Ardha dicegah oleh Mada. Wajahnya sudah berkaca-kaca karena belum bisa bertemu dengan Fufy. Ardha merasa Fufy semakin dekat dengan Ali. Dan itu membuat dirinya tidak suka.
Lihatlah pemandangan yang sedang Ardha lihat ini. Fufy tengah berbincang dengan Ali sambil tertawa. Membuatnya tidak tenang, merasa seperti terbakar.
"Bro, sat set dong cara kerjanya. Kalau suka, bilang. Ungkapin." Mada berbicara, "gue liat juga Ali cocok sama Fufy," sambungnya.
"Apa?" Ardha menatapnya nyalang.
Mada berdehem, "Coba deh lo buat Fufy tobat. Cewek kayak gitu biasanya emang genit. Kalau dia nyaman sama Ali, bayangin berapa banyak dia punya pacar. Harem dia bisa mendirikan kerajaan."
Ardha diam bergelut dengan pikiran. "Tapi, kalau dipikir lagi, mending lo cari yang lain. Contohnya Ranbi, temannya yang kalem itu. Asal jangan Saraswati, sih. Kalau sama Fufy, emang yakin lo dijadiin satu-satunya? Kan seharusnya cowok yang megang kendali," sosor Mada menjabarkan.
__ADS_1
"Tau apa kamu tentang Fufy?" Ardha terusik mendengar penjelasan Mada yang mengatakan seolah Fufynya adalah perempuan paling buruk.
Mada mengetuk lantai menggunakan sepatunya. Dia berbicara sambil memasang sepatu panjat. Kini mereka tengah bersiap betanding menjadi lawan.
"Susah ya, kalau nyadarin orang goblok bucin kayak lo. Van, gue sebagai teman dekat lo, perhatian gue. Bukannya gimana, tapi setidaknya lo sadar liat keadaan sebenarnya. Apa gak sakit hati ngeliat cewek yang lo suka telponan sama pacarnya? Saling kirim pesan? Bahkan ketemuan."
"Bodohnya lagi, yang nganter itu lo! Lo pinter atau goblok sih? Pinternya gak dipake waktu hal cinta-cintaan?" Mada bertanya serius.
Ardha diam tidak merespon. Pandangannya masih lurus melihat interaksi Fufy dengan Ali.
"Nah, kan. Lo bahkan gak berani ngobrol sama cewek selain Pupuan itu. Anti banget kayakya lo sama cewek lain. Masalahnya, emang Fufy peduli? Gak mau bikin cemburu, tapi emang Fufy nyadar? Sekali-kali liat si Alin." Kemudian, mata Ardha bergerak menatap Alin.
"Dia suka sama lo." Ardha mengangguk, "pura-pura gak tau lo?" Mada tertawa tidak habis pikir.
Kemudian, Mada berdiri mendekat ke Lapangan. Suasana sedang ramai-ramainya karena para atlet tengah mengantri untuk memanjat. Mereka berbondong-bondong membuktikan kepada pak Indra dan pak Hakim sebagai guru dan pengawas disini. Hasilnya akan dilihat oleh mereka.
Ardha ikut berdiri, bersiap melawan Mada. Mada menoleh, melanjutkan pembicaraannya. "Maaf kalau gue lancang. Setidaknya lo harus sadar, Kawan," katanya yang tidak mendapat tanggapan dari Ardha.
...---...
"Waktu Mantra disini tinggal sebulan. Jika kamu berhasil membuktikan bahwa dirimu layak ikut dalam pertandingan itu, saya akan kirim kamu. Namun, jika waktunya sudah habis, walau Mantra lebih hebat dari kamu, maaf, saya tidak bisa memberangkatkan kamu." Pak Indra berucap serius.
Fufy memainkan kukunya karena gelisah. Pandangannya kemana-mana. Sesuatu membuat Fufy resah, hingga merasakan pundaknya berat.
"Saya tidak bisa menerima uang dari Ibu maupun Ayah kamu. Salah satu dari kalian saya akan kirim. Ingatlah, disini ada banyak atlet hebat selain kamu," tegas pak Indra berucap.
Fufy tersentak mendengar lontaran pak Indra tentang orang tuanya. Fufy sendiri belum memberitahu tentang perlombaan ini. Apa yang dilakukan oleh orang tuanya?
Perbaikan fasilitas disini sangat keren. Fufy tidak bisa berpikir jernih. Kapasitas pikirannya untuk menyimpan masalah sudah penuh. Belum ada satupun yang terselesaikan.
Belum lagi, pesan muncul secara terus-menerus dari Agam. Agam yang Fufy dengar sudah memiliki pacar, kembali menggodanya lewat pesan.
Agam
Besok belajar sama Ardi? Aku ikut, ya?
Aku tau kamu tidak pacaran dengan Ardi 😫
Sayang, mau tidak jadi pacarku?🥺
Ilopyuu💗💓🥺🥰😚
Fufy tidak tau bahwa Agam hanya iseng mengirimkan pesan seperti itu. Tapi, caranya itu mirip dengan dirinya saat mengajak Ardi atau Abdi pacaran. Sungguh menjengkelkan ternyata.
Disamping itu, Fufy merasa Ardha sengaja menjauhinya. Jika biasanya Ardha akan muncul, atau mendekatinya, dan menyemangati dirinya, namun kali ini berbeda. Topi itu terpantau masih Ardha pakai. Tapi, hanya saja Fufy merasa Penyemangatnya menyembunyikan sesuatu.
"Ardha?" Fufy mencoba berinteraksi di jam istirahat, "ya?" Respon Ardha cuek.
Fufy memutar otaknya untuk mencari topik pembicaraan. Ternyata cukup susah menerapkan secara nyata. Mungkin kalau lewat pesan, Fufy tidak akan merasa berat seperti ini.
__ADS_1
"Ardha. Tau gak, di bagian tubuh kita, bagian mana yang paling keren?" Fufy menarik turunkan alisnya.
Ardha membuang muka, "semuanya."
Tangan Fufy membentuk tanda kali yang berarti salah. "Satu aja. Ayo, apa itu?" Fufy mencoba kembali.
"Perut?" jawab Ardha asal.
"Salah. Nyerah, nyerah?" Ardha menatap Fufy sebentar, lalu menggeleng kepala, "jawabannya deng cool!" Fufy tertawa bertepuk tangan.
Tidak sesuai reaksi harapan Fufy. Ardha malah bangkit meninggalkannya. Fufy kebingungan merasa kecewa.
"Jam latihan," peringat Ardha membuat Fufy tidak berkutik.
...----...
Pagi-pagi sekali, waktu Fufy baru bangun, Fufy keluar kamar untuk mengambil air. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapat wajahnya terkena lemparan tutup tong sampah. Fufy meringis menyentuh wajahnya. Rasa ngantuk langsung menghilang.
Dilihatnya Amara menatapnya galak—tidak biasa. Mata itu terlihat merah. Kemarahan besar tergambar disana. Fufy menyirapkan darah.
"Ada apa?" tanya Fufy tidak paham.
Amara maju mendekatinya sambil mengepalkan tangan. Kepalannya seperti ingin memukul wajah Fufy sampai penyok. Spontan Fufy memundurkan tubuhnya.
Jika ada hal tiba-tiba seperti yang dilakukan Amara, Fufy menyerah. Meski bisa bertarung, tapi amarah Amara akan membuatnya mengalahkan Fufy.
"Ada apa Amara?" Fufy bertanya kembali dengan baik.
"Saudara macam apa kamu?" Fufy terkejut mendengarnya, "apa kamu tidak bisa menghargai orang yang menyayangimu?!" teriak Amara lantang.
Tubuh Fufy bergetar. Kemarahan Amara tidak bisa didefinisikan. Begitu panas, berbanding dengan suasana pagi ini yang menyejukkan badan.
"Hei, aku baru bangun." Fufy mencoba menenangkan Amara.
Tangannya mengisyaratkan, "Semuanya akan bangun jika kamu berteriak. Jelaskan secara baik-baik, ya?"
Fufy mulai menebak. Jika ini berhubungan dengan kedua orang tuanya, masalah apa yang ditimbulkannya? Fufy memang merasa ada masalah. Tapi, masalah apa itu?
"Kalau aku—kamu tau berapa uang yang dia keluarkan untuk perempuan hebat sepertimu?! Dia rela membuat sendiri! Dimana rasa kemanusiaan kamu?!" sembur Amara membuat Fufy semakin tidak mengerti.
Fufy mengambil tutup sampah. "Jelaskan pelan-pelan. Kepalaku sakit karena ini," pintanya rendah.
"Bodoh. Buang-buang waktu. Liat langsung di tumpukan sampah yang dibawa oleh pak Satpam di bawah!"
Tanpa berbicara lagi, Fufy segera turun ke bawah untuk memecahkan masalah yang didapatnya. Sangat sulit menebak hati Amara yang tertutup sangat rapat itu. Amara jarang, bahkan tidak pernah mengekpresikan dirinya sendiri.
Untuk menjawab perintah saja, Amara enggan. Dia lebih bisa menjalankannya langsung. Jika ini masalah tentang keluarga, maka Fufy bisa menebak bahwa itu bukan.
Lalu, barang apa yang membuat Amara semarah tadi?
__ADS_1
...---...