![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Delapan: Selamat Datang, Singapura!
...---...
Hari yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Selama sebulan penuh ini, tidak ada waktu bagi Fufy untuk memikirkan waktu liburan, bahkan berpacaran. Fufy tidak memiliki pacar satupun. Sebuah kebahagiaan sendiri ternyata jomlo itu.
Mengambil tempat paling pertama, Fufy mengambil foto dari ujung jalan sampai ke ujung jalan yang lain. Poin utamanya yaitu bisa melihat patung Merlion dengan mata sendiri. Tidak terhitung seberapa banyak Fufy mengambil foto disana.
Tentunya, ada tukang foto yang selalu bersamanya. Ardha dengan penuh kesabaran mengambil jepretan untuk Fufy. Untuk meminum air saja, Ardha lupa. Hari ini jadwal latihan diambil satu jam untuk berlibur.
Semuanya bersenang-senang. "Ambil foto bersama!" Bahkan pak Indra juga ikut bersama mereka—melupakan jadwalnya hari ini.
"Kalau gini, mending berprestasi seumur hidup," gumam Mantra sembari membenarkan topinya.
Oh iya, Ardha juga menggunakan topi pemberian Fufy. Kelakuan Ardha membuat para atlet sama sekali tidak berani mendekatinya.
"Ardha! Pakai topi FPTI, lah!" Alin merenggut kesal.
"Biarin, anak bulol jangan diajak ngomong," kata Levi, "dilirik aja gak bakalan, apalagi direspon."
"Wuuu!" Semua menyoraki Ardha.
Pak Indra menatap mereka penuh ancaman. Mereka mulai menganggap negara asing sebagai rumah sendiri rupanya.
"Waktu kalian tinggal 15 menit," ujar pak Indra mutlak.
"Yahh...," Ardha mengambil tas gendong Fufy, lalu membawakannya.
"Jangan lirik-lirik bule disini," pinta Ardha penuh selidik.
Waktu mereka disini selama seminggu pun dihiasi oleh tawa. Melupakan segala hal, hanya tertuju pada tujuan. Mengambil langkah bersama, berjalan beriringan, mereka terlihat lucu. Menggunakan pakaian sederhana, tapi dengan motif yang sama.
"FPTI JAYA!"
...----...
Menelusuri jalan-jalan kota, tempat istirahat, mata Fufy menangkap sesuatu yang menarik di matanya. Sangat berhubungan dengan keadaan tenggorokannya sekarang.
"Es krim!" Fufy mengecek uang di sakunya, namun tangannya dicegah.
"Belum boleh," lontar Ardha membuat Fufy cemberut.
Sudah lama sekali Fufy menginginkan makanan itu. Rasanya bervariasi dan menggiurkan. Makanan yang diidamkan oleh Fufy bernama ice kachang.
"Bagaimana kalau kita coba hokkien prwan mee?" Ardha menawarkan, "itu bikin cepat kenyang."
Fufy tertarik membayangkannya. "Boleh, ayo!"
"Tiup dulu," ucap Ardha lembut.
Fufy menatap malas temannya ini. Ardha tidak mengerti bagaimana rasa sensasi makanan jika dimakan saat sedang panas. Tapi Ardha malah meniup mienya setiap kali dirinya akan menyantapnya.
"Ardha, kalau begitu kapan habisnya." Perut Fufy sudah keroncongan. Tapi lihatlah cowok ini, sangat teliti dengan apapun.
"Agak pedas," komentar Ardha, "lebih baik kamu pesan yang lain aja, ya."
Fufy protes tidak terima, "Jangan! Sia-sia uangnya, Ardha. Pedas darimana? Makan ini tidak akan membuat berpengaruh sama lombanya nanti."
__ADS_1
"Tapi tetap saja." Ardha menatap Fufy kuatir. Setiap Fufy memakan mie tersebut, Ardha selalu menatapnya. Seolah takut Fufy akan keracunan.
"Woi!" Fufy merasa risih ditatap seperti itu.
Ardha beranjak, kemudian membuka dompetnya. "Tunggu disini, aku belikan air," kata Ardha.
Fufy tersedak. Ini bukan masalah dia kepedean!
...----...
Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Saat pagi tiba, semua atlet sudah berkeringat di lapangan. Bukan karena panas-panas menerima vitamin dari matahari, melainkan akibat kelelahan berolahraga. Namun, suasana disini sangat segar. Semua orang tertib mematuhi peraturan yang ditetapkan.
Fufy berkenalan dengan atlet yang berasal dari Thailand. Dia menceritakan beberapa pengalamannya berjuang di panjat tebing. Namanya Boonsri.
Gadis yang berumur dua tahun lebih tua dari Fufy itu, sangatlah cantik. Sesuai dengan namanya, dia bahkan membelikan Fufy sarapan tambahan tadi. Perut Fufy kekenyangan menerimanya.
Dinding yang memiliki ketinggian empat meter atau tiga belas kaki itu, mengambil kefokusan Fufy berlatih. Warna dindingnya unik.
Fufy mengumpulkan kekuatan otot. Ini saatnya dia memanjat. Mengambil chalg bag, Fufy menarik napas berkali-kali. Tangannya berkeringat dingin, juga jantungnya yang berdetak sangat cepat ini menghadirkan kegugupan membara.
Ngomong-ngomong tentang siapa saja orang-orang yang terpilih, ada sebanyak tujuh orang. Diantaranya ada Fufy, Alin, Mantra, Levi, Ardha, Ali dan Sastra.
Melebihi kapasitas, karena disana membutuhkan cadangan. Fufy bersyukur dirinya menjadi pemain disini. Sementara cadangannya yaitu Alin.
"Ready, go!"
Fufy sudah sempat membaca jalur yang ditetapkan. Untuk kemiringan medan yang akan dilaluinya, Fufy sudah menyiapkan tenaga untuk disana. Melewati jamming, yaitu jalur yang memiliki celah tidak terlalu lebar, Fufy berhasil melewatinya.
Dengan waktu empat menit yang telah ditentukan, Fufy tetap fokus tanpa memikirkan hal lain selain kejuaraan. Ingin mengambil dyno, namun sebelum itu, Fufy menyiapkan kekuatan. Percobaan yang kedua kali, Fufy meloncat untuk menggapai poin. Dan tibalah dia menuju hand traverse.
Tidak ada suara sekitar yang didengarnya. Semua tegang, termasuk dirinya sendiri. Mengambil ancang-ancang, Fufy tiba di crux. Crux merupakan bagian tersulit dalam bouldering.
"Saya berharap banyak denganmu. Ingatlah ada tiga orang yang masuk ke babak final ini," ucap pak Hakim memberitahu.
Di waktu final ini, Fufy mengerahkan semua kekuatannya. Bersaing dengan atlet dari Singapura sendiri, membuat Fufy merasa tertantang.
Exposure. Fufy ragu-ragu untuk menjatuhkan dirinya. Setelah melewati daerah descent, akhirnya pengumuman juara terdengar.
"2nd place in the bouldering section, Fufy Camayra Kardhishashian from Indonesia!"
Fufy memeluk pialanya dan mencium medalinya. Ini impiannya sejak dulu. Awal yang akan menjadi harapan setiap harinya.
Fufy mengambil foto sebanyak-banyaknya. "FPTI, JAYA!!"
FPTI yang memiliki kepanjangan Federasi Panjat Tebing Indonesia.
...-----...
Malam persiapan kepulangan kembali ke Indonesia, semua berkumpul merayakan kemenangan. Termasuk Fufy, semuanya menggunakan pakaian unik sebagai kebebasan sekali.
"Habis ini, kita pesta bersama teman-teman lainnya." Semua bersorak senang.
Fufy memijat kepalanya yang terasa pusing. Walau merasa puas dengan keberhasilan hari ini, tapi tetap saja ada dampak. Fufy merasa tubuhnya lemas. Melihat itu, Ardha meneguk minuman bermerek itu sedikit, lalu menghampiri Fufy.
"Mau balik ke Hotel?" tanya Ardha perhatian.
Fufy mendongak, "Tidak. Aku masih ingin bermain."
__ADS_1
Ardha mengulurkan tangannya, tapi tampaknya Fufy mengartikan lain. "Selamat atas juara satunya. Kamu terbaik!" Fufy mengucapkan selamat.
Ardha tersenyum kikuk. Tidak menyangka akan mendapat penghargaan dari Fufynya. Telinganya sudah merah hanya karena kalimat sederhana itu.
"Kamu mau main ke taman sebentar denganku?" Fufy mengangguk menjawab.
"Eh?! Mau kemana kalian?" Ali mencegat keduanya, "aku ingin ikut!"
"Kau tidak diajak."
Wajah Ali berubah pias. Fufy tidak enak melihatnya. Dibanding itu, sebenarnya Fufy ingin berduaan dengan Ardha.
Fufy tidak bisa membohongi perasaannya.
"Kalau begitu aku titip beli makanan ringan, ya?" Ali berucap.
"Baik, boleh saja." Kemudian dengan cepat Ardha menarik tangan Fufy agar mengikutinya.
Ardha mengajak Fufy melihat pemandangan malam di taman. "Kamu lihat bintang itu?" Ardha menunjuk bintang di langit.
"Katanya bintang Cancer tidak berjodoh dengan Sagitarius."
"Hm?" Sejenak, Fufy mencerna arti kalimat yang dilontarkan Ardha.
"Selamat atas kemenangannya," ungkap Ardha sambil menatap Fufy.
"Tidak sebanding dengan emas," balas Fufy menipiskan bibirnya.
Pupil Ardha membesar, "Lalu kamu mau emas? Aku akan memberikannya."
Fufy terkejut mendengarnya. Bukan begitu maksudnya. Tampaknya, Ardha salah mengartikan.
"Jika suatu hari nanti kamu memanjat di tebing langsung, apakah kamu mau?" Fufy mengalihkan pembicaraan.
"Tentu, itu keinginanku." Ardha menjawab, "bagaimana denganmu sendiri?"
Fufy tersenyum, "Aku akan belajar terus sampai saat itu tiba."
Fufy tersenyum penuh makna. Ardha bertanya, "Aku lihat tadi kamu sibuk menelpon berjam-jam. Siapa yang menghubungi?"
Fufy menjawab, "Itu Ayah. Kamu memperhatikan rupanya."
Mereka terkekeh canggung. Ardha melihat-lihat deretan bintang. "Bintangnya cantik," ungkap Ardha.
"Iya, sangat cantik." Ardha menoleh dan menatap Fufy.
"Kalau terjadi masalah, katakan saja. Semasih bisa aku membantu, akan aku bantu," kata Ardha.
Fufy menggeleng pelan. Dia tidak mungkin menceritakan hal yang mungkin akan membuat Ardha sedih. Lain dengan Ardha, Fufy melihat bintang seperti memancarkan kesedihan untuknya.
"Ardha, aku mau jalan-jalan sebentar. Kamu mau nemenin?"
Ardha mengangguk semangat. Fufy menatap wajah Ardha lamat-lamat. Suatu hari nanti Fufy akan merindukan wajah itu.
...---...
Thank uuu sampai sini!! Aku berat banget nulis cerita ini. Bimbang karena chapternya terbilang sulit😤
__ADS_1
Tapi gapapa, aku harap kalian semua menyukainya 💗