CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 14


__ADS_3

Bagian Empat Belas: Sumpah Pemuda atau Sumpah kamu?


---


Fufy memberikan jepit kupu-kupu kepada Saraswati. Saraswati dengan telaten mengikat rambut Fufy rapi, lalu memasang jepit kupu-kupu pada rambut Fufy.


"Perasaan setiap hari motif kupu-kupu lo berubah selalu," celetuk Saraswati.


Fufy terkekeh kecil. Ini mungkin tidak ada yang tau, betapa bahagianya Fufy diberikan buket jepit kupu-kupu oleh Ardha. Tidak ada yang tau, bahwa setiap harinya Fufy kebingungan memilih jepit yang akan dipakainya. Semua bagus, indah.


"Aku memiliki stok yang banyak," kata Fufy menjawab pamer.


"Orang kaya," cakap Ranbi, "bukan begitu."


Saraswati menatap Fufy dengan senyum aneh. Fufy bertanya, "Kenapa?"


Saraswati menutup mulutnya sendiri, "Dari siapa itu, hayoo...,"


Fufy tidak tau kenapa, ketika Saraswati berkata seperti itu, pipinya sontak memerah. Dan parahnya lagi, Fufy merasa malu.


"Selesai!" Fufy kemudian berkaca pada cermin kecil.


"Cantik, terima kasih Saraswati." Saraswati tersenyum puas, "ayo, gantian siapa, ini, ayo."


Ranbi menggeser tempat duduknya. Wajahnya tampak ceria. Dia menggerai rambutnya yang tampak berkilau. "Aku, aku. Yang rapi harus, ya," ucapnya kepada Saraswati.


"Iya, siap tuan Putri Rambutan," balas Saraswati yang mendapat delikan.


"Buka salon lo?" Lontaran Levi menimbulkan tawa.


"Iya, nih. Mau gabung? Bayar 50ribu." Levi merenggut kesal, "hush, hush. Uang gue buat nonton bioskop bareng Andre."


Levi merangkul pundak Ranbi sejenak, lalu tersenyum bangga. "Hai, adik ipar," sapanya menggoda.


Bukannya mendapat restu, justru Levi mendapat penolakan yang menyakitkan. Ranbi memutar bola mata malas merespon Levi.


"Sabar, kak," kata Fufy pelan sambil menahan tawa.


Levi memainkan pita yang akan dipasang di rambutnya. "Py, tolong pasangin," pintanya kepada Fufy.


"Oh? Baik!"


Mada kemudian datang dengan membawa setumpuk kado. Berjalan dengan percaya diri, tentu itu menjadi sorotan orang-orang di Lapangan. Mata mereka berbinar-binar.


"Apa itu isinya?" Istri bertanya antusias.


Mada mengedipkan sebelah matanya, "Rahasia."


Fufy tersenyum geli melihatnya. Sejujurnya, hanya dia dan Ardha yang tau apa isi hadiah di dalamnya. Karena kemarin mereka membelinya bersama.


Fufy yang merasa dirinya ditatap, membalas tatapan Saraswati. Rupanya Saraswati mencurigainya. "Kasih tau, dong. Kalau emang menggiurkan, gue pasti berusaha semaksimal mungkin," ujarnya.


"Iya, kak! Kalau hadiahnya skincare, Santi pasti bakalan menang!" Santi berucap seru.


"Adik kecil jangan jadi tante girang dulu. Nanti kakak belikan boneka yang lucu," papar Levi kepada Santi.


Santi menyilangkan kedua tangannya kesal. "Aku anak SMP!" tegasnya.


Pak Bima yang sedari tadi menguping pembicaraan muridnya, berdehem membuat seluruhnya terkejut. "Pak Bima!" seru Santi berteriak.


"Ehem! Selamat hari sumpah pemuda anak-anak semua!" cakap pak Bima berwibawa.


"Too, Bapak!" balas mereka serentak.


Lantas pak Bima membagikan pita merah putih kepada seluruh atlet. Semua kebingungan, terutama yang laki-laki. Mereka bingung harus mengikat apa.


"Pak, saya botak. Gimana, neh?" Ali kebingungan.


"Apa kalian?!" Ali berteriak galak, "emang kenyataan gue botak! Kenapa? Lucu?!"


Mada yang berada di sebelahnya, mengusap kepala botak Ali yang mengkilap itu. "Ehei, emang lucu," jawab Mada menyengir.


Suara gelak tawa pun muncul. Ali memelototi semua atlet junior yang ikut menertawakannya. Bukan hanya para atlet saja, pak Bima—termasuk pak Indra juga ikut tertawa.


"Gue tebas lo!" Wajah ceria Santi seketika hilang digantikan dengan wajah yang menampilkan kesedihan.

__ADS_1


"Sudah." pak Indra menyudahi, "untuk pita yang sudah dibagikan, mohon dipakai, dilingkarkan ke kepala kalian. Kita akan membuat foto bersama."


Fufy tersenyum senang. Sebelum dirinya mengaitkan, ternyata sudah ada Ardha dibelakangnya membantunya. Spontan Fufy menoleh ke belakang.


Terlihat wajah Ardha yang tengah menyengir ke arahnya. Begitu manis. Fufy mengangkat jempol sebagai tanda terima kasih.


"Terima kasih, Penyemangat," ucap Fufy yang membuat Ardha justru menggaruk leher.


Ardha lalu memberikan pita miliknya kepada Fufy. "Minta tolong pasangkan, ya," ujarnya meminta lembut.


"Uhuyy!" Itu adalah suara Mada.


Wajah Fufy memerah padam. Sementara itu, Ardha kembali menggaruk tengkuknya seraya memalingkan wajah.


Mantra berdehem, "Awas Abdi cemburu."


Selesai memasang pita, tubuh Fufy tersentak ketika mendengar pernyataan dari Mantra. "Ya?" Fufy mengingat.


"Gak." Mantra menjauhi mereka.


Fufy merasa aneh akan sesuatu. Tangannya disingguk oleh Mada, membuatnya menoleh.


"Abdi cemburu, tuh, katanya." Suara Mada menganggu pikiran Fufy.


Tapi, masalahnya, dari mana Mantra tau, bahwa Abdi adalah pacarnya? Mungkinkah Mantra mengetahui sosok Abdi sebenarnya? Apakah mereka berteman, hingga tau?


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat salah paham." Mendengar kalimat itu, langsung membuat Fufy merasa bersalah.


Dia tau dirinya salah. Fufy memang memiliki banyak pacar. Tapi untuk itu, dirinya sendiri pun, bingung, entah siapa pemilik hatinya ini. Alasan yang membuat Fufy mempunyai banyak pacar, salah satunya untuk menjadi Penyemangat.


Penyemangat, bukan Ardha. Ardha berbeda. Dirinya tidak akan cocok menjadi pasangan Ardha.


Fufy tidak tau bahwa tanpa sadar dirinya menjauhi Ardha hari ini. Dan tanpa Fufy ketahui juga, rasa kecewa terpancar di wajah Ardha.


---


"Gilak kali?! Masa push up seratus kali?!" Sedari tadi Alin memprotes jenis lomba yang diadakan.


Wajahnya sudah masam. Dipastikan bahwa dia tidak akan mengikuti satupun perlombaan ini. Namun, tampaknya perkiraan Fufy salah.


Ada lima macam perlombaan yang diadakan. Yaitu lari push up, sit up, tarik tambang, lari keliling lapangan, dan lomba tanya jawab materi seputar panjat tebing.


Diantara lomba tersebut, yang paling sedikit peminatnya yaitu lomba tanya jawab. Jawabannya tentu karena mereka lebih tertantang dengan hal fisik. Dan yang paling banyak peminat diduduki oleh lomba push up dan sit up. Mereka tertantang karena semua atlet senior mengikutinya. 


"Baik, peserta push up ada Ali, Ardha, Mada, Sastra, Riska, Fufy, Saraswati, Levi, Mantra dan Istri." Pak Indra membacakan peserta lomba.


"Yoo, bersaing kita." Terpampang senyum menantang di wajah Levi.


Sementara lawan bicaranya, Sastra hanya melirik sebagai respon. "Woi, Kutub!" cecar Levi sangking kesalnya.


"Banyak ngomong," komentar Sastra membalas.


"Kelas!" Ali merangkul Sastra, "kita berdua cool, gak?"


Saraswati berdecih, "Najis! Masih dinginan es serut bang Toyib."


Perlombaan dimulai. Para peserta berjejer duduk di lapangan, menunggu aba-aba dari pak Bima. Pengurus ketertiban itu, berdehem sebagai ciri khas.


"Alin, bantu hitung, ya." Alin berdehem membalas perintah pak Bima.


"Yak, mulai!" Pak Bima berseru antusias, "satu, dua, tiga, enam, sebelas!" teriak para penonton berhitung.


Fufy berhenti sejenak, menetralkan napasnya. Detik kemudian, dia melanjutkan hitungannya yang sempat terhenti di hitungan ke tujuh puluh.


"Ya! Ardha juara pertama!" Sorakan terdengar. Tepuk tangan meriah diberikan kepada Ardha.


Tidak mengejutkan lagi bahwa disini Ardha terkenal sebagai sosok atlet sempurna. Bahkan dia selalu mengalahkan Levi, yang jabatannya paling tinggi disini.


"Ya! Levi menjadi juara kedua, diikuti oleh Fufy menjadi juara ketiga!"


Fufy langsung menjatuhkan diri ke rerumputan. Dia kekurangan oksigen. Napasnya terengah-engah. Fufy tersenyum kecil puas. Tidak memaksakan untuk menjadi urutan kedua, karena Levi memang pantas berada diatasnya.


"Selanjutnya, lomba sit up. Pesertanya yaitu Alin, Ardha, Ali, Edy, Dimas, Santi, dan Istri," ujar pak Indra.


"Energi kamu masih ada?" lontar Fufy bertanya kepada Ardha.

__ADS_1


Dengan keringat bercucuran di wajah, Ardha memperlihatkan deretan giginya menjawab. Tidak kuat untuk berkata, karena tampaknya peserta menyimpan suaranya.


"Semangat!" Ardha tersenyum ceria.


Awalnya terlihat jelas wajah Ardha sedih. Namun ketika mendengar satu kata dari mulut Fufy, tampaknya semua kekuatannya kembali terisi.


Dengan waktu tersisa untuk istirahat, Fufy dan Ardha duduk berdua bersebelahan dengan Alin. Alin menyodorkan sapu tangan miliknya kepada Ardha.


"Hapus keringetmu," kata Alin.


Ardha menatap sapu tangan pemberian Alin, lantas mengembalikannya. "Aku sudah bawa, terima kasih," aku Ardha menolak.


Ardha melirik Fufy yang sedang menatapnya juga. Dan untuk alasan sesuatu, Ardha terlihat seperti tengah meyakinkan Fufy. Fufy mengangguk pura-pura mengerti kode dari Ardha.


"Semua! Ya! Alin menduduki peringkat pertama!" Pak Bima berseru semangat.


"Yeah!" Alin melompat kesenangan.


Tidak diragukan lagi, bahwa ketahanan tubuh Alin sangatlah kuat. Dia mendapat juara pertama, diikuti oleh Ardha, dan terakhir oleh kembarannya, yaitu Ali.


"Sayang, kamu hebat banget!" Mada berseru menyapa Ardha.


Ardha mengangkat kepalan tangannya ke arah Fufy sebagai tanda kemenangan. Fufy tersenyum mengangkat kedua jempolnya membalas.


"Cih, dikacangin akunya." Mada menampilkan wajah sedih.


"Terima kasih, kawan," balas Ardha selesai berbicara dengan Fufy.


Mada merenggut kesal, "Cuek sama temannya dia sekarang tau, But. Kelewat tolol suka sama orang yang udah punya pacar."


Ranbi yang menjadi sasaran kekesalan Mada, tersenyum tipis merespon. "Rasa suka wajar," ucap Ranbi singkat menjelaskan.


"Habisnya kak Fufy gak pekaan," celetuk Riska menimpali.


"Apa, Fufy terus?" Sontak wajah Riska pucat.


Ardha menatap Riska menuntut penjelasan. Akibat ditatap tajam, Riska merasa gugup sampai gagap berbicara dengan Ardha.


"G-Gak kok, kak. Hehe, bercanda. Tapi bener, 'kan?" Setelah menyengir, Riska langsung lari terbirit-birit menemui Fufy meminta perlindungan.


Pak Indra mengangguk mengerti, "Nanti sisa uangnya kirim ke pak Bima, ya, Py."


"Baik, Pak, dimengerti." Fufy menunduk hormat, lalu membalikkan badannya.


Sempurna, Fufy dan Riska bertabrakan. Fufy mengelus-elus hidungnya yang menjadi korban tubrukan. Sementara Riska mengerjapkan matanya, mengecek, karena matanya itu menjadi korban.


"Maaf," ucap Fufy cepat.


Riska menunduk, "Maaf, kak. Tadi kurang persiapan melangkah."


Fufy menatap Ardha yang berada di seberangnya. Tanpa bertanya lebih lanjut, Fufy bisa menduga alasan Riska mendekat kepadanya.


"Lomba yang terakhir, lomba tanya jawab. Aduh, sayang sekali ini pesertanya hanya ada tiga. Ardha, Fufy dan Ali. Beri semangat untuk mereka!" Pak Indra bertepuk tangan diikuti oleh para atlet lainnya.


Lomba diadakan di ruangan terbuka. Lapangan adalah tempat ternyaman membuat otak menjadi segar. Fufy duduk diantara Ardha dan juga Ali. Ketiganya diam, mengumpulkan materi yang sempat menghilang dari otak.


"Baik, pertanyaan pertama, dimana perlombaan panjat tebing internasional pertama kali diadakan?"


Deg. Mata Fufy membulat. Ketegangan menyelimuti seluruh tubuhnya. Melirik kertas Ardha, rupanya Penyemangatnya itu sangat cepat. Melirik lagi kertas Ali yang sudah terisi, membuat Fufy setengah menyesal.


"Siapa tokoh yang mencatat rekor tercepat dalam olahraga panjat tebing?"


Ketika pertanyaan terakhir terucap, pikiran Fufy tiba-tiba kosong. Tetapi keberuntungan berada dipihaknya. Fufy mendapat juara pertama, yang berhasil menjawab delapan belas pertanyaan dengan benar. Sementara Ali kedua, dan Ardha terakhir dengan selisih jawaban sama. Hanya kekurangan Ardha yang kurang tepat menjawab nama tokoh tersebut dengan lengkap.


"Eh, ini serius?" tanya Fufy tidak percaya.


Cekrik!


Bunyi rana terdengar. Perlombaan sebagai peringatan hari sumpah pemuda telah selesai. Para atlet berseru senang karena puas akan hari ini. Antara puas libur latihan, atau diadakannya perlombaan ini, semua menyimpan foto yang telah dibagikan.


"FPTI, JAYA!!"


----


Terima kasih sudah membaca chapter ini!💓🥳

__ADS_1


FPTI JAYA, JAYA, JAYA!🌸❤️


__ADS_2