![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Enam Belas: Yang Baru?
...---...
Fufy memilih daftar menu dengan teliti. Cukup sulit memilih menu yang akan ia pesan diantara banyaknya menu yang menggiurkan. Sesuai apa yang ia minta kepada Amara kemarin malam, kini Fufy sudah berada di dekat Kantor Ayahnya, Camara. Dia mampir sebentar untuk membeli minuman yang akan dia berikan kepada sang Ayah.
"Rasa anggur?" Fufy mengiyakan, "jarang sekali yang memesan rasa ini. Maaf, hari ini kami tidak menyediakan rasa anggur," ungkap Penjual.
"Baik, kalau begitu rasa mangga, ada?" tanya Fufy kemudian.
Sang Penjual mengangguk mantap. Secara cekatan dia mulai menyiapkan minuman yang dipesan Fufy. Fufy membayar pesanannya ketika sudah datang. "Terima kasih," kata mereka bersamaan.
Fufy mengambil uang kembalian sambil mencicipi rasa dari minuman itu. Bos besar penjual minuman ini tidak lain adalah Cakra Argamentasi. Cabang mereka sudah tersebar dimana-mana. Namun untuk pribadi, ini pertama kalinya Fufy mencicipinya.
"Eh, Nona! Bukunya ketinggalan!" teriak sang Penjual sontak membuat Fufy memutar badannya.
Bukan sebuah buku biasa. Yang dirinya lupakan adalah sebuah dokumen. Dokumen penting yang mengantarkan dirinya tiba di sebuah gedung besar di depannya ini. Sebuah gedung yang mempunyai panca warna.
Meski bukan kantor kesenian, tapi di dalamnya penuh dengan lukisan-lukisan indah dan ternama. Fufy berjalan sembari mengamati satu persatu lukisan di dinding lantai kedua.
Abdi
Hari ini kamu tidak latihan?
Fufy hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Abdi.
Abdi
Sayang, kamu bisa kirim foto?
Dan disini Fufy secara sengaja langsung memblokir nomor Pacarnya itu sementara. Fufy berniat untuk memutuskan hubungan dengan Abdi, karena setiap hari meminta data pribadinya.
"Ada apa?" sosor Camara ketika Fufy baru sampai di ruang kerjanya.
Fufy menelan ludah, "Fufy bawain jus mangga favorit Ayah."
Mata Camara menatap putrinya nyalang. Wajahnya yang tegas sangat mendeskripsikan kesuksesannya hari ini. Atasan yang terkenal galak menurut para karyawan disini.
__ADS_1
"Ayah sudah baca pesan dari Astina. Jika memang niatmu kemari hanya untuk meminta Ayah pulang, segera kembalilah. Kamu tidak membawa apapun," ujar Camara tanpa menatap Fufy.
"Tidak begitu. Fufy membawa sesuatu kesini." Camara terkekeh, "jus murahan ini maksudmu?"
Fufy mengeluarkan dokumennya, lalu menaruhnya ke meja Ayahnya keras hingga menimbulkan suara. Melihat itu, tangan Camara beralih ke dokumen yang diberikan oleh Fufy. Rahangnya mengeras. Darah mendesir naik ke wajah Camara. Fufy memberanikan dirinya mengangkat dagu menatap sang Ayah.
"Beberapa waktu lalu Fufy menemukan obat tidur di dalam botol skincare kak Astina. Tidakkah Ayah tau?" Camara terdiam.
Fufy merapatkan bibirnya ketika tanpa diduga, Camara menutup wajahnya dengan wajah memerah. Memandang wajah pucat sang Ayah, Fufy menundukkan kepalanya menatap sepatunya.
"Dia tidak pernah bersosialisasi. Bagaimana bisa dia memiliki kecemasan mental seperti ini?" gumam Camara penuh kebingungan.
"Ayah tau, kalau tanpa Ayah, bagaimana keadaan rumah? Ibu yang mencuci semua pakaian keluarga, memasakkan makanan sambil bekerja. Mengurus ketiga anaknya yang tertutup. Lalu kenapa Ayah buta disini pura-pura seolah tidak mengerti apa yang telah terjadi." Dengan tangan bergetar Fufy memberanikan diri berbicara dengan Camara.
"Lancang sekali—" mata Camara merah, "lancang bagaimana, Yah? Fufy ingin Ayah tau. Apa begitu susah membuat Ayah pulang selesai bekerja? Jika terhambat oleh uang, Fufy punya uang hasil lomba. Kalau keterbatasan waktu, Fufy bisa jemput Ayah kapanpun Ayah selesai kerja."
Camara melempar kertas yang diberikan Fufy. Menghela napas panjang, Camara mengetuk jarinya di meja seperti sedang berpikir sesuatu. Fufy merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ayahnya ini. Sesuatu yang membuat Camat enggan pulang ke rumah.
"Pulang dan latihan. Jangan lupakan syarat yang Ayah kirim. Sebelum ada kemajuan di ranking pararel, jangan harap kamu melihat wajah Ayah. Tidak ada yang bisa bertemu sebelum membuat janji," kata Camara lugas.
Pelan-pelan Fufy berjalan lemas. Rasa kecewa hadir di benaknya. Walau sudah mempersiapkan hal ini, tetap saja Fufy merasa tidak menyangka sifat Ayahnya itu. Camara tidak akan tau, jika sebelum bertemu dengannya, anaknya ini berlatih berbicara dengan cermin.
...---...
"Perhatian semua. Hari ini kami akan mendata semua siswa yang wajib mengikuti mapel tambahan," ucap Ardi—Ketus OSIS.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara gemuruh yang lebih berisik. Sebagian siswa memprotes dengan adanya tambahan kelas. Dan Fufy adalah salah satu siswa yang memprotes itu.
"Kak! Kita pulang jam 4! Mau ditambah berapa jam, nih?!" tanya Yoga dari bangku belakang.
"Hanya ditambah satu jam. Mohon pengertiannya," jelas Ardi dengan wajah datar.
"Halo, Fufy," sapa Agam menghampiri bangku Fufy.
Fufy lupa menceritakan. Akhir-akhir ini Agam suka sekali mengirim pesan genit kepadanya. Bukan tidak tau maksudnya, tapi Fufy heran saja. Agam ini mirip seperti dirinya. Memiliki banyak perempuan, tapi berlindung pada satu hati. Fufy mengakuinya.
"Balas chat aku, dong." Agam menarik turunkan alisnya.
__ADS_1
Akibat tingkahnya itu, seluruh siswa jadi menyoraki Fufy. Sementara itu, dari kejauhan ada sepasang mata yang sejak tadi mengamatinya.
"Nanti, kak," balas Fufy memberikan senyum tipis, "tapi nomor kakak udah kamu simpan?"
"Sudah," jawab Fufy dengan arah mata berkeliling. Dia merasa tidak nyaman.
"Siapa namanya?" Agam kembali bertanya, kemudian badannya memundur karena Ardi menarik bajunya dari belakang.
"Jangan semena-mena," ucap Ardi penuh penekanan.
Fufy menatap Ardi berterima kasih. Berkatnya, Fufy bisa sedikit menjauh dari Agam. Itu lebih baik daripada pacaran dengan cowok seperti itu.
Tapi entah kenapa, tidak bisa. Faktanya, dalam seminggu terakhir Fufy uring-uringan tidak jelas akibat tidak bertemu dengan Ardha. Absen Ardha kosong, membuat Fufy merasa kehilangan semangat latihannya. Tapi tidak sepenuhnya, karena dia mulai nyaman dengan keberadaan Agam.
Agam yang menurutnya cukup baik. Bahkan setelah pulang sekolah, beberapa kali menawarinya untuk pulang bersama. Namun, Fufy tolak.
Fufy merasa kurang cocok. Apalagi dengan situasi kurang enak memiliki pacar seperti Ardi yang tidak jelas, Abdi yang mencurigakan membuat Fufy malas.
Seperti sekarang. Maunya latihan dengan semangat membara, tapi tiba-tiba saja semangatnya menghilang.
Abdi
Aku kangen, sayang.
Kirim foto random yang banyak hari ini, plissss
Sayang ayo kirim pesan suara🥺🥺
Lantas Fufy mengirimkan satu foto tentang pemandangan orang yang tengah pemanasan di Lapangan. Rasanya ingin memblokir nomor Abdi kembali. Karena akibat itu, Fufy mengurungkan niatnya. Rupanya Abdi menganggu media sosial Amara dan Astina.
Sedang memikirkan cara untuk mengakhiri hubungan dengan Abdi, mata Fufy melebar ketika melihat objek menarik. Bukan, apa itu benar Ardha? Penyemangatnya?
Suasana hati Fufy seketika berubah membaik.
...---...
Haloo! Gimana menurut kalian karakter Fufy?
__ADS_1
Kurang baik? Ini berdasarkan karakter orang jaman sekarang karena rata-rata begini, hehe😁