![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Lima Belas: Rasa Bosan
Selamat membaca!💗
...----...
Hari ini Fufy kembali belajar private bersama Ketua OSIS. Dalam beberapa menit Fufy menunggu dengan sabar kedatangan Ardi. Kehadiran jadwal hari ini bertabrakan dengan jadwal les. Rencananya setelah les Fufy mampir pulang dulu, kemudian menyiapkan hadiah untuk Penyemangatnya.
Ya, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Penuh bersyukur karena rajutan yang ia buat selesai tepat waktu. Kemarin Fufy begadang menyelesaikannya.
"Eh, nunggu siapa?" Suara seseorang mengagetkan Fufy.
Di ruangan sepi seperti ini, apalagi tanpa adanya para siswa di sekitarnya, membuat Fufy mencurigai lelaki didepannya ini.
"Siapa?" balik Fufy bertanya.
Lelaki tersebut mendekat, lalu menarik kursi di sebelah Fufy. Sepertinya dia orang penting sehingga dapat masuk ke ruang OSIS seperti ini.
Lelaki itu menjulurkan tangannya, "Kenalin, Agam. Wakil ketua OSIS Academy Trian."
Mata Fufy melebar, tertarik dengan lelaki yang bernama Agam ini. Tidak disangka dirinya akan berbicara langsung dengan sang wakil OSIS. Disini memang segala yang menyangkut dengan OSIS dirahasiakan.
"Oh, Fufy." Agam dan Fufy berjabat tangan.
"Ehem!" Deheman serak itu mengejutkan keduanya.
Ardi telah datang. Mata Ardi menyorot ke arah Agam nyalang. Matanya seolah menyuruh Agam untuk segera keluar dari ruangan ini. Dan tentu saja, itu berhasil. Tanpa berbasa-basi lagi, Agam segera keluar dari ruang OSIS.
Selanjutnya, dengan cepat Fufy mengeluarkan bukunya. Begitu juga dengan Ardi yang menaruh setumpuk buku di meja.
"Hari ini matematika." Kalimat keramat itu keluar, membuat Fufy seketika merinding.
Fufy lantas mengambil buku matematika miliknya. Matanya melirik buku matematika milik Ardi. Sungguh tebal. Tidak Fufy bayangkan, bagaimana si Jenius ini mempelajari semuanya.
"Nomber 3 benar tidak mengerti?" tanya Ardi yang dijawab anggukan oleh Fufy.
Ardi menarik napas panjang, "Kalau begitu, kerjakan soal ini."
X²+(y-³√X²)²\=1
Materi yang Fufy sangat pahami tanpa mencoreti kertas untuk menjawab. Fufy berpura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
Apa maksud pertanyaan ini?
"Sebelumnya kamu meminta saya untuk mengakhiri hubungan ini, bukan?" Ardi menatap Fufy intens.
Ardi memberikan soal yang jawabannya serupa lagi. "Saya memang cuek di media sosial. Tapi, saya harap kamu mengakhiri hubungannya hari ini," terang Ardi.
Fufy terdiam sejenak. Berusaha mencerna maksud kalimat yang Ardi paparkan kepadanya. "Lalu apa arti soal ini?"
Ardi menutup bukunya, "Rahasia."
Bukannya tidak mengerti. Ini berbeda dengan jawaban yang benar. Kebalikan dari lontaran Ardi berikan.
"Kamu benar tidak mengerti?" tanya Ardi memastikan, "y-ya. Ini susah."
Kalau sudah begini, Fufy kebingungan sendiri mengambil tindakan. Hari ini Ardi sangat aneh dengannya.
...---...
Fufy menatap satu persatu orang yang ada di Lapangan. Menaruh tasnya, Fufy berkeliling untuk mencari sosok yang dicarinya. Setelah melihat Mada bermain berdua dengan Ali, mulut Fufy terkatup.
"Hari ini Ardha tidak ada, ya?" Alin bertanya kepada Mada.
Fufy berkeliling lapangan dengan pikiran kosong. Tidak biasanya Ardha absen latihan. Jarang sekali, bahkan dalam tiga bulan, dia hanya pernah absen satu atau dua kali. Ini adalah hari bersejarah, tapi dia tidak datang.
Alin berlari bersamanya. Mengejutkan karena Alin jarang latihan. Namun akhir-akhir ini, Alin nyaris tidak pernah absen. Bahkan untuk berlari saja, kekuatannya menyaingi Fufy.
"Kuat?" tanya Alin rendah terdengar meremehkan.
Fufy menggerakkan kakinya mendahului Alin. Kalimat singkat dan enteng sangat mempengaruhi suasana hatinya. Maka dari itu, sebisa mungkin Fufy menjauhi hal yang bisa membuat dirinya sedih.
Fufy menghentikan langkahnya ketika Alin menarik tangannya. Secara bersamaan, langkah mereka berhenti.
"Hei, tau alamat rumah Ardha?" sosor Alin bertanya.
Wajah Alin terlihat antusias membahas terkait tentang Ardha. Jarang sekali Fufy melihat Alin tersenyum seperti ini. Apakah Alin tertarik dengan Ardha? Ah, tidak mungkin. Fufy segera menghapus pemikirannya.
"Maaf, Fufy tidak mengetahui." Fufy menoleh kearah Mada, "mungkin Mada tau."
Alin menghapus keringatnya, kemudian segera berlari menghampiri Mada. Tingkah itu menyorot Fufy. Ada rasa kesal ketika mengetahui ada perempuan yang menyukai Penyemangatnya.
Detik selanjutnya, Fufy menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya dirinya memikirkan hal konyol seperti itu. Itu hak orang. Kenapa harus ia kesalkan?
__ADS_1
Menyimpan kembali kado yang seharusnya dia berikan hari ini, mungkin tahun ini Fufy belum bisa memberikan secara khusus. Mungkin saja hari ini Ardha sibuk merayakan hari bahagianya bersama keluarga. Ardha merayakan ulang tahunnya.
...--- ...
Fufy menarik pintu kamar Astina secara pelan. Mengatur suara yang dihasilkan, akhirnya pintu berhasil terbuka. Tetapi sayang, tubuh Fufy menegang melihat sosok kakaknya-Astina yang tengah duduk melihatnya.
"Halo, kak," sapa Fufy tersenyum manis.
Secara reflek, Fufy menyembunyikan setumpuk buku yang dibawanya ke belakang badannya. Mata Astina menelisik tingkah Fufy yang aneh tanpa berbicara sepatah katapun.
Fufy menelan ludahnya. Tidak ada salahnya jika hari ini dirinya mengakui. Lantas Fufy menaruh buku yang dibawanya ke dalam rak buku Astina.
"Jadi gini, Fufy dibeliin buku sama temen manjat. Nah, kebetulan orangnya berkecukupan, terus dia beliin buku buat kak Astina. Dia belikan karena-" Ucapan Fufy terpotong ketika melihat reaksi Astina.
Astina menutup bukunya, lalu menjalankan rodanya mendekat kearahnya. Matanya mengamati buku-buku yang telah diberikan Fufy kepadanya.
"Kakak suka?" Fufy berucap ceria, "Fufy sering baca buku di kamar kak Astina, hehe. Suka banget baca astrologi ramalan zodiak. Rasanya bikin kepedean Fufy meningkat," ujar Fufy secara jujur.
Namun Astina hanya bergeming. Tanpa berbicara, telunjuk tangannya menunjuk kearah pintu. Itu tanda Astina mengusirnya.
Wajah Fufy meredup, "Kak, kalau kakak suka, Fufy bisa belikan lagi. Nanti kita baca buku bareng-bareng."
"Seru tau ternyata baca buku seperti itu. Fufy jadi lebih tau karakter sifat para zodiak. Benar ataupun tidak, Fufy bisa berhati-hati." Astina menatap Fufy tajam.
Dengan berat hati, Fufy menutup kembali pintu kamar Astina. Wajahnya cemberut. Ingin rasanya ia mendekati Astina, bercerita tentang hal apapun itu, seperti layaknya hubungan adik kakak yang harmonis.
Melewati kamar Amara yang kosong, Fufy merasa perasaannya mulai berkecamuk. Dia tidak suka perasaan ini. Perasaan yang memintanya untuk kembali lagi ke kamar Astina, dan memulai pembicaraan lelucon. Lelucon yang menghantarkan tawa.
"Ngapain? Minggir." Suara tegas itu milik Amara.
Rupanya Fufy telah menghalangi jalan Amara. Dengan cepat kemudian Fufy memundurkan tubuhnya, memberi jalan kepada Amara. Begitulah suasana di keluarganya. Tidak senyaman rumah orang, tapi hanya ini satu-satunya yang Fufy miliki.
"Amara," panggil Fufy, "kalau tidak sibuk, boleh aku minta jadwal Ayah besok?"
Amara diam. Beberapa saat mereka saling menatap dengan mulut tertutup. Lalu, Amara berdehem memberi kenyamanan suasana.
"Aku sibuk. Nanti kukurim dari chat," jawab Amara singkat, kemudian masuk ke kamarnya.
Fufy menarik napas panjang. Matanya menatap satu persatu kamar saudarinya. Lihat saja, akan Fufy buat Ayah kembali ke rumah secepatnya.
...---...
__ADS_1