![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Delapan: Bagaimana Kesempurnaan Itu?
...---...
Ruang gimnasiun berada di sebelah tempat panjat tebing. Sebetulnya, sudah lama Fufy tidak berolahraga sekeras ini. Jujur, Fufy tidak terlalu menyukainya. Ini karena beberapa hari lagi dirinya akan mengikuti lomba. Tentu ketahanan otot harus ia jaga.
Fufy berolahraga bersama kedua temannya. "Gue harap bulan ini, lembaran kisah cinta gue terbuka," seru Saraswati berkata.
"Semoga," jawab Fufy dan Ranbi ditengah pengambilan napas panjang.
"Cobain dekat dengan Virgo. Kamu pasti akan tertantang," ujar Fufy.
"Virgo kenapa?" Saraswati bertanya, "dia zodiak paling susah didapatkan hatinya sebab selalu menuntut kesempurnaan."
Ranbi menaruh barbel, "Itu mending cairin hatinya Davan."
Spontan Fufy yang sedang melakukan montain climber, menendang kaki Ranbi. Ranbi menoleh, lalu tertawa kecil.
"Bercanda. Habisnya kamu udah punya Abdi sama Ardi. Aku bagian Davan. Dia romantis." Fufy menatap temannya nyalang.
Fufy mengisyaratkan, "Niat sekali lagi, kita musuhan."
Ranbi hanya memperlihatkan deretan giginya sebagai tanda mengalah. Sementara Saraswati sedang sibuk berpikir. "Ah, bodo amat. Zodiak Virgo siapa dia?"
"Benar. Kamu pasti akan mengucapkan itu. Karena kamu Aquarius, bukan?" Saraswati menyilangkan kedua tangannya.
Saraswati menaikkan kedua alisnya, "Kenapa Aquarius?"
Fufy berpikir sebentar. "Dia zodiak paling cuek. Paling bodo amat kalau diartikan," jawabnya.
Fufy kalau sudah membahas tentang seputar zodiak, dia maju paling depan. Sangat mempercayai ramalan, dan paling membuat Fufy percaya diri jika ramalan itu baik baginya.
Menurutnya, dengan mengetahui zodiak apa yang dipunyai seseorang, tidak perlu lagi untuk mendekati atau mencurigai orang demi mengetahui sifatnya.
Karena Fufy juga manusia. Kadang seperti permukaan laut yang dangkal.
Saraswati memalingkan wajahnya. "Duh, apa iya? Tapi gue emang cuek, sih." Ranbi menatap Saraswati mengejek.
"Diakui bukan mengakui," katanya membuat Saraswati menatapnya kesal.
"Aku juga cuek sebenarnya," kata Ranbi setelahnya, "tidak. Di dalam zodiak, Libra adalah zodiak paling friendly, Ranbi."
Saraswati tertawa mengejek, "Muka kalem ternyata friendly juga."
"Kan harus. Supaya bisa bersosialisasi dengan semua orang," lontar Ranbi.
"Benar. Jadi ayo, lakukan sebanyak 50 kali." Ajakan Fufy sontak membuat kedua temannya membulatkan matanya protes.
Ranbi mengambil barbel, "Aih, jangan. Mending aku angkat barbel aja."
Saraswati menggeleng tidak setuju. "Eh, harus adil, loh, ya. Fufy aja udah melakukan montain climber sebanyak 100 kali lebih," ucap Saraswati.
"Tapi barbel beratnya 5kg lebih." Fufy menggeleng, "atur kalian aja. Yang terpenting pinggang impian kalian terwujud."
Mendengar itu, Ranbi segera menjatuhkan diri ke lantai, dan langsung mengikuti Fufy dan Saraswati yang tengah melakukan gerakan montain climber.
"Aku ikut!" Kaki Saraswati menyentuh kepala Ranbi, "munduran dikit. Gue kentutin lo, mampus."
__ADS_1
Ranbi terduduk, lalu menutup hidungnya. Merasa, Saraswati segera bangkit dan ikut duduk. "Apaan sih, lo. Belum aja gue kentutin beneran," kesalnya.
Tingkah Ranbi semakin menjadi-jadi, "Eh, Fy. Jangan terlalu ambis begitu. Kamu pasti bisa bertanding melawan Mantra."
Sontak Fufy menghentikan kegiatannya ketika mendengar perkataan Ranbi. Apakah sangat terlihat? Fufy mengakuinya.
"Aku kurang yakin," gumam Fufy, "kenapa tidak yakin? Justru kamu akan kelelahan jika memaksakan diri seperti ini. Lihat, nanti yang ada kamu kecewa sendiri," kata Saraswati.
Fufy terdiam. Yang dikatakan Saraswati memang benar. Mantra akan menjadi timnya yang mewakili daerah ke tingkat provinsi. Fufy tau tidak boleh memaksa, seperti ucapan Saraswati barusan. Namun, jika dia kalah dalam non akademik, maka dia harus unggul di akademik.
"Iya, semoga saja."
...--- ...
Fufy memandang surat di meja ruang tamu dengan tatapan tajam. Dia mengambilnya, kemudian membaca sekilas isi surat, setelahnya, Fufy robek.
Di sudut ruang tamu, Fufy melirik kakak pertamanya yang tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Fufy tersenyum menyapa, tetapi wajah kakaknya datar.
"Selamat malam kak Astina," sapa Fufy yang sebenarnya dia tau tidak akan dibalas.
Karena Astina menyembunyikan suaranya. Astina mengalihkan pandangan dan menatap pintu. Kursi roda yang awalnya diam, bergerak berjalan mendekati pintu rumah. Fufy menunduk, menunggu pemandangan selanjutnya.
Datang Asti bersama Amara—Adik yang selisihnya setahun dengan Fufy. Fufy meringis ketika rambut Amara dijambak oleh Asti.
"Amara!" teriak Asti sembari menyeret anaknya, "Bu..., maaf."
Amara terduduk dengan kaki bengkak, "Maaf ibu, jangan hukum Amara."
Asti mengepalkan tangan sambil menangis. "Bukan. Maafkan Ibu. Seharusnya kamu tau tidak boleh menuntut Ayah di kantor. Apalagi kamu tau, ayah sedang sibuk," tekan Asti.
Tanpa berkata, Astina menuruti perintah dari sang Ibu. Fufy menatap kepergian sang kakak dengan wajah kosong.
"Kenapa bisa angka 75 kamu dapatkan?" sosor Asti setengah berbisik.
Amara menunduk, "Seharusnya kamu tau bagaimana akhir jika nilaimu turun. Minimal akademik, baru ke bulu tangkis. Mimpi ketinggian."
Asti mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan kedua anaknya. Sebelum masuk kamar, Asti berkata, "Evaluasi materi geografi untuk tahun depan. Fufy, siap-siap kecewakan Ibu?"
Spontan Fufy menggeleng, "Pupy berusaha maksimal."
Lalu, terdengar suara pintu tertutup keras. Setelahnya, suasana ruangan menjadi hening. Perenungan sangat dibutuhkan untuk menenangkan pikiran. Fufy ingin mengajak adiknya, Amara untuk berbincang. Namun, ini bukan waktu yang baik.
Setelah Asti masuk kamar, kini disusul oleh Amara masuk ke kamarnya dengan setumpuk buku di tangannya. Fufy merapatkan bibirnya.
Fufy duduk di sofa ruang tamu sendiri. Matanya menyapu barang-barang yang ada di ruang tamu. Tidak ada yang menarik. Bahkan televisi yang seharusnya ada, umumnya dipajang, tidak ada di rumahnya. Jadi ketika bersuara di kamar paling ujung pun, terdengar.
Sekarang Fufy mendengar suara raungan dari kamar sang Ibu. Tidak mengagetkan lagi. Ini terjadi setiap malam. Fufy ingin menyembuhkan, tetapi dia tidak bisa melakukannya.
Di surat tertulis,
Ayah menantikan pengumuman juara 3 pararel terdapat nama kamu. Panjat tebing selanjutnya harus mendapat peringkat pertama. Siap di posting di media sosial?
Begitu obesesi dengan kesempurnaan. Anak pertama harus rajin, penurut dan mengalah dengan adik-adiknya, dan dituntut sehat. Anak kedua yang dituntut untuk sempurna di bidang panjat tebing. Dan anak ketiga harus sempurna di bidang akademik.
Hadiahnya tidak banyak. Hanya kebahagiaan. Jika ketiga anak memenuhi permintaan sang Ayah, maka tanpa diminta sekalipun, Ayah akan pulang ke rumah dengan senyum bahagia. Senyuman yang akan membuat Istrinya tenang, anaknya nyaman dan tentu bahagia.
Namun kali ini, tidak ada hasil untuk memenuhi ketiga permohonan tersebut. Penuh dengan tantangan, karena semakin dewasa semakin banyak saingan. Fufy lari keliling komplek untuk mengalihkan permasalahan yang hadir di keluarganya.
__ADS_1
Melihat orang-orang yang berkumpul dengan anggota keluarganya, Fufy cemburu. Bolehkah ia menginginkan hal yang sama? Sempurna dalam semua hal, yaitu bahagia bersama keluarganya.
Langkah Fufy terhenti ketika sudah sampai di depan rumah. Ada banyak hal yang Fufy pikirkan, namun ketika dia masuk ke dalam rumah, Fufy kira masalahnya sudah selesai.
Di luar kamar Asti, terdapat Astina yang duduk di kursi roda seraya membaca buku. Matanya kemudian terpejam.
Fufy melepas sepatu, kemudian menghampiri sang kakak. Sebegitukah Astina membencinya? Hingga ketika Fufy datang, dia berpura-pura tidur? Mata Fufy memanas.
Fufy berjongkok, menatap kaki Astina yang semakin hari semakin besar. "Kak? Boleh Fufy pinjam bukunya?"
Fufy mengambil buku dari tangan Astina, lalu menggunakan buku itu sebagai penutup wajahnya. Fufy dan Astina menangis tanpa suara.
...---...
Sesuai dengan permintaan dari sang Ayah. Tentunya tidak lupa dengan tuntutan dari diri sendiri. Sepulang sekolah, Fufy langsung pergi ke tempat latihan tanpa makan terlebih dahulu. Bukan lupa, tapi waktunya sangat terbatas. Karena setelah ini, dia harus belajar untuk persiapan ulangan tengah semester.
Ardha datang dengan dua buah sosis bakar di tangannya. Wajahnya menatap Fufy sambil menggoda.
"Enak banget. Matangnya sempurna," cakap Ardha dengan mata berbinar-binar.
Fufy ingin mengalihkan pandangan. Tapi, sebaiknya jika dia lebih baik tergoda. Bohong jika Fufy tidak merasa lapar. Selanjutnya, Fufy dengan cepat mengambil sosis bakar dari tangan Ardha.
Ardha mendekat, "Ini namanya pencurian."
"Makasih, Penyemangat." Fufy merogoh kantong celananya, "Harganya 5ribu 'kan? Ini."
Si Penyemangat—Ardha tertawa. Manis sekali. Bahkan tawanya saja berat, khas begitu. Fufy mengigit potongan sosis akibat gemas sendiri.
"Tidak perlu. Ini sebagai bahan semangatmu. Sosis ini akan mendukungmu." Kepala Fufy memiring.
"Kamu tau? Ini bisa memicu kanker karena mengandung zat karsinogenik," jelas Fufy membuat Ardha mengambil kembali sosis bakar miliknya.
Ardha menatap sosis sedih, "Tapi ini sudah di makan, ya? Kok dia jadi pendek?"
Fufy berkacak pinggang. "Maaf? Jelas tadi aku makan itu!" lontar Fufy kesal.
Ardha kembali tertawa membuat Fufy memicingkan mata curiga. Ada apa dengan Ardha hari ini? Terlihat sangat aneh.
"Kamu tidak ikut tertawa? Senyum dong minimal." Fufy menatap Ardha lekat.
Kemudian, Fufy menggeleng kecil, "Garing. Aku habisin, kamu juga habisin cepet."
"Iya, yang makannya cepet." Fufy menatap Ardha kembali.
"Kamu kenapa?" Ardha tersenyum, "kamu yang kenapa?"
Fufy segera mengunyah sosis bakar sampai habis. Dia diam-diam melirik Ardha yang sedari tadi menatapnya dalam. Fufy bukannya tambah salah tingkah, tapi semakin curiga. Kenapa Ardha menatapnya seperti itu?
"Fufy, Mantra sudah datang."
Perkataan Levi sontak membuat jantung Fufy bergetak cepat. Fufy beranjak, tetapi tangannya di tarik oleh Ardha. Ardha berdehem keras.
"Kamu.., harus bisa, ya."
Entah kenapa telinga Fufy menerima seperti terdengar tuntutan. Fufy mengangguk sembari tersenyum.
...---...
__ADS_1