![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Empat: Kehidupan Idaman
...---...
Terjadi kecanggungan diantara Fufy dan Ardha. Tadi, Mantra dibuat kehilangan kata-kata oleh Ardha. Kalimat yang Ardha lontarkan sangat pedas. Fufy sendiri pertama kali mendengarnya.
Sudah lama sejak kepergian Mantra, kini hanya tinggal mereka berdua di Lapangan. Dibantu oleh cahaya bintang, Fufy bisa melihat kepala Ardha yang tidak mengenakan topi pemberiannya.
Tidak bisa menyembunyikan kekecewaan, Fufy beranjak memilih menunggu jemputan di jalan. Ayahnya pasti sedang menjemput Amara dari les. Fufy akui Ayahnya sudah berubah banyak.
"Sudah jam 8." Fufy terkejut Ardha malah mendorong motornya dan mengikutinya.
"Aku anterin sampai rumah," ujar Ardha, "jangan menolak, ya?"
Fufy menghentikan langkahnya. Dia tidak melihat secara jelas wajah Ardha, tapi yang jelas suara Ardha khas seperti orang ketakutan.
"Motor kamu kehabisan bensin?" Fufy bertanya.
Aneh sekali jika Ardha menawarkan tumpangan, sementara dia sendiri tengah mendorong motornya yang seperti dalam keadaan rusak.
Ardha berdehem keras, "Mengertilah, ini untuk mengajakmu."
"Maksudnya?"
Lantas Ardha menyalakan motornya, kemudian mengendarai mengelilingi Fufy. Fufy mengernyit kebingungan sekaligus merasa pusing.
"Ardha?!" Ardha berhenti di depan Fufy, "ayo naik. Tidak ada penolakan lagi."
Fufy sudah gelisah menghubungi Ayahnya. Dia takut jika Camara mendatangi ke tempat latihan. Fufy tidak bisa menghubungi Camara.
Ini semua karena Ardha. Cowok dingin yang akhir-akhir ini bersikap aneh. Tiba-tiba baik, lalu menjadi cuek. Sekarang, bukannya mengantarkan sampai rumah, Ardha malah mengajak Fufy ke sebuah toko buku.
Ini adalah malam Minggu. Fufy mempunyai jadwal berkumpul bersama keluarga malam ini. Lalu, tiba-tiba Ardha sudah masuk tanpa mengajaknya. Fufy pasrah menunggumu Ardha di parkiran.
Sejujurnya, dia juga malu untuk ikut masuk ke dalam. Dengan kondisi wajah seperti ini, Fufy saja memakai masker. Fufy mengambil jepit kupu-kupu dari tasnya.
"Hei, kamu butuh buku olimpiade?" Ardha keluar untuk bertanya.
"Ya?" Ardha memperjelas, "besok olimpiade bukan? Kamu tidak membutuhkannya?"
__ADS_1
Ardha berbicara dari pintu toko. Dengan mulut tertutup masker, otomatis suara Fufy terdengar kecil. Fufy menggeleng kepala sebagai jawaban. Toh juga dia malam ini pasti dibawakan buku oleh sang Ayah.
Lalu kemudian, Ardha masuk ke dalam toko kembali, tanpa berbicara lagi. Aneh sekali. Pikir Fufy. Tapi tunggu. Bagaimana bisa Ardha tau dirinya mengikuti olimpiade besok?
Bukan seperti itu. Tapi, Ardha pasti mengenali dirinya sebagai siswa malas belajar. Itu sudah jelas bukan, jika lewat dari buku zodiak yang Fufy baca setiap harinya?
Melihat jepit kupu-kupu yang melekat pada rambutnya lewat spion motor Ardha, Fufy menyunggingkan senyum. Masalah yang lewat beberapa waktu lalu, saat Amara tiba-tiba marah kepadanya, itu jelas karena benda ini.
Sampai sekarang Fufy tidak mengetahui siapa pelaku yang telah membuang puluhan jepit kupu-kupu pemberian Ardha. Sekarang tinggal sepuluh buah jepit yang Fufy miliki. Jepit itu terbuang dan telah diangkut oleh Pengangkut sampah.
Fufy juga baru tau bahwa sejak dulu Amara mengenal Ardha. Saat itu, Amara menjelaskan dengan marah.
"Ardha bela-belain ke tempat toko buket langgananku. Dia sampai membantu karyawan disana untuk membuat buket jepit kupu-kupu."
Fufy tidak menyangka Ardha akan melakukan hal itu. Saat itu, Fufy mengira Ardha menyukainya. Untuk sekarang, mungkin perasaan itu sudah luntur.
"Kenapa bengong?" Fufy spontan melangkah mundur karena terkejut akan kehadiran Ardha di depannya.
Sejak kapan? Ardha mengeluarkan buku lumayan tebal. Judulnya "Kumpulan Soal Olimpiade Astronomi."
"Ini buku untukmu. Pelajari materi halaman belakang. Yang halaman awal sudah pasti kamu pelajari," cakap Ardha.
Ardha menolak, "Jangan dibayar. Ini sebagai permintaan maaf dariku."
Fufy tidak mengerti. "Maaf?"
"Aku tidak bermaksud menghiraukanmu. Sesaat, aku sempat kecewa saja." Fufy termangu, "buku ini tidak perlu kamu pelajari malam ini juga. Aku berharap kamu menyimpannya dengan baik. Astronomi dan Astrologi."
Ilmu perbintangan. Fufy mulai menyukai hal berbau seputaran itu. "Kamu juga ikut?" Ardha mengangguk.
"Tentu saja. Bagian fisika tentunya. Semangat! Kamu pasti bisa, Sagitarius." Fufy diam—terpana dengan Ardha.
Bolehkah Fufy mengakuinya? Dia merasakan perasaan aneh yang menjalar.
"Cancer aneh." Ardha terkekeh, "aku belum tentu menang besok. Aku tidak berprestasi dalam akademik."
Ardha mendengar tidak suka. "Kata siapa kamu tidak berprestasi? Kamu juara di hati saya," ungkap Ardha. Tersadar, Ardha menutup wajah malu.
Sementara Fufy tidak bisa berkata-kata. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Penyemangatnya sudah pintar gombal ternyata.
__ADS_1
"Ehehe..., Tadi aku cuma mikir berat, gaya, dan jarak." Ardha segera memakai helm, lalu melanjutkan, "a-ayo pulang."
Sepanjang perjalanan Fufy menundukkan kepalanya, tidak berani melihat wajah Ardha dari spion. Fufy tidak bisa berpikir jernih. Kenapa Ardha berani seperti ini?!
Apalagi ini? Ardha malah mampir ke salon rambut. "Ardha?" Fufy hendak protes. Namun, jawaban Ardha membuat Fufy kembali terdiam, kehilangan kata-kata.
"Aku masih punya uang kembalian beli buku tadi." Ardha menyugar rambutnya, "besok supaya lebih ganteng lagi."
Fufy ternganga, "A-Apa?"
...---...
Sesuai dugaan Fufy, di rumah dirinya sudah ditunggu oleh sang Ayah. Camara menyilangkan kedua tangannya, menatap Putrinya penuh pertanyaan.
Sebelum meledak, Fufy menjelaskan. "Tadi karena semuanya sudah pulang, Ardha mengantar Fufy. Dia mampir ke toko buku membeli buku untuk olimpiade besok," jelas Fufy.
Fufy sengaja tidak menceritakan hal lain yang mungkin membuat sang Ayah lebih marah. Bersiap mendapat hukuman, justru yang didapat Fufy adalah sentuhan di wajahnya.
Camara membuka masker Fufy dan melihat bekas luka di wajahnya. "Baiklah. Apakah dia seorang lelaki?" tanya Camara.
"Bukanlah Ayah sudah mengetahui?"
Camara terkejut mendengar balasan Fufy. Tentu, Fufy tau, kalau Camara bekerja sama bisnis dengan Papanya Ardha. Maka tidak mengejutkan bahwa mungkin itu adalah alasan sifat Camara kepada anaknya.
"Masuklah. Ibu akan mengobati lukamu." Fufy mengangguk patuh.
Sedikit terkejut bahwa ternyata Camara sudah tidak semenakutkan itu di mata Fufy.
"Mandi dan turunlah. Kita belajar bareng," kata Camara.
Fufy tersenyum mengangguk patuh. Senang rasanya melihat hubungan keluarganya yang lebih menghangat. Camara tidak lagi menggunakan pakaian formal di rumah. Kini, dia lebih sering memakai kaos daripada kemeja.
Di ruang tamu, sudah berkumpul anggota keluarga. Walau hening tanpa pembicaraan, itu sudah lebih dari cukup. Karena semua fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Amara belajar dengan tekun bersama Asti yang sedang sibuk mengerjakan tugas kantor. Begitu juga degan Camara. Camara terlihat lebih serius dengan laptop yang terletak di pahanya. Astina berbaring di sofa sambil menikmati elusan di rambutnya dari sang Ibu.
Lalu Fufy ada ditengah-tengah mereka. Menggunakan kacamata, Fufy mulai mengerjakan soal olimpiade astronomi dari ponselnya. Camara mengirimkan banyak soal melalui online. Katanya supaya lebih santai.
...----...
__ADS_1
Haloo! Bagaimana chapter ini?🥰