![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Lima: Menaruh Hati
...----...
Siswa berkumpul di Lapangan upacara. Mendengarkan pemberitahuan dari Kepala Sekolah. Semua siswa dan guru berkerja sama membangun ketertiban selama olimpiade berlangsung. Karena semua sekolah SMA di satu Kabupaten melaksanakan olimpiade di sekolah Trian Akademi.
Setelah rapat Osis selesai, peserta olimpiade dikumpulkan. Mereka dibagi sesuai jenis pelajaran yang akan di lombakan. Fufy sebagai perwakilan Astronomi, berkenalan dengan siswa dari sekolah sebelah.
Sebelumnya, Fufy kira dirinya akan diejek oleh siswa itu. Tapi, ternyata perempuan yang Fufy maksud memiliki sifat sangat ramah. Namanya Siska.
Dan ternyata, Siska adalah teman Amara. Tidak Fufy sangka ternyata adiknya begitu terkenal dikalangan orang pintar. Amara memang sering mengikuti berbagai lomba di akademik. Sekarang dia juga ikut dalam lomba matematika.
Saat menunggu pengumuman, Fufy mengecek ponselnya mencari sesuatu. Rumus yang Ardha maksud itu berhasil menyita waktu Fufy sejak kemarin.
Kg.n.km
Pernyataan yang membuat Fufy bertambah semangat. Apalagi sekarang, orang yang dimaksud ada di depannya. Fufy semakin menggila. Jujur saja, Fufy akui Ardha semakin tampan.
Potongan rambut yang Ardha pilih sangat memanjakan mata. Fufy tidak bisa berpaling sedikitpun. Namun, betapa terkejutnya Fufy ketika melihat interaksi Ardha dengan Ardi.
Wait?! Bukanlah mereka beda sesi dan beda pelajaran?!
Oh, Ardi adalah orang yang berpengaruh di sekolah ini. Tentu, dia menjabat sebagai Ketua Osis.
Pembicaraan yang tidak pernah Fufy dengar. Ardi bersalaman dengan Ardha.
"Semoga berhasil!" Ardha tersenyum tipis, "sayang sekali tidak mengambil sekolah disini."
Ardha membalas, "Kesuksesan tidak memandang dimana kamu bersekolah."
"Oh, tentu, tentu. Aku hanya bercanda." Ardi menyipitkan matanya.
"Sepertinya aku mengenalmu." Ardha menaikkan sebelah alisnya, "bukanlah kita baru saja berkenalan? Tentu saja."
Ardi tertawa ringan. Menunduk, kemudian menelisik wajah Ardha. Seolah mencari sebuah kekurangan yang dimiliki Ardha.
"Seseorang memberitahu bahwa kamulah yang mendekati pacar—maksudku mantanku. Oh, sebelumya kami berpacaran, dan akhirnya hubungan kami berakhir," ujar Ardi bercerita.
"Hm?" Ardha merasa terusik karena Ardi menceritakan hal yang tidak penting di acara formal seperti ini.
"Maaf berbicara seperti ini. Tapi jujur saja, aku sakit hati melihat wajahmu. Aku kasihan melihat perjuangan seorang pangeran yang tidak pernah di notif oleh tuan Putri." Ardi berucap lagi.
Setelah mengerti, mata Ardha menggelap. Wajahnya yang hangat berubah sinis.
__ADS_1
"Fufy?" tebak Ardha dan benar.
"Kasihan sekali kamu hanya dianggap sebagai salah satunya, bukan satu-satunya," balas Ardha, "memang kamu lebih baik menjadi guru daripada seorang kekasih," sambungnya.
Ardi tidak suka mendengar kalimat itu. Mata mereka beradu tajam setajam pisau. Sejenak, semua materi pelajaran di kepala mereka menghilang. Semuanya dipenuhi oleh rasa cemburu.
"Fufy selalu bersamaku," kata Ardi.
"Itu juga berlaku denganku. Sayang, Fufy tidak mengetahui partner asmaranya," balas Ardha tidak mau kalah.
Ardi maju, menatap Ardha penuh tantangan. Ardha menjauh, kemudian berkata, "Kucing garong makan kedondong. Otakmu kosong banyak ngomong."
Ardi melotot. Tidak terima, dia membalas, "Situ mau jatuh cinta atau ujian? Mandiri amat."
Perbincangan mereka berakhir tidak baik. Ardi sebagai tuan rumah disini, meninggalkan Ardha dengan perasaan kesal sekaligus marah. Sedangkan Ardha masih diam ditempat, tertohok dengan ucapan yang Ardi lontarkan.
...---...
Bagian yang tidak akan diketahui oleh Fufy sampai kapanpun. Ketika Fufy kembali latihan manjat, Agam—cowok yang sebelumnya ditolak oleh Fufy, rela mengikuti olahraga Petang yang letaknya tepat di sebelah Panjat Tebing.
Di hari pertamanya latihan, Agam terlihat sangat menyukai Fufy. Menurutnya, Fufy berbeda dengan perempuan lainnya. Dia berbakat, baik, tapi introvet. Agam hanya tidak tau bahwa Fufy adalah seorang playgirl.
Di mata Agam, Fufy adalah gadis terbatas yang berhasil memikat hatinya.
Dia bertekad untuk mengantar Fufy pulang nanti ketika jam pulang tiba. Menurut Ardi, kemungkinan besar Ayahnya Fufy akan terlambat menjeputnya. Karena, Camara memiliki jadwal dengan Ardi terkait masalah les yang berhenti akibat kecelakaan, dan juga waktu belajar Ardi untuk olimpiade.
Tapi, sayang sekali, Agam harus menyaksikan Fufy pulang bersama seorang lelaki. Agam merasa sangat kesal. Terlebih lagi, Ardha memperlihatkan cara khusus untuk memaksa Fufy naik ke motornya. Agam bahkan belum menyapa Fufy!
Tidak terima sendirian sakit hati, Agam mengirim foto bukti kepada Ardi. Dia tidak ingin usahanya sia-sia begitu saja. Agam yakin, Ardi masih menyimpan perasaan dengan Fufy. Dengan begitu, dia bisa galau bareng.
...----...
Fufy mengambil foto bareng bersama saudarinya, Amara. Senang sekali sebab dirinya berhasil mendapat ranking delapan di olimpiade Astronomi. Sementara Amara tentu mendapat peringkat pertama di bagian Matematika.
Sebagai dokumentasi pertama Fufy mengikuti olimpiade, Camara memberikan toleransi kepada Putrinya. Dia mengapresiasi kerja keras kedua anaknya, sampai membuatkan susu untuk ketiga anaknya. Hal yang tidak pernah dilakukan Camara.
"Ayah bisa hidupin kompor, kan?" usil Amara bertanya.
Tidak disangka ternyata keberanian Amara menjahili Camara sangat besar. Sejak kemarin mereka bersekongkol agar membuat sang Ayah marah kembali kepada mereka. Tapi, tidak ada hasil yang buruk.
Bahkan, sifat Camara lebih menghangat. Terlebih lagi, Camara sering bercerita dongeng kepada Astina, yang posisinya sebagai anak sulung. Sungguh menciptakan suasana baru.
Asti membawa nampan berisi ketupat. "Permisi, ketupatnya mau Ibu rebus." Asti mengusir anak-anaknya agar tidak dekat dengan kompor.
__ADS_1
"Lontong!" seru Astina berbinar-binar.
Satu kata yang berhasil terucap oleh Astina, sudah membuat kedua orang tuanya memberikan pelukan hangat. Dengan tergesa-gesa, Asti kembali ke ruang tamu bergabung bersama keluarganya. Seolah, waktu sangat berharga baginya.
Fufy bertanya, "Bintang apa yang paling bersinar?"
Fufy tidak sabar menunggu jawaban. Astina menjawab, "Sagitarius!" serunya.
"Benar!" Fufy tepuk tangan, "kok kakak bisa tau?!"
Astina mengedipkan sebelah matanya menjawab. "Ayah, apakah ayah menyukai Bintang?" tanya Astina kepada Camara.
Camara menjawab, "Tentu saja. Kamu adalah salah satu bintang yang Ayah miliki."
Sontak Fufy dan Amara terbatuk. "Maksud Astina, Bintang nama orang," ucap Astina menimbulkan keheningan.
Camara tertawa kikuk, "Bintang siapa sayang? Teman online kamu?"
Asti beranjak, "Sepertinya ketupatnya sudah matang."
Fufy melihat gerak-gerik kedua orang tuanya bergantian. Tiba-tiba suasana aneh muncul. Amara yang mengerti itu, menyusul Asti ke Dapur. Camara terlihat panik mendapat pertanyaan dari Putrinya.
"Bintang sekretaris Ayah. Ayah masa lupa?" Astina mengucapkan kalimat yang lumayan panjang.
Wajah Astina yang terlihat polos, berubah datar menatap Camara menuntut.
Camara kembali tertawa. Tawanya seperti mendeskripsikan kegugupan. Fufy yang berada ditengah-tengah mereka, pelan-pelan berdiri, berniat untuk memanggil Amara dan Ibunya. Fufy mencurigai sesuatu.
"Oh? Iya, Sekretaris Ayah namanya Bintang." Astina tekekeh, "selain sekretaris dia juga jadi apa, Yah? Aku suka wajahnya yang cantik."
Camara melebarkan matanya. Itu adalah kalimat yang memiliki makna lain. "Tidak jadi apa-apa. Kamu bintangnya Ayah."
"IBUU?!"
Teriakan Amara dari dapur mengejutkan ketiganya. Camara berlari ke arah Dapur.
"Amara! Segera dinginkan tubuhmu!" Fufy berkata dengan panik.
"Dinginkan apa, Py?!" Asti meminta pernyataan yang lengkap, "lepaskan bajunya dan siram pakai air dingin!"
Semuanya panik, kehilangan akal. Camara sampai lupa mengambil kunci mobil saat sudah sampai di parkir. Anaknya butuh pertolongan.
Amara terkena air panas dari wajah sampai di area perut.
__ADS_1
...----...
Haloo!