CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 11


__ADS_3

Bagian Sebelas: Love Of Affirmation


..."Kata maaf tidak selalu menyembuhkan."...


Menyapa walau tidak ada yang membaca☝️ Tetap semangat💓🌸


...---...


Sebuah kesulitan besar bagi Fufy untuk membuka buku dan mempelajarinya. Fufy akui bahwa dirinya malas belajar. Melihat huruf-huruf yang dicetak sekecil itu, membuat mata Fufy cepat mengantuk. Di menit kelima, terbukti Fufy mulai melipat tangannya di atas meja, kemudian merebahkan kepalanya.


"Juara pararel!" teriaknya spontan menampar pipinya sendiri.


Entah mengapa gampang sekali membuat kantuk ketika belajar di saat seperti ini. Meminum air, setelahnya Fufy kembali mencatat materi fisika pada buku catatannya.


Matanya melirik seluruh sisi meja yang dipenuhi oleh tumpukan buku. Membayangkan saja, rasanya Fufy ingin segera tidur di atas kasur. Sungguh memberatkan. Mata Fufy kemudian berhenti pada sebuah kalender.


Disana fokusnya pada angka dua puluh bulan Oktober. Angka tersebut dicoret dengan tulisan di bawahnya, 'ulang tahun Davan.'


Hampir saja Fufy melupakannya. Dia kemudian membuka laci, lalu mengambil sebuah gulungan benang dan sebuah topi dari rajut yang cetakannya belum selesai. Fufy melengkungkan senyumnya.


Terakhir dia menyelesaikan hadiah ini ketika sebelum perlombaan. Untungnya sekarang dirinya ingat. Bahwa dua hari lagi, Penyemangatnya bertambah umur.


Fufy mengaitkan jarum dengan benang hingga dirasa matanya juling. Muncul rasa semangat, Fufy melupakan bukunya dan fokus terhadap topi rajut rancangannya.


Tok tok


Se jam kemudian, matanya mendelik ketika mendengar ketukan pintu. Tentu itu adalah ketukan Camara. Pelan tapi menakutkan.


"Ayah?" Fufy menutup lacinya tergesa-gesa.


Camara berdiri di depan pintu dengan senyuman aneh di wajahnya. Matanya meneliti catatan fisika yang baru saja dibuat oleh Fufy. Gerakan jantung Fufy bergerak cepat. Pemiliknya panik, ketika sebuah pena mengenai kepalanya.


Camara hampir menancapkan ujung pena ke kepalanya. Fufy menatap sang Ayah dengan takut.


"Kerjakan latihan soal. Catatan tidak menjamin kamu mengerti materinya," ucap Camara tegas penuh penekanan.


Selanjutnya, meja Fufy semakin penuh oleh tumpukan lembaran soal-soal yang baru saja diberikan oleh Camara. Camara menelisik wajah Fufy seolah sedang mencari sesuatu.


"Kenapa gugup?" Suara Camara memelan.


Fufy menelan ludahnya kasar, "Fufy kaget saja."


Namun yang dilihat oleh Fufy adalah pemandangan bagaimana mata Camara meredup seolah tersirat kesedihan. Camara menatap Putrinya cukup lama.


"Maaf, jangan kaget lagi dengan Ayah."


Setelan mengucapkan itu, Camara segera keluar dari kamar Fufy. Sedangkan Fufy merespon diam mematung. Fufy mematung akibat terkejut dari pengakuan sang Ayah.


"Maaf?" gumamnya.


...---...


Fufy menguatkan tenaga tangannya agar bisa melakukan sit up sebanyak dua puluh kali. Sambil mengukur ketinggian, Fufy melakukannya sambil menatap pemandangan orang-orang yang tengah berlari di lapangan.

__ADS_1


"Naiknya berenergi." Itu adalah suara Ardha yang menganggu konsentrasi Fufy.


Fufy melirik Ardha yang sedang duduk santai di atas rumput sambil menikmati sekotak buah naga. Fufy tergiur sejujurnya, tapi dia tahan.


"Ayo yang semangat! Buah naganya udah nungguin, nih," lontar Ardha.


Lalu kemudian kaki Fufy menyentuh tanah. Fufy menghampiri Ardha, lantas mengambil tasnya. Fufy minum air.


"Aumm..," Ardha seperti sengaja menggodanya seperti itu. Lihat saja, disekitar bibirnya dipenuhi oleh biji buah naga, juga tidak lupa warna ungu yang menempel pada permukaan wajah Ardha yang menambah kesan.


"Yakin gak mau?" Fufy mengobrak-abrik tasnya, "enggak. Lagi diet," jawabnya asal.


Ardha mendekatkan potongan buah naga, "Gak boleh gitu, ya, anak-anak. Rajinlah belajar."


Celetukan Mada selalu berhasil mengagetkan mereka. Mada terkekeh, lalu menyantap bah naga milik Ardha. "Yummy," katanya dramatis.


"Mada, ada liat sepatuku?" tanya Fufy kepada Mada.


Mada memiringkan kepalanya, "Mana saya tau, tanya Ayangmu saja."


Pandangan Fufy belarih kepada Ardha. Spontan Ardha menggeleng. "Ardha tidak mungkin." Fufy berucap.


"Iya deh, Ardha gak mungkin," lontar Mada, "memang tidak," balas Ardha membuat Mada sebal.


Mada lantas mengambil kotak buah milik Ardha, lalu memakan buah naga dengan rakus. Warna ungu menyebar di area bibirnya. Ardha menggeram marah.


"Balikin." Mada memandang bingung, "balikin buahnya."


"Ngh?" Mada memiringkan kepalanya, kemudian tertawa.


Dilihatnya Fufy yang tengah berusaha menahan tawa. "Ardha kelihatan serem," katanya.


Tampak terkejut, Ardha menghembuskan napas panjang, kemudian menutup wajahnya. Fufy tau Mada hanya ingin dekat dengan Ardha. Karena nyatanya Ardha sangat susah didekati. Buktinya, Ardha tanpa bicara lagi mengemas kembali kotak buah yang telah kosong itu ke dalam tasnya.


"Maaf, kamu tidak dapat bagian," cakap Ardha.


Fufy menggeleng. Sangat sopan sekali. "Beli lagi kak, sekilo dua puluh," celetuk pekerja disana.


Sontak mereka tertawa. Pekerja disini memang pintar bersosialisasi dengan para atlet. Tidak jarang juga mereka menyemangati para atlet yang sedang latihan. Pujian-pujian singkat yang membekas dalam pikiran.


"Semangat menjadi atlet panjat tebing hingga mengharumkan nama bangsa,"  ujar salah satu pekerja.


Fufy mengangguk tersenyum, "Semoga bisa terwujud. Kakak juga semangat kerjanya!"


"Makasih Kak," balas Ardha.


Fufy mengamati keterampilan pak Indra dengan serius. Bagaimana cara pak Indra memastikan keberadaan matras agar sesuai dan aman. Sembari itu, pak Indra juga dibantu oleh Ardha dan Ali.


"Perhatian semuanya. Latihan hari ini akan menyita waktu lama, berhubung ada banyak atlet baru dan pindahan. Latihan kemungkinan berakhir jam 7-an, bagaimana?" ucap pak Indra.


Mantra—Sebagai atlet pindahan menjawab, "Tidak masalah, Pak." Dia resmi menjadi atlet pindahan disini. Namun, itu hanya bersifat sementara, karena dia dipindahkan akibat pekerjaan orang tuanya.


Fufy menimang-nimang. Jika memang sampai malam, maka jadwal les privat mungkin akan dibatalkan. Tidak masalah sebenarnya. Tetapi, Fufy rasa itu tidak bagus juga.

__ADS_1


"Kalau sampai jam 6 sore, bagaimana, Pak?" cakap Fufy bertanya.


Pak Indra berpikir sebentar, "Boleh saja. Tapi jika begitu, kalian akan mendapat dua sesi latihan. Pendapatnya?"


"Menurut saya tidak apa-apa. Repot juga kalau pulang kemalaman, Pak." Levi bersuara.


"Bagaimana semuanya?" Pak Indra meminta persetujuan, "saya setuju. Ada tugas sekolah juga banyak, Pak."


Pak Indra mengangguk setelah menerima jawaban dari para Atlet. Latihan hari ini berfokus pada bouldering. Dimana semuanya berfokus pada kecerdasan. Di bagian ini, Fufy mengaku tidak kesulitan, karena ini adalah bagian kesukaannya.


"Ada yang liat sepatunya Fufy?" Sudah waktunya gilirannya memanjat, tapi masalah perihal sepatu belum juga terselesaikan.


"Perhatian, dong!" Saraswati berteriak.


Fufy berkeliling disekitar lapangan mencari sepatunya. Ada banyak deretan sepatu disini, tapi itu semua adalah milik para atlet. Fufy tidak melihat warna sepatunya disini.


"Dapet, Fy?" tanya Mantra, "belum. Kamu ada lihat? Warnanya putih, ada birunya dikit."


"Enggak, Fy. Maaf gak bisa bantu, ya." Fufy menggeleng tidak masalah. Setelahnya, dirinya kembali mencari sepatunya itu.


Giliran Ranbi, Fufy menyimak bagaimana cara Ranbi bisa naik ke poin atas. Begitu cepat, sehingga Fufy melupakan masalah sepatunya itu. Nanti juga balik sendiri. Pikirnya.


"Udah dapet sepatunya, dek?" Fufy menoleh. Itu adalah suara Ali.


"Belum kak," jawab Fufy.


Ali menelisik wajah Fufy, membuat Fufy terganggu. "Kasian juga, kalau dilihat-lihat. Tadi gue iseng aja. Nih, kembaliin," kata Ali membuat Fufy tercengang.


Apa katanya? Iseng? Keisengan yang membuat Fufy membuang satu sesi memanjat.


"Kak?" Ali menggaruk tengkuknya, "maaf, hehe."


Fufy terdiam sejenak. Ingin rasanya dia menginterogasi lebih jauh alasan Ali menyembunyikan sepatunya. Tapi, itu akan sia-sia.


"Sori, ye." Fufy bisa lihat wajah tidak enakan Ali. Walau, tetap saja rasanya kesal.


Fufy tersenyum membalas. Mungkin memang ingin bercanda dengannya. Memang mungkin bukan hanya dirinya saja yang Ali kerjai. Sedang serius meyakinkan diri sendiri, tiba-tiba celetukan seseorang mengagetkan Fufy.


"Caper banget." Fufy mengernyit bingung, "Ali, Lo denger gue manggil dari tadi, gak, sih?!"


Dia Alin. Kembaran Ali. Atlet panjat tebing yang terkenal cerewet dan jarang latihan. Meski jarang latihan, dia tetap selalu terpilih mengikuti perlombaan. Itu karena dia rajin hadir di waktu akan diselenggarakannya perlombaan saja.


"Maaf?" beo Fufy bertanya karena bingung. Bukan apa, tapi Alin sangat sensitif dengannya. Fufy sendiri juga bingung mengapa Alin demikian dengan dirinya. 


"Kenapa lo?" Ali bertanya kepada saudaranya.


Alin memberikan kantong magnesium kepada Fufy, lalu berkata, "Sini tanding sama gue."


Fufy tidak tau alasan Alin selalu terlihat membencinya. Dikarenakan Fufy juga merasa tertantang akibat kehilangan sepatu tadi, tanpa pikir panjang Fufy menerima tawaran Alin.


"Ayo," jawab Fufy menyetujui. 


Dengan begitu, Alin tersenyum miring sebagai bentuk ketidak sabaran.

__ADS_1


...---...


Holaa! 🥰☝️


__ADS_2