CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 30


__ADS_3

Bagian Tiga Puluh: Sampai Jumpa (Ending)


...----...


Fufy menautkan kedua tangannya dengan tangan Ardha. Dadanya bergemuruh. Semua objek memudar di mata Fufy. Fufy kehilangan akal sejenak.


Ardha menarik sudut bibirnya, "Sepertinya sudah mahir."


Fufy menatap telinga Ardha. Dia meyakinkan diri untuk tidak menatap mata Ardha. Karena itu akan membuat malu.


"Pipi kamu merah sekali. Apa kamu menarik sesuatu?" Ardha bertanya jahil.


"T—Tidak," jawab Fufy.


"Tidak perlu gugup seperti itu." Ardha tertawa kecil, "apa kamu salah tingkah?"


Gila! Bisa-bisanya Ardha blak-blakan seperti ini. Fufy membalikkan badannya dengan wajah merah padam. Cukup sudah. Fufy menetralisir kegugupannya.


"Eh, kenapa pergi?" Wajah Ardha berubah masam.


"Ayo gabung dengan yang lain," ajak Fufy tanpa menatap wajah Ardha.


"Tunggu." Ardha merapikan dasinya, "ini hari terakhir kita bertemu."


Entah kenapa jika ditatap seperti itu, Fufy merasa kehilangan sesuatu. Merasa seluruh semangatnya luntur. Tidak ada alasan yang membuat Fufy bahagia apalagi merasa senang menghadiri pesta ini.


"Ardha."


"J—Jika nanti kita lama bertemunya, bolehkah sekarang—" Ardha terlihat kesusahan merangkai kalimat.


Fufy melihat mata Ardha bergantian. Dimata Ardha seolah tersirat kesedihan. Fufy merasa kesal melihatnya.


"Bukan. Na—Nanti kita bisa tetap berkomunikasi tidak?" Fufy meremas dress-nya.


Kenapa Ardha terlihat seperti sedang menahan tangis? Fufy tidak suka melihatnya. Seharusnya Ardha tidak sampai seperti ini.


Fufy tersenyum, "Tentu saja. Aku pasti akan kembali nanti."


"Kapan?" tanya Ardha cepat.


Fufy diam berkepanjangan. "Beberapa tahun kemudian?" Fufy menjawab ragu.


Ardha menunduk, "Kalau begitu, bolehkah kita berdansa sekali lagi untuk terakhir kalinya?"


Mulut Fufy bergetar. Euforia menarik mengaktifkan sistem otak Fufy. Katakan untuk menjadi milik Ardha.


Karena Fufy mengaku telah jatuh dengan Ardha. Sialnya, sosok Ardha ternyata memang memiliki pengaruh besar bagi Fufy. Fufy memutar badannya lihai, lalu kemudian badannya ditahan oleh Ardha. Ardha melingkarkan tangannya ke pinggang Fufy.


Untuk sesaat, mata mereka beradu. Berbicara lewat mata itu, menyakitkan kedua pihak. Ardha menerbitkan senyum yang tidak pernah Fufy mengerti.


Fufy sempat melihat bibir Ardha bergerak-gerak seperti merapalkan doa, tapi itu bukan seperti doa. Ardha seperti mengatakan sesuatu yang tidak bisa Fufy dengar. Bukan sebuah gumam, tapi itu sebuah kalimat yang membuat Fufy tidak tenang.


Fufy bukan Astina atau Saraswati yang bisa membaca situasi. Namun, satu hal yang Fufy sadari. Didetik akhir ini, Ardha menjadi lebih pendiam. Pendiam seperti sosok dirinya yang sebenarnya.


Mereka kembali ke posisi semula, lantas berdehem bersama. Menoleh saling bertatapan, Ardha menggaruk lehernya sebagai jawaban.


"Waduh, situasi apaan, nih?" Mada memecahkan keheningan.


Lalu kemudian Fufy memundurkan tubuhnya untuk mengajak Mada berbicara. "Gabung sama yang laen, lah, kan ini pertemuan terakhir lo," papar Mada.


Fufy tersenyum canggung, "Baik, kalau begitu aku masuk duluan."


Ardha diam menatap kepergian Fufy dengan wajah kecewa. "Bro, gimana? Ada kemajuan?" Mada bertanya, namun Ardha hanya diam tanpa menjawab, bahkan selama acara berlangsung.


Sesa meminum air putih secara rakus. "Gila kali! Minuman keras sini bukan murahan. Langsung panas tenggorokan gue!" keluhnya.


Sastra meneliti botol minuman keras ditangannya. "Kadarnya sangat tinggi," ucapnya.


"Siapa yang bawa?" tanya Mada.


"Tuan rumah. Memang siapa lagi yang berani beginian?" Sesa menjawab.


"Siapa?" Sesa menunjuk Ali, "Ali dan Alin kan anaknya pak Hakim," katanya menjelaskan.


Semua terkejut. "Serius? Ali? Anaknya pak Hakim?"

__ADS_1


Istri datang kemudian duduk di sebelah Sastra. "Kok kaget begitu? Baru tau, ya? Santai aja kali, ini uang korupsi," lontar Istri.


"Hah?" Ardha mulai tertarik.


Istri menatap Ardha dengan pandangan tertarik. "Waktu ke Singapura juga kamu pakai uang kita buat foya-foya," kata Istri.


"Lah, bukannya katanya dari Pemerintah?" Mada bingung.


Sesa terkekeh, "Bisa-bisanya lo gak tau apa-apa."


"Iya, tapi sebagian. Mana mungkin sih, semingguan lebih pake hotel segala. Mana bintang lima lagi," ucap Istri, "tenang aja. Sebagian besar udah dipake buat perbaikan fasilitas panjat," sambungnya. 


Sastra menaruh minuman keras itu ke meja. Dia kemudian beranjak. "Eh, Sastra! Kok pergi?" Istri mengikuti Sastra.


Mada yang melihat itu, tertawa cekikikan. "Mabuk lo?" Sesa merinding.


"Eh, tempat kita ini strategis banget buat orang-orang kena HTS, ya?" Mada menutup mulutnya merasa seseorang tengah menatapnya tajam.


Ardha meneguk segelas minuman keras kilat. Sorot matanya berubah redup.


"Kasian amat hidup lo, Kulkas."


...---- ...


Fufy melihat jam ditangannya. Tidak terasa ternyata sudah tengah malam. Fufy tidak sadar karena akibat terlalu menikmati malam yang panjang ini bersama teman-temannya.


Keluar untuk mencari angin sambil menunggu jemputan, seseorang dari belakang mengikuti Fufy.


Fufy menoleh merasakan. Rupanya seseorang itu ialah Ranbi.


"Fufy."


Fufy melanjutkan kembali langkahnya tanpa menjawab. Hatinya kecewa mengetahui sifat Ranbi setelah kejadian itu.


"Jepit kupu-kupu!" Ranbi mengimbangi langkah Fufy.


"Aku minta maaf sebesar-besarnya!" Ranbi menahan Fufy dari depan dengan kepala menunduk.


Bisa Fufy rasakan kalau tangan Ranbi terasa dingin. Tidak seperti dirinya, mungkin akibat hawa dingin malam hari, atau mungkin karena pakaian yang dikenakannya.


"Jangan diam seperti itu. Jawablah." Mata Fufy melebar melihat mata Ranbi yang sembab.


Tubuh Fufy kaku. Kebingungan merespon. Lalu selanjutnya, Ranbi melepas pelukannya. Bisa Fufy rasakan bahwa tubuh Ranbi lemah. Tidak seperti atlet pada umumnya.


"Ayo caci maki aku seperti waktu itu." Ranbi meminta, "kamu harusnya marah! Foto kamu hilang itu disebabkan oleh aku sendiri."


"Keluarkan kata-katamu, mohon." Ranbi menunggu respon Fufy, namun tak kunjung dia dapatkan.


Ranbi menghela napas, menghapus kembali air matanya. "Air mata sialan! Fy, dimana kata-kata ramalanmu? Aquarius bagaimana? Sagitarius bagaimana? Leo? Libra?" Ranbi bertanya beruntun.


"Aku mengerti," kata Fufy.


Ranbi mengerjapkan matanya beberapa kali. "Bisakah kamu marah?" pinta Ranbi.


"Lain kali jangan diulang. Terima kasih waktunya," ujar Fufy penuh makna.


Mendengar itu, Ranbi maju menatap Fufy menantang. Dia tida suka dengan sikap Fufy yang dingin seperti ini. Ranbi terus berbicara sepanjang perjalanan, sebelum akhirnya Fufy dijemput.


"Fufy!" Ranbi menatapnya memelas.


Fufy mengacak-acak rambut Ranbi, kemudian memeluk sahabatnya itu. "Aku mengerti keadaanmu," cakap Fufy membuat Ranbi kembali menangis.


"Seharusnya kamu marah!" sungut Ranbi kesal.


Bahwa sesungguhnya sejak dulu Ranbi selalu diselimuti oleh rasa iri dan cemburu melihat Fufu berhasil.


Setiap harinya setelah latihan, Ibunya pasti akan membanggakan Fufy dan Andre. Begitu juga dengan Ayahnya. Ranbi merasa Fufy adalah musuhnya.


Dan menurut Ayahnya, Fufy adalah anaknya. Ranbi tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Walaupun posisinya sebagai teman, waktu ke waktu semua berubah menjadi musuh.


Ranbi melakukan itu agar Ayahnya tidak lagi melihat keberhasilan yang Fufy dapatkan. Bahwa Fufy gagal dalam panjat tebing. Ranbi gagal melakukan itu dan dia menyesal.


...----...


Fufy mengecek seluruh ruangan, memastikan apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. Menarik kedua kopernya, Fufy berjalan ke arah garasi.

__ADS_1


"Tumben adik ipar mengirim pesan," gumam Astina membuat semua pasang mata menatapnya.


"Ada apa, sayang?" Asti mengecek ponsel Astina.


"Woaah? Ardha?" tebak Camara benar, "anak itu, sangat, oh sangat. Apa perlu ayah blokir saja?"


Fufy melotot tidak terima, "Jangan, Yah!"


"Huh, asmara kalian bikin iri aja," ungkap Amara mendapat jeweran dari Fufy.


"Berhenti menyukai Ardha ku!" kata Fufy sebal.


Amara cekikikan, "Wadau, Ardha ku, gak tuh!"


Ya, memang benar bahwa Amara menyukai Ardha. Bahkan itu sudah berlangsung sejak setahun lalu. Itu juga menjadi alasan Amara pernah marah besar kepada Fufy.


"Mending sama Ardi sana!" cakap Fufy berkata, "jangan ambil Ardha."


"Malas, aduh. Bekasan saudara sendiri," balas Amara dengan senyuman kecil di wajahnya.


"Apa?!" Dengan cepat Astina meluruskan tangannya diantara mereka.


Astina menatap adiknya bergantian. "Kekanakan," komentarnya.


Camara memasukkan koper ke dalam mobil. Ia kemudian memanggil anak-anaknya. "Sudahi kebodohanmu dengan cowok, ayo berangkat," kata Camara.


"Siapa sih, bukan aku." Amara memandang Fufy seolah menyindir kakaknya itu.


Setelah tiba di Bandara, Fufy yang sedang asik tidur, wajahnya sudah ditepuk-tepuk oleh Amara. Fufy menggeliat merasa kantuk menyerang dirinya lagi.


"Kak! Lihat, Ardha mengirim pesan kepadaku!" Sontak mata Fufy menyala.


Fufy mengambil ponselnya dari tangan Amara. Disana tertulis,


Om Ardha


Tolong beritahu Fufy untuk melihat ke mobil es krim di parkiran Bandara.


Amara


Amara


Beritahu Fufy untuk membalas pesanku.


Seketika Fufy meloncat dari mobil, dan melihat sekitar. Dia mencari-cari mobil yang dimaksud Ardha dalam pesan.


Pupil Fufy membesar dikala melihat se truk mobil memuat es krim idamannya. Di depan mobilnya sudah ada Ardha yang berdiri menunggunya.


Fufy takjub, kehilangan kata-kata. Pikirannya menebak seberapa banyak es krim yang ditampung oleh mobil sebesar ini. Tanpa disadari, sudah ada sekotak es krim di depannya dari Ardha.


"Ini semua untukmu," kata Ardha membuat kaget.


"Ardha? Buat apa ini semua?" Fufy merasa dirinya masih didalam mimpi.


Ardha membantu Fufy menjilat es krim di tangannya. "Kamu ingat janjiku dulu?" Tubuh Fufy menegang.


Ardha serius dengan kata-katanya?!


Manusia menolak kemustahilan. Fufy menoleh, meminta pengampunan. Ardha termasuk gila untuk mengundang pabrik es krim sebanyak ini.


Masih bertanya-tanya, kemudian tangannya digemgam oleh Ardha, membuat Fufy bertambah terkejut. Bukan. Masalahnya kini wajahnya pasti sangat pucat.


"Es krim ini sebagai saksi." Ardha menelan ludah, "kamu mau menjadi pacarku?"


Fufy kehilangan konsentrasi ketika Camara—Ayahnya menjewer telinga Ardha. Spontan Ardha menjatuhkan es krim ditangannya.


"Dasar bocah ingusan!"


...----...


...[Ending]...


Woii! Makasih banyak sudah baca sampai sini!💗😭❤️😍


Aku tau belum ada yang baca cerita ini, tapi aku harap jika nanti ada yang membaca, cerita ini dapat berkesan dan menjadi salah satu cerita favorit kalian🤗💓

__ADS_1


Aku mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri karena telah menyelesaikan kesekian cerita yang akhirnya menyentuh Ending!☝️🥳


Sampai jumpa di bagian Epilog!💝🥺🤩


__ADS_2