CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 12


__ADS_3

Bagian Dua Belas: Waktunya Belajar


...---...


Sudah lama sekali Alin menantangnya seperti ini. Apalagi dengan wajah garang seperti itu. Jujur, Fufy canggung bersamanya. Wajah Alin terlihat jutek dan cuek. Bahkan bagi orang yang baru bertemu dengannya saja, pasti sudah menyimpulkan bahwa Alin itu galak.


Fufy sendiri juga menyimpulkan hal yang sama ketika pertama kali bertemu. Jarang sekali Alin terlihat. Katanya juga Ali tidak satu sekolah dengan Alin. Itu tentu memunculkan berbagai pertanyaan. Sifat mereka juga sangat berbeda.


Fufy akui memang dirinya jago di bagian bouldering, dibanding bagian lainnya. Namun jika tandingannya Alin, tentu kemungkinan berakhir buruk.


Sebelumnya terakhir mereka bertanding, berakhir dengan Alin memukul wajahnya hingga memar. Entah untuk alasan apa, Alin memukulnya membabi buta akibat kalah.


"Tenang, gue udah dewasa," ujar Alin sebelum dimulainya pertandingan.


Di bagian bouldering tidak menggunakan tali karmantel, tetapi memakai matras sebagai pelindung. Jadi ketika terjatuh, maka atlet akan langsung terlindungi oleh matras. Tumpukan matras itu akan membuat aman dari bahaya.


Fufy menyukainya selain menantang kecerdasan, juga dapat merasakan keseruan terjun dari atas. Selain lebih rendah, bouldering juga dikenal di kalangan para petualang. Waktunya sudah tiba. Karena Alin menantangnya juga, Fufy mendapat tambahan sesi.


"Woi, semangat, Fy!" Saraswati bersuara.


Sulit dikatakan bahwa Fufy kadang merasa aneh dengan perlakuan Saraswati kepadanya. Sangat baik. Terkadang Saraswati suka menyampaikan kalimat kerohanian untuknya. Berbanding dengan diriya yang mempercayai ramalan zodiak.


"Semangat, Sagitarius!" Tentu itu suara Ardha.


Suara yang berhasil membuat para atlet lainnya berseru menyoraki Ardha. Untuk alasannya, bohong jika Fufy tidak peka. Tentu Fufy mengerti maksud mereka.


"Mulai!" Satu kata instruksi dari pak Indra menegangkan suasana.


Sebelum dimulai, Fufy sudah sempat membaca jalur yang sudah ditentukan. Fufy berharap jalur yang diambilnya ini sudah sesuai, sehingga tidak memakan waktu yang banyak.


Dengan telapak tangan dipenuhi oleh kapur, Fufy berusaha semaksimal mungkin untuk meraih poin yang sulit. Ini karena Fufy tengah mengambil jalur traverse dimana ini adalah gerakan memanjat horizontal yang cukup membutuhkan ketahanan tubuh.


"Ayo, fokus, fokus!" Adit memberikan ucapan. Atlet yang keberadaannya tidak dikenal oleh banyak orang, walaupun sebenarnya dia ahlinya.


Di tengah perjalanan, sayang sekali Alin terjatuh mendahului Fufy, bukan karena sudah mencapai poin puncak, tetapi karena tangannya tidak kuat untuk menahan tubuhnya. Di bagian ini disebut crux. Memang susah sekali untuk menghadapi masa sulit ketika hampir sampai di tujuan.


Berusaha dari bawah kembali, dengan sabar Alin kembali menaiki papan panjat. Sementara itu, Fufy merasa kapur yang ada di tangannya memudar, akibatnya dirinya susah untuk fokus.


"Semangat, semangat! Ayo fokus!"


Bukan perlombaan, tapi yang namanya latihan pasti ada dimana kita harus belajar. Sama seperti Alin, nasib Fufy harus terjun dari atas karena perkara kapur. Mengambil chalg bag, Fufy merogoh kapur. Jujur, dimasa ini Fufy kecewa.


Memberikan senyuman paksa, Fufy melanjutkan kembali latihannya. Ralat, mungkin tandingan. Setelah beberapa menit menyita waktu, lalu kemudian, diakhiri oleh Fufy sebagai pemenangnya.


...-----...

__ADS_1


Disinilah Fufy sekarang. Mengantri di ruang guru karena sesuatu tugas yang harus diselesaikan. Hasil ulangan ekonomi kemarin sekarang dibagikan. Sebagai sekretaris kelas, Fufy ditugaskan untuk membagikan hasil kerja teman-temannya.


"Kelas?" tanya guru Ekonomi, "11 IPS 2, Pak."


"Fufy, ya? Nilai kamu meningkat. Tingkatkan lagi." Fufy mengembangkan senyumnya.


Dia melihat hasil lembar jawabannya. Disana tertulis angka tujuh puluh. Benar-benar di angka KKM. Namun walau begitu, Fufy sangat bersyukur berkat hasil belajarnya, dirinya bisa mendapat angka ini. Ini jauh besar, dibanding hasil sebelumnya.


"Baik Pak, Semoga. Saya pamit, terima kasih," cakap Fufy lantas keluar dari ruang guru.


Begitu sesak sebenarnya. Sekilas Fufy mendengar bisikan para guru yang membicarakan tentang dirinya. Untuk alasan apapun itu, Fufy tidak ingin mendengarkannya lagi. Sepertinya semua Guru mengetahuinya.


"Fy, kamu disuruh ke ruang OSIS sama Ketos," ucap salah satu siswa sekelas dengannya bernama Lina.


Di Sekolah Fufy memang tidak pandai bergaul. Mengetahui tokoh  siapa ketua OSIS di sekolahnya saja, Fufy tidak tau. Apalagi anggota OSIS lainnya. Mungkin Fufy hanya mengetahui teman sekelasnya yang menjadi OSIS. Di sekolah, Fufy hanya aktif mengikuti ekstrakurikuler panjat tebing dan Pramuka wajib.


OSIS disini juga menyembunyikan identitasnya, karena hal itu mungkin akan berpengaruh dengan nilai mereka. Untuk sekedar berkumpul, mereka tidak akan pernah lengkap. Ada banyak urusan belajar, terutama sang Ketua dan Wakil OSIS.


"Aku?" beo Fufy tidak percaya.


Ketua OSIS? Fufy tau ketua OSIS disini itu laki-laki. Namun, Fufy tidak mengingat wajah ataupun nama ketuanya itu.


"Iya, tadi dia nitip pesan ke aku." Oh, Fufy ingat Lina adalah anggota OSIS  inti di sekolah ini.


Mungkin ada sesuatu yang mengharuskan dirinya masuk ke ruang OSIS. Sungguh, ini pertama kalinya dirinya memasuki ruangan OSIS. Sangat wangi.


Fufy memandang seorang lelaki yang tengah duduk di kursi khusus ketua OSIS sambil menulis sesuatu. Fufy berusaha mengingat sesuatu. Tentu, Fufy langsung mengingatnya. Terakhir kali Fufy melihatnya ketika berada di ruang Bk.


"Saya Ardi, guru privat kamu," kata si ketua OSIS mengejutkan Fufy.


Sebentar. Jadi yang menjadi guru privatnya ini memang benar dia? Dan parahnya lagi dia menjabat sebagai ketua OSIS? Fufy tidak mendramatisir keadaan. Ini murni karena tidak percaya akan suatu keadaan.


"Halo, Kak," sapa Fufy ramah.


Sudah berusaha senyum, membuang rasa gugup, malah berakhir ditatap tajam. Fufy bingung sendiri. Mau duduk, tapi Ardi—si ketua OSIS itu malah menelisik tubuhnya dari atas sampai bawah. Wait, bukan apa-apa. Fufy merasa terintimidasi oleh itu.


"Duduk," perintah Ardi berat, terdengar tegas.


Ragu-ragu, Fufy melangkahkan kakinya mendekat ke kursi. Dia lantas duduk di sebelah Ardi dengan menjaga jarak.


"Karena ini pertemuan pertama kita, jadi saya pakai bahasa formal. Tidak masalah?" Fufy menggeleng menjawab, "jadi saya sudah menerima uang bayarannya. Oleh karena akhir-akhir ini kamu katanya ada banyak kegiatan, jadwal belajar kita harus ditunda. Bukan karena alasan kamu juga, saya disini mempunyai banyak pekerjaan. Tapi ini adalah kewajiban. Untuk itu, saya akan mengambil jadwal les kamu di sekolah selesai waktu sekolah. Jadi saya tidak perlu ke rumah kamu, atau menganggu aktivitas kamu setelah itu. Bagaimana?"


Fufy menyimak penjelasan dari Ardi tanpa berkedip sedikitpun. Bukan sambil menatap Ardi, tapi pandangannya ke arah lain. Sejujurnya dia tercengang dengan penjelasan si ketua OSIS ini.


"Boleh saya pikir-pikir dulu?" gumam Fufy.

__ADS_1


"Pikir-pikir?" balasnya, "kamu kira ini bisa ditunda lagi?"


Fufy mengerjapkan matanya mencerna. "Jadi makna kata bagaimana itu, bagaimana?" tanyanya bingung. 


Ardi diam sebentar, lalu menghembuskan napas panjang. "Anggap saja saya tidak menerima jawaban kamu. Sebelumnya saya sudah mendapat ijin dari orang tua kamu. Begitu. Sudah jelas?" jelasnya.


Fufy mau tidak mau dia harus menganggukkan kepala sebagai jawaban. Padahal rencananya hari ini karena jadwal lesnya libur, Fufy ingin menyelesaikan karya rajutannya untuk diberikan kepada Ardha, juga pergi ke toko buku membelikan Astina buku zodiak keluaran terbaru.


"Mengerti?" Fufy menggeleng kecil.


Susah sekali untuk mencerna materi fisika pada bab ini. Fufy melirik Ardi yang sebenarnya dia tau, itu adalah pandangan wajah kesal.


"Kita ulang sekali lagi," ujar Ardi, "ketika kamu berjalan di aspal....,"


Kegiatan belajar mereka berjalan cukup lama. Memakan dua jam yang telah dijanjikan. Namun ini baru berjalan sejam. Ditengah kefokusan Fufy menjawab soal dari Ardi, suara notifikasi dari ponselnya mempengaruhi perhatian Fufy.


"Siapa?" Fufy meneguk salivanya.


Fufy menunjuk ponselnya, "Boleh saya baca?"


"Silahkan jika itu penting," jawab Ardi cuek. Fufy lihat Ardi kembali fokus memecahkan soal.


Kemudian, Fufy membaca pesan dari Ardha dan Abdi.


Ardha


 


Cie yang lagi kasmaran online terus.


Mata Fufy membulat sempurna. Apakah ini benar Penyemangatnya? Mengapa pesan yang dikirimnya aneh? Astaga, Fufy lupa keluar dari aplikasi chat. Padahal sejak tadi dirinya sedang sibuk belajar.


^^^Iya, hehe.^^^


Biar saja, pokoknya Fufy akan membuat Ardha mengakuinya. Segala tiba-tiba ngirim pesan begitu. Apa dia tidak tau, bah a Fufy sekarang sedang senyum-senyum sendiri akibat membaca pesan dari Ardha. 


"Udah bales chat pacarnya?" Suara Ardi sontak membuat tubuh Fufy menegang.


Ardi menggeser lembaran soal ke depan dirinya. "Jawab, jangan pacaran mulu," kata Ardi sukses membuat Fufy diam berkepanjangan.


"Lebih baik pacaran sama ilmu."


Eh? Fufy tidak salah dengar 'kan?


...----...

__ADS_1


Haloo! Kita kembali lagii🥳


__ADS_2