CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 22


__ADS_3

Bagian Dua Puluh Dua: Menginginkan Terbaik


...----...


Fufy menggunakan harnes, bersiap memanjat. Kali ini Fufy melawan Alin di jalur Lead. Tidak ingin membuang waktu, selagi Mantra melawan Levi, Fufy maju mengambil kesempatan. Sebuah senyum terbit di wajah Alin.


"Akhirnya kita bersatu," katanya mengundang tawa kecil dari Fufy.


Sejujurnya, sudah lama Fufy ingin memanjat melawan Alin. Diantara semua atlet, hanya Alin yang belum pernah dia ajak tanding. Itu karena Alin jarang latihan.


"Hati-hati dan fokus semua!" Pak Indra mengintruksi.


Fufy menghubungkan tali dengan belayer- panjatan berikutnya. Ini adalah jalur yang sering dipakai oleh atlet profesional. Karena biasanya akan berhadapan dengan tebing langsung. Sementara untuk latihan memakai dinding buatan.


Fufy sudah berada di atas. Walau begitu, ia tetap mendengar pembicaraan orang tentang dirinya. Fufy menutup mata sejenak, berusaha menjernihkan pikirannya.


Jangan sampai jatuh. Batin Fufy berkata.


Kenyataan berkata lain, seiring berjalannya waktu, meski tidak memanjat tebing langsung, tapi Fufy berharap suatu hari nanti dirinya bisa menghadapi tebing langsung. Harapan yang sejak dini Fufy jadikan acuan ambisnya.


"Fufy emang gitu orangnya. Sok paling cantik."


"Dia menang harta. Uang segalanya."


"Kayanya dia hasil jual diri itu, mah."


Fufy bisa mendengar jelas bahwa selanjutnya adalah suara Ranbi. "Makanya aku muak sama dia."


Fufy tidak bisa menyembunyikan keterjutannya. Untuk dikatakan ilusi, tapi ini terlalu jelas. Teman yang Fufy anggap sebagai sahabat.


"Dia memang suka cari perhatian," sambung Ranbi.


Itu terdengar seperti bisikan. Tapi dia atas sini, suara Ranbi berlayang. Fufy melepas belayer untuk dipasangkan ke poin berikutnya. Namun, sebelum Fufy menyelesaikannya, kaki Fufy sudah bergerak naik, sehingga otomatis Fufy kehilangan keseimbangan.


"FUFY!"


Fufy terjun dengan posisi tengkurap. Orang-orang berlarian menghampiri Fufy sambil berteriak. Semuanya histeris, berbondong-bondong mengecek kondisi Fufy. Hal itu membuat bantuan medis menjadi terhambat.


Tubuh Fufy dibalik, dan diangkat oleh petugas. Selama beberapa detik, Fufy melihat bayangan situasi dimana saat keluarganya bahagia. Keluarga cemara idamannya.


"Mundur!"


Fufy masuk ke dalam mobil Ambulans. Darah bercucuran di wajah Fufy. Rasa panas membakar Fufy. Latihan dihentikan, karena para guru dan beberapa atlet ikut ke rumah sakit, termasuk Ardha.

__ADS_1


Saat Fufy menuju ke rumah Sakit, Ardha langsung mengambil motornya, menyusul Fufy.


Tapi, sebelum menghidupkan motor, Alin menghentikannya. Terlihat Alin sudah memakai helm.


"Ardha! Aku ikut, boleh?"


Sebelum menjawab, Alin sudah naik ke atas motornya, membuat Ardha tidak bisa menolak. "Cepat jalan, Dha!" seru Alin membuat Ardha sontak menancapkan gas kecepatan tinggi.


...----...


Fufy merasa kepalanya berdengung hebat. Dia ingin membuka mata, melihat sesuatu, tapi rasanya berat sekali untuk menggerakkan bola matanya. Fufy juga merasa susah bergerak. Tangannya yang berada di atas dada, Fufy kepalkan. 


Bisa Fufy dengar ada seseorang yang menemaninya. Suara kantong plastik menenangkan Fufy. Berusaha kembali, Fufy mengatur napasnya. Kepalanya terasa sangat berat. Aroma khas obat-obatan masuk ke hidungnya, membuatnya gelisah.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Fufy bisa membuka mata. Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah lampu yang ukurannya cukup besar. Sinarnya mampu membuat Fufy menutup mata kembali. Sangat bersinar.


"Bagian mana yang dirasa sakit?" celetukan seseorang membuat kesadaran Fufy balik.


Setengah tidak percaya akan kehadiran Ayahnya. Camara menemaninya sendirian. Fufy merasa darahnya berdesir. Ini adalah pakaian yang dikenakan Ayahnya di dalam mimpinya.


Camara kemudian memencet tombol nurse call untuk menghubungi perawat. Fufy mendengarkan pembicaraan Camara dengan Perawat dalam diam.


"Mandilah. Ayah sudah siapkan perlengkapan untuk mandi." Camara menepuk pakaian disampingnya, "jika tidak berani berdiri, Ayah akan memanggil Perawat agar membantumu," lanjut Camara berucap.


Camara berdiri, tapi tidak membantu Fufy berjalan. "Ibu sedang mengambil obat. Sementara Amara di rumah menjaga Astina," jelas Camara.


Fufy menipiskan bibirnya. Rupanya sang Ibu juga ada disini menemaninya. Fufy tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, hingga dirinya melangkah berjalan lancar—terlihat seperti tidak sakit.


Dengan hati-hati, Fufy menggosokkan handuk ke kulit badannya. Saat keluar, ternyata Asti sudah datang. Asti menghampiri Fufy, membantunya berjalan.


Asti membantu Fufy mengangkat kaki. Membantunya bercermin, Fufy merasa sedih. Siapa seseorang yang dilihatnya dalam kaca ini?


Asti mengambil cermin dari tangan Fufy. "Kamu cantik. Semuanya akan kembali semula," ucap Asti lembut.


Fufy berkaca-kaca, "Sungguh?"


Asti segera memeluk Putrinya. Dirasa bajunya basah, Asti mencium puncak kepala Fufy bertubi-tubi. "Jangan menangis," bisik Asti rendah.


Melihat itu, Camara lantas keluar ruangan. Tangannya sudah bergetar hebat melihat pemandangan Istri dan Anaknya menangis. Sesuatu dalam bayangan Camara ternyata lebih mengerikan.


Camara menghampiri pak Indra selaku pelatih Fufy. Camara berkata, "bagaimanapun caranya, buat anak saya pergi ke Singapura dan pulang membawa piala."


...----...

__ADS_1


Fufy membuka mulutnya kembali, tidak sabar menyambut suapan dari sang Ibu. Untuk pertama kalinya Fufy merasakan kehangatan seperti ini kembali setelah beranjak dewasa. Dengan telaten Asti mengurus Fufy dengan senyuman yang tidak pernah luntur menghiasi hari-hari Fufy selama di rumah Sakit.


"Aaa..," Walaupun makanannya terasa hambar, tapi ketika disuapi oleh Asti, rasanya makanan hambar ini adalah masakan terbaik.


Satu porsi habis dilahap Fufy. Asti bertepuk tangan melihat piring yang sudah kosong di meja. "Yey! Putri Ibu sudah mulai berisi lagi!"


Asti memijat lengan Fufy. Fufy tau tangannya masih berotot, tapi tidak dengan tenaganya. Semuanya hanya terlihat dari luar. Nyatanya energi Fufy semua menghilang.


"Ibu, Ayah," panggil Fufy serak.


Camara yang sedang bekerja mengurus pekerjaannya dari kantor, mendongak mendengar panggilan dari Fufy. "Ada apa?" tanya Camara, kembali fokus ke laptop.


Fufy ragu-ragu, sampai merasa deg-degan sendiri. Tapi, karena sudah bertekad, Fufy ingin keinginannya terwujud.


"Bolehkah Fufy meminta sesuatu?" Keheningan tercipta.


"Tentu saja boleh. Katakan saja, semasih kami bisa mewujudkannya," jawab Asti dengan senyum manis.


Fufy melirik Camara, meminta persetujuan. "Boleh." Itu jawaban Camara.


"Sebelum itu, kira-kira berapa lama lagi Fufy bisa sembuh?" Fufy bertanya, "karena 3 Minggu lagi lomba diadakan."


"Jika kamu istirahat dan tidak banyak pikiran, maka akan sembuh lebih cepat," kata Camara tanpa menatap Fufy.


Fufy memainkan jarinya dari dalam selimut. Tidak apa-apa, pasti bisa. Batin Fufy berucap.


"Permintaannya tidak sulit." Camara berdecak, "jangan bertele-tele. Katakan. Ayahmu tidak semiskin itu," sosornya menekan.


Fufy terkekeh mendengarnya, "Tapi ini bukan tentang uang, Yah."


Camara menatap Putrinya tidak sabaran. Melihat raut itu, Fufy menyengir membalasnya.


"Fufy ingin Ayah dan Ibu meluangkan waktu di rumah bersama keluarga sampai Fufy sepenuhnya sembuh," ujar Fufy.


Fufy menatap Ibu dan Ayahnya bergantian. Tangannya sudah berkeringat dingin sejak tadi. Terjadi keheningan beberapa detik, sebelum Camara menjawab.


"Boleh." Sontak Fufy berteriak kegirangan. Asti mengelus rambutnya.


"Asalkan kamu dapat mengikuti lomba di Singapura," sambung Camara, "baik, laksanakan!"


Fufy tertawa bertepuk tangan. Tidak bisa mendefinisikannya kegembiraannya.


...----...

__ADS_1


Salam


__ADS_2