![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Dua Puluh Sembilan: Malam Perpisahan
...---...
Fufy menunggu notifikasi ponselnya. Sudah seharusnya di waktu ini, postingan dari sang Ayah muncul. Tapi ketika sudah malam pun, belum ada. Sebenarnya bukan karena menuntut. Tapi Fufy ingin Ayahnya tau, agar bisa pulang besok pagi.
Tiga hari terakhir Fufy dengar dari Amara, Camara mendapat pekerjaan tambahan. Entah pekerjaan apa, tapi yang jelas Camara sudah absen dua kali mengantar Astina ke Dokter Psikolog.
Melihat postingan FPTI juga Fufy merasa kecewa. Hanya dirinya yang tidak di posting. Tidak ada foto Fufy disana. Ditampilkan, padahal seingat Fufy, dirinya ikut foto disana.
Menggerai rambut, lantas Fufy menyisir rambutnya. Rambut kesayangan yang sudah Fufy anggap seperti mahkota sendiri. Karena rambut sangat berpengaruh pada penampilan.
Ting!
Ayah
Ingat?
Potong rambut sebagai kemenangan
Selamat atas kemenangannya 👍
Fufy membaca pesan yang dikirimkan Camara beberapa kali. Mencoba mencari arti lain dari pesan tersebut. Ayahnya ingin dirinya memotong rambut?
Fufy mengacak-acak rambut tidak terima, lalu turun ke bawah untuk mencari telur. Dirasa persediaan telur rebus sudah habis, Fufy memilih untuk merebusnya sendiri.
Sedikit takut ketika memasukkan telur ke dalam panci. Katakanlah Fufy anak yang tidak pernah memasak. Karena itu benar. Terlebih lagi, kejadian kecelakaan Amara membuat kewaspadaan Fufy meningkat.
Sambil menunggu, Fufy berniat ke kamar Amara untuk bertanya. Semenjak dirinya lomba, Fufy selalu rutin memakan telur minimal lima butir. Jadilah Amara ikut menerapkan. Bedanya, Amara anti dengan kuning telur.
"Ra, nitip telur?" Fufy melebarkan mata terkejut.
Dilihatnya saat ini hidung Amara mengeluarkan darah. Fufy menarik tisu sebanyak-banyaknya.
"Sebentar, aku panggil Ibu dulu," ujar Fufy, namun dicegah oleh Amara.
"Kenapa?" Fufy bingung, "setidaknya Ibu tau."
"Jangan." Amara menunduk, "Ibu merasa bersalah jika mengetahui ini."
Fufy duduk kembali, "Baiklah, kalau begitu condongkan tubuhmu sebentar, dan gunakan mulut untuk bernapas."
"Baik." Amara menatap dirinya lewat cermin.
Tidak ada yang tau bahwa kejadian ini sering terjadi pada Amara. Ketika kebanyakan begadang akibat menghabiskan waktu untuk belajar, Amara akan mimisan. Mimisan inilah sebagai tanda bahwa dirinya harus beristirahat.
Fufy mengambil air di bawah sambil mematikan kompor. Kakinya bergerak cepat menaiki anak tangga. Membuka pintu kamar Amara, ternyata adiknya itu sudah tidur.
Fufy mengatur napasnya. Menaruh segelas air di samping tempat tidur, Fufy yakin adiknya ini belum tidur. Amara hanya memejamkan mata saja.
Fufy melihat jam dinding. Ia merapikan buku-buku yang berserakan di meja belajar. Hatinya tersentuh membaca satu persatu nota yang menempel di dinding.
__ADS_1
Semangat, Amara!
Juara satu menantimu!
Ayo buat keluarga harmonis ❤️
Fufy tau ini ditulis oleh Amara sendiri. Tidak menyangka bahwa adiknya memiliki jiwa seambis ini.
"Ra, aku sudah rebus telur untukmu. Nanti kalau bangun, di makan, ya." Setelah itu, Fufy keluar dari kamar Amara.
Amara membalikkan badannya, menutup seluruh badannya menggunakan selimut. Matanya sudah basah sejak tadi.
...---...
Ketika semuanya berlanjut, kadang ada keburukan datang. Merenggang itu sudah sewajarnya dan hukum namanya. Fufy duduk di kursi kepunyaan sang Ayah.
Semua pandangan mengarah ke arahnya. Fufy sendiri menatap dirinya dari cermin dengan perasaan tidak ikhlas. Rambut berkilau kebanggaannya harus dipotong.
Demi keharusan itu, dan demi perwujudan keinginan terjadi, Fufy mengiyakan. Sang Ibu berdiri di belakangnya bersiap menggerakkan gunting di tangannya.
"Sepertinya kamu sudah mencurigai itu sejak awal, ya," gumam Camara menonton kegiatan tersebut.
"Ada kabar gembira untuk kalian," ucap Camara membuat semuanya menoleh ke arahnya terkejut, termasuk Asti.
Amara yang tengah mengambil video potong rambut Fufy, menghentikan berlangsungnya video itu. Sedangkan Astina yang sejak tadi sibuk membaca buku di sebelah Camara, menyimak-memasang telinganya agar tetap fokus.
"Ada apa, Ayah?" Amara bertanya.
Camara berdehem, melirik sang Istri. "Kami berdua memutuskan untuk membatalkan gugatan cerai," cakap Camara berhasil membuat semua anaknya berteriak gembira, termasuk Astina.
Asti kembali melanjutkan acara memotong rambut anaknya dengan wajah memerah. Fufy meringis melihat gaya potongan rambut sang Ibu. Tidak beraturan.
Camara gagap, "Y—Ya."
Fufy membalikkan badannya, spontan mengambil gunting dari tangan Asti. "Aku senang. Tapi tiba-tiba?"
Fufy membuat saudarinya menatapnya tajam. "Kamu harus senang." Astina berucap formal.
Amara bertepuk tangan dengan senyuman menghiasi wajahnya. Fufy kikuk, kemudian mengikuti apa yang Amara lakukan.
"Tapi—Ayah ingin mencari suasana agar bisa selalu bersama kalian," ujar Camara, "jangan bersedih. Mulai sekarang, bukan mengukur kebahagiaan dari media sosial. Ayah akan berusaha mengapresiasi kalian dengan cara Ayah pada umumnya."
"Maksud Ayah?"
Fufy menatap Ayahnya memelas, seolah mengerti yang maksud arti kalimat barusan.
"Ayah ingin membawa kalian ke tempat yang lebih nyaman. Disana, kita bisa membuat kenangan yang lebih baik," cakap Camara.
"Iya. Rumah ini akan kami jual untuk mengurangi bayar pajak," ungkap Asti.
Semua anak tersentak mendengar itu. "Bayar pajak? Ayah mengalami kebangkrutan?" tanya Fufy takut.
__ADS_1
Camara mengambil laptop, lantas memperlihatkan sesuatu disana. "Rugi juga jika membayar pajak untuk rumah yang tidak ditempati," katanya menjelaskan.
Amara bertanya, "Lalu bagaimana dengan sekolah kami?"
"Tinggal dipindahkan."
Fufy tercengang. "Ayah mau pindah kemana? Apa disana ada tempat panjat? Ke sekolah yang bagaimana, Yah?" tanya Fufy beruntun.
Asti menatap Camara, lalu menganggukkan kepala seolah berbicara dari mata. "Selengkapnya besok kami tunjukkan."
...-----...
Malam perpisahan atau dikenal dengan sebutan Prom night dalam bahasa Inggris. Para atlet merayakan malam perpisahan untuk Fufy besar-besaran. Ini juga termasuk perayaan untuk Mantra. Karena waktu Mantra tinggal disini telah habis.
Semua protes. Setiap beberapa menit, para atlet, khususnya atlet perempuan berkaca akibat tidak percaya diri.
"Aih, gimana nyembunyiin otot segede tai kambing ini." Levi frustasi.
Dress yang mereka pakai memang sengaja dirancang terbuka dibagian bahu. Tentu itu membuat para atlet resah. Merasa sedih harus berhadapan dengan pakaian feminim.
"Tidak apa-apa, kalian harus beradaptasi," ucap Ranbi.
"Beradaptasi gimana, Bi? Ini gue pengen sobek baju ini." Riska misuh-misuh.
"Kalau aja bukan karena Fufy, gua males," kata Saraswati menarik dress-nya kembali.
"Lebih tepatnya gue pegen diposting di akun FPTI," ucap Bulan, "harus tampil cantik dong, sekali-kali ini, mah," sambungnya.
"Eh, Ngomong-ngomong Fufy belum dateng, nih?" Levi mencari sosok Fufy.
Ranbi mengangkat bahu sebagai jawaban. "Padahal dia tamu spesial," ujar Saraswati.
"Btw, kalian tau masalah Fufy sama admin FPTI gak?" tanya Levi.
"Memang Admin FPTI siapa?" Santi menyambung.
"Woi, kalau gue jadi Fufy pasti udah nuntut sih. Berpengaruh banget sama bukti pencapaian kita," kata Levi.
"Aku jadi kepo," lontar Ranbi.
Sementara di dalam sana, Fufy baru saja tiba tempat pesta. Merapikan rambut pendeknya, Fufy menarik napas berat. Tidak ingin berpisah dengan teman-temannya.
Ardha menghampiri bersama Mada dan Sastra. "Tuan Putri terlambat," komentar Mada menyilangkan kedua tangannya.
Fufy diam terpaku dengan Ardha. Bolehkah Fufy jujur? Ardha sangatlah tampan! Dia sudah seperti Pangeran Kerajaan.
Ardha maju, mengulurkan tangan, "Belum terlambat. Maukah kamu berdansa denganku?"
Telinga Ardha memerah, menunggu jawaban Fufy. "Huh?" Sastra berdehem.
"Akan lebih baik saya mengajari anda cara ahli berdansa," kata Ardha.
__ADS_1
...----...
...Haloo!! Siap Ending? Siapkan😍...