CANCER [ROCK CLIMBING]

CANCER [ROCK CLIMBING]
Chapter 19


__ADS_3

"Tunggu, woi, gue belum selesai ngomong!" Saraswati mencegat Fufy.


Kepala Fufy menunduk, merasa tidak siap mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Saraswati. Sejak tadi Fufy merasa Saraswati terus memantaunya, membuat dirinya merasa tidak nyaman.


"Denger. Jangan pikirkan apa yang orang lain katakan tentang kamu. Mereka hanya berkomentar karena melihat dari satu sisi," terang Saraswati kepada Fufy.


"Baik, Aquarius." Saraswati berdecak, "gue serius, Sagitarius!"


Nyali Fufy yang awalnya berniat mengajak Saraswati bercanda menciut. Pandangan Saraswati menatapnya serius.


"Hehe, maaf." Fufy menunjukkan huruf v.


Saraswati memoleskan kapur ke pipi Fufy. "Pokoknya jangan dengerin," pesan Saraswati bermakna.


Fufy menirukan, "Pokoknya jangan bikin Fufy takut."


"Hei, ayo sembahyang." Ranbi kemudian datang menghampiri mereka.


Sebelum sembahyang, pikiran Fufy sudah kemana-mana. Perkataan Saraswati membuatnya resah. Fufy tidak bisa menduga apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini.


Saat melewati gedung utama, mereka berpapasan dengan Ardha yang sedang bersama Alin. Melihat pemandangan itu, membuat suasana hati Fufy seketika berubah.


"Udah kamu siapkan?" Alin bertanya.


"Sudah," jawab Ardha singkat sembari menatap Fufy.


Fufy membuang wajahnya, lantas mendahului langkah mereka. "Nanti kita bareng aja." Ucapan Ardha spontan membuat Fufy menoleh ke arahnya.


Pandangan mereka bertemu. "Hari ini aku doa apa, ya," gumam Ranbi di tengah-tengah mereka.


Saraswati ikut berpikir, "Doa biar dapet jodoh yang baik, boleh kali, ya?"


Mendengar perbincangan itu, Alin bertanya kepada Ardha. "Hari ini kamu mengucapkan doa apa, Ardha?" Alin tersenyum manis.


"Meminta ketenangan," jelas Ardha menjawab.


Alin bertepuk, "Sama dong! Kayaknya permintaan kita sama."


Fufy memutar bibirnya mencibir mendengar pembicaraan mereka. Jelas dirinya sebal. Tapi ketika melihat topi yang melekat di kepala Ardha, perasaan Fufy berubah lebih baik.


"Kalau ke Singapura, kamu mau kemana aja?" tanya Alin lagi, "belum tentu kepilih."


Sontak membuat Fufy beserta semua atlet memandang Ardha garang. Wajah mereka terlihat kusut ketika mendengar kalimat Ardha.


"Kamu pasti kepilih, Ardha! Atlet seperti kamu itu bagaikan emas!" sembur Alin mewakili semuanya.

__ADS_1


"Kamu bisa, Ardha, bisa! Aku dukung kamu paling pertama!" Alin berucap semangat.


Fufy memilih bagian bouldering. Semua peserta diwajibkan untuk memilih satu bidang panjat tebing yang dikuasainya. Diantara semua jenis panjat, bagian bouldering yang paling banyak peminatnya. Sebagian atlet senior memilih bouldering yang akan digigihi mereka.


"Ardha, saya harap kamu bisa meluangkan waktu disini," ucap pak Bima.


Fufy dengar Ardha menjadi gila belajar. Sering Fufy dengar anak-anak di sekolahnya membicarakan Ardha. Ardha cukup terkenal dikalangan anak ambisius. Itu karena dia tidak memilih sekolah di Trian Akademi.


Sekolah yang diimpikan oleh semua siswa seluruh Indonesia. Fufy berhasil masuk menjadi bagian salah satunya. Karena berkat itu, akhir-akhir ini Fufy membuang waktu tidurnya.


"Semuanya, saya harap kalian bisa mengutamakan panjat tebing daripada hal lain. Terima kasih ada kerja samanya. Selamat berjuang."


Penutupan itu adalah tanda jam istirahat datang. Fufy berlari kecil menghampiri penjual batagor. Lambungnya sudah meronta-ronta meminta jatah. Tidak tanggung-tanggung, Fufy membeli lima belas ribu. Tahu itupun bertumpuk membuat Fufy tambah ngiler.


"Aku yang bayar," kata Ardha membuat Fufy tersentak.


Meluluh karena melihat ketampanan Ardha dari jarak dekat seperti ini. Fufy tau dirinya tinggi, tapi melihat Ardha yang sengaja membungkukkan badannya seperti ini, membuat perasaan Fufy tidak karuan.


"Tidak usah. Terima kasih, Fufy bawa uang, kok," tolak Fufy sopan, "uang bukanlah segalanya. Tapi uang bisa membeli perhatian," ujar Ardha.


"Huh? Belajar kata-kata mutiara darimana, nih?" Fufy terkekeh.


Sedikit tidak menyangka mendengar Ardha mengucapkan kalimat itu kepadanya. Cukup tersindir. Tapi segera Fufy singkirkan.


"Gimana latihan hari ini?" tanya Ardha dengan mulut penuh.


Setelah Fufy survei, kemunafikan di Lapangan muncul. Ada banyak yang tiba-tiba bersikap baik, karena ada niat. Dibalik itu, mereka menganggap temannya sebagai lawan. Dan jujur, Fufy menjadi bagian sifat manusia itu.


Diam-diam juga dirinya takut, tiket yang dirinya harapkan diambil orang lain. Sudah terbukti, Fufy kalah satu poin dengan Mantra. Keduanya tidak pernah bertegur sapa, walau berdiri berdampingan. Seolah gengsi menguasai mereka.


"Semangat, Penyemangat pasti bisa!" Fufy menelan batagor bulat-bulat, kemudian tersenyum lebar.


Ardha diam sejenak, "Ikhlas tidak pemberiannya?"


"Maksudnya?" Fufy mengartikan maksud Ardha. Detik kemudian, bibirnya mengerucut. Ardha tidak tau, bahwa alasan Fufy mengatakan semangat itu agar tidak kalah dari Alin. Rencananya mau memberi secara ikhlas, tapi akhirnya tidak begitu.


"Baiklah, semangatnya aku simpan." Ardha tersenyum simpul.


Fufy menaruh piring yang bersih. "Simpan dimana?"


"Dihati." Sontak Fufy tertawa, "senyuman baik datang saat-saat sulit datang."


"Saat aku kehilangan semangat, semangat darimu akan aku gunakan," lontar Ardha.


Tubuh Fufy meremang mendengarnya. Terdengar jago sekali Ardha berkata seperti demikian. Fufy merasa seluruh badannya panas. Pokoknya dia salah tingkah.

__ADS_1


"Baik, bapak Cancer. Zodiak setia paling anti dengan berselingkuh. Tapi—mendengar godaan itu..," Ardha geleng-geleng kepala.


"Kamu tau? Itu khusus untuk kamu seorang, wahai gadis Sagitarius." Ardha menahan napas.


...----...


Fufy membawa selembar kertas dengan wajah berseri-seri. Dia tidak sabar akan memamerkan hasil ujian fisika yang mendapat angka sempurna. Mengetuk pintu, dilihatnya kamar sang Ayah kosong.


Seingat Fufy, sore tadi Camara masih ada di rumah. Apa Ayahnya pergi lagi, karena ada urusan di Kantor? Tapi malam-malam begini? Karena Fufy sudah mengantuk, ia lalu memutuskan untuk menaruh hasil ujiannya di meja kerja sang Ayah.


Betapa terkejutnya Fufy ketika tidak sengaja melihat sebuah dokumen yang terlihat mencolok dari yang lain. Dokumen itu seperti Fufy lihat waktu praktek di sekolah. Itu dokumen.., perceraian?!


Fufy segera keluar kamar untuk mencari keberadaan Ayahnya. Berkeliling rumah, Fufy tersentak ketika bertemu dengan Astina. Anak paling disayang oleh kedua orang tuanya.


Fufy menyapa, "Kakak tidak tidur?"


Astina menatapnya tanpa berkedip. Tatapan yang sudah lama Fufy ingin lihat kembali. Tapi kali ini merupakan sebuah tatapan redup.


"Jangan sebar." Suara Astina yang jarang sekali keluar, bagaikan emas kini terdengar seperti ancaman.


Dua kata itu menjadi ucapan pertama yang Astina lontarkan selama tiga bulan ini. Fufy senang sekaligus takut. Apanya yang disebar? Fufy bertanya kembali, tapi Astina sudah menutup kembali mulutnya rapat.


...---...


Paling tidak suka dengan hari Senin. Hari yang menurut Fufy hari keramat. Sudah lunglai akibat upacara, sekarang ditambah dengan adanya razia ponsel dadakan. Begitu sulit mengikhlaskan ponsel kesayangannya. Terpaksa, Fufy membuang ponselnya ke dalam bak sampah.


"Eh? Kenapa dibuang?" Fufy menelan ludah kasar, lalu memutar badannya.


Ternyata dihadapannya sudah ada Agam berdiri menatapnya garang. Fufy cengengesan menghindari tatapan Agam. Dia tidak ingin Agam membahas pembicaraan mereka kemarin malam.


"Gue simpan, tenang. Bakalan aman dari detektif Ketos, kok," cakap Agam meyakinkan.


Fufy merasa dirinya sudah tertangkap basah. Bukankah ini sama saja dengan berbohong? Fufy menyembunyikan melalui sistem juga. Fufy menggelengkan kepalanya menolak.


Fufy tau bahwa jika dirinya ditulis di daftar nama siswa yang melanggar ketentuan Sekolah ini, maka otomatis poin nilainya akan berkurang tiga. Bahkan jika melakukan hal kotor seperti ini, dan ketahuan, maka tamatlah riwayatnya.


"Tidak us—" Agam memotong, "ada jaminan seribu persen. Yakin, gue sama Ardi lagi marahan. Ardi pasi nyuekin gue." Agam berkata meyakinkan.


Fufy menimang-nimang. Kalau dibuang di tempat sampah kembali, kemungkinan akan dibuang langsung oleh siswa lain. Karena setelah ini akan ada pengecekan pembersihan kelas. Selain itu, tidak ada lagi tempat yang lebih aman.


"Dimana lagi kalau bukan gue? Temen lo yang lain ada juga yang nitip ke gue, kok. Bisa, ya? Emang mau ditulis namanya di buku sekolah? Kalau di cek waktu pemilihan juara gimane? Gimana?" Tawaran Agam begitu menyulitkan.


Namun, karena Fufy memanglah manusia yang naif, jadilah dia memilih untuk menyimpan dengan Agam. Agam tersenyum, mengelus ponsel Fufy membuat pemiliknya melotot.


"Pikirkan permintaan aku, ya," pinta Agam merubah cara bicaranya.

__ADS_1


Fufy tersenyum memaksa. Cukup memuakkan meladeni buaya darat. Itu seperti melihat dirinya dari sisi laki-laki.


...---...


__ADS_2