![CANCER [ROCK CLIMBING]](https://asset.asean.biz.id/cancer--rock-climbing-.webp)
Bagian Epilog: Aku dan Kamu
..."Segalanya membutuhkan waktu. Jika ingin berjalan cepat, maka tidurlah."...
...-----...
3 Tahun Kemudian
Fufy menautkan kedua alisnya melihat orang-orang yang berada di dalam Kereta ribut—berdebat. Niatnya ingin tidur tenang, gagal. Perjalanan yang Fufy tempuh masih jauh. Fufy membutuhkan waktu istirahat yang cukup.
"Ini tempat duduk saya! Lihat, saya sedang hamil!" lantangnya marah.
Wanita didepannya berteriak membalas. "Kalau begitu harusnya Ibu mengerti anak saya sedang sakit!" galaknya membalas.
Fufy memijat pelipisnya pening. Tidak seharusnya dirinya tadi meminta jadwal lebih awal. Fufy harus menyiapkan tenaganya untuk memanjat nanti.
Karena cita-citanya telah terwujud. Akhirnya Fufy bisa mendapat kesempatan untuk memanjat di tebing langsung. Kebanggaan itu membuatnya tidak sabar.
Antara tidak sabar mencoba memanjat, atau tidak sabar bertemu seseorang di tempat panjat.
Sayang
Kamu sudah sampai mana?
Fufy tersipu malu membacanya. Apakah Pacarnya itu sama tidak sabarnya dengan dirinya? Membayangkan itu membuat rasa pusing hilang begitu saja.
Tempat tujuannya sudah tiba, gerbong kereta terbuka. Waktu sudah menunjukkan senja hadir. Fufy menggendong tasnya, kemudian turun dari kereta dengan hati-hati.
Pandangannya turun, fokus terhadap sepatunya yang kotor. Fufy melihat sekeliling, dan matanya menangkap seseorang yang dirindukannya.
"Hai!" Lelaki itu membantu Fufy membawa barang, kemudian menarik tubuh Fufy untuk dipeluknya.
Fufy membalas pelukan tersebut. Menyembunyikan wajahnya, Fufy menghirup bau badan khas lelaki ini. Sangat menenangkan.
"Kok pacarku jadi kucel begini?" tanya lelaki itu kuatir.
Fufy cemberut, "Jelek, ya?"
Kemudian pipinya dicubit. Lelaki itu merasa gemas dengan wajah Pacarnya—Fufy.
"Cantik sayangku," jawabnya membuat Fufy tersipu malu, "alay tau!" sosor Fufy membalas.
"Kamu baru nyadar?"
Fufy menyilangkan kedua tangannya dengan pipi memerah. "Si paling Sadar," kata Fufy.
"Iya, Cancer kan, memang begitu." Fufy menatap Pacarnya garang.
"Ya, ya, ya." Ardha menarik sudut bibirnya.
Ya, Pacar yang dimaksud Fufy tidak lain adalah Ardha. Cowok berzodiak Cancer itu memiliki hubungan serius dengan Fufy sejak dua tahun yang lalu. Hubungan mereka berjalan secara virtual.
"Buket itu, kamu yang kirim lagi?" Alis Ardha bertaut, "memang ada cowok yang memberi itu selain aku?"
Cemburuan. Kalau Ardha sudah memasang wajah datar seperti ini, maka sudah dipastikan bahwa Fufy akan kesusahan sendiri nantinya. Bukan Ardha, tapi Fufy yang akan uring-uringan sendiri.
Tidak mendapat kabar dari sang Pacar sehari saja, Fufy sudah malas mengerjakan semua aktivitasnya. Sementara itu, hal yang selalu dilakukan Ardha yaitu memberikan buket jepit kupu-kupu setiap Minggunya. Untungnya rambut Fufy sudah memanjang, jadi dia bisa menempelkan jepit di semua helai rambutnya. Tidak-tidak, itu terlalu berlebihan.
Tidak seperti pacar pada umumnya, Ardha berbeda. Mungkin karena kaya, diawal pendekatan mereka sebelum jadian, Ardha mengirimkan sekotak es krim ke kotanya demi untuk memenuhi janjinya.
Fufy tidak habis pikir. Sampai beberapa kali berpikir untuk berjualan es krim.
"Bukan! Aku harap jangan kirim lagi! Lihat, aku sampai kebingungan memilih motifnya," papar Fufy tidak ingin menyakiti Pacarnya ini.
"Berarti bagus, ya. Nanti aku pesan dua buket sekaligus," kata Ardha membuat Fufy melotot keheranan.
Jangan lakukan itu! Fufy berteriak dalam hati.
"Baiklah." Namun kenyataannya Fufy tetap patuh kepada Ardha. Ardha menggemgam erat tangan Fufy, kemudian berjalan untuk mencari taksi.
"Habis ini kita latihan bersama, ya."
...--- ...
Fufy meregangkan otot-ototnya, bersiap untuk memanjat. Di sebelahnya, seperti biasa sudah ada asisten yang sejak tadi membawa botol minum untuknya kemana-mana.
__ADS_1
Ardha memperhatikan Fufy dengan wajah tidak tega. "Kamu masih kuat? Aku gendong, ya?" tawarnya karena kuatir.
Fufy memutar bola matanya malas. Sangat lebay. Tidak tau mengapa Ardha menjadi lembek seperti ini. Fufy geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku masih ada energi, kok," balas Fufy lembut seraya tersenyum paksa.
Ardha cemberut, "Kalau kamu pingsan bagaimana? Sayang, mending kita suruh orang lain buat bawa mobil kesini, yuk."
Fufy berusaha tabah. Tidak mungkin mobil bisa masuk ke area ekstrim seperti ini, bukan? Pacarnya ini aneh-aneh saja.
"Sayang," rajuk Ardha.
"Stop deh, kalian berdua! Kecilin volumenya! Kalau setan denger, kan nanti dia iri," ujar Mantra di belakang mereka.
"Hehe, kan kamu Setannya," lontar Fufy membuat Mantra kesal.
Ardha ikut tertawa. "Iri? Pergi sana!" usir Ardha blak-blakan.
"Woi lo—" Fufy melanjutkan, "Abdi gak diajak."
Mantra bersungut kesal, "Lupain babi! Abdi udah mati, fak!"
Tawa Fufy pecah. Dirinya juga tidak menyangka bahwa Abdi yang dimaksud adalah Mantra. Ya, Mantra adalah Abdi yang sebelumnya menjadi Pacar yang suka meneror dirinya.
Alasan tersebut menurut Mantra karena ingin membuat Fufy sedih, sehingga tidak semangat berlatih. Tapi gagal. Dan juga katanya Mabtra ingin melihat Ardha cemburu akibat olehnya.
"Iya, Abdi," ucap Ardha ikut-ikutan.
"Babi!" Mantra malu sendiri.
Fufy mengaitkan tali karmantel dibantu oleh Ardha. Menggunakan carabiner membuat Fufy merasa aneh sendiri. Seperti dirinya terlalu meminum banyak air.
"Semangat sayang!"
Fufy menahan senyumnya. Ada debaran ketika Ardha mengucapkan kalimat keramat itu.
Fufy memanjat masih menggunakan pengaman tali, karena ia perlu beradaptasi dengan batuan langsung ini. Untuk suatu hari, Fufy akan mengambil jenis soloing untuk memanjat.
Merasa tali terlalu kencang, Fufy berkata, "Slack!"
"Rock!"
Begitulah cerita kesuksesan Fufy di olahraga bidang Panjat Tebing. Semuanya butuh proses. Tidak ada yang instan di dunia ini. Jika kalau memang cepat sukses, maka masalah akan datang ketika perjalanan sukses itu berlangsung.
...---...
Extra Chapter
----
Tahun kelima mereka menjalani hubungan dengan suka duka Fufy dan Ardha sudah lalui bersama. Di tahun ini, Ardha baru melanjutkan kuliah S2 di Singapura. Sedangkan Fufy masih kuliah S1 jurusan Psikologi—sesuai cita-citanya untuk menyembuhkan mental kakaknya.
Meski menjalani hubungan di negara asing, tidak membuat hubungan mereka renggang. Karena mereka hidup dalam satu atap. Fufy dan Ardha kuliah beda universitas. Ini karena tidak ada jurusan yang diminati Ardha ditempat Fufy belajar.
Fufy bangun pagi-pagi sekali, mengingat hari ini ada kelas pagi. Perempuan itu sangatlah disiplin. Dipagi buta, dia sudah keluar untuk membuang sampah seperti aturan disana. Lalu kemudian pergi untuk berolahraga, meninggalkan sang pacar yang masih guling-guling dikasur.
Ardha—cowok malas yang memiliki cetakan otot pada perut. Datang-datang, perutnya sudah ditinju oleh Fufy karena Ardha mulai berani tidur tanpa memakai atasan.
"Bangun!" Fufy kesal sekali dengan tingkah Ardha. Dia kira lelaki itu adalah lelaki tertib dan mematuhi kebersihan. "Sayang, jadwalku siangan," balas Ardha serak.
"Oke." Bukannya merasa lega, Ardha justru panik. Jawaban itu adalah maut baginya. Dengan cepat dia bangun, kemudian tanpa aba-aba wajahnya sudah basah akibat dilempari telur oleh Fufy.
"Sayang!" Ardha melempar selimut—tidak peduli dengan ranjang yang berantakan, kemudian menarik Fufy, lalu membanting perempuan itu ke ranjang. "Rasakan!" Ardha menyeringai, berniat membalas perbuatan Fufy.
Fufy berteriak, "Harga telur itu setara dengan uang saku harianmu! Ganti rugi jika berani!"
Ardha terdiam, mengangkat kedua tangannya keatas. Sontak Fufy menutup matanya, dan berteriak lantang, "PAKAI BAJU!"
Spontan Ardha menyilangkan kedua tangan, berusaha menutup badannya. "Cewek mesum!" sembur Ardha membuat Fufy melotot tidak terima.
Fufy bangun, kemudian melempar bantal kearah Ardha. "Mesum gini juga aku pacar kamu!" ujarnya membuat Ardha terkekeh.
"Masa sih? Psikolog ini pacar aku?" Fufy kesal mendengarnya, "coba tes, emang bener? Coba tes mentalnya," kata Ardha tertawa kecil.
"Ya mas Penguras uang," balas Fufy malas. Seketika Ardha panik, mengira bahwa sang pacar marah kepadanya.
__ADS_1
Ardha mengikuti Fufy dari belakang. "Sayang, kamu marah? Marah, ya?" tanya Ardha terus menerus, namun Fufy tetap diam.
Fufy menuang air kedalam panci untuk merebus telur. Mengingat nanti sore dia ada jadwal latihan panjat tebing, Fufy ingin menguji perutnya sendiri.
"Sayang, marah, ya? Ardha belikan es krim, ya?" Ardha sengaja memasang tampang polos didepan Fufy.
Sebal, Fufy menonjok wajah Ardha, membuat korbannya meringis. Ardha mengelus hidungnya yang dirasa hampir bengkok. "Aku ada latihan nanti," ucap Fufy memberitahu.
"Hm?" Ardha ikut merecoki Fufy sambil membuat kopi, "aku ijin dulu, ya. Nanti sore rencananya mau buat rumus baru di perpustakaan."
"Oh, sama cewek yang dari Amerika itu," cakap Fufy diakhiri kekehan kecil.
Seketika hawa aneh menghampiri mereka. Air mendidih mewakili perasaan Fufy pagi ini. Sementara Ardha yang tidak mengerti, mengangguk menjawab. Dia adalah lelaki jujur.
"Iya, dia bantu aku. Pulangnya juga agak malam, nanti aku jemput di tempat latihan." Fufy diam tanpa merespon.
Ardha menaruh dua gelas kopi ke atas meja. "Sayang, minum kopi dulu," ujar Ardha memanggilnya.
"Gak. Gak baik buat kesehatan," jawab Fufy menolak dengan wajah datar.
Perempuan itu tetap menghampiri Ardha, meski rasa kesal menumpuk. Sudah menjadi kesepakatan, bahwa apapun masalahnya harus dibicarakan. Walau begitu, rasanya susah sekali menghindari masalah, dan berat untuk mengungkap bahwa dirinya tengah cemburu.
Fufy tidak mau mengakuinya. Karena jika ditanya pun, Ardha tetap menjawab mereka hanya berteman. Ya, memang faktanya berteman. Tapi tetap saja itu mengganggu pikiran Fufy.
"Deketan sini." Ardha menarik kursi Fufy agar lebih dekat dengannya. Meneliti wajah Fufy yang sangat lucu dimatanya, Ardha cekikikan sendiri.
Ingin sekali Fufy meremas telur yang sedang dikupasnya itu, tapi dia ingat pelampiasan tidak akan membuat dia tenang, malah hanya membuat uangnya terbuang sia-sia. Tangan Ardha kemudian membantu Fufy melepas cangkang telur.
"Cemburu, ya?" Ardha terdengar menggodanya.
"Oh, berarti lagi laper," ucap Ardha bergumam, namun dapat didengar oleh Fufy, "sayang," panggil Ardha.
"Hm." Ardha cemberut, "kamu belum mandi, ya? Kok bau keringet," ujar Ardha membuat Fufy menatapnya tajam.
Jelas, ini karena dirinya sehabis berolahraga tadi. Meski begitu, Fufy rasa bau badannya tidak buruk. Fufy melirik Ardha. Apakah cowok itu sedang mengajaknya bertengkar?
Karena Fufy sangat sensitif akhir-akhir ini. Mengingat perempuan yang selalu bersama dengan Ardha.
Ardha membagi telur sama bagian, lantas berkata, "gimana kalau kita lomba? Mau?"
"Tantangan?" Fufy bertanya, "yah, bukan juga. Ini seperti melampiaskan agar bisa kenyang."
Fufy menyeringai, "Siapa takut."
Lalu secara bersama mereka memasukkan satu butir telur kedalam mulut, kemudian mengunyah sebentar, lalu menelannya. Ardha menatap ngeri sang pacar. Apakah Fufy sungguh marah kepadanya? Terlihat Fufy seperti kesetanan memakan semua telur dihadapannya. Tidak. Ardha rasa Fufy tidak mengunyahnya, melainkan menelannya bulat-bulat.
"Fufy," gumam Ardha kuatir.
Fufy menepuk tangan sekali, kemudian mengangkat jempol. Dia berhasil menghabiskan semua telur. Ardha menelan ludah melihatnya. Dia baru saja memasukkan telur ketiga. Sedangkan Fufy kemungkinan sudah menghabiskan sekitar sepuluh butir.
Ardha menangkup wajah Fufy. Fufy memang menggemaskan, apalagi saat dia mengunyah telur hingga pipinya mengembung seperti ini. Sejujurnya, Ardha tidak ingin ada masalah diantara mereka. Dia dan perempuan itu murni berteman. Tidak ada perasaan yang tumbuh. Hidup setiap hari dengan Fufy sebuah kebahagiaan bagi Ardha.
Apalagi saat mereka belajar bareng-bareng. Ardha sangat senang ketika Fufy mengantarnya membeli buku. Ardha suka Fufy memikirkan menu masakan setiap hari untuk sarapan mereka. Ardha puas ketika Fufy tiduran dikala mereka habis menonton film bersama. Ardha sangat menyayangi pacarnya ini.
Tidakkah Fufy tau, bahwa butuh lebih dari lima belas tahun dirinya menyukai Fufy. Ardha juga sering cemburu ketika Fufy bercengkerama dengan lelaki lain selain dirinya. Tetapi dia selalu ingat, bahwa keegoisan tidak menguntungkan.
Ardha mendekatkan wajahnya, kemudian mencium kening Fufy lama. Dia tidak akan merusak perempuan ini. Walau sudah menjadi miliknya, Ardha harus menjaga Fufy agar bisa hidup tenang dan bahagia.
"Jangan cemburu, ya? Aku sedih liat kamu marah tadi," ungkap Ardha meminta, "kalau kamu marah, ayo pukul aku, teriak ke aku, jangan diam seperti tadi. Jangan jadi perempuan lemah, oke?"
Ardha menarik bibir Fufy agar tersenyum kepadanya, "anak panjat tidak selemah ini, kan?"
Fufy terkekeh, mengangguk kecil. "Gimana kalau nanti kamu temenin aku kerja kelompok? Nanti aku kenalin kamu sebagai pacar aku," kata Ardha sambil menggenggam erat tangan Fufy.
Fufy diam, pikirannya terusik. "Kalau kamu ngerasa dia genit ke aku, kasih dia pelajaran juga tidak apa-apa." Ardha menatap Fufy dalam..
"Asalkan jangan marah denganku lagi, ya?"
----
Terima kasih banyak yang sudah membaca cerita TENTANG FUFY!🥰🙏
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku bangga sama diri sendiri karena telah menyelesaikan cerita sampai Tamat!😁😭👍
Sampai Jumpa di cerita yang lainnya!💓🥳
__ADS_1