
Setelah beberapa saat Adit pun sampai di perusahaan. Di lobby tampak Doto yang sudah menunggunya.
" Aduh Bos lama banget sih sampainya."
" Apaan sih ribet deh."
Adit berjalan menuju lift dan menekan tombol ke lantai paling atas. Lantai di mana ruangannya berada.
Tring....
Pintu Lift pun terbuka. Adit segera memasuki ruangannya. Di sana tampak Jelita yang sudah duduk menunggu Adit. Wanita itu memakai gaun yang begitu seksi mungkin bisa dikatakan sebuah lingerie.
"Ini cewek sarap kali ya masa pagi-pagi begini dipakai lingerie begitu." Gumam Adit.
" Hai Sayang aku rindu...."
" Sayang... Kenapa pakai baju begitu di sini. Nanti kalau tubuhmu dilihat orang bagaimana hmmm... Aku sungguh tidak rela."
Adit berusaha untuk bersikap semanis mungkin. Meskipun dia sudah merasa jengah dengan wanita yang berada di depannya.
" Tidak sayang... Aku tidak mungkin berpakaian seperti ini di depan semua orang. Aku melakukannya khusus untukmu."
" Tapi... Bukannya ini masih pagi sayang."
Adit sedikit bergidik melihat tingah Jelita. Ia merasa libido wanita ini tengah tinggi tingginya. Adit melihat Jelita menggeliat di atas pangkuannya. Ia bahkan meraih tangan Adit dan menaruh di benda kenyalnya yang tampak menantang.
Adit tersentak, ia begitu terkejut. Selama ini selalu dia yang memulai. Dan baru sekarang Jelita memulai duluan bahkan begitu agresifnya.
Jelita menuntun tangan Adit yang satu untuk meremas buah kenyalnya. Dan menuntun yang satu lagi menuju lembah basah miliknya.
Glek...
Adit menelan salivanya dengan susah payah. Ia masih berusaha menjaga kewarasannya. Entah mengapa kali ini Adit benar benar merasa harus bisa menahan hasratnya.
Tidak.. Tidak... Aku harus bisa menahan.... Aku merasa ada yang tidak beres dengan Jelita. Aku tidak mau terjebak olehnya.
Adit menarik kedua tangannya dan langsung mengangkat tubuh Jelita ke toilet. Ia langsung mengguyur tubuh Jelita dengan shower. Beruntung toilet ruangan kantor Adit dilengkapi dengan fasilitas mandi.
Syuuuuuur.....
Brrrrr.....
__ADS_1
" Adit..... Dingin.....!!!! Ini dingin banget....!!"
" Bagus...tampaknya kau sudah sadar sayang."
Jelita menggigil akibat ulah Adit yang mengguyurnya dengan air dingin. Aditpun segera memberi Jelita handuk dan memberikan baju ganti milik Jelita.
Jelita keluar kamar mandi lalu kemudian duduk di sofa. Di meja sudah terdapat teh manis hangat yang dibuatkan Adit untuk menghangatkan tubuh Jelita.
" Minumlah..."
" Makasih."
Glek...glek...glek... Jelita meminum tehnya sampai tandas. Ia pun segera menaruh gelasnya kembali ke meja.
" Sekarang katakan padaku kenapa kau berbuat seperti tadi. Ini bukan seperti kau biasanya."
Jelita menunduk. Ia sendiri bingung harus mengatakan apa kepada Adit atas perilaku nya itu.
" Maaf... Aku hanya merasa rindu sentuhan. Selama mengenalmu aku tidak pernah lagi berhubungan dengan pria lain. Dan beberapa hari tidak melakukannya denganmu membuat hasratku membuncah."
Adit bergidik, ia berpikir Jelita adalah seorang maniak. Namun setelah ia ingat ingat, memanglah wanita ini ynag biasanya lebih aktif saat 'bermain' Adit selalu bisa dibuat puas olehnya.
Jelita mendekat kearah Adit dan duduk di sebelah Adit. Ia pun meraih tangan Adit dan menggenggamnya erat.
Adit menepis tangan Jelita. Ia pun berdiri dari duduknya.
" Jelita kau sudah tahu kan aku tidak mau berkomitmen dan kau sudah tahu dari awal mengenai hal itu. Sekarang mengapa kau tiba-tiba meminta pernikahan?"
" Adit please Aku mencintaimu sungguh mencintaimu Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tahu meskipun kita berhubungan, kau juga mempunyai hubungan lain di luar sana bersama banyak wanita. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu aku sungguh mencintaimu Dit."
" Bullshit yang namanya cinta dia tidak akan mau membaginya kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai nafsumu."
Adit sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Jelita. Mana ada seorang wanita atau seorang pasangan yang rela dan membiarkan pasangannya berhubungan dengan orang lain. Tidak ada di dunia ini yang mau membagi cintanya.
" Sudahlah Jelita kita akhiri saja hubungan kita di sini. Kau carilah pria yang bisa memuaskan dan bisa mencintaimu."
" No... aku tidak akan menyerah Aku yakin suatu hari aku akan mendapatkanmu."
Jelita beranjak dari duduknya dan melangkah pergi keluar dari ruangan Adit. Adit menghembuskan nafasnya kasar. Selama ini berhubungan dengan wanita baru Jelita lah yang minta sebuah komitmen. Padahal di awal pertama bertemu Adit selalu menjelaskan kepada wanita-wanitanya bahwa dia tidak ingin ada komitmen sama sekali. Apa yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka dan kesenangan bukan Cinta.
" Brengsek .... sialan.... aku tahu mengapa kau begitu Adit. Sepertinya kau memang tertarik dengan wanita kampungan itu. Aku berjanji aku akan menghancurkannya dan mendapatkanmu kembali."
__ADS_1
Jelita bergumam sepanjang jalan keluar dari perusahaan JD advertising. Ternyata selama ini Jelita menempatkan seorang mata-mata di perusahaan adit untuk mengawasi Adit. Entah itu sebuah cinta atau Obsesi yang jelita tahu ia tidak akan membiarkan Adit lepas darinya.
🍀🍀🍀
Tok...tok...tok....
Pintu ruangan Adit diketuk. Adit yang sedari tadi masih memikirkan tentang Jelita sedikit kaget.
" Ya masuk.... "
Dari balik pintu muncullah seorang wanita cantik yang sungguh mengenalnya.
" Eh mbak... Ada apa?"
" Katanya kemarin lihat pingsan di ruangan mu ya?Memangnya dia sakit apa."
" Cuma demam Mbak karena kehujanan. Dia nggak papa kok. Sebenarnya hari ini juga udah pulang, tapi karena dia baru pindah rumah makanya aku suruh besok aja berangkat ke kantor."
" Pindah rumah? memang rumahnya dia kenapa?"
" Dia itu sebenarnya kasihan Mbak. Kemarin beberapa hari yang lalu aku lihat dia ditarik-tarik sama bapaknya di depan kantor lagi. Bapaknya itu tukang judi sama tukang mabuk. Nah rumahnya itu ternyata digadaikan kepada rentenir. Akhirnya karena Bapaknya nggak bisa bayar utangnya, sertifikat rumahnya diambil sama rentenirnya itu."
" Astagfirullah bapaknya kejem amat. Tapi Dit Kok kamu bisa tahu semuanya?"
" Heheheh Adik naruh mata-mata."
" Awas ya kalau macam-macam sama Lia Mbak Sita laporan sama Mas Rama nanti."
" Enggak mbak... Enggak... Cuma mau bantu sesama aja. Nggak salah kan."
" Nggak ada salahnya sih yang penting tulus bukan modus."
Adit tergelak mendengar pernyataan kakak iparnya tersebut. Sita memang beberapa hari kemarin mengambil cuti jadi dia tidak tahu apa yang terjadi dengan anggota timnya. Sita memang terkenal Royal dan perhatian kepada semua anggota timnya tidak terkecuali. Bahkan sebelumnya Adit sudah di warning oleh Rahma untuk tidak macam-macam terhadap Lia.
" Terus kamu yang nyariin rumah baru buat Lia?"
Adit tidak menjawab pertanyaan Sita. Dia hanya nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sita yang sudah tahu jawabannya hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
" Ya sudah kalau begitu mbak balik dulu ke ruangan Mbak."
Adit menatap punggung Sita yang telah menjauh dan keluar dari ruangannya. Pikirannya kembali tertuju kepada Jelita. Ia masih bingung harus berbuat apa kepada Jelita. Adit yakin Jelita tidak akan terima begitu saja ia memutuskan hubungan yang sudah berlangsung selama 5 bulan ini.
__ADS_1
TBC