Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 35 - Tiba- Tiba Lemes


__ADS_3

Anak dibawah umur boleh skip ya. Warning !!! Mengandung adegan agak panas.


...****************...


Lilitan handuk Lia yang terlepas semakin memperlihatkan tubuh polosnya. Adit mulai meraba punggung mulus Itu dan meremas bokong sintal milik istrinya.


Adit  masih membiarkan mulut dan lidahnya bersarang di mulut Lia. Ia mengobrak abrik mulut istrinya itu. Lalu ciuman itu beralih ke leher. Tangannya mulai meraba ke bagian depan. Meremas benda kenyal milik wanita yang telah menjadi istrinya yang sah.


Akh… Lia memekik merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya. Rasa itu belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Adit sedikit menunduk untuk menyesap benda kenyal itu. Ia memainkan bukit kenyal milik Lia dengan lidahnya. Lia meremas kepala Adit dan menekannya.


" Kau suka sayang."


Lia hanya mengangguk. Nafasnya naik turun. Adit lalu membimbing Lia menuju ke ranjang sambil membuka pakaiannya satu persatu.


Lia sedikit terkejut melihat perut atletis Adit yang menurutnya sangat bagus. Adit tak mau berlama lama ia mengambil selimut dan menutupi tubuh mereka. Adit kembali mencium  bibir Lia. Ciuman itu turun dan terus turun sambil tangan Adit bergerilnya kemana mana. Menyentuh apapun yang bisa disentuh. Mulut Adit bertengger di bukit kenyal Lia. Bak bayi yang tengah kehausan Adit berada di sana sedikit lama.


Tangan Adit terus meraba hingga ia menemukan spot favoritnya. Adit memainkan jarinya di sana." Shhh… mas… aku mau pipis." Lia mendes*h.


" Keluarkan sayang." Adit tersenyum puas, istrinya mendapatkan pelepasan yang pertama.


Ia kembali mencium perut sang istri. Ciuman itu lalu turun ke bawah. Adit mengangkat kedua kaki Lia laku menundukkan kepalanya di sana. Lia sedikit terkejut 


" Mas apa yang… akh….."


Adit memainkan lidahnya di lembah basah itu hingga membuat Lia kembali memekik. Adit ingin membuat Lia merasakan pengalaman pertama yang indah. Ia akan memuaskan istrinya itu terlebih dahulu dengan sentuhan tangan dan bibirnya.


Adit tersenyum mengetahui Lia melakukan pelepasannya yang kedua. Kini pedang naga miliknya telah berdiri sempurna. Lia sedikit terkejut melihat ukuran pedang milik Adit.


" Apa itu akan cukup di sana? Bagaimana dia akan masuk. Apakah akan sakit?" Lia membatin. Ada sedikit perasaan ngeri melihat pedang Adit.


Adit yang paham dengan apa yang dipikirkan Lia mengungkung istrinya itu. Ia menatap mata istrinya dengan lekat." Ini akan sedikit sakit tapi akan nyaman setelahnya."


Adit kembali mencium bibir Lia agar istrinya itu rilex dan tidak tegang.


" Bismillaah… aku mulai ya sayang. Tahanlah sedikit."


Lia hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Ia menunggu Adit untuk melakukannya. Namun setelah menunggu tidak ada pergerakan dari Adit.


Tiba tiba Adit bangkit dari tubuhnya dan duduk di tepi ranjang. Lia pun segera bangkit dari posisi tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. 


" Mas…."


Adit masih diam kemudian ia berlalu ke kamar mandi. Di kamar mandi ia berkali kali memukul tembok hingga buku buku tangannya berdarah.


" Kenapa… kenapa begini… kenapa saat aku mau melakukannya dengan istriku aku tidak bisa… Argh…. Sial…. Sial… argh….!!"

__ADS_1


Adit berteriak di kamar mandi membuat Lia khawatir. Lia berdiri mengambil bajunya dari lemari dan segera memakainya. Dengan sedikit berlari ia menuju ke kamar mandi dan mengetuknya.


" Tok… Tok..  Tok… mas… mas Adit kenapa… mas… buka pintunya."


Hening, tidak ada suara dari dalam. 


Klek… klek.. Klek…


Lia mencoba membuka pintu dengan menggerakkan handle nya.


" Mas...jangan buat aku takut… hiks… "


Lia sudah menangis. Sungguh ia sangat ketakutan. Ia takut Adit kenapa napa di dalam sana.


Ceklek…


Pintu kamar mandi terbuka. Adit keluar dengan tubuh telanj*ng nya yang basah. Lia segera berlari mengambil bathrobe dan handuk. Lalu memakaikannya kepada sang suami dan menuntun pria itu untuk duduk di sofa kamar mereka.


Lia mengeringkan rambut Adit dengan handuk. Keduanya masih terdiam. Adit membiarkan istrinya itu melakukan  apa yang dia inginkan.


Setelah merasa cukup tidak ada air yang menetes, Lia menghentikan kegiatannya. Ia lalu meraih tangan Adit dan menciumnya. Lia terkejut melihat tangan Adit yang berdarah.


" Mas ini kenapa. Kenapa bisa berdarah gini?"


Adit hanya diam. Dia hanya melihat setiap gerakan sang istri yang mengobati luka ditangannya.


" Mas, ada apa?"


" Maaf kan aku Yaya… Sungguh maafkan aku…"


Adit menangis terisak. Ia menumpahkan semua perasaan kekecewaan itu di pelukan sang istri. Lia mengusap lembut punggung suaminya.


" Katakan mas… ada apa … jangan di pendam sendiri."


" Maaf Lia, aku… aku tidak bisa memberimu nafkah batin."


" Maksud mas?"


" Itu… dia… dia nggak bisa berdiri?"


Adit mengucapkan hal tersebut sambil menunjuk belalai gajah miliknya yang saat ini terkulai lemas.


" Lho… bukannya tadi sudah berdiri ya. Yaya lihat kok."


Lia mengatakan hal tersebut dengan sedikit merona. Ia mengingat betapa  kokohnya m milik Adit tadi berdiri.

__ADS_1


" Iya… tapi saat aku mau masuk tiba tiba si joni lemes. Padahal udah di depan gerbang. Argh…. Aku nggak tau Yaya kenapa bisa begini."


Lia sendiri bingung dengan kondisi suaminya. Sungguh ia tidak paham apa yang terjadi. Mengapa suaminya mengatakan hal tersebut.


" Mas… apa aku nggak menarik buat mas?"


" Bukan…. Bukan.. Bukan Yaya. Ini yang salah di aku nya. Tubuhmu masyaallah indah. Tapi aku nya ada yang salah."


Lia termenung sejenak sedangkan Adit masih tergugu.


" Mas, mungkin mas baru sembuh jadi kurang fit. Kita coba lain kali ya. Udah nggak usah dipikirin. Yuk makan dulu. Tapi bentar ya aku ke kamar mandi membersihkan badan."


Adit mengangguk. Ia melihat punggung sang istri yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


Adit menyibakkan bathrob nya lalu melihat juniornya. Ia menggerak nggerakkan dengan perlahan.


" Jon… kamu kenapa sih jon. Kenapa kamu jadi lunglai gini. Kan kasian Yaya Jon. Dia belum kenal sama kamu. Ayolah Jon kokoh seperti biasanya gitu lho. Huft…."


Adit membuang nafasnya kasar. Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.


Adit kembali mengingat apa yang dia dan Lia lakukan tadi dari awal hingga akhir. Semua berjalan normal. Bahkan hasratnya juga sudah memuncak. Namun saat hendak ke menu utama tiba tiba bayangan percintaannya dengan banyak wanita terlihat di depannya.


Adit sedikit terkejut. Bayangan percintaan itu seperti presentasi power point yang menampilkan slide demi slide. Setelah itu ia kembali melihat wajah Lia sepintas. Ia merasa tidak pantas mengenalkan joni nya kepada Lia sehingga secara tiba tiba joni nya pun mengibarkan bendera putih dan kembali tertidur lemas.


Adit mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia kembali melihat joni nya tersebut.


" Jon… jon… kamu mah mau dikenalin sama pemilik mu yang asli malah kayak gitu. Huft… kau sungguh membuatku malu jon. Untung Lia sabar jon."


" Mas… lagi ngomong sama siapa?"


" Eh enggak kok. Ya udah yuk keluar."


" Bentar. "


Lia kembali menuju ke lemari dan memberikan suaminya baju untuk dipakai.


Setelah rapi mereka keluar kamar dan menuju dapur. Benar saja di meja dapur sudah ada  nasi dan lauk pauknya.


" Mas tunggu sini.. Aku angetin dulu."


Lia dengan sigap menghangatkan makanan yang sudah tersedia. Sedangkan Adit hanya melihat apa saja yang dilakukan istrinya itu. 


" Maaf Lia… maafkan aku yang belum bisa memenuhi kewajiban ku."


TBC

__ADS_1


__ADS_2