
" Aku tidak akan pernah berhenti Adit, sampai kau menjadi milikku!"
Jelita berteriak di depan ketiga pria di ruangan tersebut. Sungguh urat malunya sudah hilang. Jelita membuka cardigan nya di depan Adit, Doto, dan Bagas. Bahkan ia akan menurunkan atasan yang bermodel kemben itu.
" Adit kau tidak percaya kamu tidak akan tergoda dengan tubuhku ini hmmm. Aku yakin gadis kampungan itu hanya lah seperti mainan mainan mu yang sudah sudah."
" Jelita ku bilang stop. Stop menjadi jal*ng. Stop mempermalukan dirimu sendiri."
Adit berteriak memperingatkan Jelita untuk berhenti berbuat gila. Namun bukannya berhenti Jelita malah semakin menurunkan bajunya. Kedua asetnya menyembul dan terlihat sempurna. Hal tersebut membuat Adit, Doto, dan Bagas menutup mata mereka serempak. Beruntung mereka langsung reflek menutup mata sehingga tidak melihat aset milik Jelita itu.
" Astagfirullaah. Ini cewek kayaknya udah gila. Ya Allaah lindungilah hamba dari kegilaan wanita ini." Bagas terus bergumam dalam hati. Ia merasa sedikit ngeri dengan perlakuan Jelita.
Sedangkan Doto dan Adit keduanya tetap menutup mata mereka sehingga ada suara wanita lain yang dipastikan itu bukanlah Jelita. Jelita yang hendak maju mendekati Adit pun urung saat mendengar suara tersebut.
" Berhentilah menjadi murahan. Tubuhmu bukanlah barang murah yang diobral. Tubuhmu adalah milikmu yang berharga. Sungguh tidak pantas wanita menjadikan tubuhnya sebagai bahan pertontonan apalagi memberikan cuma cuma terhadap pria yang bukan suaminya."
" Lia….."
Adit berteriak senang mendengar suara istrinya. Namun matanya masih menutup. Lia tersenyum dengan sikap Adit yang menurutnya memang sedikit berubah.
Lia kemudian berjalan ke arah ketiga pria itu dan menuntun Doto juga Bagas untuk keluar ruangan dan masih menyisakan Adit di sana.
Bagas dan Doto menghela nafas lega. Mereka sungguh bersyukur dengan datangnya Lia.
" Terimakasih Lia kamu sudah menyelamatkan kami. Apakah aku perlu memanggilmu nyonya bos."
" Haish… mas Doto nggak usah aneh aneh. Aku harus masuk kembali menyelamatkan suamiku."
Lia mengedipkan satu matanya kepada Doto. Sejenak Doto terpukau melihat Lia. Namun kemudian ia menyadarkan dirinya.
" Eeeh… lhaaaa….pantas si bos tampak udah jatuh cinta sama Lia. Ternyata Lia memang gadis yang berbeda."
Di dalam ruangan Jelita masih belum juga merapikan pakaiannya ia malah mendekat ke arah Adit. Lia yang melihat hal tersebut sedikit geram.
" Stop… jangan pernah kamu mendekati suamiku dengan pakaian yang sangat tidak sopan seperti itu."
Lia sedikit berlari dan berdiri di depan suaminya. Adit memegang kedua bahu Lia.
Suamiku, yes..Lia mengakui bahwa aku suaminya. Gumam Adit
" Heh… Dasar gadis kampung. Apa kau tidak tahu bahwa pria yang kau akui sebagai suamimu ini telah mencicipi semua bagian tubuhku."
Jelita menyeringai, ia memiliki keyakinan bahwa gadis seperti Lia pasti akan jijik dengan pria seperti Adit. Tapi ternyata dugaan Jelita salah. Lia bisa dengan tenang membalikkan omongan Jelita sehingga membuat Jelita geram
__ADS_1
" Huft… aku tahu seperti apa bejat nya suami ku, dan aku hanya kasihan denganmu. Kamu dengan mudahnya memberikan tubuhmu untuk dijamah pria yang tidak halal bagimu."
" Dasar gadis kampungan tidak tahu diri."
Jelita hendak menampar Lia, namun oleh Lia tangan Jelita dicekal dan dicengkeram dengan erat. Lia pun kemudian menghempaskannya.
" Di luar sudah ada security, jika kau ingin tubuhmu jadi tontonan mereka maka silahkan."
Jelita membuang nafasnya kasar. Akhirnya ia pun merapikan lagi pakaiannya.
Lia mendekatkan bibirnya ditelinga Adi, dan ia membisikkan sesuatu. " Mas, kamu sudah boleh buka mata. Tontonan gratisnya sudah selesai."
Huft…. Adit menghela nafasnya lega. Ia sekarang membuka matanya. Yang pertama ia lihat adalah Lia.
" Terimakasih sudah menyelamatkanku."
" Sama sama mas."
Jelita sangat murka melihat kebersamaan Adit dan Lia yang menurutnya mesra. Padahal mereka hanya saling berbicara.
" Heh… aku tidak akan tinggal diam. Akan aku balas kamu wanita kampung. Dan kau Adit, aku akan membuatmu kembali bertekuk lutut dihadapanku."
Jelita kemudian pergi meninggalkan ruangan Adit dan membanting pintu dengan keras.
Huft… sepasang pengantin baru itu menghembuskan nafasnya lega. Kini mereka berdua sudah duduk di sofa ruangan milik Adit.
" Eh… mas. Maaf aku tadi asal bicara saja. Aku tidak bermaksud untuk…"
" Nggak apa pa Yaya. Bolehkah aku memanggilmu begitu."
" Boleh mas, senyaman mas saja."
" Huft, sebenarnya aku paling nyaman memanggilmu sayang tapi sepertinya kamu belum siap."
Lia terbelalak mendengar ucapan Adit. Ia merasa Adit sungguh berbeda.
" Hahaha bercanda. Oh iya apakah kamu mau mendengar cerita tentang keluargaku? Tepatnya cerita tentang kedua orang tuaku."
Lia mengangguk, ia merasa ada sebuah rahasia yang dijaga rapat oleh Adit. Atau mungkin sebuah cerita masa lalu yang tidak menyenangkan yang disimpan sendiri oleh suaminya itu.
***
Adit mengambil nafasnya dalam dalam. Ia menatap wajah istrinya itu dengan lekat.
__ADS_1
" Kehidupan pernikahan kedua orang tuaku tidak harmonis. Malah bisa dikatakan sama sekali tidak pernah tampak seperti keluarga. Ibu ku fidka pernah mau mengakui ku sebagai anaknya dari semenjak aku lahir. Ia lebih memilih karir modelnya ketimbang kami."
Adit berhenti sejenak. Ia melihat reaksi Lia, Lia terlihat antusias mendengar cerita Adit.
" Mas… bolehkah aku tahu siapa itu ibumu?"
" Revina Angel. Dia adalah ibuku."
" Apa?? Revina Angel model terkenal itu. Ya Allaah mas itu ibumu. Ups… maaf mas."
Lia terkejut mendengar fakta tersebut. Namun secepat kilat iya membungkam mulutnya dengan kedua tangan saat melihat ekspresi Adit yang muram. Lia berinisiatif mendekat ke samping Adit dan mengusap punggung Adit.
" Katakanlah mas. Jangan dipendam sendiri. Kamu bisa membaginya denganku."
" Yaya, wanita iblis itu bahkan tidak pernah membiarkan aku memanggilnya ibu. Bahkan suatu ketika saat aku masih SMA dia membawa seorang pria ke rumah dan bermain dengan pria itu di kamar ayahku. Aku sungguh marah. Dan itu terjadi tidak hanya sekali dua kali. Pada puncaknya dia benar benar meninggalkan kami demi karir dan pria lain. Setelah itu aku menjadi benci dengan yang namanya model, dna menjadikan wanita sebagai objek nafsuku saja. Yaya… maafkan aku, kau benar benar mendapatkan pria yang buruk."
" Jangan seperti itu mas. Semua orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan menyadari semua kesalahannya. Apakah pernah mendengar sebuah ungkapan seperti ini, Allaah lebih menyukai taubatnya seorang pendosa daripada orang yang sholih tapi tidak pernah merasa salah."
" Maksudnya?"
" Maksudnya Allah lebih menyukai seorang Pendosa yang bertobat karena berarti Pendosa tersebut mengakui kesalahannya dan ingin berubah menjadi yang lebih baik. Sedangkan Allah tidak menyukai orang yang solih karena tidak mengakui salahnya berarti orang solih itu merasa dirinya tidak salah. Padahal yang namanya manusia itu tidak luput dari yang namanya kesalahan berarti orang solih itu termasuk dalam golongan orang yang sombong. Jadi mas jangan berkata begitu."
" Tapi aku sudah banyak sekali berbuat maksiat."
" Mas kamu memang salah, menyamakan semua wanita seperti ibumu. Padahal tidak semua wanita seperti ibumu. Dan kamu salah menjadikan wanita sebagai objek nafsumu, tapi sekarang jika kau ingin benar benar bertaubat maka jauhilah zina itu."
Adit terenyuh mendengar semua yang diucapkan Lia. Dia bersyukur istrinya itu mau menerima dirinya yang begitu buruk.
" Yaya, Bolehkah aku …. memelukmu"
Lia tersenyum, ia memeluk Adit terlebih dahulu. Adit terkejut namun ia tersenyum senang. Ia merasa Lia sudah mau sedikit membuka hatinya.
Lia mengusap punggung Adit dan Adit menyandarkan kepalanya di bahu Lia. Tidak terasa air mata Adit luruh, ia menangis tersedu.
" Luapkanlah mas, selama ini kamu pasti menahannya. Setelah itu ikhlaskan. Berhentilah membenci."
Adit mengangguk, Lia bisa merasakan anggukan Adit. Doto yang berada di balik pintu bersama Bagas urung untuk masuk saat melihat suami istri di dalam tengah saling memeluk.
" Kenapa pak, kok nggak jadi masuk."
" Ssst, jangan berisik. Nanti saja masuknya ayo ke pantry dulu bikin kopi"
" Eh…. "
__ADS_1
Doto menarik Bagas ke pantry. Doto tidak mau mengganggu sang bos. Baru kali ini dia melihat Adit sampai menangis seperti itu. Dalam hati Doto sungguh bersyukur Adit bersama orang yang tepat seperti Lia. Doto yakin bosnya akan bisa berubah saat bersama dengan Lia.
TBC